Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Kekhawatiran Saudara
Alexa menjawab telepon dari kakaknya. Ia sedang berdiri di luar pintu rumah besar itu.
"Hallo, Adik. Ini kakak."
"Hallo, Kakak." Alexa berjalan ke teras.
"Gimana keluargamu? Mereka nggak ganggu kamu, kan?" Damian merasa cemas kepada Adiknya itu. Sementara Gideon dan Leonard berdiri di samping Damian. Mereka ingin mengetahui kabar adiknya setelah bertemu keluarga aslinya.
"Sudahlah kakak, tenang saja. Aku kan anak kandung mereka. Mereka baik banget sama aku." Alexa berpura-pura agar tidak membuat ayah dan Kakak-kakaknya khawatir.
"Adik, dengar! kalau ada siapapun yang mengganggumu, kamu harus bilang kepada kakak, ya. Satu-satu ku masukin ke dalam karung dan ku hajar sampai jadi bubur." tegas Damian.
Gideon menarik tangan Damian, ia mau bicara dengan adik angkatnya itu. "Adik, kakak kedua masih khawatir. Gimana kalau aku kesana jadi bodyguard mu? Kalau mereka berani... Berani mereka menyinggung mu sedikit saja, akan ku patahkan kaki mereka." Gideon gereget sendiri.
"Betul, kami akan memberinya pelajaran." lanjut Leonard yang sedang berdiri dengan satu kaki ia naikkan ke pinggiran sofa sambil memutar-mutar pistol di tangannya.
Dibalik telepon, Alexa menghela nafas panjang dan tersenyum mendengar Kakak-kakak angkatnya yang sangat perhatian itu. "Kakak-kakak ku ini memang baik. Cuman, setiap hari selalu saja kekerasan. Aku kabur. Aku lari dari hidup berdarah itu." batin Alexa.
Alexa tersenyum. "Aduh, kakak tenang saja, Kenapa sih. Mereka takkan berani kepadaku. Pisauku ini bukan pajangan, kan?" ia berusaha meyakinkan Kakak-kakaknya itu.
Leonard yang mendengar itu pun menarik tangan Damian. Ia mengarahkan ponsel itu ke mulutnya. "Pakai pisau, nanti tanganmu kotor, dik. Di kopermu, sudah ku siapin pistol dan bom. Habisi mereka semua. Hemat waktu dan tenaga." jelasnya sambil melepas pelatuknya. Pelurunya tepat sasaran.
"Kok pakai bom? Nanti adik kenapa-napa, gimana?" Gideon melotot ke arah Leonard.
"Alexa, jangan dengarkan omongan dia itu, ya. Pakai racun saja." ucap Gideon.
Masih di balik telepon, Alexa tidak ingin berlama-lama lagi bicara dengan Kakak-kakaknya. Semakin lama mereka bicara, semakin menjadi-jadi kakak angkatnya itu.
"Udah ah, aku mau makan. Aku ngobrol sama kakak nanti. Udah ya." Alexa mengakhiri panggilan teleponnya. Ia memutar bola matanya.
"Satu pakai pistol, satu pakai racun. Kapan mereka bertiga bisa normal? Bikin pusing saja." Alexa menaruh ponselnya di sakunya. Ia berjalan melihat-lihat tanaman di depan rumah besar itu.
KREKK.
Pintu rumah itu terbuka. Harry Zayn berjalan menghampiri Alexa.
"Alexa." panggilnya.
Alexa menoleh. Matanya tertuju pada sosok pria yang berdiri di depannya.
Harry Zayn menatap gadis itu. "Jangan salahkan ayah bersikap keras. Ayah ngelakuin ini demi kebaikanmu. Selama ini kamu di luar. Belajar banyak kebiasaan buruk. Mulai sekarang, kebiasaan itu jangan di bawa pulang." jelasnya kepada gadis itu.
Alexa menatap tajam, ia mengangkat pandangannya. "Oh, baru sekarang mau didik aku?"
Alexa terdiam sejenak. Matanya merah. Tangannya mengepal di samping badannya. "Salah ayah. Kalau saja dulu,,, menjemput ku lebih awal,,, aku takkan punya banyak kebiasaan buruk ini. Iya kan, Ayah?"
Harry Zayn tidak ingin lagi berdebat dengan Alexa. Ia tidak ingin membahas itu lagi. "Sudah. Sudah, soal itu,,, nanti saja kita bicarakan lagi ya. Ayah sudah menyiapkan kamar untukmu. Lihat dulu. Mudah-mudahan kamu suka. Ayo kita kesana." Harry Zayn berjalan di belakang Alexa. Mereka berdua masuk kedalam rumah besar itu.
Harry Zayn masuk ke dalam sebuah kamar yang berukurang sedang, di dalam kamar itu hanya ada satu kemarin dan meja rias yang sederhana. Kamar yang begitu polos, warnanya juga terlihat kelam.
Alexa ikut masuk bersama dengan Anya yang berjalan di belakangnya. Alexa melihat setiap sudut kamar sempit itu. Ia berjalan dengan kedua tangan ia silangkan di depan dada.
"Kamar sekecil ini, Nggak ada... Separuh kamarku yang dulu." ucap Alexa tidak terlalu senang melihat kamar itu. Sejak Alexa hidup di keluarga Bleiz, ia begitu sangat di ratukan oleh ayah dan kakak-kakak angkatnya. Kamarnya saja begitu luas dan ramai penuh dengan semua yang dibutuhkan oleh Alexa. Namun, berbeda dengan kamar ini. Kamar yang begitu sangat sempit bagi Alexa.
Anya yang berjalan di belakang Alexa pun, lagi-lagi ingin mencari muka di depan Harry Zayn, ayah angkatnya itu. "Kak, kalau nggak suka. Pakai kamarku saja." Anya pura-pura tersenyum manis kepada gadis itu.
Alexa menoleh ke arah Saudari angkatnya. "Mhh, coba aku lihat kamar mu." ucap Alexa.
"Baik, Kak. Mari aku antar." kali ini gaya bicara wanita ular itu berbeda. Ia selalu saja punya cara untuk cari muka di depan Harry Zayn.
Mereka pun berjalan ke arah kamar Anya.
CEKLEKK.
Anya membuka pintu kamarnya. Kamar yang sangat luas bernuansa modern, warnanya juga sangat menenangkan. Kasur yang empuk dengan seprei berwarna merah muda menambah kesan ceria.
Alexa memutar 180 derajat, ia melihat setiap sudut-sudut kamar Anya. Alexa memegang dagunya. Ia berpikir sejenak.
"Kamar ini. Cahayanya bagus dan luas pula." matanya tidak berhenti memperhatikan sekeliling kamar itu.
"Mulai sekarang kamar ini aku yang pakai." Alexa tersenyum miring dan memutar badannya melihat ke indahan kamar Anya Zayn.
Zionathan yang tadinya berdiri menyilangkan kedua tangannya di depan dada merasa sangat kesal mendengar perkataan gadis itu. Matanya melotot.
"Alexa Zayn! Bersikaplah lebih dewasa. Kamu mau merebut kamar Anya? Kakak macam apa kamu!" ketus Zionathan dengan tatapan membenci.
Alexa, membalikkan pandangannya. Tatapannya tertuju kepada Kakak laki-lakinya itu. "Kamu tuli ya? Dia sendiri yang mau memberikannya kepadaku. Bukan aku yang merebutnya." jelas Alexa, melangkah mendekat ke arah Zionathan.
Harry Zayn berusaha membujuk Alexa. "Alexa sayang, kamu ini kan kakaknya. Harusnya ngalah dong sama adikmu."
Alexa semakin melotot. Ia tidak terima perlakuan yang tidak adil itu. "Aku putri kandung Keluarga Zayn. Untuk apa aku mengalah?"
Alexa membalikkan badannya, ia menatap tajam kearah Anya yang berdiri diam. Alexa tersenyum sinis. "Anak angkat, kalau orang tahu,,, apa nggak malu?" ucapnya dengan nada tegas.
Zionathan memutar bola matanya. "Nggak punya rasa ngalah sama sekali." gumamnya.
"Alexa, sebenarnya kamu ini keluarga kandung Zayn bukan?" Zionathan mempertanyakan identitas Alexa. Ia curiga kalau Alexa hanya sengaja masuk ke keluarga Zayn untuk merebut semua harta milik keluarga Zayn.
Harry Zayn menatap tajam ke arah putranya itu. "Diam! Alexa adalah putri kandung keluarga Zayn. Putri kandungku. Awas kalau kamu ngomong gitu lagi. Ngerti?" bentak Harry Zayn.
Zionathan tidak terima. "Ayah, dia sudah menindas Anya kayak gitu. Ayah masih saja membela dia?"
Wajah Harry Zayn datar. "Alexa suka yang mana, kasi saja ke dia. Jangan sampai kita di tertawakan orang luar. Kalau nggak, saham grup Zayn kita bisa anjlok." ucapnya tanpa berpikir panjang. Tidak lagi memihak Anya.
***
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...