Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Telepon dari Pabrik Sari Boga
"Saya Joko dari Pabrik Makanan Sari Boga. Kami menghubungi Ibu mengenai contoh desain yang pernah dikirim."
Laras duduk lebih tegak.
Beberapa minggu sebelum hidupnya berubah, ia pernah mengirim dua desain kemasan ke sayembara kecil pabrik itu. Tidak ada kabar sampai sekarang.
"Selamat sore, Pak Joko. Apakah berkas saya masih lengkap?"
"Lengkap. Maaf kami baru menghubungi. Tim kami sempat menunda peluncuran produk. Minggu ini kami meninjau semua desain lagi, dan dua contoh Ibu masuk pilihan akhir."
Bu Ratna yang sedang menggulung kain langsung berhenti.
Laras menyalakan pengeras suara setelah meminta izin. "Boleh saya tahu desain mana yang dimaksud?"
"Keripik tempe seri hijau dan sambal pecel seri cokelat. Tim pemasaran menyukai tampilannya, tapi ingin mendengar alasan di balik susunannya."
"Saya bisa menjelaskan sekarang atau melalui presentasi tertulis."
"Sekarang secara singkat."
Laras mengambil buku sketsa lama. Ia membuka halaman foto cetakan dua desain tersebut.
"Produk Bapak banyak dibeli wisatawan dan keluarga muda. Kemasan lama memberi semua informasi dengan ukuran hampir sama, jadi ketika difoto untuk marketplace, nama merek dan jenis produk tenggelam."
"Benar."
"Saya memperbesar merek, membatasi tiga warna utama, lalu membuat bidang transparan kecil agar isi terlihat. Untuk keripik tempe, pola garisnya mengambil bentuk irisan tempe, bukan ornamen acak. Saat foto diperkecil di layar ponsel, orang tetap mengenali produk dan merek dalam dua detik."
Pak Joko diam sejenak. "Dua detik?"
"Pembeli menggulir cepat. Kita tidak boleh berharap mereka membaca semua tulisan sebelum tertarik. Kemasan harus menjual saat difoto, bukan hanya melindungi isi di rak."
Bu Ratna mendekat ke meja, matanya berbinar.
"Bagaimana dengan sambal pecel?" tanya Pak Joko.
"Targetnya berbeda. Banyak pembeli membawanya sebagai oleh-oleh, jadi seri cokelat dibuat lebih hangat dan tradisional. Tapi saya menghindari terlalu banyak motif agar tidak tampak murah. Informasi tingkat pedas saya beri kode warna yang konsisten. Kalau nanti ada varian baru, sistemnya tinggal diperluas."
"Tim kami justru berdebat soal bidang kosong. Mereka merasa masih bisa diisi slogan."
"Ruang kosong bukan ruang terbuang. Itu membantu mata menemukan informasi utama. Kalau semua bagian berteriak, tidak ada yang terdengar."
"Ada juga yang ingin menaruh lima foto bahan sekaligus."
"Foto bahan bisa dipindahkan ke sisi belakang bersama cerita produk. Bagian depan cukup satu janji utama. Bapak ingin pembeli mengingat Sari Boga, bukan menghitung kacang dan cabai dari gambar."
"Bagaimana kalau pembeli tidak percaya isi produknya?"
"Itu fungsi bidang transparan, foto produk di toko daring, ulasan pembeli, dan informasi izin. Setiap unsur punya tugas. Kemasan depan tidak harus memikul semuanya."
Pak Joko terdengar berbicara singkat kepada seseorang di dekatnya. "Tim pemasaran saya mencatat."
Laras segera menambahkan, "Tolong jangan anggap ini keputusan final tanpa uji pembeli. Kita bisa cetak dua contoh foto, lalu lihat mana yang lebih cepat dikenali oleh orang yang belum mengenal produk."
"Ibu bisa membuat metode uji sederhana?"
"Bisa. Sepuluh sampai dua puluh responden awal sudah cukup untuk menemukan masalah besar, meski bukan penelitian lengkap."
Bu Ratna mengangguk kuat seolah Pak Joko bisa melihatnya.
"Ibu belajar desain di mana?" tanya lelaki itu.
"Saya pernah bekerja membantu produksi dan kemasan usaha kecil di Surabaya serta Jakarta. Tidak semuanya posisi resmi, tapi saya melihat produk bagus gagal karena tampilannya tidak terbaca di toko daring. Setelah itu saya belajar sendiri, mengamati etalase, foto produk, dan kebiasaan pembeli."
"Jadi bukan sekadar membuat gambar cantik."
"Gambar cantik yang tidak menjual hanya menjadi hiasan mahal. Saya mulai dari masalah pembeli dan kapasitas produksi."
Pak Joko tertawa. "Kalimat itu akan saya ulang kepada tim."
Laras menahan kegembiraan agar suaranya tetap profesional. "Apakah pabrik sudah menentukan bahan kemasan dan teknik cetak?"
"Kami memakai pemasok lama. Mereka bilang desain Ibu perlu penyesuaian warna."
"Saya perlu profil warna mesin atau minimal hasil uji cetak. Warna layar tidak sama dengan hasil plastik. Jangan langsung produksi besar sebelum tes."
"Berapa lama Ibu perlu merevisi?"
"Kalau data ukuran, bidang wajib, logo resolusi tinggi, dan spesifikasi cetak dikirim malam ini, draf pertama dua hari kerja. Satu putaran revisi kecil sehari setelah masukan terkumpul."
"Cepat juga."
"Karena konsep dasarnya sudah ada. Tapi perubahan arah besar dihitung sebagai pekerjaan baru."
Bu Ratna mengacungkan jempol. Laras hampir tertawa.
Pak Joko berdeham. "Kami juga ingin menjual paket campuran di marketplace. Apakah Ibu bisa memikirkan tampilan kotak luarnya?"
"Bisa, setelah saya tahu jumlah produk, ukuran, target harga, dan batas biaya kemasan per paket. Kotak bagus yang membuat ongkos kirim terlalu tinggi juga bisa merugikan."
"Saya suka cara Ibu bertanya."
"Saya tidak ingin menjanjikan solusi sebelum tahu batasnya."
"Kalau soal honor, apakah Ibu sudah punya tarif?"
Pertanyaan itu membuat Laras menoleh kepada Bu Ratna. Selama ini ia sering menerima bayaran seadanya karena takut kehilangan pekerjaan.
"Saya akan kirim penawaran tertulis setelah ruang lingkupnya jelas," katanya. "Honor desain utama terpisah dari revisi tambahan, kotak paket, dan hak penggunaan untuk varian baru."
"Baik. Kami tidak meminta Ibu bekerja dulu baru membicarakan harga."
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat punggung Laras semakin tegak.
"Terima kasih, Pak. Saya juga akan menuliskan jadwal dan keluaran file agar kedua pihak punya catatan yang sama."
Bu Ratna menulis cepat di secarik kertas lalu menunjukkannya: `JANGAN MURAH KARENA SUNGKAN.`
Laras mengangguk kecil.
Pak Joko meminta alamat surel dan nomor WhatsApp bisnis. Laras memberi nomor barunya, lalu mencatat nama staf pemasaran yang akan mengirim materi.
"Satu hal lagi," kata Pak Joko. "Tim kami tidak hanya memilih satu contoh."
Jantung Laras berdetak lebih cepat.
"Maksud Bapak?"
"Kalau dua-duanya kami pakai, sanggup?"
Laras menahan napas.