Indonesia
NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menagih Janji Di Lembar Pertama

Setelah badai di ruang OSIS pagi itu mereda, atmosfer di kelas 7-B berjalan jauh lebih tenang. Balisya memilih untuk tidak banyak bicara sepanjang hari, duduk diam di bangku depannya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Sementara itu, posisi duduk di barisan paling pojok belakang kembali terasa senyaman biasanya. Riuh rendah suara teman-teman yang sibuk menyalin tugas sebelum bel pulang berbunyi seolah menjadi latar belakang dari dunia kecil yang kembali utuh di meja mereka.

Saat bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring, anak-anak kelas 7-B langsung berhamburan keluar kelas dengan riuh, menyisakan derit kursi kayu yang bergeser. Auren baru saja selesai memasukkan kotak pensilnya ke dalam tas ketika mendengar suara ketukan yang sangat ia rindukan dua hari ini.

Tok... tok...

Evan mengetuk permukaan meja kayu mereka dua kali dengan buku jemarinya. Cowok itu sudah menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, menopang dagunya dengan tangan kiri sambil menatap Auren dengan senyuman jahil yang khas. Matanya yang jernih mengunci pandangan Auren, membuat gadis itu mendadak salah tingkah.

"Jadi, Sekretaris," ujar Evan sengaja memperpanjang suku kata terakhirnya dengan nada menggoda. "Hari Senin sudah mau habis, nih. Mana janji gambar pertama di buku biru dari gue? Jangan bilang lo lupa, ya?"

Auren menghentikan gerakan tangannya sejenak. Jantungnya memberikan letupan kecil yang cukup kencang. Ia melirik ke dalam tasnya, tempat buku sketsa tebal berwarna biru langit pemberian Evan tersimpan rapi. Sebenarnya, semalam suntuk Auren diam-diam sudah memenuhi lembar pertama buku itu dengan sebuah gambar yang menguras seluruh fokusnya hingga larut malam.

"Emang kamu beneran mau lihat?" tanya Auren sangsi, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang kian tidak beraturan.

"Ya mau lah, kan gue yang keliling seharian buat nyari buku itu. Buruan, jangan bikin Ketua Kelas penasaran," desak Evan. Cowok itu tiba-tiba menggeser kursi kayunya sedikit lebih dekat ke arah meja Auren. Jarak yang mendadak terkikis itu membuat Auren bisa menghirup samar aroma parfum maskulin Evan yang bercampur wangi detergen seragamnya.

Auren menghembuskan napas pelan untuk menenangkan diri. Dengan tangan yang sedikit ragu dan agak gemetar, ia meraba bagian dalam tasnya, mengeluarkan buku sketsa baru tersebut, lalu membukanya perlahan tepat di lembar pertama sebelum menyodorkannya ke hadapan Evan.

Evan seketika terdiam. Semua senyum jahil di wajahnya meleleh begitu saja. Kedua matanya menyapu setiap sudut goresan pensil di atas kertas putih bersih itu dengan saksama. Di sana, tidak ada gambar karikatur aneh atau lucu seperti yang diancamkan Auren tempo hari.

Auren justru menggambar siluet seorang anak laki-laki yang sedang duduk bersandar di pembatas koridor lantai dua, menghadap ke arah lapangan basket, dengan sebuah pensil yang berputar di antara jemarinya. Gambar itu menangkap momen hari Rabu lalu dengan sangat detail dan penuh perasaan, lengkap dengan arsiran bayangan matahari sore yang menyentuh lembut ujung seragam putih-birunya. Namun yang membuat dada Evan berdesir adalah sebuah catatan kecil di sudut bawah kertas dengan tulisan tangan Auren yang rapi dan puitis: Garis awal untuk cerita yang abadi.

Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa detik. Hanya ada suara angin sore yang berembus pelan dari celah jendela, menerbangkan beberapa helai rambut Auren. Evan memandangi gambar itu tanpa berkedip untuk waktu yang lama, membuat Auren mendadak diserang rasa cemas dan malu.

"Jelek, ya? Maaf, kalau gak sesuai ekspektasi kamu, aku bisa—"

"Enggak, Ren. Ini sama sekali gak jelek," potong Evan cepat. Suaranya melembut, jauh lebih dalam dari biasanya. Cowok itu mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata Auren dengan binar hangat yang begitu pekat dan penuh kekaguman. Senyumnya perlahan melebar, memperlihatkan lesung pipit tipis di wajahnya yang mendadak terlihat sangat manis di mata Auren.

Evan mengulurkan tangan kanannya, bukan untuk mengambil buku itu, melainkan perlahan meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Auren yang masih memegangi tepi kertas. Sentuhan kulit mereka yang hangat seketika mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuat Auren menahan napasnya.

"Gue gak tahu kalau dari sudut pandang lo, gue bisa kelihatan sekeren dan seberharga ini, Ren," bisik Evan pelan, matanya tidak lepas dari mata Auren.

Auren merasakan pipinya mendadak memanas hebat dan merona merah jambu. Merasa sangat malu karena tertangkap basah telah memperhatikan Evan sedalam itu, Auren mencoba menarik tangannya dan hendak menutup buku sketsa tersebut. Namun, Evan dengan lembut menahan jemari Auren, mengeratkan sedikit genggamannya tanpa menyakiti, mengunci tangan gadis itu di atas meja.

"Jangan ditutup dulu," pinta Evan lirik. Senyum hangat masih terpatri di bibirnya saat ia menatap wajah Auren yang merona. "Buku ini jangan pernah ditaruh di loker sekolah atau ditinggal di kelas, ya. Simpan terus di dalam tas lo, bawa pulang setiap hari."

Evan melepaskan genggamannya perlahan, lalu beralih mengambil pulpen gel hitam yang tempo hari ia hadiahkan kepada Auren dari dalam kotak pensil. Di bawah gambar siluet dirinya sendiri, Evan menorehkan tulisan tangannya yang khas dan agak berantakan tepat di bawah kalimat puitis Auren: Dan gue janji bakal nemenin lo buat ngelukis lembar-lembar berikutnya sampai buku ini penuh. Seterusnya.

Setelah menulis itu, Evan mendongak lagi, memberikan kerlingan mata jahil yang hangat sebelum merapikan poni rambutnya sendiri yang sedikit berantakan. "Gimana? Tulisan gue bagus kan disandingin sama gambar lo?"

Auren tidak bisa menahan tawa kecilnya lagi. Rasa gugup, malu, dan debaran aneh yang membuncah di dadanya sore itu melebur menjadi satu perasaan bahagia yang sangat penuh. Di ruang kelas 7-B yang mulai temaram oleh sisa matahari senja hari Senin itu, Auren mengangguk pelan sambil mendekap buku birunya erat-erat di depan dada. Di usia dua belas tahun yang canggung ini, di dalam balutan seragam putih-biru yang baru, Auren akhirnya tahu dengan pasti: ada sebuah kisah romansa remaja yang sangat manis, yang siap ia tulis bersama cowok di sebelahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!