Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Celah Pertama
Matahari menyengat terjal di halaman SMA Garuda, tapi panasnya kalah menyengat dibanding tatapan mata Cassandra. Cewek itu berdiri santai di tepi lapangan basket, melipat lengan di dada sambil memerhatikan target utamanya: Narendra.
Cowok itu baru saja memasukkan bola ke ring. Keringat membasahi dahi Narendra, memantulkan cahaya siang yang membuatnya makin tampan. Narendra tersenyum—senyum tenang yang selalu berhasil bikin dada Cassandra berdesir aneh.
Tapi pemandangan indah itu langsung rusak saat Anggita melangkah mendekat.
Dengan gaya anggun yang disengaja, Anggita menyerahkan handuk kecil dan botol minum ke Narendra. "Nanti malam jadi makan bareng Papa, kan, Ren? Papa udah book tempat di resto favorit kita," bisik Anggita lembut, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar.
Narendra tersenyum tipis. "Jadi, Ta. Nanti gue jemput jam tujuh, ya."
Di pinggir lapangan, Cassandra terkekeh sinis. "Geli banget," batinnya. Senyum Anggita yang sok suci itu adalah hal yang paling benci ia lihat di sekolah ini. Anggita, ketua OSIS dan cewek idaman para guru, adalah rival bebuyutannya sejak SMP—cewek yang selalu berhasil merebut panggung dan membuat Cassandra dicap sebagai 'anak bermasalah'.
"Cas! Dipanggil Pak Wijaya ke ruang guru sekarang!" teriak Dion, teman sekelasnya, seraya berlari menghampiri. "Katanya soal loker yang lu semprot pylox kemarin."
Cassandra menghela napas berat, memutar bola matanya. "Bawel banget tuh aki-aki."
Di ruang guru, Cassandra duduk tegak di hadapan Pak Wijaya. Sikap bangkangnya yang tadi di lapangan hilang seketika, berganti dengan ekspresi tenang dan sopan.
"Cassandra, kamu tahu kesalahan kamu?" tanya Pak Wijaya tegas seraya mengetuk meja.
"Tahu, Pak. Saya minta maaf sudah mencorat-coret area loker," jawab Cassandra lembut dengan nada penuh penyesalan. "Saya siap menerima sanksi membersihkannya sampai bersih, Pak."
Pak Wijaya menghela napas, kemarahannya mendadak luluh melihat kesopanan muridnya itu. "Hutang poin kamu sudah banyak. Tolong ubah sikap kamu, Cassandra."
"Baik, Pak. Terima kasih atas ketegasan Bapak untuk kebaikan saya," ucap Cassandra seraya menyalami tangan Pak Wijaya dengan penuh hormat sebelum pamit keluar.
Saat keluar dari ruang guru, lorong sepi. Cassandra berjalan santai menuju tangga, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara perdebatan di balik belokan.
"Kakek kamu makin parah, Ren? Kenapa kamu nggak cerita dari kemarin?" Itu suara Anggita. Tonenya kencang dan penuh nada penghakiman.
"Gue nggak mau bikin lu cemas, Ta. Lagipula kakek cuma butuh istirahat," balas Narendra pelan, kentara sekali ada raut lelah di wajahnya.
"Tapi kan harusnya lu bilang! Gue ini pacar lu, Ren. Masa gue tahu dari orang lain? Kesannya gue nggak perhatian!" Anggita bersedekap, memasang wajah kesal. "Resto nanti malam batalkan aja deh kalau lu cuma mau kepikiran kakek lu terus!"
Anggita langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Narendra tanpa memedulikan cowok itu yang hanya bisa mengusap tengkuknya, tampak sangat tertekan.
Cassandra melangkah keluar dari balik tembok. Tatapannya tertuju pada Narendra yang kini menyandarkan punggungnya ke dinding, kelihatan rapuh. Keinginan untuk merawat dan melindungi rasa sunyi cowok itu mendadak memenuhi dadanya.
"Punya pacar kok cuma bisa nuntut, ya?" suara Cassandra memecah keheningan.
Narendra menoleh, terkejut melihat Cassandra berdiri beberapa langkah darinya. "Cassandra? Lu... dengar semuanya?"
Cassandra berjalan mendekat, menyunggingkan senyum tipis—bukan senyum sinisnya yang biasa, melainkan senyum yang tulus.
"Gue nggak sengaja dengar," ujar Cassandra santai. Ia mengambil sebuah kotak susu cokelat dingin dari kantong seragamnya dan menyodorkannya pada Narendra. "Nih. Muka lu pucat banget. Kakek lu pasti bakal sembuh, Ren. Lu nggak usah dengerin ocehan orang yang cuma peduli sama gengsinya sendiri."
Narendra menatap kotak susu itu, lalu menatap mata Cassandra. Ada kilat kehangatan di sana yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari cewek yang dikenal sebagai pembuat masalah ini.
"Makasih, Cas," ucap Narendra pelan seraya menerima minuman itu.
Cassandra tersenyum misterius, mengedipkan sebelah matanya sebelum berbalik pergi meninggalkan lorong. Langkah kakinya terasa ringan, seolah baru saja memenangkan babak pertama dalam perang yang baru dimulai. Di dalam hatinya, sebuah ketetapan baru telah lahir:
"Anggita nggak pantas buat lu, Narendra. Dan gue bakal ambil lu dari dia."
Namun, langkah Cassandra terhenti mendadak saat ponsel di saku seragamnya bergetar hebat. Ia merogohnya santai, menduga itu hanya spam dari Dion, tetapi nama yang tertera di layar seketika membuat senyum di bibirnya menguap—sebuah nomor tidak dikenal yang mengirimkan sebuah foto berresolusi tinggi.
Fokus matanya menyempit menatap foto tersebut: dirinya yang sedang merangkul bahu seorang cowok di parkiran luar sekolah semalam, diambil dari sudut tersembunyi.
Di bawah gambar itu, sebuah pesan singkat menyusul masuk, "Bermain-main sama Narendra boleh saja, Cas. Tapi kalau rahasia kelam lu yang ini sampai ke telinganya... kira-kira dia masih mau natap lu pakai mata hangat itu?"
Dada Cassandra berdesir tajam. Kejengkelan memuncak hingga jemarinya mencengkeram ponsel begitu kuat. Untuk beberapa detik, emosi menguasai kepalanya, saat memikirkan ada orang berani yang mengintai dan berusaha menghancurkan permainannya sebelum benar-benar dimulai. Rahasia itu adalah celah rentan yang bisa merusak segalanya jika Narendra sampai salah paham.
Seperti biasa. Kepanikan itu hanya bertahan sekelebat. Cassandra menarik napas panjang. Membiarkan udara dingin menenangkan gelegak di dadanya, sebelum perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu percaya diri.
Pikiran liarnya justru bekerja kilat menemukan celah balik—alih-alih takut, ia bisa memutarbalikkan foto ini menjadi senjata paling licik. Jika ia lebih dulu mendatangi Narendra sambil berpura-pura menjadi korban yang terancam. Bukankah rasa bersalah dan insting melindungi dari cowok itu justru akan sepenuhnya jatuh ke tangannya?
Dua jam kemudian.
Cassandra duduk santai di sudut kafe seberang sekolah. Memutar-mutar sedotan es kopinya seraya mengetuk-ngetukkan jemari di atas meja kayu. Akalnya tak berhenti mencari celah.
Ia memasang jebakan balik untuk pengancam misterius itu. Dengan tenang, ia membalas pesan nomor asing tersebut, menyetujui lokasi pertemuan rahasia yang ia atur sendiri di tempat parkir samping sekolah besok pagi. Lokasi yang persis dilewati Narendra setiap jam masuk kelas.
Gadis itu menyusun skenario di mana orang pengancam itu akan terlihat seolah sedang mengintimidasi dan merundungnya secara fisik. "Hmm, ancaman murahan kayak gitu gak bakal bikin gue gentar," lirihnya.
Tepat saat jam pulang sekolah berbunyi dari kejauhan. Cassandra merogoh ponselnya. Dia mengetik pesan singkat ke nomor Narendra yang baru saja ia dapatkan dari daftar kontak kelas.
"Ren, gue lagi kena masalah besar gara-gara ada orang yang neror gue pakai foto manipulasi. Gue takut banget dan cuma percaya sama lu... bisa ketemu besok jam 7 pagi di parkiran samping?" Cassandra mengunci layar ponselnya, menyunggingkan senyuman puas.
Perangkapnya sudah terpasang sempurna.