Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Punya yang Kuinginkan

Minnie tersenyum tipis sambil menopang pipinya dengan satu tangan, “Ya, aku bekerja di luar negeri.”

Mata Nelia langsung berbinar penuh rasa penasaran, “Kak Minnie, keluarga Kakak nggak pernah bilang apa-apa mengenai hal ini?”

“Nona Nelia.” Adrian yang duduk di sampingnya langsung menyela.

Minnie menyelipkan helaian rambut yang jatuh ke belakang telinganya, “Nggak papa kok.”

Ia menurunkan pandangan, lalu berkata dengan nada tenang, “Mereka memang tidak terlalu peduli padaku.”

Nelia langsung tidak tahu harus berkata apa. Ia melirik Silvia di sampingnya dengan canggung, lalu memberikan tatapan meminta bantuan.

Silvia hanya tersenyum tipis, “Minnie, kali ini kamu akan tinggal di sini berapa lama?”

Minnie menusukkan garpunya ke udang di piring. Setelah terdiam sejenak, ia menjawab, “Belum tahu. Tapi…kemungkinan besar, aku akan pergi bersamamu.”

Tangan Adrian yang sedang memegang sumpit berhenti sejenak. Begitu mendengar kata pergi lagi, senyum yang baru saja muncul di wajahnya perlahan menghilang. Ia menundukkan kepala dan diam-diam melanjutkan makan.

Nelia melirik Adrian sekilas, sudut bibirnya tanpa sadar sedikit terangkat.

Silvia perlahan berdiri, kedua tangannya ia usapkan pada taplak meja beberapa kali, “Aku hari ini mau mengunjungi Bibi Chris.”

Silvia menoleh kepada Nelia, “Nel, kamu mau ikut?”

Mata Nelia seketika berbinar, tetapi tak lama kemudian kembali meredup. Ia memutar-mutar sumpat di dalam mangkuk sambil sedikit mengembungkan pipinya, “Aku nggak bisa menemanimu hari ini. Keluargaku memaksaku pergi makan berdua dengan abangmu.”

Silvia mengusap lembut kepala Nelia, “Bersenang-senanglah kalau begitu. Tidak usah mengkhawatirkanku.”

Setelah berkata demikian—

Silvia berbalik dan naik ke lantai atas untuk Bersiap. Melihat ekspresi tenang Minnie, Nelia mengedarkan pandangannya sejenak, “Aku juga mau pergi bersiap.”

Minnie menopang kepalanya dengan satu tangan, lalu menatap Adrian yang sejak tadi hanya diam, “Adrian, akhirnya kamu mau juga mengganti rambut model mangkukmu itu.”

Kedua tangan Adrian mengepal erat di bawah meja, ia menghela napas pelan, “Kamu…mau pergi lagi…”

Minnie menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap lampu Kristal yang tergantung di atas meja makan.

“Ya.” Suaranya terdengar sedikit malas, “Kepulanganku kali ini memang karena Bos menyuruhku menjaga Silvia. Kalau Silvia pergi, tentu aku akan ikut.”

Adrian menahan emosinya beberapa kali sebelum akhirnya bertanya dengan suara rendah, “Kamu nggak pernah kepikiran tentang hidupmu sendiri?”

Sudut bibir Minnie terangkat. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu tersenyum mencemooh dirinya sendiri, “Aku memang nggak punya sesuatu yang benar-benar kuinginkan. Adrian kecil, kamu tahu sendiri. Aku sudah lama nggak punya sesuatu yang ingin kuperjuangkan.”

Setelah berkata demikian, Minnie berdiri dan berjalan menuju ruang tamu.

Adrian menatap punggungnya yang menjauh tanpa ragu. Pikirannya tanpa sadar kembali ke bertahun-tahun lalu.

Tahun itu, kakek Minnie baru saja meninggal dunia. Asap dupa di ruang duka bahkan belum habis terbakar, tetapi para anggota keluarga sudah saling berebut harta warisan hingga wajah mereka memerah karena emosi.

Waktu itu, usianya baru sepuluh tahun. Di usia ketika seharusnya seorang anak bisa hidup tanpa bebean, ia justru menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang yang memiliki hubungan darah dengannya berubah menjadi musuh hanya demi kepentingan dan harta.

Sejak hari itu, ia tidak pernah lagi percaya pada apa yang disebut sebagai kasih sayang keluarga.

Silvia baru saja keluar dari kamarnya ketika tanpa sadar pandangannya tertuju pada pintu di ujung lorong yang sejak tadi selalu tertutup rapat.

Detik berikutnya—

Tiba-tiba terdengar suara jeritan seperti orang kesurupan.

“Nona Minnie, aku mohon! Tolong lepaskan aku!”

Suara Fray yang merengek terdengar bersahut-sahutan di seluruh mansion. Kedua tangan robot kecil itu menggantung di udara, sementara tubuhnya terus meronta tanpa daya.

Minnie memegang kedua sisi kepalanya yang bulat dengan kedua tangan, matanya mengamati kepala Fray dari atas hingga bawah.

Silvia berdiri di dekat tangga, melihat Fray yang terus meronta. Sudut birbirnya sedikit terangkat.

“Nyonya Muda…” Fray mengulurkan tangannya dengan lemas kea rah Silvia yang perlahan menjauh dari pandangannya.

“Tolong aku…diam au membongkar isi kepalaku…”

“Minnie, jangan sampai kamu merusaknya.”

Silvia baru saja melangkah keluar dari pintu utama ketika ia melihat Adrian bersandar di samping mobil Mercedes-Benz G-Class hitam.

Sebatang rokok terselip di antara jarinya, wajahnya tampak murung. Baru setelah Silvia berdiri di sampingnya, Adrian perlahan tersandar dari lamunannya, “Nona Silvia.”

Ia segera mematikan rokok di antara jarinya, tetapi tidak langsung melepaskannya.

Silvia melirik ujung jarinya yang sudah memutih karena terlalu kuat menggenggam rokok, “Kamu nggak apa-apa kan?”

Adrian hanya menggeleng pelan, ia mengantar Silvia sampai ke depan kediaman keluarga Devallion, “Nona Silvia, perlu aku temani masuk?”

Kedua tangan Adrian tetap santai di atas kemudi.

Tangan Silvia sudah berada di gagang pintu. Tanpa sedikit pun ragu, ia membuka pintu mobil, “Nggak perlu, kamu pulang saja dulu.”

Adrian melihat Silvia membuka pintu utama dengan begitu terbiasa lalu masuk ke dalam mansion. Barulah ia perlahan menjalankan mobilnya dan pergi.

Silvia mendorong pintu mansion. Namun kali ini, tidak ada suasana ramai seperti biasanya. Sebaliknya, tempat itu justru terasa terlalu sunyi, tidak ada suara televisi dari ruang tamu, tidak terdengar langkah para pelayan. Bahkan udara di dalam rumah terasa begitu hening hingga membuat dada sesak.

Silvia melewati area foyer. Tanpa sadarm ia menundukkan kepala dan hendak mengganti sepatu. Namun detik berikutnya, ia terdiam. Di samping sandal rumah miliknya, tergeletak sepasang sandal pria berwarna hitam.

Sepatu itu terlalu ia kenal. Begitu dikenalnya hingga hanya dengan sekali melihat, ia langsung tahu siapa pemiliknya.

Silvia perlahan berjongkok, ujung jarinya menyentuh bagian tepi sandal itu dengan lembut. Tidak ada sedikit pun debu di atasnya. Seolah-olah belum lama ini seseorang baru saja meletakkannya kembali di tempat semula.

Jari-jari Silvia sedikit gemetar. Untuk sesaat, ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya.

Saat itulah—

Sebuah suara lembut terdengar dari ruang tamu, “Silvia, kamu sudah datang.” Suara Rosie terdengar sangat pelan.

Silvia memaksakan senyum di wajahnya, lalu mengambil sandal rumah miliknya.

Rosie menggenggam tangannya dengan lembut, telapak tangan wanita itu terasa dingin, “Silvia, beberapa hari ini tidurnya nyenyak nggak?”

Dengan ditemani Rosie, Silvia berjalan menuju sofa dan duduk, “Lumayan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!