"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu itu Bermula
Selesai menunaikan salat Zuhur, masjid mulai sepi. Seperti kebiasaanku, aku masih betah berlama-lama duduk di dalam masjid, menikmati suasana tenang sebelum akhirnya beranjak pulang.
Saat keluar dari masjid, mataku menangkap sebuah tas berwarna marun yang tergeletak tidak jauh dari pintu. Aku mendekatinya, lalu mengambil tas itu. Pada bagian gantungannya, tertulis sebuah nama.
Aisyah.
Aku terdiam sejenak.
Apakah ini tas milik Ustadzah Aisyah?
Belum sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba suara Hammad mengagetkanku.
"Ada apa, Lam?"
Aku menoleh kepadanya. "Eh, ini ada tas yang tertinggal. Sepertinya pemiliknya bernama Aisyah." Aku menunjukkan tas marun yang masih kupegang.
"Oh, iya. Tadi Ustadzah Aisyah memang sempat berhenti di sini. Berarti tasnya ketinggalan." Hammad kemudian menatapku. "Antum bisa mengantarkannya ke sana, kan?"
Aku mengangguk. "Baiklah."
Diam-diam, hatiku merasa sedikit berdebar.
Ini bisa menjadi kesempatan bagiku untuk bertemu dengan Ustadzah Aisyah.
Sebelumnya, aku memang diajak untuk menjalani proses ta'aruf dengannya. Namun, tidak ada foto yang dicantumkan dalam CV ta'aruf yang diberikan kepadaku. Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya secara langsung.
Mungkin, mengantarkan tas ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenalnya sedikit lebih dekat.
Entah kenapa, langkahku menuju tempat Ustadzah Aisyah berada terasa berbeda dari biasanya. Ada rasa penasaran yang perlahan muncul di dalam hati.
Seperti apa sebenarnya sosok Ustadzah Aisyah?
Namun, aku masih memiliki tenggat untuk menyelesaikan materi rapat kerja yang akan datang. Aku memutuskan untuk kembali ke asrama terlebih dahulu, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tertunda sebelum mengembalikan tas tersebut.
Sesampainya di asrama, aku merebahkan tubuh di kursi kerja. Di hadapanku sudah menumpuk beberapa berkas yang harus segera kuperiksa. Satu per satu kubuka, mencoba memusatkan pikiran pada materi rapat kerja.
Hingga tanpa sengaja, mataku tertuju pada sebuah lembar susunan kepanitiaan.
Aku membaca daftar nama yang tercantum di sana.
Kemudian mataku berhenti pada satu nama.
Koordinator bagian putri: Ustadzah Aisyah.
Aku terdiam.
"Ustadzah Aisyah...?"
Nama itu terasa tidak asing. Tentu saja, karena sejak tadi aku sedang memegang tas miliknya.
Aku kembali membaca baris tersebut, memastikan bahwa aku tidak salah melihat.
Ternyata benar.
Ustadzah Aisyah adalah koordinator bagian putri.
Sedangkan aku sendiri merupakan salah satu koordinator bagian putra.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi, lalu mengembuskan napas panjang.
Apakah ini sebuah kebetulan? Atau memang takdir yang sedang mempertemukan kami dengan cara yang tidak pernah kuduga?
Jika benar demikian, berarti setelah ini aku akan cukup sering berinteraksi dengannya dalam urusan pekerjaan.
Padahal, beberapa waktu lalu aku bahkan belum pernah melihat wajahnya.
Dan sekarang, sebelum aku sempat mengenalnya, sebuah tas miliknya justru sudah lebih dahulu berada di tanganku.
Aku tersenyum kecil.
"Sepertinya semuanya mulai terhubung..."
Namun aku segera menggelengkan kepala, berusaha mengembalikan fokus pada pekerjaanku.
"Sudahlah. Jangan terlalu jauh berpikir."
Masih ada materi rapat kerja yang harus kuselesaikan.
Urusan tentang Ustadzah Aisyah bisa kupikirkan nanti.
Hampir setengah jam aku berkutat dengan berkas-berkas di atas meja. Setelah merasa cukup beristirahat, akhirnya aku bangkit dari kursi dan mengambil tas berwarna marun yang sejak tadi berada di dekatku.
Aku hendak mengembalikannya.
Namun baru beberapa langkah keluar dari kamar, aku tiba-tiba teringat sesuatu.
Aku mau ke sana naik apa?
Aku tidak bisa mengendarai sepeda motor.
Bukan karena aku belum pernah belajar. Aku pernah. Hanya saja, sejak kecelakaan yang pernah kualami, aku tidak lagi berani mengendarai motor.
Aku menghela napas pelan.
Pondok putra dan pondok putri sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar tujuh ratus meter. Kalau berjalan kaki pun bisa. Hanya saja... entah kenapa hari ini rasanya malas sekali berjalan.
Saat sedang berpikir, tiba-tiba seorang ustadz muda menyapaku.
"Ustadz Alam, mau ke mana?"
Aku menoleh. Sepertinya aku belum terlalu mengenalnya. Maklum, aku berada di tempat ini hanya sebagai ustadz yang diutus untuk sementara waktu.
"Oh, saya mau ke pondok putri. Ustadz sendiri ada keperluan ke sana?" tanyaku.
"Saya kebetulan juga mau ke sana, Ustadz. Mau mengirimkan data santri yang ikut sekaligus mutaba'ah mereka."
Aku langsung merasa lega.
"Kalau begitu, saya numpang, ya, Ustadz."
"Wah..." Ia tertawa kecil. "Sebenarnya saya yang mau nitip, Ustadz. Tapi baiklah."
Aku ikut tersenyum.
Untung ada yang bisa ditumpangi. Kalau tidak, mungkin aku benar-benar mengurungkan niat mengembalikan tas ini.
Kami pun mulai berjalan menuju kendaraan.
Baru beberapa langkah, suara ustadz muda itu kembali terdengar.
"Ngomong-ngomong, Ustadz Alam ada perlu dengan ustadzah siapa?"
Pertanyaannya membuyarkan lamunanku.
"Eh..." Aku sedikit kikuk. "Saya mau mengembalikan tasnya Ustadzah Aisyah."
"Oh..." Ia mengangguk. "Kebetulan beliau kan koordinator bagian putri, ya, Ustadz?"
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, antum saja yang memberikan langsung nanti."
Aku terdiam sesaat.
Tadi aku hanya berniat mengembalikan sebuah tas yang tertinggal.
Sekarang, entah kenapa, rasanya seperti akan menghadapi sesuatu yang lebih dari sekadar mengembalikan barang.
"Eh... baiklah," jawabku akhirnya.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏