Indonesia
NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangis yang Pecah dan Tiket Magis di Musim Dingin

Eratnya dekapan dingin pagi hari akhirnya melonggar saat Mira perlahan mengerjapkan matanya. Sensasi hangat dan empuk yang ia rasakan di bawah pipinya mendadak terasa asing.

Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, Mira tersentak kecil. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia tertidur pulas dengan kepala beralaskan paha tegap Jungkook.

Mira buru-buru mendudukkan dirinya, wajahnya seketika merona merah padam. "O-Oppa... maaf! Aku tidak sengaja..."

Namun, Jungkook yang baru saja kembali dari dapur membawa segelas air hangat hanya menyunggingkan senyum tipis. "Tidak apa-apa. Kau nyenyak sekali tidurnya."

Pandangan Mira secara refleks beredar mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tengah yang mendadak terasa begitu sepi dan lengang. Tidak ada suara piring berdenting dari dapur, tidak ada ocehan jenaka, dan yang paling membuat dadanya berdesir cemas... koper besar kakaknya di dekat pintu sudah menghilang.

"Oppa..." suara Mira mendadak bergetar, firasat buruk seketika menghujam dadanya. "Taehyung Oppa... di mana?"

Jungkook menghentikan langkahnya, menatap Mira dengan binar mata sarat akan rasa iba. Ia meletakkan gelas air di meja, lalu duduk perlahan di sofa depan Mira.

"Dia sudah berangkat ke bandara setengah jam yang lalu, Mira-ya," bisik Jungkook pelan dan lembut. "Taehyung memintaku untuk tidak membangunkanmu. Dia bilang... dia naik taksi saja karena takut tidak sanggup menahan air matanya kalau kau ikut mengantar."

ZAP.

Pertahanan Mira runtuh seketika. Janji pada dirinya sendiri untuk menjadi kuat di kota orang mendadak menguap tanpa sisa.

Rasa sepi, kecewa, dan ditinggalkan meledak simultan di dalam dadanya. Mira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan tangisannya pun pecah seketika. Bahunya teruncang hebat diiringi isakan pelan yang teramat memilukan di tengah keheningan ruang tengah.

Melihat bahu mungil itu bergetar hebat, dada Jungkook terasa ikut tercubit pedih. Tanpa ragu lagi, Jungkook bergerak mendekat. Jemari tegapnya mengusap lembut punggung Mira, menyalurkan kehangatan yang ia miliki demi menenangkan gadis itu.

"Ssst... tidak apa-apa, menangislah," bisik Jungkook tepat di sampingnya, membiarkan Mira menumpahkan seluruh rasa sedihnya.

Setelah beberapa menit isakan Mira perlahan menyurut menjadi hembusan napas yang pasrah, Jungkook mengusap air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya secara refleks, sesebuah gerakan teramat halus yang membuat napas Mira sempat tertahan.

Jungkook berdiri, menyunggingkan senyum paling hangat yang ia punya.

"Mandi dan pakailah pakaian tebalmu yang paling hangat," panggil Jungkook tiba-tiba seraya merogoh ponsel di dalam saku mantelnya.

Mira mendongak dengan mata yang sembab dan hidung yang memerah. "Mau Ke mana?"

"Kita akan pergi ke Disneyland Paris," ujar Jungkook santai, mengibaskan ponselnya. "Hari ini aku mengambil cuti penuh. Tidak ada pekerjaan, tidak ada berkas rapat. Hanya ada kau, aku, dan istana dongeng."

Mira membelalak terkejut. "Tapi Oppa... pekerjaanmu di studio bagaimana? Bukannya lusa ada laporan investor?"

"Sudah diurus," bohong Jungkook cepat tanpa mengedipkan mata.

Nyatanya, ponsel di dalam saku Jungkook sejak tadi terus bergetar tanpa henti. Puluhan pesan singkat dari tim kreatif dan panggilan dari sekretarisnya mengenai revisi draf HexaVerse sudah menumpuk berjejer. Pekerjaan di mejanya menumpuk bak gunung, namun Jungkook memilih mengabaikan semuanya.

Bagi Jungkook hari ini, mengukir kembali senyuman di wajah Mira yang sembab jauh lebih penting daripada proyek berulang kali lipat nilainya.

Mira menatap Jungkook lekat-lekat, tersentuh oleh kebaikan pria di hadapannya. Tanpa tahu kebohongan manis di balik kata 'cuti' tersebut, Mira akhirnya mengangguk pelan, membiarkan dirinya dihibur oleh pria yang perlahan mengisi seluruh ruang di hatinya.

Satu jam kemudian, mobil sedan hitam milik Jungkook membelah jalanan kota Paris menuju arah Marne-la-Vallée. Di dalam mobil, lagu-lagu berirama tenang diputar pelan, mencoba membalut keheningan yang tersisa dari tangis Mira pagi tadi.

Begitu mereka menginjakkan kaki di pelataran Disneyland Paris, keajaiban musim dingin seolah langsung menyambut. Wahana megah yang dihiasi lampu-lampu gantung, maskot-maskot yang menyapa dari kejauhan, serta kemegahan Istana Sleeping Beauty di tengah taman berhasil membuat matanya yang tadi sembab kembali berbinar terang.

"Wah..." gumam Mira takjub, uap dingin keluar dari bibirnya setiap kali ia bernapas. Sensasi hangat mendadak mengalir di dadanya saat melihat kastil impiannya berdiri megah di bawah langit Paris yang biru redup.

Jungkook yang berjalan di sampingnya menyunggingkan senyum lega. Rasa sedih yang tadinya membayang di raut wajah Mira kini perlahan luntur, berganti dengan binar anak kecil yang bahagia.

"Bagaimana? Bagus, kan?" tanya Jungkook seraya membetulkan letak topi kupluk hitam di kepalanya. "Ayo, kita naik wahana pertama."

Sepanjang siang hingga sore hari, Jungkook benar-benar menjelma menjadi pendamping yang sempurna. Pria yang biasanya mengenakan jas kaku di ruang rapat itu kini rela mengenakan bando telinga Mickey Mouse yang dibelikan Mira, menggandeng tangan gadis itu menembus kerumunan pengunjung agar tak terpisah, hingga membelikannya gulali merah muda dan churros hangat.

Setiap kali Mira tertawa lepas saat naik wahana roller koster atau berfoto di depan istana, dada Jungkook terasa begitu penuh. Rasa lelahnya menguap tuntas setiap kali melihat lengkungan senyum manis di bibir gadis itu.

Namun, di balik keceriaan itu, ponsel di dalam saku mantel Jungkook tak pernah berhenti bergetar.

Bzzzt... Bzzzt...

Setiap kali Mira sibuk melihat-lihat toko merchandise atau mengantre makanan, Jungkook secara sembunyi-sembunyi merogoh ponselnya. Matanya membaca cepat deretan pesan panik dari tim kreatif HexaVerse dan sekretarisnya:

[Pesan dari Sekretaris Han]: Presdir Jeon, berkas persetujuan anggaran untuk investor London harus ditandatangani sebelum pukul 6 sore ini! Apakah Anda masih di luar?

[Pesan dari Tim Kreatif]: Pak Jeon, ada kendala pada render 3D proyek Seoul. Kami membutuhkan arahan Anda sekarang.

Jungkook mengetikkan balasan dengan satu tangan seraya memperhatikan gerakan Mira dari kejauhan.

[Jungkook]: Undur rapatnya besok pagi. Kirimkan draf revisinya ke email-ku, akan kuperiksa nanti malam.

Jungkook mematikan layarnya dan kembali memasukkan ponsel itu ke saku sebelum Mira menyadarinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusir beban pekerjaan yang menumpuk di kepalanya. Hari ini, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak ada hal lain yang lebih penting daripada kebahagiaan Mira.

Saat kembang api malam mulai meluncur ke langit, menghiasi Istana Disneyland dengan ribuan pendar cahaya warna-warni yang indah, Mira berdiri terpaku.

Gadis itu menoleh ke arah Jungkook yang berdiri di sisinya. Diterpa pendar kembang api yang cantik, garis wajah pria itu tampak begitu sempurna dan teduh.

"Oppa..." panggil Mira pelan di tengah riuhnya suara kembang api.

Jungkook menunduk, menatap manik mata Mira yang memantulkan pendar cahaya warna-warni. "Mmm?"

"Terima kasih banyak untuk hari ini," ujar Mira tulus, suaranya sarat akan rasa haru. "Hari ini... aku sungguh sangat bahagia. Rasa sedihku karena ditinggal Taehyung Oppa rasanya benar-benar hilang."

Jungkook tersenyum lembut, mengulurkan tangannya untuk merapikan syal di leher Mira dari terpaan angin malam yang kian menusuk.

"Selama kau tersenyum, itu sudah lebih dari cukup bagiku, Mira-ya," balas Jungkook pelan namun teramat tulus, sebuah kalimat manis yang kembali membuat jantung Mira bertalu hebat di balik mantel tebalnya.

Kembang api penutup baru saja usai melukis langit malam Marne-la-Vallée. Di tengah kerumunan pengunjung yang perlahan mengular keluar dari arena Disneyland, Mira berjalan dengan langkah riang. Bando telinga Mickey Mouse yang terpasang di kepalanya bergerak-gerak mengikuti langkah kecilnya yang penuh semangat.

Uap dingin yang terpancar dari helaan nafasnya tak sedikit pun melunturkan binar bahagia di matanya. Rasa sedih, kecewa, dan tangisannya pagi tadi saat melepas Taehyung seolah menguap tuntas, tergantikan oleh sensasi hangat yang menyelimuti dadanya.

Di sampingnya, Jungkook berjalan santai dengan kedua tangan masuk ke dalam saku mantel. Tatapannya tak pernah lepas dari garis wajah Mira yang kini kembali berseri. Senyum tipis yang tulus terukir di bibir pria itu. Rasa lelah, tumpukan pesan panik dari sekretarisnya, dan bayangan pekerjaan yang menumpuk di studio seketika menghilang tanpa sisa.

Aku berhasil, bisik batin Jungkook lega. Senyumnya sudah kembali.

Sebelum kembali ke pusat kota Paris, Jungkook membawa Mira singgah di sebuah restoran hangat yang masih buka di sekitar area Disney Village untuk makan malam.

Di meja makan yang diterpa pendar lampu kekuningan yang lembut, mereka menikmati dua porsi hidangan hangat. Kehangatan makanan dan minuman manis dengan cepat mengusir hawa dingin yang sempat merayap di kulit mereka sepanjang malam.

"Oiya, Oppa," buka Mira di sela-sela suapannya, menatap Jungkook dengan raut wajah yang mendadak teringat sesuatu. "Lusa... aku sudah harus mulai masuk kuliah untuk hari pertama."

Jungkook meletakkan pisau dan garpunya, mendongak menatap Mira. "Lusa? Kalau begitu, biar aku yang mengantarmu dengan mobil. Pagi hari di Paris sangat dingin dan transportasi umum biasanya sangat padat."

Namun, Mira tersenyum manis lalu menggelengkan kepalanya pelan, menolak tawaran itu dengan halus.

"Tidak usah, Oppa," sahut Mira lembut. "Aku ingin mencoba membiasakan diri naik Métro dan bus kota. Aku kan mahasiswa di sini, jadi aku harus mulai terbiasa bernavigasi sendiri di Paris."

Gadis itu meneguk minumannya sebentar sebelum melanjutkan dengan binar penuh harap, "Lalu, selesai jam kuliah nanti, aku mau mampir sebentar ke apartemenku. Aku mau mengecek apakah proses renovasi pipa airnya sudah selesai atau belum."

DEG.

Kalimat sederhana yang keluar dari bibir Mira seketika menghentikan gerakan tangan Jungkook yang hendak meraih cangkir kopinya.

Jungkook terpaku. Tatapannya membeku menatap wajah polos Mira yang masih bercerita tentang rencana kuliahnya.

Sebuah perasaan asing yang teramat mengganggu mendadak mencubit ulu hati Jungkook. Kata-kata 'cek renovasi apartemen' bergaung keras di kepalanya. Jika pengerjaan renovasi itu sudah selesai... itu artinya masa tinggal Mira di apartemennya telah berakhir.

Gadis itu akan berkemas, mengangkat koper-kopernya, dan pindah ke tempatnya sendiri. Tidak ada lagi kehangatan di ruang tengah, tidak ada lagi senyum hangat yang menyambutnya pulang dari studio, dan tidak ada lagi alasan baginya untuk memeluk atau memanjakan gadis ini di bawah atap yang sama.

Jungkook memalingkan pandangannya ke luar jendela restoran yang berembun, menyembunyikan riak galau yang mendadak memenuhi dadanya. Pria yang biasanya selalu tegas dan penuh kalkulasi itu kini diliputi kebimbangan besar. Di satu sisi, ia ingin Mira mandiri dan merasa aman. Namun di sisi lain... batinnya yang paling dalam berteriak menolak kenyataan bahwa gadis ini akan segera pergi dari sisinya.

Atmosfer hangat di meja restoran yang tadinya dipenuhi tawa mendadak mengendap tenang. Suara berdenting pisau dan garpu di piring Jungkook terhenti sepenuhnya.

Mira yang menyadari perubahan raut wajah pria di hadapannya mendadak menghentikan bualannya.

 "Oppa? Ada apa?"

Jungkook membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. Pria itu menegakkan posisi duduknya, menatap lurus-lurus ke dalam manik mata Mira dengan sorot mata yang begitu pekat dan intens, sorot mata yang membuat dada Mira seketika berdebar halus.

"Tidak usah buru-buru pindah, Mira-ya," ujar Jungkook. Suara beratnya meluncur dengan nada yang teramat tenang, namun ada ketegasan tersembunyi di balik tiap kata yang ia ucapkan.

Mira mengerutkan keningnya tipis. "Maksud Oppa?"

"Kau tidak perlu terburu-buru mengecek apartemen itu lusa," lanjut Jungkook seraya menyandarkan kedua lengannya di atas meja, mengikis jarak di antara mereka. "Pekerjaan renovasi di Paris sering kali terburu-buru dan hasilnya belum tentu aman. Kau bisa tinggal di apartemenku semaumu. Selama yang kau mau."

DEG.

Mira terpaku. Kata-kata 'semaumu' yang meluncur begitu mudah dari bibir Jungkook terasa membakar indra pendengarannya. Pipi gadis itu seketika merona merah hangat, menjalar hingga ke ujung telinganya.

"T-tapi Oppa..." jawab Mira terbata-bata, berusaha menetralisir rasa canggung yang mendadak menyerbu dadanya. "Aku tidak enak jika terus-terusan menumpang di apartemenmu. Itu kan tempat tinggalmu, lagipula... kita bukan siapa-siapa. Aku hanya adik sahabatmu."

Jungkook menatap reaksi polos Mira. Rasa gelisah yang sempat menghimpit dadanya perlahan terkikis, berganti dengan keinginan kuat untuk menahan gadis ini agar tetap berada dalam jangkauannya.

"Taehyung sudah mempercayakan keselamatanmu padaku sebelum dia pergi ke Seoul," kilah Jungkook cepat, menggunakan nama sahabatnya sebagai alasan yang paling aman untuk menutupi gejolak hatinya sendiri.

"Apartemenku jauh lebih dekat ke area kampus Sorbonne, sistem keamanannya terjaga 24 jam, dan yang paling penting... aku tidak perlu khawatir membayangkanmu sendirian di apartemen yang baru selesai direnovasi."

Jungkook meraih cangkir kopinya, menatap Mira dari balik uap hangat yang membumbung.

"Jadi, tidak ada alasan untuk buru-buru angkat kaki, Kim Mira," pangkas Jungkook penuh dominasi yang lembut. "Tetaplah di sana."

Mira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan senyuman tipis dan gigitan bibir bawahnya yang tak mampu menahan kebahagiaan kecil yang membuncah. Di balik argumen "amanah dari Taehyung" yang disampaikan Jungkook, kehangatan dan rasa protektif pria itu berhasil meluluhkan seluruh niatnya untuk mandiri terlalu cepat.

"Baiklah..." bisik Mira lirih, memasrahkan hatinya untuk tetap berada di bawah atap yang sama dengan pria yang kian hari kian bertahta di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!