Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Akting Pingsan Estetik
Eh, kampret lo ya! Gue ini adalah Reno Alvarez, sahabat kental dari cucu pemilik rumah ini, si Radit! Buruan bukain ini gerbang emas atau lo berdua bakal gue laporin langsung ke Oma Karin biar dipecat!
Tapi apa daya, sistem pita suara si nenek peot tidak bisa diajak bekerja sama. Yang berhasil keluar lolos dari celah bibir keriputnya hanyalah sebuah suara serak ghaib yang berbunyi:
"Uhh... airrr... tenggorokan gue sret... uhukk! Uhukk!" sambil kedua tangan keriputnya sibuk menunjuk-nunjuk ke arah leher dengan gerakan tangan lincah yang jatuhnya malah lebih mirip seperti orang yang sedang memperagakan gerakan koreografi tarian lagu anak-anak Baby Shark.
Belum sempat penderitaan sumbatan nasi rames di tenggorokannya berhasil diatasi, area perut bungkuk si nenek pengemis mendadak kembali beraksi melakukan serangan balasan.
Krucukkkk... Kruyuuukk...
Bunyi gejolak lapar di dalam lambung si nenek gembel terdengar begitu dahsyat menggelegar membelah udara lobi, sampai-sampai salah satu petugas satpam kekar itu secara refleks terpaksa mengambil langkah mundur satu langkah ke belakang karena kaget setengah mati.
Ya ampun Gusti Nu Agung, ini di dalam bodi sebenarnya organ perut manusia apa sarang naga ghaib sih, hah?! Padahal kan tadi baru beberapa menit yang lalu gue udah makan ludes sebungkus nasi rames hangat milik si Alin! Masa iya baru juga pindah dimensi sebentar, seluruh pasokan energinya langsung otomatis ludes habis kena potongan pajak bea cukai antar-alam?!
Reno terus-menerus mengumpat kesal di dalam lubang hatinya sambil kedua tangannya bergerak sibuk memegangi area perut dan bagian lehernya secara bergantian penuh drama.
Kondisi fisik Reno saat itu beneran sudah berada di dalam fase status darurat kuadrat: dilanda rasa haus dahsyat tingkat Gurun Sahara, didera rasa lapar tingkat macan hutan kelaparan, dan sisa nyawa berharganya sudah berada pasrah di ujung tenggorokan akibat sumbatan ranjau nasi rames mistis.
Dengan modal kenekatan tingkat nasional yang tinggi, ia mencoba menyelipkan tubuh bungkuk kecil si nenek di antara celah-celah jeruji gerbang besi raksasa, sambil mulutnya terus-menerus mengeluarkan suara rintihan ghaib berbunyi ngik-ngik minta tolong.
Reno yang kesadarannya sudah berada di ambang sakaratul maut akibat gumpalan nasi bungkus yang mendadak mengeras kayak batu bata di tenggorokan, mencoba sekuat tenaga memasang ekspresi wajah semelas mungkin di depan jeruji.
Sepasang mata indahnya sudah tampak banjir berair deras—sebuah efek visual yang jujur setengahnya murni karena akting manipulasi watak, dan setengahnya lagi beneran karena rasa perih yang teramat dalam akibat menahan sumbatan ranjau nasi mistis tersebut.
"Sebaiknya Nenek tua compang-camping segera angkat kaki pergi dari tempat ini. Jangan sampai pihak majikan besar kita tahu ada sesosok gembel pengemis dekil yang berani nongkrong di depan gerbang emas elite ini!" ucap Yono, salah satu petugas satpam bertubuh kekar besar yang ukuran kumis hitamnya tebalnya sudah setebal sikat WC umum, menatap tajam ke arah Reno dengan seberkas tatapan mata sinis beraura 'anti-kaum miskin'.
"Iya bener, Nek! Nenek sama sekali tidak boleh di-izinkan masuk melewati gerbang ini. Kami berdua bisa langsung kena semprot amukan dari Nyonya Besar, kalau sampai beliau tahu ada sesosok tamu 'tak diundang' dengan Kostum compang-camping dekil begini berani mengotori lobi," timpal Idan, petugas satpam satunya lagi yang tangannya sibuk membetulkan letak baret birunya agar penampilannya terlihat semakin galak menakutkan.
Reno terus memegangi area lehernya yang kini sensasi rasanya sudah berubah drastis, terasa seperti sedang dipaksa menelan sebongkah aspal jalanan panas. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berbicara mengeluarkan sepatah kata, tetapi yang berhasil lolos keluar dari mulutnya malah suara rintihan ngik-ngik melengking yang mirip suara tikus got kejepit daun pintu.
"Tolonglah... wahai Abang satpam... Uhukk! Izinkan nenek renta ini masuk... sedikit saja melewati celah gerbang. Apa di dalam hati kalian yang kekar itu nggak punya sedikit pun rasa belas kasihan sama sesosok nenek tua yang pasokan oli sendi tubuhnya sudah kering total begini? Nenek di sini murni cuma butuh pasokan air minum... satu gelas saja... atau kalau pelit, air keran yang biasa dipake buat nyiram tanaman taman juga nggak apa-apa deh!" pinta Reno merengek mengeluarkan suara serak-serak becek khas lansia.
Sepasang tangan keriputnya tampak mencoba menggapai-gapai ke arah jeruji besi dingin gerbang, sementara sepasang kakinya yang gemetar hebat melakukan gerakan bergetar shaking alami karena saking lemasnya tubuh ringkih tersebut.
"Sudah dibilang tidak bisa ya tidak bisa! Aturan protokoler mansion tetap aturan yang sakral, Nek! Silakan kamu pergi angkat kaki sekarang juga dari sini, sebelum kami berdua terpaksa melakukan tindakan represif alias menyeret paksa tubuh dekil Nenek ke pinggir jalan raya!" bentak Yono lantang sambil jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah hamparan aspal jalanan panas di luar area mansion dengan gaya menuding khas komandan perang di medan laga.
Reno langsung mendengus kesal di dalam dunia pikirannya. ‘Sialan bener ya lo, Yono! Awas aja lo ya ya! Kalau jiwa gue udah berhasil balik pulang ke dalam bodi asli gue yang ganteng, gue bakal langsung suruh si Adit buat potong total jatah gaji bulanan lo buat beli sampo pembersih kumis!’
Namun, karena rasa dahsyat hawa hausnya saat itu beneran sudah mencapai level puncak Gurun Sahara dan kondisi gumpalan nasi di kerongkongannya dirasakan makin lama makin mengeras kaku, Reno bukannya memilih mundur untuk pergi.
Ia malah berubah menjadi makin nekat gila. Ia sengaja menyandarkan bagian kepalanya di antara jeruji besi gerbang, sambil tangan keriputnya sibuk memegangi perutnya yang kembali mengeluarkan bunyi bergemuruh nyaring, krucukk-krucukk-boom!
Detik itu juga, Reno mulai mengeksekusi jurus pamungkas andalannya: Sebuah Seni Akting Pingsan Estetik.
Reno sengaja membuat sepasang matanya mendelik ke arah atas sampai yang terlihat cuma bagian putih bola matanya saja, lalu tubuh ringkih si nenek secara perlahan dibuat merosot jatuh ke arah bawah layaknya penampakan adonan kue gagal yang tidak bisa mengembang sempurna.
"Aduh... organ jantung Nenek rasanya mau copot... pasokan air... haus..." rintihnya pelan dengan nada suara melemah, lalu...
Bruk!
Tubuh bungkuk si nenek pengemis sukses terkapar pasrah di atas tanah tepat di depan sepasang sepatu safety milik kedua petugas satpam tersebut dalam posisi telentang yang sangat dramatis.
Menyaksikan kejadian ghaib itu, Yono dan Idan seketika langsung dilanda kepanikan massal skala besar. Mereka berdua saling lirik-lirikan satu sama lain dengan kondisi raut wajah yang berubah menjadi pucat pasi ketakutan.
"Waduh gawat, Dan! Ini nenek-nenek tua pengemis ini beneran mati tegak di tempat nggak ya? Kalau sampai dia tewas di dalam jadwal jam shift tugas kita, bisa berabe dan panjang urusan hukumnya kita nanti!"
****
Baca juga sekuel novel pertamanya 'Cinderella Ubi Rebus'. Kalau kalian suka jangan lupa like, komen dan subscribe ya!