Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

Sabtu pagi di kawasan Dago Atas disambut dengan hembusan angin sejuk dan sinar matahari hangat yang menembus celah pepohonan pinus. Di dapur bersih rumah mereka, suasana terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Tidak ada lagi percakapan dengan nada ketus atau panggilan "lu-gua" seperti sebelumnya.

Kirana sedang berdiri di depan kompor, membalikkan telur mata sapi dengan perlahan. Kenan melangkah dari arah belakang, hanya mengenakan kaos oblong hitam santai. Pria itu menyusupkan kedua tangannya di pinggang ramping Kirana, menyandarkan dagunya tepat di bahu halus istrinya.

"Pagi, Sayang..." bisik Kenan dengan suara baritonnya yang amat serak namun lembut.

Pipik Kirana seketika merona merah. Meskipun ini adalah hari kedua mereka sepakat mengubah gaya bahasa dan panggilan menjadi lebih intim, Kirana tetap saja merasa jantungnya berdebar kencang setiap kali Kenan memanggilnya seperti itu.

Kirana memutar sedikit tubuhnya di dalam dekapan Kenan, menatap manik mata hitam suaminya yang begitu redup dan penuh kasih. "Pagi juga, Sayang. Gimana tidurnya? Nyenyak?"

"Nyenyak banget," jawab Kenan seraya mengecup singkat ujung hidung Kirana. "Apalagi bangun tidur langsung meluk kamu kayak gini. Sesuai kesepakatan kita mulai sekarang ngomong nya gak boleh lagi pake kata kata ‘lu gue’"

Kirana terkekeh pelan, mengusap rahang tegas Kenan dengan ujung jarinya. "Iya... lagian kita kan udah suami istri resmi. Lucu aja kalau di rumah masih panggil lu-gua. Lebih enak panggil aku-kamu, lagian dengarnya jauh lebih romantis."

"Apapun yang bikin kamu bahagia, aku bakal turuti, Sayang," ujar Kenan mantap. Ia mengambil alih piring telur dari tangan Kirana dan menaruhnya di meja bar dapur, lalu menarik kursi agar Kirana bisa duduk dengan nyaman.

Sambil menikmati sarapan pagi, mereka saling bertukar cerita tentang persiapan perkuliahan minggu depan. Kirana yang sudah resmi menyelesaikan seluruh berkas administrasi di Fikom Unpad merasa jauh lebih tenang, sementara Kenan mulai disibukkan dengan jadwal pra-kuliah dan pengenalan laboratorium di Teknik Industri ITB.

"Nanti siang aku ada kumpul sebentar di kampus ITB," kata Kenan seraya menyesap kopi hitamnya. "Ada pengarahan dari himpunan mahasiswa buat penyesuaian jadwal praktikum."

Kirana menatap suaminya dengan pandangan teduh. "Lama gak, Mau aku antar ke depan atau kamu bawa mobil sendiri?"

"Sebentar aja kok, paling dua jam. Kamu di rumah aja ya, istirahat. Nanti sore sesuai janji, kita makan malam di Dago Atas sama Rian dan Bu Susi," jawab Kenan penuh perhatian.

….

Pukul 13.00 WIB, suasana Gedung Teknik Industri ITB Kampus Ganesha tampak ramai oleh lalu lalang mahasiswa. Sebagai kampus teknik nomor satu, atmosfer akademis begitu kental terasa. Kenan berjalan menyusuri koridor selasar dengan gaya berpakaian yang simpel namun sangat memikat, kemeja hitam tergulung rapi hingga siku, celana jins gelap, dan sepatu kasual.

Kehadiran Kenan yang memiliki perawakan tegap, wajah tampan rupawan, serta aura kepemimpinan yang dingin langsung mencuri perhatian banyak mahasiswi yang sedang duduk.

"Eh, itu mahasiswa baru yang dari Jakarta kan? Yang nilai tes masuknya tertinggi?" bisik seorang mahasiswi di sudut koridor.

"Iya! Tampan banget gila... Auranya mahal banget lagi."

Kenan tidak menghiraukan bisikan-bisikan tersebut. Pandangannya lurus ke depan menuju ruang amfiteater jurusan. Namun, ketika Kenan hendak menaiki anak tangga gedung, sebuah suara gadis yang anggun dan renyah memanggil namanya dari arah atas.

"Kenan Alister?"

Kenan menghentikan langkahnya, mendongak. Di atas tangga berdiri seorang mahasiswi tingkat tiga yang sangat memukau. gadis itu mengenakan kemeja sutra warna krem berpadu rok selutut yang elegan, rambut panjangnya yang bergelombang diwarnai coklat karamel alami, memancarkan pesona kelas atas.

Dialah Hanni Maheswari—Primadona Kampus ITB sekaligus Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Jurusan Teknik Industri. Hanni bukan sekadar gadis cantik biasa, ia adalah putri tunggal dari Maheswari Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang energi dan manufaktur. Selain karena kecantikannya di Kampus Ganesha, Hanni juga terkenal cerdas, berprestasi, dan selalu menjadi pusat perhatian para lelaki.

Hanni melangkah turun tangga dengan senyuman percaya diri yang sangat memikat, menghentikan langkahnya tepat dua anak tangga di atas Kenan sehingga tinggi mata mereka sejajar.

"Ternyata rumor itu benar. Mahasiswa baru berprestasi lulusan terbaik SMA Garuda itu punya perawakan yang sangat menarik," puji Hanni terang-terangan tanpa ragu sedikit pun. Matanya mengamati Kenan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan minat yang amat besar.

Kenan menatap seniornya itu dengan ekspresi datar tanpa riak emosi. Ia membungkuk kecil sekedarnya sebagai bentuk kesopanan. "Selamat siang, Kak. Saya Kenan dari angkatan baru."

Hanni mengulurkan tangan kanannya yang dihiasi jam tangan mewah edisi terbatas. "Gue Hanni Maheswari. Anak Teknik Industri tingkat tiga. Gue juga yang pegang alokasi asisten laboratorium untuk proyek riset semester ini."

Kenan menjabat tangan Hanni singkat, tidak sampai dua detik sebelum menarik tangannya kembali secara profesional. "Salam kenal, Kak Hanni."

Hanni terkekeh pelan melihat sikap dingin dan tidak terpengaruh yang ditunjukkan Kenan. Selama ini, hampir seluruh pria di kampus mulai dari ketua BEM hingga anak-anak konglomerat lain, selalu berusaha mencari perhatiannya. Namun pria ini justru menatapnya biasa saja, seolah kecantikan dan latar belakang besarnya tidak berarti apa-apa. Bukan marah, hal itu justru makin memicu rasa penasaran dan ketertarikan di dalam diri Hanni.

"Gue udah baca berkas rekam jejak akademik Lo pas di sekolah dulu, Kenan," ujar Hanni seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sempurna. Gue butuh orang seperti lo buat masuk ke tim riset utama manufaktur punya keluarga gue yang bekerjasama sama ITB. Dan tenang aja... gue bakal bimbing Lo secara personal."

Penawaran dari seorang Hanni Maheswari adalah hal yang sangat diimpikan oleh ribuan mahasiswa ITB. Selain mendapat akses riset bergengsi, menjadi dekat dengan Hanni berarti membuka jalan menuju lingkaran elit konglomerasi.

Namun, jawaban Kenan sangat di luar dugaan Hanni.

"Terima kasih atas penawarannya, Kak" jawab Kenan tenang namun begitu tegas. "Tapi untuk semester awal ini saya mau fokus pada kurikulum reguler dan penyesuaian jadwal pribadi saya dulu. Permisi, saya harus masuk ke ruang pengarahan."

Kenan membungkuk kecil lalu melangkah melewati Hanni begitu saja tanpa ragu sedikit pun.

Hanni membalikkan badannya, menatap punggung tegap Kenan yang menjauh. Bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius penuh tantangan.

"Menarik..." gumam Hanni pelan. "Seorang Kenan Alister ternyata susah ditaklukkan. Tapi makin dingin lo, makin penasaran gue buat naklukin lo sepenuhnya."

….

Sore harinya pukul 17.00 WIB, suasana Dago Atas mulai diselimuti kabut tipis dan warna keemasan senja. Kenan sudah kembali ke rumah sejak satu jam yang lalu. Pria itu menyegarkan diri dan kini tampil sangat tampan dengan balutan cashmere sweater warna coklat hangat dan celana kain gelap.

Di kamar utama, Kirana sedang berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan dress rajut lengan panjang berwarna krem yang membungkus indah bentuk tubuhnya, dipadukan dengan syal abu-abu tipis.

Kenan melangkah mendekati istrinya dari belakang, melingkarkan lengan tegapnya di pinggang Kirana dan merapatkan tubuh mereka. Kenan menyandarkan dagunya di bahu Kirana, memandangi pantulan diri mereka berdua di dalam cermin.

"Cantik banget sih istri aku..." puji Kenan lembut, mengecup pipi Kirana yang halus.

Kirana tersenyum manis, memegang jemari Kenan yang melingkar di perutnya. "Kamu juga tampan banget, Sayang. Gimana pengarahan di ITB tadi, Lancar?"

Teringat akan pertemuannya dengan Hanni Maheswari di kampus tadi, Kenan memilih untuk jujur sepenuhnya pada Kirana. Bagi Kenan, keterbukaan adalah hal utama yang harus dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.

"Lancar, Sayang," jawab Kenan tenang. "Cuma tadi ada senior perempuan tingkat tiga, namanya Hanni Maheswari. Dia nawarin aku masuk tim risetnya."

Kirana menoleh sedikit, menatap wajah suaminya. "Terus kamu terima, Sayang?"

Kenan menggeleng pelan, menatap lurus mata Kirana. "Enggak. Aku tolak. Cara dia bicara dan natap aku kelihatan punya hal lain. Aku gak mau ada hal-hal gak penting yang bikin kamu gak nyaman atau mengganggu waktu kita berdua."

Mendengar kejujuran dan ketegasan sikap suaminya, hati Kirana diliputi rasa hangat yang begitu membuncah. Ia berbalik di dalam dekapan Kenan, menatap mata suaminya lekat-lekat.

"Makasih ya, Sayang, udah selalu jujur sama aku," bisik Kirana tulus.

"Selamanya aku bakal jujur sama kamu, Kirana," janji Kenan penuh penekanan. "Hati dan hidupku cuma buat kamu."

Kenan menundukkan wajahnya, mendaratkan ciuman manis di bibir Kirana yang dibalas dengan sangat mesra oleh istrinya. Tautan bibir mereka yang penuh cinta di sore hari itu seolah menegaskan kembali bahwa tidak akan ada ruang bagi pihak ketiga mana pun untuk merusak kebahagiaan mereka.

…

Pukul 18.30 WIB, Kenan dan Kirana sudah berada di sebuah restoran terbuka berkonsep kayu hangat di Dago Atas. Dari tempat mereka duduk, pemandangan Bandung City Light terpampang sangat indah di bawah sana. Udara dingin malam dihangatkan oleh sajian kuliner khas Sunda dan sekoteng hangat.

Di meja makan panjang itu, Rian dan Bu Susi duduk berhadapan dengan Kenan dan Kirana. Suasana makan malam berlangsung sangat cair dan penuh gelak tawa.

"Aduh, Neng Kirana sama Nak Kenan ini serasi pisan ya," puji Bu Susi sambil tersenyum sumringah melihat betapa perhatiannya Kenan memotongkan daging ayam untuk Kirana. "Ibu mah ikut seneng ngeliat anak muda jaman sekarang yang saling menyayangi dan bertanggung jawab begini."

Rian terkekeh seraya menyantap gurame nya. "Iya, Ma. Di kampus aja Kenan ini langsung jadi pusat perhatian pas hari pertama Ospek. Banyak cewek-cewek anak baru yang nanyain dia ke Rian."

Kirana melirik Kenan sambil tersenyum goda. "Oh ya? Banyak yang nanyain kamu ya, Sayang?"

Kenan yang sedang menuangkan teh hangat untuk Kirana langsung melirik istrinya dengan pandangan lembut, lalu beralih menatap Rian datar. "Rian cuma berlebihan."

"Gue gak berlebihan, Ken!" sela Rian cepat. "Bahkan tadi siang pas gue di kantin utama ITB, ada gosip heboh banget!"

"Gosip apa, Rian?" tanya Kirana penasaran.

"Itu... Kak Hanni Maheswari, primadona kampus kita yang bapaknya punya Maheswari Group!" terang Rian antusias. "Dia terang-terangan bilang ke anak-anak DPM kalau dia lagi nargetin mahasiswa baru Teknik Industri bernama Kenan Alister buat dapetin!"

Deg.

Suasana di meja makan hening sejenak. Bu Susi menyenggol lengan anaknya pelan, memberi sinyal agar Rian menjaga bicaranya di depan Kirana.

Rian yang baru sadar langsung merutuki kecerobohannya. Apalagi melihat tatapan tajam Kirana padanya. "Eh... m-maksud gue, Kak Hanni emang terkenal suka memburu cowok-cowok berprestasi, tapi—"

"Dia gak bakal bisa dapetin apa-apa," potong Kenan dengan intonasi suara bariton yang sangat dingin dan mantap, memutus kalimat Rian seketika.

Kenan meletakkan cangkir tehnya, lalu secara terbuka meraih tangan kiri Kirana di atas meja. Jemari tegap Kenan menyusup di antara jemari Kirana, memperlihatkan dua cincin perak yang berkilau tertimpa cahaya lampu restoran.

"Status aku di kampus ITB itu cuma mahasiswa. Tapi status hidup aku adalah suami dari Kirana Amanda," tegas Kenan tanpa ragu sedikit pun, menatap mata Kirana dengan kedalaman cinta yang tak tergoyahkan. "Gak ada primadona, anak konglomerat, atau cewek mana pun di dunia ini yang bisa menggantikan posisi istri aku."

Kirana menatap Kenan dengan rasa haru. Rasa cemas yang sempat terlintas sekejap akibat cerita Rian seketika lenyap tak berbekas, berganti dengan rasa percaya yang mutlak pada sosok pria yang berdiri kokoh di sampingnya. 

Bu Susi tersenyum kagum menepuk tangannya pelan. "Luar biasa Nak Kenan ini... Pendiriannya teguh banget. Neng Kirana beruntung sekali dapat suami sepertinya."

"Aku yang beruntung punya Kenan, Bu," jawab Kirana tulus seraya menggenggam erat tangan suaminya. Bu Susi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat keromantisan mereka. Pasangan muda memang beda. 

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!