Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 : Bertarung back to back di tengah kobaran api
Pertempuran di pelataran istana luar semakin menggila. Kobaran api dari lampion yang jatuh mulai menjalar ke tiang-tiang kayu penyangga aula, menciptakan kepulan asap hitam yang menyesakkan dada. Suara denting pedang beradu dengan jeritan kematian berkecamuk menjadi satu.
Meskipun Ara dan Kaisar Yan berhasil menumbangkan puluhan prajurit di baris depan, jumlah pasukan pemberontak yang dibawa oleh Jenderal Lin seolah tidak ada habisnya. Mereka merangsek maju bagai air bah yang mendobrak bendungan.
Syuuutt! Jleb!
Sebuah anak panah melesat dari arah kegelapan, nyaris mengenai pundak Ara jika dia tidak memiringkan tubuhnya di detik terakhir. Ara mendengus kesal, menyeka peluh bercampur jelaga di dahinya menggunakan punggung tangan. Napasnya mulai memburu. Bagaimanapun, tubuh Xia Ruo ini memiliki batas stamina, tidak sekuat tubuh aslinya di dunia modern dulu.
"Xia Ruo! Awas!"
Sebuah seruan berat dari Kaisar Yan terdengar bersamaan dengan derap langkah kaki besar. Jenderal Lin, dengan pedang raksasanya yang mengerikan, melompat maju menebas ke arah Ara. Tebasan itu begitu kuat hingga menciptakan angin puyuh kecil yang menerbangkan abu sisa pembakaran.
Ara menyilangkan kedua belati hitamnya untuk menahan hantaman tersebut.
Clanggg!
Benturan besi yang dahsyat itu membuat lutut Ara sedikit menekuk. Kekuatan fisik Jenderal Lin jelas berada di level yang berbeda dari prajurit kroco sebelumnya. Ara bisa merasakan buku-buku jarinya bergetar hebat menahan beban pedang raksasa itu.
"Hanya segini kemampuan wanita jalang yang merepotkan Selir Li?!" raung Jenderal Lin dengan senyum bengis.
Sebelum Jenderal Lin sempat menekan pedangnya lebih dalam untuk membelah tubuh Ara, sesosok bayangan hitam melesat dari samping. Kaisar Yan mengayunkan pedang gioknya dengan presisi mematikan, memaksa Jenderal Lin menarik kembali senjatanya untuk menangkis serangan sang Kaisar.
Tinggg!
Kaisar Yan langsung mengambil posisi di sebelah Ara. Punggung kokohnya menempel erat pada punggung ramping Ara, posisi back-to-back yang sempurna di tengah kepungan musuh yang kian merapat.
"Kau masih hidup, Permaisuri barbar?" bisik Kaisar Yan dengan napas yang juga mulai memburu, namun seulas senyuman miring penuh gairah bertarung tetap terukir di wajah tampannya yang terciprat darah.
"Lu tenang aja, Mas Bro. Gua kagak bakal mampus sebelum dapet sertifikat tambang perak yang utuh kemarin!" balas Ara ceplas-ceplos, meskipun napasnya terengah-engah.
Jiwa premannya justru semakin membara ketika punggungnya bersentuhan dengan punggung sang Kaisar. Rasa hangat dan kokoh dari tubuh pria itu memberikan gelombang energi baru yang instan.
"Bagus. Jaga belakangku, Xia Ruo. Hari ini, kita ratakan para pengkhianat ini!" seru Kaisar Yan.
"Gasss, Mas Bro!"
Aliansi suami-istri paling nyeleneh di sejarah Kekaisaran Han itu langsung bergerak serempak bagaikan satu jiwa. Saat Kaisar Yan menebas musuh di depannya dengan sapuan pedang panjang yang megah, Ara merunduk rendah di bawah ketiak sang Kaisar, menjulurkan belati hitamnya secara tak terduga untuk merobek urat nadi kaki pemberontak yang mencoba menusuk Kaisar dari celah bawah.
Sreeet! Bugh!
Gerakan Ara yang cepat, taktis, dan cenderung menggunakan trik kotor bertarung jalanan modern (seperti menendang tulang kering, menyodok ulu hati dengan gagang belati, hingga melempar pasir panas ke mata musuh) melengkapi gaya bertarung ortodoks Kekaisaran milik Kaisar Yan yang efisien dan mematikan.
Setiap kali ada pemberontak yang mencoba menyelinap dari titik buta Kaisar Yan, belati hitam Ara selalu datang lebih cepat untuk memutus tenggorokan mereka. Sebaliknya, ketika Ara terdesak oleh jangkauan senjata panjang lawan, pedang giok Kaisar Yan selalu melesat memotong tombak musuh menjadi dua.
Menteri Wang yang mengawasi dari kejauhan menggunakan kereta perangnya mendadak panik melihat pasukannya justru tertahan oleh kegilaan bertarung dua orang tersebut. "Sialan! Kenapa mereka berdua bisa bekerja sama sekompak itu?! Jenderal Lin, cepat gunakan pasukan pemanah api! Ratakan pelataran itu!"
Di tengah kepungan panah api yang mulai meluncur dari atas dinding istana, situasi menjadi semakin kritis. Kobaran api mengepung Ara dan Kaisar Yan, memisahkan mereka dari sisa pengawal kekaisaran yang masih bertahan.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣