Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERANG SARAF DI BALIK DINDING TIPIS

Ziva merasa detak jantungnya berdegup begitu kencang dan memburu hingga ia didera ketakutan luar biasa kalau-kalau Aris dapat mendengarnya dari seberang meja makan yang sangat dekat.

Di hadapannya, Aris sedang menyantap bubur ayamnya dengan sangat santai, sesekali menyisipkan senyuman hangat sembari menceritakan bayangan masa depan mereka kelak.

Namun, bagi Ziva yang sedang dihantam rasa bersalah, setiap patah kata yang meluncur dari bibir Aris terasa bagaikan paku bumi yang menghantam dan meremukkan nuraninya tanpa ampun.

Hanya berjarak tiga meter dari tempat mereka duduk saat ini, tepat di balik pintu kayu kamar tidur yang tertutup rapat, Letnan Jenderal Gibran Mahendra—pria paling disegani dan berkuasa di keluarga besar Mahendra, sekaligus pria yang baru saja mengecup lehernya dengan gairah posesif yang membakar—sedang berdiri mematung dalam keheningan yang mencekam.

"Ziv, kamu beneran oke-oke aja, kan?

Wajah kamu pucat banget, lho."

Aris perlahan meletakkan sendoknya ke dalam mangkuk, menatap Ziva dengan raut wajah yang diliputi kekhawatiran murni.

Ia mengulurkan tangan kanannya melintasi meja, berniat menyentuh kening Ziva untuk memeriksa suhunya.

Ziva secara refleks menghindar sedikit, berpura-pura sibuk merapikan helai rambut di dekat telinganya.

"Aku... aku cuma kurang tidur aja kok, Ris.

Mungkin karena belakangan ini agak keteteran dan banyak pikiran soal adaptasi kerjaan baru di firma hukum sini."

"Makanya, kamu jangan terlalu memaksakan diri.

Kamu punya aku sekarang—tempat berbagi," ujar Aris teramat lembut.

Namun, manik matanya kemudian secara tak sengaja bergulir dan tertuju lurus pada pintu kamar tidur Ziva yang tertutup rapat.

Aris mengendus udara di sekitarnya pelan.

"Ziv, di dalam kamar kamu ada pakai parfum cowok, ya?

Baunya berasa lumayan ketara sampai sini.

Kok aromanya mirip banget sama parfum yang biasa dipakai Om Gibran?"

Darah di seluruh tubuh Ziva terasa berhenti mengalir seketika.

Muka cantiknya kian pucat pasi.

Aris memang memiliki indra penciuman yang sangat tajam dan peka, sementara aroma parfum woody maskulin berkelas milik Gibran memang sangat khas, kuat, dan meninggalkan jejak yang tak mudah menguap.

"Oh... itu... itu pengharum ruangan reed diffuser baru yang baru aku beli kemarin, Ris," bohong Ziva dengan suara yang sedikit bergetar dan terbata-bata.

"Katanya sih aromanya sandalwood hangat, mungkin makanya agak mirip-mirip sedikit sama aroma parfum Om kamu."

Sementara itu, di balik pintu kayu yang tipis, Gibran bersandar kaku pada dinding kamar.

Pria tegap itu mampu mendengar setiap jengkal dan lekuk percakapan yang berlangsung di ruang tamu tersebut.

Rasa haus akan kepemilikan dan cemburu membakar dadanya hingga bergemuruh.

Pandangan matanya menyapu sekeliling ruangan pribadi Ziva, hingga akhirnya tatapannya tertancap pada sebotol parfum kaca di atas meja rias—botol parfum yang dulu pernah ia kirimkan secara rahasia melalui ajudannya bertahun-tahun lalu.

Ternyata, Ziva masih menyimpan dan merawat barang itu dengan sangat baik.

Gibran mengepalkan jemari tangannya sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Pria yang terbiasa memimpin ribuan prajurit di medan tempur ini membenci fakta bahwa ia harus bersembunyi bagai pengecut di dalam kamar.

Ia membenci kenyataan harus menyaksikan keponakan kandungnya sendiri mengklaim Ziva sebagai calon istrinya dengan begitu percaya diri.

Ada dorongan gila dan gelap yang meletup-letup dari dalam jiwanya untuk mendobrak pintu itu, melangkah keluar dengan kepala tegak, lalu menegaskan pada Aris secara langsung:

"Dia adalah milikku, jauh sebelum kamu pernah mengenal namanya."

Namun, tatapannya tak sengaja berbenturan dengan foto berbingkai di atas nakas—foto di mana Aris dan Ziva sedang tersenyum begitu lepas dan bahagia di tengah dinginnya kota London.

Aris adalah keponakan kesayangannya, putra dari satu-satunya kakak perempuan yang sangat ia hormati.

Jika ia nekat keluar sekarang, ia tidak hanya akan memusnahkan hati dan kepercayaan Aris hingga hancur berkeping-keping, tetapi juga akan meruntuhkan seluruh reputasi, martabat, dan kehormatan militer yang telah ia bangun seumur hidupnya dengan bercak darah dan keringat.

Tiba-tiba, suara ketukan langkah kaki Aris terdengar mendekat ke arah lorong kamar tidur.

"Ris!

Kamu mau ke mana?!" suara Ziva terdengar melengking panik dari luar.

"Mau ambil charger HP aku sebentar, Ziv.

Kemarin seingatku sempat ketinggalan di atas nakas kamar kamu, kan?"

Gibran menahan napasnya, tubuhnya menegang penuh antisipasi.

Pria itu menatap lurus ke arah gagang pintu besi yang perlahan-lahan mulai bergerak turun.

Dalam hitungan detik, sang Jenderal telah memasang kuda-kuda, bersiap untuk berdiri tegak menghadapi badai terbesar yang akan meluluhlantakkan kehidupannya.

Cklek.

Gagang pintu kayu itu berputar setengah jalan sebelum akhirnya Ziva bergerak kilat menahan dan mencengkeram tangan Aris dengan sekuat tenaga.

"Ris, jangan masuk sekarang!

Kamar aku... lagi berantakan dan berdebu banget.

Aku malu kalau kamu lihat!"

Ziva berdiri pasif tepat di depan pintu, memasang tubuhnya sebagai barikade untuk menghalangi jalan masuk Aris.

Aris terkekeh pelan, menganggap kepanikan itu hanyalah bentuk sifat manja dan gengsi khas wanita dari kekasihnya.

"Ziv, sejak kapan sih kamu harus malu-malu begitu sama aku?

Aku kan calon suami kamu.

Berantakan sedikit juga nggak masalah kok."

"Nggak boleh, Ris!

Pokoknya jangan sekarang!" tegas Ziva dengan napas memburu.

"Aku... aku lagi hari pertama datang bulan, emosiku lagi nggak stabil banget, dan aku belum sempat merapikan cucian kotor.

Tolong hargai privasi aku sebentar, ya?"

Mata Ziva mulai berkaca-kaca, dan kali ini itu bukanlah sekadar akting atau rekayasa.

Gadis itu benar-benar berada di ambang kehancuran mental yang teramat berat.

Melihat sepasang mata Ziva yang memerah dan berkaca-kaca menahan tangis, pertahanan Aris langsung luluh seketika.

Pria muda itu menghela napas panjang lalu melangkah mundur.

"Oke, oke.

Maaf ya, Sayang.

Aku nggak ada maksud buat bikin kamu merasa nggak nyaman atau tertekan.

Ya sudah, aku tunggu di sofa ruang tamu aja."

Ziva menyandarkan punggungnya di daun pintu, kedua kakinya terasa lemas tak bertulang bagaikan jeli.

Ia mendengar langkah kaki Aris kembali menjauh, duduk di sofa, lalu menyalakan televisi ruang tengah.

Sekitar sepuluh menit berlalu dalam ketegangan yang menyiksa, ponsel di saku celana Aris mendadak berdering nyaring.

"Ya?

Halo?

Sekarang juga?

Baiklah, saya akan segera meluncur ke kantor," ujar Aris singkat melalui sambungan telepon.

Aris mematikan ponselnya lalu berjalan menatap Ziva dengan raut penyesalan.

"Ziv, aku harus berangkat ke kantor sekarang.

Ada emergency meeting mendadak dengan klien.

Kamu istirahat yang cukup ya hari ini, jangan lupa diminum obat sakit kepalanya."

Setelah Aris benar-benar melangkah keluar dari unit apartemen dan suara desing mesin lift terdengar menjauh, Ziva langsung memutar kunci ganda pintu depan rapat-rapat.

Tubuhnya seketika merosot jatuh ke lantai dingin.

Tangisnya pecah tanpa suara; ia menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar hebat.

Pintu kamar tidur perlahan terbuka.

Gibran melangkah keluar dengan pijakan kaki yang terasa amat berat dan tertahan.

Pria itu menyaksikan Ziva yang tergugu hancur di atas lantai marmer.

Dengan dada yang berdenyut nyeri, Gibran berlutut di hadapan Ziva, mencoba merengkuh bahu gadis itu, namun Ziva menepis jemari kekar sang Jenderal dengan kasar dan histeris.

"Puas, Om?!

Puas bikin aku merasa kayak monster jahat dan pengkhianat di depan Aris?!" tangis Ziva meledak seutuhnya.

Tanpa membiarkan Ziva menolak lagi, Gibran ditariknya tubuh Ziva ke dalam pelukan hangatnya—kali ini jauh lebih erat dan mengunci, menolak membiarkan gadis itu menjauh walau sejengkal.

"Maafkan saya, Ziva...

Maafkan saya.

Saya sama sekali tidak bermaksud membuatmu menderita seperti ini."

"Om harus pergi sekarang juga..." isak Ziva dalam serak suara yang terkubur di dada tegap Gibran.

"Pergi dan tolong jangan pernah sudi balik lagi ke apartemen ini.

Aku nggak sanggup kalau harus terus-terusan terjebak dalam gilanya situasi ini."

Gibran perlahan mengurai pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Ziva agar mata mereka saling mengunci dengan intensitas yang teramat mematikan.

"Saya akan pergi sekarang, Ziva.

Tapi tolong ingat satu hal ini baik-baik," bisik Gibran dengan nada suara yang dalam dan dingin.

"Saya sudah pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup saya dengan melepaskanmu tiga tahun lalu.

Dan kali ini, saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun termasuk keponakan saya sendiri menghalangi saya untuk merebutmu kembali."

Gibran berdiri, mengenakan baret militernya, merapikan kemejanya yang kusut, lalu melangkah mantap menuju pintu keluar.

Sebelum melangkah melintasi ambang pintu, pria itu sempat menoleh sedikit.

"Jalur kuning itu tidak pernah hilang, Ziva.

Ia hanya sedang menunggu momentum yang tepat untuk melengkung sempurna."

Brak.

Pintu apartemen tertutup rapat.

Ziva tertegun sendirian di tengah ruangan yang sunyi, menyadari sepenuhnya bahwa ketenangan semu dalam kehidupannya telah usai.

Perang saraf dan kehancuran antara paman dan keponakan telah resmi dimulai, dan dirinya adalah pusat dari seluruh pusaran kehancuran tersebut.

1
+82
deg2an al 🦖
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!