Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Dua minggu berlalu sejak penyelidikan atas Evander Diovanni menemui jalan buntu, kini mansion keluarga Vance kian menyerupai sangkar beracun. Setiap sudut ruangan seakan dirancang untuk memeras sisa-sisa daya tahan hidup Sienna.

Nico tidak lagi hanya bersikap dingin, amarahnya yang mengendap kini berubah menjadi kekejaman yang sistematis. Seolah-olah kegagalannya menemukan bukti baru harus dibayar mahal oleh Sienna. Bagi Nico, setiap kali ia melihat wajah pucat gadis itu, ia melihat bayangan kegagalannya mempertahankan ingatan sang ibu.

Pagi itu, hujan deras mengguyur kota, membuat suhu udara turun drastis. Di lantai tiga, tepatnya di ruang olahraga dan area teras terbuka yang beratap sebagian, Sienna dipaksa menyikat lantai marmer kasar yang terendam air hujan.

Sienna berlutut dengan kedua lututnya yang memar. Jemarinya yang memerah karena dingin memegang sikat kayu keras. Seragam abu-abunya basah kuyup di bagian bawah, menempel kaku pada kulitnya yang kurus.

Di atas podium kecil di samping teras, Nico berdiri dengan jas hitamnya yang rapi, memegang cangkir kopi panas yang berasap. Mata kelabunya menatap Sienna tanpa rasa iba sedikit pun.

"Lantai itu masih kotor, Sienna," suara Nico memotong deru hujan, kaku dan dingin. "Kau menyikatnya seperti orang yang tidak makan tiga hari."

"M-maaf, Tuan Vance..." bisik Sienna, suaranya bergetar hebat. Bibirnya yang kebiruan menahan dorongan untuk menggigil. Ia menekan sikatnya lebih keras ke atas marmer, hingga buku-buku jarinya memutih dan lecet-lecet kecil di jemarinya kembali mengeluarkan darah tipis.

"Ulangi dari sudut kanan," perintah Nico seraya melangkah mendekat. Pria itu menyenggol ember berisi air es dan sisa detergen keras dengan ujung sepatu kulitnya.

Brak!

Ember itu terguling. Air dingin bercampur sabun yang pekat meluap, membanjiri area berlutut Sienna dan menyiram seluruh kaki serta gaun seragamnya. Sabun keras itu langsung meresap ke dalam luka-luka lecet di tangan dan lutut Sienna, menimbulkan rasa terbakar yang luar biasa pedih.

Sienna memekik pelan, refleks menarik tangannya seraya memeluk dadanya yang bergetar hebat. "Aagh...!"

"Siapa yang menyuruhmu berhenti?" desis Nico, membungkuk dan mencengkeram rahang Sienna dari belakang, memutar wajah gadis itu agar menatapnya. Cengkeramannya begitu kuat hingga menekan urat-urat di leher Sienna. "Kau pikir rasa sakit itu sebanding dengan darah ibuku yang tercecer di rumput malam itu, Hah?!"

"T-Tuan perih..." tangis Sienna meledak, air matanya menyatu dengan cucuran air hujan di pipinya. "Tolong hentikan."

"Jangan pernah memohon padaku!" bentak Nico tepat di depan wajah Sienna. Napas hangatnya membakar kulit Sienna yang dingin.

"Kau akan membersihkan seluruh teras ini dengan tangan kosongmu sampai mengilap. Jika belum selesai sebelum makan siang, jangan harap ada makanan atau obat untuk nenekmu minggu ini!"

Dada Sienna berdesir hebat. Nama Nenek Elena kembali dijadikan cambuk penjerat. Dengan tubuh yang bergetar tak terkendali dan rasa terbakar yang menjalar di jemarinya, Sienna kembali berlutut, menggosok lantai basah itu dengan kain lap lusuh dan jemarinya yang berdarah.

Nico berdiri menatapnya, bibirnya mengetat keras. Namun, di balik tatapan kejam itu, ada sesuatu yang bergolak hebat di dalam dadanya, sebuah amarah liar yang justru semakin membakar dirinya sendiri setiap kali melihat Sienna tak berdaya.

Tepat pukul sebelas siang, penyiksaan fisik itu berpindah ke area halaman dalam.

Nico menyuruh Sienna memindahkan tumpukan kayu bakar tebal dari gudang belakang menuju perapian ruang tamu utama, sebuah tugas berat yang biasanya dilakukan oleh dua pengawal pria bertubuh tegap. Sienna, dengan tubuh kurusnya yang kurang gizi, harus memikul dua hingga tiga balok kayu tebal sekaligus menyusuri tangga marmer yang licin.

Lutut Sienna gemetar hebat saat menaiki tangga luar. Langkah kakinya makin lambat, dadanya naik-turun sesak mencari udara. Pandangannya mulai kabur, digantikan bintik-bintik hitam yang menari-nari di pelupuk matanya.

Buk!

Keseimbangan Sienna runtuh. Ia tersandung anak tangga ketiga. Balok-balok kayu berat itu terlepas dari pelukannya, menghantam dada dan kakinya sebelum bergulingan ke bawah. Sienna tersungkur di atas tangga marmer, memegang dadanya yang menghantam sudut tajam anak tangga.

Nico yang berdiri di atas tangga hanya menatapnya dingin. Ia melangkah menuruni tangga, berhenti tepat di samping tubuh Sienna yang terkapar menahan napas yang terengah-engah.

"Berdiri," perintah Nico tanpa sedikit pun dorongan tangan untuk membantu.

"S-sakit Tuan..." Sienna meringis, memegang rusuk kirinya yang terasa nyeri luar biasa. "Aku tidak kuat lagi..."

"Aku bilang BERDIRI!" Nico menyambar lengan seragam Sienna, memaksanya berdiri tegak secara kasar. Sienna memekik perih saat tubuhnya ditarik paksa.

Nico mengangkat tangannya, mengepalkan jemarinya seraya menatap Sienna dengan mata memerah oleh emosi yang tak terkendali. Ia sudah kehilangan akal sehatnya, terdorong oleh keputusasaan dan obsesi dendam yang makin membuta.

"CUKUP, NICOLAS!"

Sebuah suara berat, menggelegar, dan penuh kewibawaan memotong udara sore yang tegang itu.

Nico membeku. Tangannya yang melayang di udara tertahan.

Di ujung koridor pelataran utama, sesosok pria tua bertubuh tegap dengan rambut beruban melangkah kaku dengan bantuan tongkat kayunya. Wajahnya yang tegas dipenuhi garis-garis usia dan amarah yang mendalam.

Sebastian Roderigo Vance.

Sang kepala keluarga besar Vance telah kembali dari perjalanan perawatan kesehatannya di luar negeri.

Di belakang Sebastian, Pak Vincent berjalan menunduk rapat, sementara Claudia menyusul dengan raut wajah yang berpura-pura cemas namun menyembunyikan kilatan kepuasan.

Nico perlahan melepaskan cengkeramannya pada lengan Sienna. Sienna yang sudah kehilangan seluruh tenaganya langsung ambruk berlutut di marmer dingin, batuk-batuk seraya memegang dadanya.

Sebastian melangkah mendekat, matanya yang tajam dan berpengalaman menatap pemandangan di hadapannya, anak kandungnya yang bertindak seperti algojo kejam, dan seorang gadis muda yang hancur berdarah-darah di bawah kakinya.

"Apakah ini cara yang kuajarkan padamu untuk menghormati kenangan ibumu, Nicolas?!" bentak Sebastian, suara tuanya bergema di seluruh pelataran. Pria tua itu menancapkan tongkatnya keras-keras ke lantai.

Nico merapikan jasnya dengan gerakan kaku, menyembunyikan getaran di jemarinya. "Ayah tidak mengerti. Perempuan ini adalah-"

"Aku tahu siapa dia!" potong Sebastian tajam. Matanya melirik Sienna yang terbaring lemah di lantai. "Dia adalah anak dari Hans Sinclair. Tapi apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kau bertindak seperti binatang yang kehilangan akal sehat!"

"Dia membunuh Ibu!" suara Nico meninggi, emosi yang dipendamnya meledak di hadapan ayahnya sendiri. "Dia berada di sana. Dialah alasan mengapa Ibu membusuk di dalam tanah dan rumah ini hancur. Aku berhak melakukan apa pun padanya!"

"Ibumu tidak akan pernah bangga melihatmu menjadi monster seperti ini!" seru Sebastian dengan tatapan menusuk. Pria tua itu memajukan tubuhnya, menatap Nico lurus ke dalam mata.

 "Hukum telah memenjarakannya selama sebelas tahun. Jika kau membawa perempuan ini ke sini hanya untuk menyiksanya sampai mati di bawah atap rumahku, maka kau telah mencoreng nama baik Vance!"

"Nama baik Vance?" Nico tertawa sinis, nada suaranya dipenuhi kepahitan mendalam. "Nama baik yang dibangun di atas darah Ibu? Ayah sendiri yang melarikan diri ke luar negeri selama bertahun-tahun karena tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa Ibu tewas di rumah ini. Jangan menceramahiku tentang moral, Ayah!"

"Jaga mulutmu, Nicolas!" Sebastian menghentakkan tongkatnya lagi, dadanya naik-turun oleh amarah. "Rumah ini adalah milikku. Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan mansion ini dijadikan tempat pembantaian pribadi hanya demi memuaskan ego gilamu itu."

Sebastian berpaling pada Pak Vincent. "Pak Vincent, bawa gadis ini ke ruang medis pelayan. Panggil dokter pribadi rumah untuk mengobati lukanya sekarang juga."

"Baik, Tuan Besar," jawab Pak Vincent terburu-buru. Pengawal tua itu langsung membungkuk dan membopong tubuh Sienna yang terkulai rapuh dari lantai.

Sienna samar-samar merasakan tubuhnya diangkat. Sebelum pandangannya benar-benar gelap akibat rasa sakit dan lelah, mata cokelatnya yang layu sempat beradu dengan sepasang mata kelabu Nico. Di sana, di balik kebencian murni Nico, Sienna menangkap secercah rasa terkejut dan rasa bersalah yang terkubur sangat dalam.

"Kau tidak punya hak melarangku, Ayah," desis Nico setelah Pak Vincent membawa Sienna pergi. Udara di antara dua pria Vance itu makin panas.

Sebastian menatap anaknya dengan tatapan sedih bercampur kecewa. "Kau terobsesi, Nicolas. Kebencianmu pada keluarga Sinclair telah meracuni otakmu. Kau tidak lagi mencari keadilan, kau hanya sedang melampiaskan rasa bersalahmu sendiri karena tidak bisa menyelamatkan ibumu malam itu."

Kalimat Sebastian menghantam dada Nico tepat pada lukanya yang paling berdarah.

Nico mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga rahangnya mengeras. "Jika Ayah begitu tidak tahan melihat cara jalanku menuntaskan dendam ini, maka aku tidak perlu berada di bawah atap rumahmu lagi."

Sebastian memicingkan matanya. "Apa maksudmu?"

"Aku keluar dari mansion ini," kata Nico datar, suaranya berubah menjadi es yang sangat keras. "Aku akan membawa Sienna bersamaku. Ke kediaman pribadiku di penthouse perkotaan."

Claudia yang berdiri di belakang Sebastian langsung melangkah maju dengan wajah cemas buatan. "Nicolas, jangan bertindak impulsif! Kediaman itu adalah properti pribadimu, tapi membawa pelayan itu ke sana tanpa pengawasan keluarga-"

"Tutup mulutmu, Claudia!" bentak Nico tanpa menoleh pada ibu tirinya. Matanya tetap memaku pada ayahnya. "Di mansion ini, terlalu banyak campur tangan dan mata-mata yang mengganggu tugasku. Di rumahku sendiri, tidak ada satu orang pun yang bisa menghalangiku."

Sebastian menatap Nico lama, melihat kegelapan yang sudah terlalu mengakar di jiwa anak sulungnya. Pria tua itu mendesah berat, tampak bertambah tua sepuluh tahun dalam sekejap. "Jika kau melangkah keluar dari pintu gerbang itu membawa dendam butamu, Nicolas... kau hanya akan menemukan kehancuranmu sendiri."

"Aku sudah hancur sejak malam Ibu tewas," jawab Nico dingin.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Nico membalikkan badan dan melangkah pergi menuruni tangga, meninggalkan ayahnya dan Claudia dalam kesunyian yang tegang.

Malam harinya, hujan deras masih menyelimuti kota.

Sienna terbangun di atas kasur bersih di ruang medis basemen. Pipi dan tangannya telah dibalut perban putih bersih, dan rasa terbakar akibat sabun detergen sudah berkurang berkat salep antibiotik yang diberikan dokter.

Pintu ruang medis terbuka pelan.

Pak Vincent melangkah masuk dengan wajah cemas. Pengawal tua itu membawa sebuah tas pakaian kecil.

"Nona Sienna... Anda sudah bangun?" tanya Pak Vincent pelan.

Sienna mendudukkan dirinya dengan susah payah, memegang rusuknya yang masih memar. "Pak Vincent, apa yang terjadi?"

Pak Vincent menggelengkan kepala dengan raut wajah berat. "Tuan Besar Sebastian sempat membela Anda pagi tadi, Nona. Tapi..." Pak Vincent menghela napas panjang.

"Tuan Nicolas telah memutuskan untuk pindah dari mansion ini malam ini juga."

Sienna menahan napas. "P-pindah?"

"Tuan Nicolas membawa Anda bersamanya ke penthouse pribadinya di pusat kota," terang Pak Vincent.

"Di sana, tidak ada Tuan Besar, tidak ada Grace, dan tidak ada pengawasan dari keluarga besar Vance. Hanya ada Tuan Nicolas dan beberapa pengawal pribadi kepercayaannya."

Dada Sienna mendadak mencelos. Jika di mansion megah ini, di mana masih ada Grace yang memberinya kehangatan kecil dan Pak Vincent yang terkadang menahannya, hidupnya sudah seperti di neraka, maka terisolasi berdua saja dengan Nico di sebuah penthouse tertutup adalah hukuman mati yang sesungguhnya.

"Pak Vincent... tolong..." bisik Sienna, air mata ketakutan kembali menetes di pipinya. "Jangan biarkan dia membawaku ke sana, aku akan mati di tangannya."

Pak Vincent menundukkan kepala penuh penyesalan. "Maafkan saya, Nona. Perintah Tuan Nicolas tidak bisa dibantah oleh siapa pun di sini, bahkan oleh Tuan Besar sekalipun. Kekuasaan Vance Group sebagian besar sudah berada di tangan Tuan Nicolas."

Sebelum Sienna sempat memohon lebih lanjut, pintu ruangan terdorong buka dengan keras.

Nico berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah mengenakan coat hitam tebal berlapis kulit, penampilannya tampak begitu megah sekaligus mengintimidasi. Matanya menatap Sienna yang terbaring kaku di atas tempat tidur.

"Bawa tasnya, Pak Vincent. Mobil sudah siap di depan," perintah Nico tanpa nada emosi.

"Baik, Tuan," jawab Pak Vincent seraya mengambil tas kecil itu.

Nico melangkah mendekati tempat tidur Sienna. Ia membungkuk, menatap lurus ke dalam mata cokelat Sienna yang dipenuhi ketakutan murni.

"Bangunlah," bisik Nico dengan suara serendah bisikan iblis. "Permainan di mansion ini sudah selesai. Sekarang, kau ikut ke rumahku."

Jemari Nico yang dingin menyambar pergelangan tangan Sienna yang terbalut perban, memaksanya berdiri dari tempat tidur. Sienna mencoba memprotes, namun kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengan cengkeraman pria itu.

Sienna diseret pelan menyusuri koridor basemen yang gelap, menuju ke arah pelataran belakang tempat sebuah mobil sedan hitam mewah telah menunggu dengan mesin menyala.

Saat kaki Sienna melangkah keluar memasuki guran hujan malam dan masuk ke dalam kursi belakang mobil yang gelap, ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Mansion besar keluarga Vance berdiri menjulang bagai benteng tua yang muram di balik hujan.

Pintu mobil ditutup dengan hentakan berat dari luar. Nico masuk dan duduk di sampingnya.

Mobil sedan hitam itu perlahan meluncur menembus gerbang besi utama, meninggalkan kawasan kediaman Vance menuju pusat kota yang dipenuhi lampu-lampu dingin.

Sienna merapatkan tubuhnya ke pintu mobil, memeluk dirinya sendiri yang gemetar. Di sampingnya, Nico duduk membisu, menatap lurus ke jalanan malam yang kelam.

Di dalam ruang sempit kendaraan yang bergerak cepat itu, Sienna menyadari satu hal, isolasi total telah dimulai, dan tempat tujuannya kali ini adalah sebuah sangkar kaca di atas awan, tempat tak ada seorang pun yang bisa mendengar jeritan minta tolongnya.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!