Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan yang mulai terpasang
Beberapa hari setelah pertemuan pertama dengan Reza tersebut, siswa senior tersebut mulai semakin sering mendekati Zein dan Baing, membangun kesan pertemanan yang begitu meyakinkan hingga Zein sendiri mulai merasa nyaman dengan kehadiran kakak kelas yang tampak begitu perhatian tersebut. Namun di balik keramahan tersebut, Reza terus mengumpulkan informasi dan mencari celah untuk melaksanakan rencana jahat yang telah diinstruksikan Piku kepadanya.
"Zein, gue ada barang bagus nih, katanya bisa bikin lo lebih fokus belajar buat ujian minggu depan. Mau coba?" tawar Reza suatu siang, ketika mereka bertiga sedang duduk di kantin sekolah, menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang terlihat begitu biasa namun sebenarnya berisi zat terlarang yang telah lama menjadi komoditas peredaran BlackSystem di sekolah tersebut.
Zein, yang tidak sepenuhnya menyadari bahaya di balik tawaran tersebut, sempat tergoda mengingat tekanan ujian yang memang sedang dia hadapi, namun sebelum dia sempat memberikan jawaban, Baing segera menyela dengan nada yang menunjukkan kewaspadaan mendalam.
"Zein, jangan! Itu bukan suplemen belajar biasa," ujar Baing dengan tegas, menepis tangan Reza yang mencoba menyodorkan bungkusan tersebut kepada Zein, sebuah tindakan yang membuat Reza terkejut sekaligus sedikit panik menyadari rencananya mungkin mulai terbongkar.
"Baing, lo kenapa sih? Ini cuma suplemen biasa kok," bantah Reza dengan nada yang berusaha terdengar santai, meski dalam hatinya dia mulai khawatir mengenai kemungkinan Baing telah mengetahui sesuatu mengenai identitas asli barang yang dia tawarkan tersebut.
"Saya tau itu bukan suplemen biasa, Reza. Saya pernah denger soal barang-barang kayak gini yang beredar di sekolah kita," ujar Baing dengan nada yang semakin tegas, mengungkapkan kecurigaannya secara terbuka meski dia sendiri belum sepenuhnya yakin mengenai keterlibatan Reza dalam jaringan peredaran narkoba tersebut.
Mendengar penjelasan Baing tersebut, Zein langsung merasakan keterkejutan yang begitu besar, menyadari bahwa tawaran yang baru saja dia terima tersebut ternyata jauh lebih berbahaya dari yang dia bayangkan sebelumnya. "Astaga, Reza, kok Kakak bisa nawarin barang kayak gitu ke saya?"
Reza, yang menyadari rencananya mulai terbongkar, mencoba membela diri dengan berbagai alasan yang semakin terdengar tidak meyakinkan. "Bukan gitu maksud saya, Zein. Saya cuma denger dari temen katanya bagus buat belajar, saya juga nggak tau kalau itu barang terlarang."
"Kakak bohong! Dari tadi saya perhatiin, Kakak emang sengaja deketin kami berdua, kayak ada maksud tertentu," tuduh Baing dengan penuh keberanian, akhirnya mengungkapkan seluruh kecurigaan yang telah lama dia simpan mengenai kedekatan Reza yang begitu tiba-tiba dan mencurigakan tersebut.
Menyadari bahwa rencananya telah sepenuhnya terbongkar, Reza segera bangkit dari duduknya, mencoba melarikan diri dari situasi yang mulai tidak terkendali tersebut. "Terserah kalian mau percaya apa, saya pergi dulu," ujarnya sambil buru-buru meninggalkan kantin tersebut, meninggalkan Zein dan Baing yang masih terguncang dengan kejadian yang baru saja mereka alami tersebut.
Setelah Reza pergi, Zein menatap Baing dengan penuh rasa syukur, menyadari betapa besar peran sahabatnya tersebut dalam melindunginya dari bahaya yang hampir saja menjerumuskannya ke dalam masalah besar. "Baing, makasih banget udah nyadar dan cegah saya. Kalau nggak ada lo, mungkin saya udah kena jebak."
"Sama-sama, Zein. Saya emang udah curiga dari awal soal Reza. Ada sesuatu dari sikapnya yang bikin saya nggak nyaman," jawab Baing, meski dalam hatinya sendiri, dia mulai merasakan kekhawatiran yang semakin mendalam mengenai kemungkinan keterlibatan ayahnya dalam jaringan kejahatan yang lebih besar tersebut, sebuah kecurigaan yang semakin menguat setelah menyaksikan langsung bagaimana Reza mencoba menjebak sahabatnya tersebut.
Kejadian tersebut membuat Zein memutuskan untuk segera menceritakan seluruh kejadian tersebut kepada Kwila dan Dawin, menyadari bahwa informasi mengenai upaya penjebakan tersebut mungkin memiliki kaitan penting dengan penyelidikan besar yang sedang dijalankan Dawin terhadap organisasi BlackSystem. "Kak Kwila, tadi ada kakak kelas yang coba nawarin narkoba ke saya, untung Baing langsung cegah."
Mendengar kabar tersebut, Kwila merasakan kekhawatiran yang begitu besar, menyadari bahwa ancaman terhadap keluarganya ternyata tidak hanya berasal dari Piku dan anak buahnya secara langsung, namun juga melalui cara-cara yang lebih licik dan tersembunyi seperti yang baru saja dialami adiknya tersebut. "Zein, kamu nggak apa-apa kan? Coba ceritain detailnya, siapa nama kakak kelas itu?"
"Namanya Reza, Kak. Katanya sih dia yang emang udah lama jadi pengedar di sekolah kita," jelas Zein, memberikan informasi yang segera dia teruskan kepada Kwila untuk disampaikan lebih lanjut kepada Dawin dan timnya.
Malam itu, Kwila segera menghubungi Dawin untuk melaporkan kejadian tersebut, menyadari bahwa informasi mengenai Reza sebagai pengedar narkoba di sekolah bisa menjadi bukti tambahan penting dalam upaya membongkar jaringan peredaran narkoba BlackSystem yang telah lama meresahkan generasi muda di kota tersebut. "Mas Dawin, Zein hampir kena jebak narkoba di sekolah tadi, untung ada Baing yang cegah."
Mendengar laporan tersebut, Dawin merasakan kemarahan yang begitu mendalam, menyadari bahwa BlackSystem semakin berani menargetkan keluarga Lidar melalui berbagai cara yang begitu licik dan berbahaya tersebut. "Kwila, ini serius banget. Saya akan segera koordinasikan dengan tim buat selidiki soal Reza ini, sekaligus tingkatkan pengamanan buat Zein di sekolah."
Kejadian tersebut, meski berhasil digagalkan berkat kewaspadaan dan keberanian Baing, menandai eskalasi baru dalam upaya BlackSystem untuk menekan keluarga Lidar melalui berbagai jalur yang semakin beragam dan berbahaya, sebuah eskalasi yang semakin memperkuat urgensi bagi Dawin dan timnya untuk segera melancarkan operasi penangkapan besar yang telah lama mereka rencanakan tersebut, sebelum organisasi kriminal tersebut sempat melancarkan ancaman yang lebih besar dan berbahaya lagi terhadap keluarga yang telah begitu dia sayangi tersebut.
Sementara itu, Baing yang pulang ke rumah malam itu dengan pikiran yang begitu berkecamuk, memutuskan untuk memperhatikan gerak-gerik ayahnya dengan lebih seksama, mencoba mencari petunjuk lebih lanjut mengenai kecurigaannya yang semakin menguat tersebut. Dia mendapati Jecko baru saja pulang dengan wajah yang tampak begitu lelah dan tegang, sebuah ekspresi yang belakangan ini semakin sering dia perhatikan pada diri ayahnya tersebut.
"Pa, kenapa akhir-akhir ini Papa kelihatan capek banget?" tanya Baing dengan nada hati-hati, mencoba menggali sedikit informasi tanpa menunjukkan kecurigaannya secara terang-terangan.
"Kerjaan lagi berat, Nak. Jangan terlalu dipikirin," jawab Jecko sekadarnya, tidak menyadari bahwa putranya tersebut mulai mengumpulkan berbagai kepingan informasi yang perlahan namun pasti mengarah pada kebenaran mengenai identitas asli pekerjaan yang selama ini dia sembunyikan dari keluarganya tersebut, sebuah kebenaran yang akan segera terungkap dan mengubah seluruh dinamika keluarga tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.