"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik yang Mengguncang Jiwa
Waktu berjalan dengan begitu cepat, melompati bulan-bulan yang dipenuhi kehangatan dan penjagaan super ketat dari seorang Jiro Nandotomo. Tak terasa, usia kandungan Senjani kini telah menginjak angka sembilan bulan. Perut rata terapis muda itu sekarang telah bertransformasi menjadi sebuah buncitan bulat yang indah, menyimpan buah cinta mereka yang siap melihat dunia fana dalam hitungan hari lagi.
Sore itu, suasana di kediaman utama keluarga Nandotomo tampak begitu tenang, namun juga diselimuti oleh kesiagaan tingkat tinggi. Rumah sakit pribadi milik keluarga telah menyiapkan satu tim dokter spesialis kandungan dan perawat terbaik yang bersiap dalam status on-call dua puluh empat jam penuh. Bahkan, sebuah kamar persalinan kelas VVIP telah dikosongkan khusus untuk menyambut kelahiran sang penerus takhta.
Jiro memutuskan untuk bekerja dari rumah sejak satu minggu lalu. Dia tidak sudi meninggalkan Senjani sejauh satu meter pun. Saat ini, pria itu sedang duduk di sofa ruang santai kamar utama, memeriksa laporan keuangan kuartal kedua melalui laptopnya, sementara Senjani berbaring miring di atas ranjang king-size mereka dengan tumpukan bantal yang menyangga punggungnya.
"Ugh..."
Sebuah rintihan pelan yang sarat akan rasa sakit mendadak lolos dari celah bibir manis milik Senjani. Jari-jari tangannya refleks mencengkeram kain seprai sutra di bawahnya dengan sangat kuat.
Brak!
Laptop di pangkuan Jiro langsung terlempar ke atas meja kaca begitu mendengar suara erangan itu. Pria itu bangkit berdiri dengan gerakan secepat kilat, melangkah tegap mendekati sisi ranjang dengan wajah yang seketika berubah menjadi pucat pasi sekuning kertas. Rasa trauma dan panik yang luar biasa besar yang sempat tertidur di dalam jiwanya mendadak bangkit kembali dalam sekejap mata.
"Senjani! Ada apa, Sayang?! Perutmu sakit lagi?! Bayinya nendang terlalu keras ya?!" tanya Jiro dengan nada suara bariton yang bergetar hebat menahan cemas. Tangan kekarnya langsung membingkai wajah istrinya yang kini mulai dibanjiri oleh butiran keringat dingin di sekitar pelipisnya.
Senjani mencoba menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan mengembuskannya perlahan melalui mulut, sebuah teknik pernapasan relaksasi yang biasa dia ajarkan pada pasiennya, namun kini harus dia terapkan pada dirinya sendiri yang sedang digulung oleh gelombang rasa sakit yang teramat sangat. Perut bagian bawahnya terasa seperti diremas oleh cengkeraman besi yang sangat kuat, menjalar hingga ke pinggang bagian belakang.
"Mas... Mas Jiro..." rintih Senjani parau, sepasang mata jernihnya menatap suaminya dengan binar mata yang berkaca-kaca menahan nyeri. "I-Ini... ini rasanya berbeda dari kontraksi palsu minggu lalu. Perutku... mulas sekali dan rasanya teratur setiap lima menit... Ugh! Sakit, Mas..."
"Kontraksi asli?! Kamu mau melahirkan sekarang?!" teriak Jiro panik, kehilangan seluruh ketenangan dan wibawa dingin seorang CEO tertinggi Nandotomo Group yang biasanya ditakuti oleh ribuan karyawan luar fana sana. Pria angkuh itu berbalik dengan tergesa-gesa, berteriak histeris ke arah pintu luar. "Drian!!! Drian bajingan! Siapkan mobil darurat sekarang juga!!! Panggil tim dokter di rumah sakit pusat untuk mengosongkan jalur lift khusus!!! Istriku mau melahirkan!!!"
"Mas... Mas Jiro, tenang... jangan berteriak begitu, aku jadi makin gugup," Senjani meraih ujung kemeja hitam Jiro, mencoba menenangkan suaminya yang tampak jauh lebih panik daripada dirinya sendiri yang sedang bertaruh nyawa. "Bantu aku... bantu aku berdiri, Mas... air ketubanku sepertinya belum pecah."
Jiro buru-buru memutar tubuhnya kembali menghadap Senjani. Tanpa memedulikan perintah istrinya untuk membantunya berdiri, Jiro justru menyusupkan kedua lengan kokohnya di bawah leher dan lutut Senjani. Dengan satu gerakan sentakan tenaga yang besar, pria itu mengangkat tubuh Senjani ke dalam gendongan ala bridal style dengan sangat mudah.
Dia melangkah cepat membelah koridor lantai dua, menuruni tangga utama dengan pijakan kaki yang luar biasa stabil dan kuat, sebuah keajaiban fisik yang sepenuhnya digerakkan oleh insting protektif seorang suami yang tidak akan membiarkan wanitanya menderita sedetik pun. Para pelayan yang berpapasan di tangga langsung menundukkan kepala dalam ketakutan melihat aura pekat dan berbahaya yang memancar dari tubuh Jiro yang sedang mengamuk dalam kepanikan.
...----------------...
Tiga puluh menit kemudian, lorong bangsal persalinan eksklusif Rumah Sakit Nandotomo Pusat dipenuhi oleh suasana yang sangat mencekam. Pak Baskoro sudah duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus memegang tongkatnya, berkomat-kamit memanjatkan doa keselamatan bagi cucu menantu dan calon cicitnya. Sementara Adriano dan belasan pengawal pribadi bersenjata lengkap berdiri siaga memblokir seluruh akses koridor agar tidak ada satu pun orang asing atau wartawan media yang bisa mengganggu ketenangan proses persalinan.
Di dalam ruang bersalin yang steril, Jiro duduk setia di samping kepala ranjang Senjani. Tuksedo hitam kemegahannya kini sudah terlepas, menyisakan kemeja putihnya yang lengannya digulung hingga sikut dan sudah basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Tangan kanan Jiri digenggam dan diremas dengan sangat kuat oleh Senjani setiap kali gelombang kontraksi pembukaan akhir menghantam tubuh kecil istrinya. Cengkeraman jari Senjani begitu kuat hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas luka kemerahan yang intim di kulit tangan Jiro, namun pria itu sama sekali tidak berkedip atau mengeluh rasa sakit sedikit pun.
"Ayo, Nyonya Senjani... pembukaannya sudah lengkap seutuhnya. Saat rasa mulasnya datang kembali, tarik napas dalam-dalam lalu dorong dengan kuat, ya," instruksi dokter spesialis kandungan yang memimpin proses persalinan dengan nada tenang namun tegas.
"Ugh... Arghhh!!!" Senjani menjerit kesakitan yang amat sangat. Wajah cantiknya memerah padam, urat-urat di leher jenjangnya menegang kaku saat dia mengerahkan seluruh sisa kekuatan fisiknya untuk mendorong buah hatinya keluar. Air mata rasa sakit dan perjuangan mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
Melihat penderitaan wanita yang paling dicintainya itu, dada Jiro mendadak berdenyut sangat pilu, hancur berkeping-keping seolah diiris oleh belati tak kasat mata. Dia menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka berdua, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan lembut. Jiro mengecup pelipis Senjani yang bersimbah keringat dengan penuh kelembutan yang teramat sangat.
"Bertahanlah, Sayang... Aku ada di sini, aku tidak akan pergi ke mana pun," bisik Jiro dengan suara bariton yang serak, parau, dan bergetar hebat menahan air mata haru yang mendesak keluar dari pelupuk netra elangnya. "Kamu adalah wanita terhebat di dunia, Senjani. Terima kasih... terima kasih karena telah berjuang sejauh ini untukku dan anak kita. Dorong sedikit lagi, Sayang... Aku mencintaimu, sangat mencintaimu..."
Kata-kata cinta dan dekapan hangat dari Jiro laksana suntikan energi magis yang langsung membakar sisa-sisa kekuatan di dalam jiwa Senjanii. Dengan satu teriakan terakhir yang memotong keheningan ruangan...
"Arghhhhhhh!!!"
Oeeekkk... Oeeekkk... Oeeekkk...
Suara tangisan bayi yang sangat nyaring, bening, dan memekakkan telinga seketika meledak memenuhi setiap sudut ruang bersalin steril tersebut, memotong seluruh ketegangan yang menggantung di udara malam itu.
Dokter spesialis dengan senyuman lebar langsung mengangkat seorang bayi laki-laki kecil yang bertubuh kemerahan dan meletakkannya di atas dada polos Senjani untuk melakukan proses inisiasi menyusu dini.
Senjani menangis tersedu-sedu, namun kali ini bukan karena air mata kesedihan atau rasa sakit penderitaan masa lalu, melainkan karena kebahagiaan sejati yang luar biasa dahsyat yang meluap-luap dari ulu hatinya begitu merasakan kehangatan kulit mungil anaknya. Dia mengusap punggung bayi kecil itu dengan jemari tangannya yang gemetar.
Jiro terpaku di tempatnya duduk. Pria angkuh yang terkenal dingin sekeras es batu itu akhirnya tidak bisa membendung air mata bahagianya lagi. Air mata kristal itu lolos jatuh membasahi pipinya yang kaku saat menatap malaikat kecil yang merupakan darah dagingnya sendiri bersama wanita yang dulu dia remehkan sebagai pelayan kontrak.
Jiro menunduk, mengecup bibir manis Senjani dengan penuh rasa hormat, rasa cinta, dan pemujaan yang mutlak yang kian mengikat jiwa mereka dalam takdir pernikahan yang abadi seumur hidup mereka. Badai penderitaan, konflik etika, dan genangan air mata kini telah resmi terkubur di bawah tanah masa lalu, digantikan oleh fajar baru yang bersinar megah menyambut kehadiran sang Tuan Muda kecil pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Nandotomo di masa depan.