"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Yang Ngajak Balikan
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Asyara tunggu! Berhenti!”
Asyara menghentikan langkahnya. Ia menghela nafas kasar. Kemudian berbalik mendapati Raka yang masih mengejarnya sambil ngos-ngosan. “Mau apa lagi sih?! Kan gue udah bilang sama lo, stop gangguin gue!”
Raka mengatur nafasnya. Lalu berdiri tegak menatap Asyara. Ia mencoba meraih kedua tangan Asyara yang langsung ditepis oleh gadis itu. Raka mengusap wajahnya frustasi, merasa bingung bagaimana menghadapi Asyara.
“Sya, aku mau minta maaf. Aku tau aku salah. Aku minta maaf sama kamu,” bujuk Raka, “Aku khilaf Sya! Sena datang, dia deketin aku. Aku minta maaf, salah aku yang tergoda sama dia.”
Asyara tertawa mendengarnya. Ia benar-benar tak tahu jika Raka akan setidak tahu malu ini. Bagaimana bisa orang yang jelas-jelas selingkuh, datang dan memohon maaf dengan mengatakan kalau dia khilaf?
“Khilaf apa yang sampe berbulan-bulan Raka? Lo pikir gue bodoh hah?” tanya Asyara tajam, “Lo bilang sama orang-orang, kalau gue sok suci. Karena gue nggak mau lo sentuh.”
Raka membelalak. Bagaimana Asyara tahu dia mengatakan itu kemarin? “Bangsat! Ini pasti ulah kedua cewek sialan itu! Rayna, Celine! Awas kalian!”
“Jangan berpikir buat ganggu mereka Raka, Lo nggak lupa siapa mereka berdua kan? Keluarga lo bisa hancur lebih dulu, sebelum rencana di kepala lo terealisasikan,” ucap Asyara dingin. “Sekarang, bilang apa mau lo?! Kenapa lo terus-terus ganggu gue?!”
“Aku mau kita balikan Sya.”
Jangan tanya apa yang ingin Asyara lakukan sekarang. Tangannya sudah melayang dan,
plaak
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Raka. Tak sekali, Asyara bahkan melakukannya dua kali. Tatapannya semakin menajam menatap Raka. “Gimana bisa lo jadi nggak tau malu kaya gini?! Balikan? Lo ngajak gue balikan, setelah LO SELINGKUHIN GUE?! OTAK LO DIMANA BAJINGAN?!”
Dengan emosi yang meluap-luap, Asyara menggunakan lututnya dan menendang bagian depan milik Raka dengan kuat.
“Asya! Sialan! Aaaagrh!” Raka meringis kesakitan. Ia meringkuk di lantai sambil memegangi miliknya yang baru saja ditendang oleh Asyara.
Asyara menyeringai tajam. Ia memutari Raka, berdecak sinis menatap pria yang berstatus sebagai mantan kekasihnya. Ekspresinya berubah menjadi iba yang dibuat-buat. “Owh… sakit ya? Sakit banget? Mau gue tambahin nggak?”
Raka meringis pelan, perlahan ia bangkit dan menatap Asyara kesal. “Gila kamu sya! Kamu tahu ini paling sensitif buat cowok! Kalau masa depan aku rusak gimana?!”
Lagi dan lagi Asyara tertawa. Kali ini lebih kencang. Ia sampai memegangi perutnya karena terlampau keras tertawa. “Rusak? Itu mah urusan lo! Seenggaknya, satu dari sepuluh cewek-cewek di muka bumi ini terselamatkan dari cowok bajingan kaya lo!”
“Asya kamu—AAAGRH!”
Asyara menendang tulang kering Raka, lalu ia menginjak tangan Raka. Kuat, lalu memutar kakinya di tangan Raka. Ia tersenyum sinis. “Bye, brengsek! Asal lo tau, perasaan gue ke lo, udah nggak ada Raka! Lo bener-bener buat gue move on jalur ilfil!”
Asyara pergi meninggalkan Raka yang masih meringis dengan senyum mengembang.
Sementara dari lantai dua, Dua orang tengah memantau kejadian itu tanpa Raka dan Asyara tahu—Aksa, pria itu menyeringai tajam menatap Raka, lalu menatap Asyara dengan tatapan bangga. “Calon istri saya benar-benar pintar.”
“Zen, berikan peringatan pada keluarga Wiguna sekarang,” titah Aksa dingin.
Zen yang berdiri tegak di sebelah Aksa mengangguk tegas. “Baik tuan.”
Aksa menyeringai lagi, “Jangan mimpi untuk memiliki Asyara, Raka.”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Ketenangan Raka di rumah sakit tak bertahan lama. Pintu ruangannya terbuka menampilkan Orang tua Raka dan Sena yang terlihat khawatir. Namun ekspresi Sena seketika berubah melihat Melanie duduk di sebelah ranjang Raka.
“Melanie? Lo ngapain di sini?”
Melanie melempar senyum pada Sena. Ia bangkit dan mengambil tasnya. “Gue yang bawa kak Raka Sen. Tadi nggak sengaja ketemu di belakang gedung.”
“Tapi—”
“Udahlah, mending lo liat dia. Gue pergi ya, ada janji sama pacar gue,” ucap Melanie melirik Raka dengan tatapan menggoda.
Sepeninggal Melanie pergi, Sena langsung menghampiri Raka dengan khawatir.
Lain halnya dengan Sena yang tampak khawatir, Ayah Raka—Seno Wiguna, pria itu menatap Raka dengan marah. “Apa yang kamu perbuat? Kenapa Erlangga Grup menarik investasi mereka Raka?! Kamu menyinggung mereka?”
Raka mengernyit. “Nggak, Aku nggak ngusik mereka pa! Sama sekali nggak.” “Bahkan gue belum nyentuh Celine sedikitpun,”
“Udahlah pa, kenapa mentingin itu sih? Ini anak kita keadaannya begini!” lerai Yona—mamanya Raka. “Kenapa kamu bisa gini sih? Apa kata dokter?”
Raka menggeleng, “Nggak papa ma. Cuma dikasih obat nyeri aja.”
“Lagian kok bisa ditendang orang sih kak? Kakak ngapain emangnya?” tanya Sena manja. “Kalau sakit, gimana kita bisa main?” tanya Sena lagi dengan berbisik pelan.
Raka mengusap kepala Sena sambil tersenyum. “Ada orang cari masalah sama aku sayang. terus aku lawan, eh pas aku lengah dia tendang aku.”
“Hentikan pembicaraan kalian! Papa mau kamu selesaikan masalah ini, dan buat Erlangga Group kembali menaruh investasi di perusahaan kita!” tegas Seno. “Ayo pulang Yona, biarkan perawat yang akan mengurus Raka.”
“Kamu aja,” kata Yola, “Aku akan merawat Raka, kata dokter dia sudah boleh pulang malam ini.”
Seno mengangguk, “Kalau begitu aku pulang, supir yang akan menjemput kalian nanti.”
“Aku juga pamit, om tante, kak Raka. Aku ada tugas kelompok, sore ini.” Sena mencium tangan Yola, lalu tangan Seno. Namun di sela-sela ciuman di tangan itu, Sena melirik Seno sambil tersenyum.
“Kalau begitu om akan antar kamu. Sekalian pulang,” kata Seno.
“Iya Sen, biar kamu nggak perlu keluar uang lagi,” tambah Yola.
“Iya sayang, ikut sama papa aja,” sambung Raka.
Sena mengangguk. Ia mengekor di belakang Seno. Setelah Seno dan Sena pergi, Yola langsung memeriksa keadaan Raka. Meneliti tubuh anaknya itu. “Jujur sama mama, sebenarnya apa yang terjadi?”
“Ma aku beneran—”
“Mama tau kamu bohong Raka! Bilang sama mama! Sebenernya siapa yang buat kamu begini?!” desak Yola.
Raka menghela nafas kasar. “Asyara yang ngelakuin ini sama aku ma.”
Yola membelalak. “Apa?! Tapi kenapa?!”
“Aku mau minta maaf ma. Aku tahu aku salah karena selingkuh, makanya aku minta maaf. Tapi dia marah sama aku dan nendang punya aku ma,” jelas Raka.
Yola berdecak sinis, “Dasar perempuan kasar. Gimana kamu nggak selingkuh sama Sena. Sena itu lembut dan baik. Lagian ya laki-laki selingkuh itu biasa, yang penting kan nikahnya nanti sama dia! Nggak pengertian banget jadi perempuan! Bagus kamu putusin dia! Emang salahnya dia!”
Raka mengangguk. “Gue nggak akan nyerah buat Asyara jadi milik gue lagi!”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...