Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tumbangnya Sang Malaikat Kecil dan Keputusasaan Sang Raja
Waktu merangkak lambat di dalam rumah kontrakan berukuran tiga kali empat meter tersebut. Hujan yang sempat mereda di pagi hari, kini menjelang sore kembali turun dengan rintik yang rapat, seolah langit kota ini enggan memberikan waktu bagi matahari untuk bernapas. Suasana di dalam ruangan terasa semakin lembap dan dingin.
Arga Danendra masih duduk menyandar di dinding, kakinya yang panjang diselonjorkan di atas tikar anyaman. Tubuhnya kini berbalut kaus abu-abu kusam dan celana training kebesaran. Matanya yang setajam elang, yang biasanya digunakan untuk membedah grafik saham dan laporan keuangan bernilai triliunan rupiah, kini sepenuhnya terkunci pada satu objek tunggal: Senja Kirana.
Sejak pagi tadi, setelah memaksakan diri memakan setengah porsi bubur encer dan mencuci pakaian berdarah Arga, gadis itu tidak berhenti bergerak. Senja mengepel lantai semen yang kotor akibat jejak sepatu Arga semalam, menyikat kamar mandi berlumut, merapikan tumpukan kardus bekas, dan kini, ia sedang sibuk menjahit bagian yang robek dari kemeja mahal Arga menggunakan jarum dan benang murahan.
Namun, Arga bukanlah pria yang bisa ditipu oleh senyum ceria yang terus dipaksakan Senja.
Kemampuan observasi Arga menangkap setiap perubahan kecil pada fisik gadis itu. Gerakan tangan Senja tidak lagi selincah pagi tadi. Jarum yang ia pegang beberapa kali meleset dari lubang kancing. Bahu kecilnya turun naik dengan tarikan napas yang terdengar lebih berat. Dan yang paling terlihat jelas, wajah pucat gadis itu kini memancarkan rona kemerahan yang tidak wajar di sekitar tulang pipinya, sementara bibirnya kering dan nyaris membiru.
"Senja, berhentilah," suara bariton Arga memecah suara rintik hujan dan gesekan jarum. Nada suaranya rendah, sarat akan perintah yang tidak bisa dibantah.
Senja, yang sedang menggigit ujung benang untuk memutuskannya, mendongak kaget. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangannya yang entah sejak kapan mulai terasa berkunang-kunang.
"E-Eh? Kenapa, Kak? Jahitannya sudah hampir selesai kok," sahut Senja dengan senyum lebarnya, senyum yang kali ini terlihat sangat rapuh, seolah bisa hancur berkeping-keping hanya dengan satu sentuhan.
Gadis itu mencoba mengangkat kemeja putih Arga untuk memamerkan hasil jahitannya, namun tiba-tiba, tangannya bergetar hebat. Kemeja itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke pangkuannya.
Senja memejamkan mata erat-erat, memijat pelipisnya dengan ibu jari. Kepalanya berdenyut menyakitkan, seolah ada godam tak kasat mata yang sedang menghantam tengkoraknya berulang kali. Rasa dingin yang aneh mulai merayap naik dari telapak kakinya, menusuk langsung ke sumsum tulang.
"Kau sakit," itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan mutlak dari Arga.
Pria bertubuh raksasa itu menggeser posisinya, mengabaikan rasa perih di pinggangnya sendiri, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Senja. Tatapannya menajam, menguliti kebohongan gadis itu.
"T-Tidak! Aku tidak sakit, Kak!" elak Senja panik. Ia buru-buru memungut kemeja Arga, memaksakan diri untuk tertawa canggung meski suaranya terdengar parau. "Aku hanya mengantuk. Semalam kan aku kurang tidur karena menjagamu. Lagipula, aku ini kuat! Waktu musim hujan tahun lalu, teman-temanku di kedai semuanya flu, tapi hanya aku yang tetap sehat dan bisa—"
Ucapan Senja terputus oleh batuk kering yang menyiksa tenggorokannya. Batuk itu begitu keras hingga tubuh mungilnya terguncang. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha meredam suaranya, namun dadanya terasa sesak luar biasa.
Melihat keras kepalanya gadis itu, rahang Arga mengeras. Ia sangat benci pada orang yang mengabaikan batas fisik mereka sendiri. Terutama jika orang itu adalah Senja, gadis yang jatuh sakit karena mengorbankan dirinya sendiri demi Arga. Semalam, Senja membuang satu-satunya payung yang ia miliki demi melindungi Arga, merelakan jaket tipisnya untuk menekan pendarahan Arga, dan rela tidur duduk di lantai semen yang membekukan semalaman penuh tanpa selimut.
Tubuh manusia mana pun akan hancur jika dipaksa melewati batas ekstrem seperti itu, apalagi tubuh kecil yang kekurangan gizi ini.
"Kemarilah," perintah Arga tegas.
Senja menggeleng, memeluk lututnya sendiri, berusaha menahan gigil yang mulai tak terkendali. "Aku mau buatkan teh hangat lagi untuk Kakak. Sebentar ya, aku panaskan airnya..."
Dengan langkah yang sangat tidak stabil, Senja memaksakan diri untuk berdiri. Ia bertumpu pada pinggiran meja kayu, mencoba mencari keseimbangan. Ruangan itu tiba-tiba terasa berputar layaknya wahana komidi putar yang lepas kendali. Warna putih dari dinding berubah menjadi keabuan, dan suara hujan di luar terdengar mendengung jauh di telinganya.
Satu langkah. Dua langkah.
Tepat saat Senja mengulurkan tangan untuk menyentuh gagang kompor, lututnya kehilangan kekuatan. Kakinya lemas bak agar-agar, tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Pandangannya gelap total.
"Ah..." desah tipis keluar dari bibir Senja, sebelum tubuh mungilnya tumbang ke belakang, jatuh bebas membentur lantai.
Namun, tubuh itu tidak pernah menyentuh lantai semen yang dingin.
GREP!
"Senja!!"
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun hidupnya sebagai penguasa yang tenang dan berdarah dingin, suara Arga Danendra pecah oleh teriakan kepanikan yang luar biasa.
Mengabaikan luka tusuknya yang belum kering, Arga menerjang maju bak macan kumbang. Rasa sakit yang tajam merobek pinggang kirinya saat ototnya tertarik paksa, namun otak Arga telah memblokir semua rasa sakit itu. Ia berhasil menangkap tubuh Senja tepat sebelum kepala gadis itu membentur lantai semen yang keras.
Beban tubuh Senja yang begitu ringan jatuh sepenuhnya ke dalam pelukan dada bidang Arga.
"Senja! Buka matamu!" Arga menepuk pelan pipi gadis itu.
Tidak ada respons. Kepala Senja terkulai lemah di lengan Arga, rambut panjangnya yang setengah basah oleh keringat dingin jatuh menutupi sebagian wajahnya yang kini sepucat kertas.
Namun, yang membuat Arga benar-benar membeku adalah suhu tubuh gadis itu.
Saat telapak tangan Arga yang besar dan kapalan menyentuh dahi dan leher Senja, ia merasa seolah sedang menyentuh permukaan besi yang terbakar. Panasnya sangat ekstrem, tidak wajar. Tubuh Senja sedang berperang melawan demam yang sangat mematikan, tetapi ajaibnya, gadis itu terus menggigil hebat di dalam pelukan Arga, giginya gemeretak menahan dingin yang tak kasat mata.
"Sialan!" umpat Arga, sebuah kutukan kasar yang jarang sekali ia keluarkan. Kutukan itu bukan ditujukan pada gadis di pelukannya, melainkan pada dirinya sendiri. Pada keangkuhannya, pada kebutaannya yang membiarkan gadis ini memaksakan diri melayaninya sejak pagi.
Dengan hati-hati, Arga mengangkat tubuh Senja. Gadis ini terlalu ringan, seringan kapas, membuat hati Arga terasa seperti diiris oleh belati tumpul. Ia melangkah tertatih menuju kasur busa satu-satunya di ruangan itu—kasur yang sejak semalam Senja berikan secara sepihak kepada Arga—lalu membaringkan tubuh Senja dengan sangat perlahan.
Arga segera menarik selimut motif bunga yang pudar itu dan membungkus tubuh Senja rapat-rapat hingga sebatas leher.
"D-Dingin... Ayah... Ibu, Senja kedinginan..." gumam Senja mengigau dalam ketidaksadarannya. Air mata panas mengalir dari sudut mata gadis yang terpejam itu, meresap ke dalam bantal yang mulai menguning.
Mendengar igauan pilu itu, pertahanan emosi Arga yang setebal baja mulai runtuh. Gadis yang selalu tersenyum paling lebar, yang selalu meyakinkan dunia bahwa ia baik-baik saja, yang selalu tegar menghadapi kejamnya kemiskinan, kini kembali menjadi seorang anak kecil berusia sepuluh tahun yang menangis mencari perlindungan orang tuanya.
"Kau aman, Senja. Aku di sini," bisik Arga serak. Tangannya yang biasa digunakan untuk menandatangani kontrak bernilai puluhan triliun, kini gemetar saat mengusap air mata dari pipi gadis pembuat roti pinggiran itu.
Arga segera menoleh ke sekeliling ruangan, otaknya yang jenius berputar mencari solusi. Obat. Dia butuh penurun panas dan antibiotik. Air kompres.
Arga merangkak menuju meja kecil tempat Senja menaruh kotak P3K murahan tadi pagi. Dengan gerakan kasar, ia membuka tutup plastik kotak itu, hingga beberapa isinya berserakan.
Napas Arga tertahan.
Kotak itu kosong. Hanya tersisa botol obat merah yang isinya tinggal separuh—yang sudah Senja gunakan seluruhnya untuk mengobati luka tusuk Arga semalam. Tidak ada parasetamol. Tidak ada antibiotik. Tidak ada minyak kayu putih atau obat apa pun. Hanya gulungan kapas dan plester murah.
Arga menggeledah lemari kain Senja, membuka laci-laci kecil yang terbuat dari kardus bekas, mencari sesuatu yang bisa digunakan. Namun nihil.
Ia kemudian teringat dompet kecil bermotif bunga milik Senja pagi tadi. Dompet yang kini kosong melompong karena seluruh sisa sepuluh ribu rupiahnya telah Senja gunakan untuk membeli bubur ayam... demi memberi makan Arga. Gadis ini bahkan tidak punya uang sepeser pun untuk membeli obat murahan di warung depan.
Rasa tidak berdaya menghantam Arga bagaikan godam raksasa.
Di gedung pencakar langit miliknya, ia memiliki satu lantai khusus yang didedikasikan sebagai klinik VVIP bagi para petinggi perusahaannya, lengkap dengan dokter spesialis lulusan luar negeri yang berjaga 24 jam. Jika ia sakit walau hanya bersin sekali pun, asistennya, Raka, akan menerbangkan obat terbaik dari Swiss dengan jet pribadi. Ia memiliki segalanya. Uang, kekuasaan, koneksi. Ia bisa membeli rumah sakit paling mewah di negara ini hanya dengan satu kali telepon.
Namun di sini... di dalam ruangan kumuh yang atapnya membocorkan air hujan ini, kekayaan Arga Danendra sama sekali tidak ada harganya.
Uang miliaran di rekeningnya tidak bisa membeli sebutir parasetamol untuk menurunkan demam gadis yang sedang meregang nyawa di hadapannya ini. Ia adalah sang penguasa, tapi saat ini, ia tidak lebih dari seorang pria lumpuh yang menyedihkan, yang bahkan tidak bisa menyelamatkan nyawa orang yang telah menyelamatkannya.
"Argh!!" Arga meninju dinding semen di sampingnya dengan keras. Buku-buku jarinya berdarah, namun rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa ngilu di dadanya melihat Senja terus menggigil.
Ssst... Srrtt...
Suara rintihan halus menarik perhatian Arga kembali pada kasur. Senja meringkuk layaknya udang, tangannya yang gemetar mencengkeram erat selimut tipis itu. "D-Dingin... tolong, ini dingin sekali..." bibir pucatnya terus meracau.
Selimut usang itu sama sekali tidak bisa menahan hawa dingin yang menusuk dari lantai semen, terutama dengan suhu tubuh Senja yang sedang berperang hebat dengan infeksi.
Melihat kondisi itu, Arga tidak berpikir dua kali. Ia membuang jauh-jauh sisa-sisa batasan dan jarak yang ia jaga sedari tadi.
Arga merangkak naik ke atas kasur busa yang sempit itu. Ia berbaring di samping Senja, menghadap gadis itu. Tanpa ragu, Arga mengulurkan lengan besarnya, merengkuh tubuh mungil Senja beserta selimut yang membungkusnya, menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang erat dan posesif.
Arga menyelipkan kepala Senja di bawah dagunya, membiarkan wajah gadis itu bersandar di dada bidangnya yang hangat. Ia melingkarkan kakinya, membungkus tubuh Senja sepenuhnya dengan kehangatan suhu tubuhnya sendiri. Ini adalah metode primitif pertolongan pertama pada hipotermia, satu-satunya cara yang bisa Arga lakukan saat ia tidak memiliki pemanas ruangan atau obat.
"Aku di sini, Senja. Jangan takut," bisik Arga tepat di telinga gadis itu, suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang mengamuk di dalam dadanya.
Tubuh Senja awalnya menegang karena kontak fisik yang tiba-tiba itu. Namun, insting bertahan hidupnya yang sedang mencari sumber panas membuat gadis itu secara tidak sadar bergerak mendekat. Tangan Senja yang sedingin es perlahan keluar dari balik selimut, mencengkeram ujung kaus Arga dengan sangat erat, seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai.
"Jangan pergi..." isak Senja dalam igauannya, suaranya terdengar sangat menyayat hati. "Semuanya pergi meninggalkanku... Ayah pergi, Ibu pergi... Paman dan Bibi membuangku... Tolong, jangan tinggalkan Senja sendirian di kegelapan ini..."
Mendengar pengakuan bawah sadar yang penuh dengan luka trauma masa lalu itu, jantung Arga seolah diremas dengan tangan besi yang panas. Gadis yang selalu terlihat ceria dan kuat ini, ternyata menyimpan ketakutan yang begitu besar akan kesepian. Ia menghabiskan belasan tahun hidupnya dalam ketakutan ditinggalkan, namun ajaibnya, ia tidak pernah membiarkan ketakutan itu mengubahnya menjadi monster yang apatis.
Arga mengeratkan pelukannya, mengusap punggung Senja dengan ritme yang lambat dan menenangkan. Ia menyandarkan pipinya pada puncak kepala Senja, membiarkan aroma vanila yang pudar bercampur dengan aroma keringat demam gadis itu memenuhi indra penciumannya.
"Aku tidak akan pergi," janji Arga, sebuah sumpah yang ia ucapkan bukan hanya untuk menenangkan igauan Senja, tetapi juga sebagai ikrar bagi dirinya sendiri. "Bahkan jika dunia ini runtuh, aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Kau mendengarku, Senja? Aku di sini."
Tiga tahun lalu, saat Natasha mencampakkannya di tengah hujan, Arga bersumpah bahwa hatinya telah mati. Ia membangun benteng es yang tak bisa ditembus oleh siapa pun. Ia memandang semua wanita sebagai makhluk materialistis yang memuakkan, dan memandang kebaikan sebagai sebuah transaksi bisnis belaka.
Namun sore ini, di atas kasur tipis yang bau apek ini, sambil memeluk seorang gadis yatim piatu yang miskin dan tak berdaya, benteng es itu akhirnya hancur berkeping-keping.
Rasa protektif yang meledak-ledak di dalam dada Arga saat ini bukanlah rasa belas kasihan. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih primitif, dan lebih kuat. Ia memeluk gadis ini seolah ia sedang memeluk nyawanya sendiri. Ia menyadari satu fakta yang tak terbantahkan: Senja Kirana telah menyelinap masuk ke dalam relung hatinya yang paling gelap, dan menyalakan kembali lentera kemanusiaan yang telah lama padam.
Perlahan, di bawah dekapan hangat Arga, gigil di tubuh Senja mulai mereda. Napas gadis itu perlahan menjadi lebih teratur, meski suhu tubuhnya masih terasa sangat panas seperti bara api. Ia akhirnya jatuh ke dalam tidur yang lebih dalam dan tenang, wajahnya tenggelam sepenuhnya di dada Arga.
Arga menatap wajah terlelap itu untuk waktu yang lama. Sesekali ia membelai rambut Senja yang lembap, merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu.
Namun, Arga sadar bahwa kehangatan tubuhnya saja tidak akan cukup untuk menyembuhkan infeksi atau mencegah demam ini merusak otak Senja. Demam ini adalah akibat kombinasi dari kehujanan yang ekstrem, kelelahan fisik tingkat tinggi, kurang tidur, dan gizi buruk yang dialami Senja. Gadis ini butuh penanganan medis secepatnya. Jika dibiarkan sampai malam, Senja bisa mengalami kejang dan kehilangan nyawanya.
Pikiran itu membuat darah Arga mendidih oleh kepanikan.
Ia memindahkan pandangannya dari wajah Senja menuju jendela kaca yang buram oleh air hujan. Di luar sana, hari mulai gelap. Hujan badai yang menderas menenggelamkan kota dalam kepungan cuaca buruk.
Arga dihadapkan pada persimpangan jalan yang sangat mematikan.
Jika ia terus bersembunyi di sini, mempertahankan penyamarannya sebagai 'pria amnesia', ia bisa memastikan dirinya aman dari buruan pembunuh bayaran Grup Wijaya. Namun taruhannya adalah nyawa gadis di pelukannya ini.
Sebaliknya, jika ia menghubungi Raka dan membongkar tempat persembunyiannya demi mendatangkan tim medis, ia mungkin akan menyelamatkan nyawa Senja. Tapi ia juga berisiko membongkar identitasnya di depan gadis ini. Lebih buruk lagi, jika sinyalnya disadap oleh musuh, Grup Wijaya akan mengetahui lokasi ini, dan Senja akan terseret ke dalam medan perang dunia bawah yang sangat kejam, menjadikannya target pembunuhan.
Arga mendecak kesal. Pilihan mana pun yang ia ambil, penuh dengan risiko mematikan.
Tapi bagi Arga Danendra, tidak ada yang lebih berharga saat ini selain napas gadis yang sedang bersandar di dadanya. Jika ia harus membakar separuh kota ini untuk mendatangkan seorang dokter ke ruangan kumuh ini, ia akan melakukannya. Ia adalah Sang Raja, dan sudah saatnya ia menggunakan kekuasaannya, meski dari balik bayang-bayang.
Dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Senja, Arga menarik lengannya secara perlahan dari bawah tubuh gadis itu. Ia menyelipkan guling tua yang sudah kempes ke dalam pelukan Senja sebagai pengganti tubuhnya, lalu merapatkan selimutnya hingga sebatas dagu gadis itu.
Senja merengek pelan karena kehilangan sumber panas utamanya, namun ia tidak terbangun.
Arga bangkit berdiri. Ia menahan napas saat rasa nyeri kembali menghujam pinggangnya, pertanda bahwa pergerakan ekstremnya tadi telah membuat lukanya kembali terbuka sedikit. Bau amis darah segar mulai samar-samar tercium dari balik kausnya, namun Arga mengabaikannya seolah itu hanyalah gigitan semut.
Ia melangkah mendekati jendela, memandang ke luar, ke arah jalanan gang yang sepi dan gelap karena beberapa lampu jalan mati.
Matanya menyapu sekeliling, dan tatapannya tertuju pada sebuah warung sembako kecil yang jaraknya sekitar lima puluh meter dari rumah kontrakan Senja. Di depan warung itu, terlindung di bawah terpal plastik biru yang berkibar tertiup angin kencang, terdapat sebuah telepon umum koin berwarna biru yang sudah berkarat. Salah satu peninggalan teknologi kuno yang ironisnya masih berfungsi di permukiman miskin ini.
Arga menunduk, merogoh saku celana panjang berdarahnya yang belum sempat dicuci tuntas oleh Senja. Di dalam saku celana mewahnya itu, ia menemukan benda yang ia cari. Beberapa keping koin emas dan perak—uang kembalian dari tip yang pernah ia berikan pada pelayan kafe beberapa hari yang lalu. Uang receh yang biasanya ia buang begitu saja karena dianggap mengotori dompetnya.
Malam ini, beberapa keping koin itu akan menjadi benda paling berharga yang akan menentukan hidup dan mati.
Arga menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap tubuh mungil Senja yang terbaring tak berdaya.
Bertahanlah sebentar lagi, malaikat kecil. Aku akan membawa bantuan untukmu. Aku bersumpah.
Dengan tekad yang bulat, Arga meraih payung hitam usang yang tulang-tulangnya sudah patah di sudut ruangan. Tanpa memedulikan kondisi fisiknya yang hancur dan statusnya sebagai buronan mematikan, sang CEO miliarder itu membuka pintu kayu reyot tersebut dan melangkah keluar, menembus badai dan kegelapan malam, demi satu-satunya wanita yang kini menguasai hatinya.
Langkah kaki yang pincang itu membelah genangan air hujan, membawanya menuju kotak telepon berkarat yang akan segera menghubungkan dua dunia yang bertolak belakang, dan mengubah roda takdir mereka untuk selamanya.