Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Telah Berbeda
Tante Laras meluruskan punggungnya, senyum tipis itu masih tertahan di bibirnya, namun sorot matanya kini terasa semakin tajam dan tak tersembunyi lagi. Ia melirik sekilas ke arah Ayah, seolah meminta izin atau justru mengambil alih pembicaraan yang sejak tadi terasa berat itu. Ayah hanya diam, menunduk sedikit, seolah enggan menatap mataku langsung—sebuah tanda yang menguatkan firasat burukku bahwa apa yang akan diucapkan selanjutnya bukanlah hal yang baik.
“Kamu gadis yang cerdas, Rania. Tidak heran kamu langsung menanyakan hal itu” ucap Tante Laras dengan nada yang terdengar manis namun penuh duri, seolah setiap kata yang keluar telah dipertimbangkan dengan matang untuk melukai atau menjerat.
“Tentu saja ada aturan, Nak. Di rumah ini, di lingkungan keluarga kita yang terhormat, semuanya harus berjalan dengan sangat tertib, serasi, dan menjaga nama baik keluarga ini. Ayahmu begitu baik hati ingin membawamu kembali ke sini, memberimu kehidupan yang layak dan terhormat, jauh dari debu dan kemiskinan desa itu. Sebagai gantinya, kamu hanya perlu… menyesuaikan diri disini.. itu tidak berlebihan bukan” ujarnya, yang membuat diri ini semakin muang melihatnya.
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin menekan.
“Syaratnya sederhana.. Pertama, kamu harus pindah ke sini sepenuhnya, tinggal bersama kami, dan tidak boleh lagi sering-sering kembali ke rumah ibumu atau membawa pengaruh dari sana ke dalam rumah ini. Kedua, kamu harus mematuhi segala aturan yang kami tetapkan, mulai dari cara berpakaian, pergaulan, hingga perilaku sehari-hari agar pantas menjadi bagian dari keluarga besar wijaya ..Dan yang paling penting…” Tante Laras menjeda ucapannya, menatapku lurus tanpa berkedip, “…kamu harus memahami posisimu. Di sini ada kaka-kakamu, ada Rina dan Rian, istrinya, dan juga si kecil Amira yang menjadi kebanggaan keluarga. Kamu tidak boleh menuntut hak yang sama persis dengan mereka, tidak boleh menyinggung perasaan mereka, dan yang terpenting—kamu tidak boleh mencampuri urusan harta maupun warisan keluarga ini. Pendidikan dan tempat tinggal yang layak sudah lebih dari cukup sebagai bentuk kebaikan Ayahmu”ucapnya, yang semakin terdengar aneh di telingaku.
Darahku seakan mendidih mendengar itu. Kata-katanya bukan sekadar aturan rumah tangga, melainkan sebuah batasan yang ingin menempatkanku di posisi yang rendah, seolah aku ini beban yang harus ditanggung dengan syarat merendahkan martabat. Ia ingin memisahkanku dari Mama—satu-satunya orang yang paling kucintai dan menjagaku tulus—serta membungkam mulutku agar tak pernah bisa menganggap diriku setara dengan anggota keluarga lain di rumah megah ini.
Aku melirik Ayah, berharap ia akan menegur istrinya, menolak perkataan yang begitu menyakitkan itu. Namun Ayah tetap diam, menundukkan wajahnya, seolah mengakui bahwa semua itu memang kebijakan yang ia setujui demi menjaga keharmonisan rumah tangganya yang baru.
“Jadi, itulah harga yang harus kubayar?” tanyaku dengan suara yang bergetar namun kutahan sekuat tenaga agar tetap terdengar tegas.
“Menjauh dari Mama, menunduk di bawah aturan yang mematikan, dan melupakan hakku sebagai anak kandung Ayah sendiri? Aku datang ke sini bukan untuk meminta kemewahan, Tante. Aku hanya ingin keadilan dan kebenaran”tegas ku padanya.
“Keadilan itu relatif, Rania” potong Tante Laras cepat.
“Di sini keadilan berarti menjaga keteraturan. Ayahmu sudah sangat murah hati. Banyak anak di luar sana yang akan berlutut demi mendapatkan kesempatan sepertimu”ujarnya lagi.
Aku menarik napas panjang, menatap ruangan yang mewah namun terasa begitu kosong dan dingin ini. Bayangan wajah Mama yang tulus dan penuh kasih sayang di rumah kayu sederhana kami kembali melintas di benakku. Aku sadar, kemewahan ini takkan pernah bisa membeli ketenangan hati, apalagi jika harus didapat dengan menjual harga diri dan memutus ikatan darah dengan ibuku. Ayah akhirnya mengangkat wajahnya, terlihat ragu dan bimbang, namun tak ada penolakan yang keluar dari mulutnya.
“Rania… Ayah mohon pertimbangkanlah. Ini demi kebaikanmu juga" ucapnya lirih, seolah kehilangan wibawa yang tadi ia tampilkan.
“Tinggallah di sini, ambil kesempatan pendidikan itu, dan Ayah berjanji akan berusaha sebaik mungkin agar kamu tidak merasa tertekan. Namun, tolonglah… mengertilah pada kondisi keluarga Ayah sekarang”tambah ayah.
Hatiku terasa perih melihat Ayah yang begitu tak berdaya di hadapan istrinya sendiri. Sungguh sangat miris, yang di hadapanku saat ini bukanlah seperti ayahku dulu.Aku merasa kasihan melihat keluarga ku yang seperti di kendalikan oleh tante laras pikirannya. Namun, tekadku sudah bulat. Aku tidak akan tergoda oleh janji manis yang berujung perbudakan batin. Aku harus berdiri tegak, seperti yang selalu diajarkan Mama.
“Terima kasih atas tawaran dan kebaikan Ayah, meskipun terikat dengan syarat yang begitu berat,” jawabku mantap, bangkit dari dudukku, membuat mereka semua terkejut—terutama Tante Laras yang tampak tidak menyangka aku berani mengambil sikap seperti itu. “Aku menghargai niat Ayah, namun aku tidak bisa menerima syarat tersebut. Bagiku, Mama adalah bagian dari hidupku, dan harga diri serta kebebasan berpikir takkan pernah kuserahkan kepada siapa pun. Aku akan berjuang untuk masa depanku sendiri, bersama Mama, dengan cara yang kami miliki—tanpa harus merendahkan diri atau melukai hati orang lain.”
Ayah terdiam, wajahnya berubah pucat. Tante Laras tersenyum penuh kemenangan, seolah hasil ini memang yang paling ia inginkan agar aku tak lagi menjadi beban di matanya.
“Baiklah kalau begitu" ucap Tante Laras dengan nada lega yang tak disembunyikan.
“Kami tidak akan memaksamu. Pilihan ada di tanganmu”timpalnya.
Aku tidak menoleh lagi ke belakang. Aku melangkah keluar dari ruangan mewah itu, meninggalkan segala tawaran yang semula tampak cerah namun ternyata penuh duri. Kak Rina yang sedari tadi diam hanya menatapku dengan tatapan tak terbaca di sudut ruangan. Langkahku terasa berat namun ringan di saat yang sama—berat karena harus menghadapi kenyataan pahit tentang ayah kandungku sendiri, namun ringan karena terbebas dari jerat yang hendak dipasang.
Di luar, matahari sore masih bersinar, dan aku tahu, perjalanan pulang menuju kehangatan rumah Mama serta kebebasan hati adalah tujuan yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang ada di dalam rumah megah ini.
Tante Laras tersenyum penuh kemenangan, seolah hasil ini memang yang paling ia inginkan agar aku tak lagi menjadi beban di matanya. Belum sempat aku melangkah pergi, suara tegas dan dingin terdengar dari sisi ruangan, memecah keheningan yang sempat terjadi.
“Benar, keputusan itu sangat tepat” ucap Kak Rina yang sedari tadi hanya diam menyimak, kini bangkit sedikit dari duduknya, menatapku dengan sorot mata tajam yang persis seperti Ibu tirinya.
Aku menghentikan langkahk di ambang pintu .
“Kamu memang tidak pantas berada di sini, Rania. Kamu tidak paham tata krama, tidak tahu diri, dan selalu membawa sikap keras kepala yang sama persis dengan ibumu dari desa itu. Ayah dan Ibu sudah terlalu baik memberikan tawaran yang begitu besar, tapi kamu malah menolaknya dengan alasan konyol soal harga diri dan kebebasan. Jangan bermimpi bisa membagi kasih di rumah ini, apalagi mencampuri urusan keluarga yang sudah tertata rapi. Tempatmu memang di sana, bersama ibumu, jauh dari kehidupan kami yang terhormat" ucapnya penuh arogan.
Kata-kata Kak Rina menusuk tajam, tanpa belas kasih, seolah kami bukan saudara kandung yang pernah tumbuh bersama, melainkan orang asing yang saling bermusuhan. Sikap dan nada bicaranya kini persis meniru Tante Laras—dingin, penuh perhitungan, dan memandang rendah siapa pun yang dianggap berbeda atau berada di luar lingkaran mereka. Ia berdiri tegak di samping ibu tirinya, seolah menjadi pendukung paling setia yang siap mematahkan setiap perlawanan, tak ada sedikit pun rasa simpati atau keinginan untuk memahami posisiku. Padahal mamah juga ibunya , bahkan ibu kandungnya.
“Dengar baik-baik kata-kata kakakmu, Rania” timpal Tante Laras dengan wajah bangga, mengusap punggung tangan Rina seolah memuji kesetiaan itu.
“Rina lebih mengerti cara beradaptasi dan tahu di mana tempat yang paling baik baginya. Tidak seperti kamu yang keras kepala dan penuh prasangka”ucap tante laras.
Ayah hanya menunduk dalam, tak berani menengahi atau menegur, seolah keberadaannya di sana sepenuhnya dikendalikan oleh pendapat istri dan anak-anak di lingkungan barunya itu. Hatiku terasa semakin perih melihat kenyataan bahwa saudara kandungku sendiri kini telah berubah menjadi asing, bahkan menjadi penentang yang paling gigih, sama dinginnya dengan mereka yang tak pernah menyukaiku.
Aku menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang menyengat di dada, lalu menatap mereka satu per satu dengan kepala tetap tegak. Tidak ada gunanya berdebat lebih lama di tempat yang logika dan keadilan telah tertutup rapat oleh kepentingan dan kesombongan.
“Terima kasih sudah memperjelas segalanya, Kak Rina” ucapku tenang namun tegas, suaraku tak bergetar meski hati terasa seperti diiris.
“Aku tidak akan memaksakan kehadiranku di sini, di tempat yang keberadaanku saja dianggap gangguan. Tetaplah dengan pilihanmu, menjaga aturan dan kenyamanan versi kalian. Biarlah waktu yang akan menjawab siapa yang benar dan siapa yang keliru” ucapku tanpa menoleh pada mereka.
Tanpa menunggu jawaban lagi, aku yang sudah membalikkan badan sepenuhnya sejak tadi, melangkah mantap keluar dari ruangan yang mewah namun kering kehangatan itu, meninggalkan mereka—Ayah yang tak berdaya, Ibu tiri yang penuh kemenangan, serta Kak Rina yang kini telah menjadi bayangan persis wanita yang merebut tempat ibuku. Pintu besar itu tertutup di belakangku, memisahkan sepenuhnya dua dunia yang memang takkan pernah bisa bersatu.
Bersambung...