Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ummu Dilarikan Ke IGD

Keadaan rumah sakit sudah mulai sepi. Sesekali terdengar suara perawat dari luar. Pasien pun sudah mulai meninggalkan rumah sakit.

Selesai memeriksa para pasien, aku memutuskan untuk membuka ponsel. Entah kenapa, sejak tadi aku merasa ada sesuatu yang terjadi hari ini.

Benar saja.

Tatkala kubuka ponsel, ternyata ada sebelas panggilan tak terjawab dari Ummu Kholid, istri Ustadz Syaiful.

Jantungku seketika berdegup lebih kencang.

Segera kubuka WhatsApp. Ada pesan dari beliau.

Ummu Aisyah baru saja muntah-muntah darah. Sekarang sedang dicarikan kamar di IGD.

Aku membeku beberapa detik.

Muntah darah?

Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari menuju IGD.

Mungkin semua perawat merasa bingung melihatku berlari tergesa-gesa. Aku bahkan tidak sempat menyapa mereka. Ruang praktik pun kutinggalkan begitu saja tanpa menutupnya dengan baik.

Yang ada di pikiranku saat itu hanya satu.

Ummu Aisyah.

Semoga beliau baik-baik saja.

Semoga belum terjadi sesuatu yang lebih buruk.

Begitu sampai di IGD, napasku masih terengah-engah. Mataku langsung mencari sosok yang kukenal.

Di sana, aku melihat Ummu Kholid berdiri di depan ruang pemeriksaan. Di sampingnya ada Ustadz Kholid, putra beliau. Wajah keduanya tampak tegang.

“Ummu...” panggilku sambil menghampiri.

Ummu Kholid langsung menoleh. Begitu melihatku, beliau segera mendekat.

“Alam...” suaranya terdengar bergetar. “Ummu Aisyah di dalam. Baru saja muntah darah banyak.”

Aku menelan ludah. Rasa khawatir yang sejak tadi memenuhi dada semakin menjadi-jadi.

“Sekarang bagaimana keadaannya, Ummu?”

“Belum tahu. Dokter sedang memeriksa.”

Aku mengangguk, kemudian segera masuk ke area IGD.

Dari balik tirai, kulihat Ummu Aisyah terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya terlihat pucat. Ada bekas darah di sekitar mulutnya. Beberapa perawat tampak sibuk memasang infus dan memeriksa kondisinya.

Seorang dokter sedang memeriksa tekanan darah dan kondisi pernapasannya.

“Tekanan darahnya turun, Dok,” ujar salah seorang perawat.

Dokter itu mengangguk. “Pasang infus. Pantau tanda vitalnya. Kita siapkan pemeriksaan darah dan segera lakukan pemeriksaan lanjutan.”

Aku berdiri beberapa langkah dari ranjang, mencoba menenangkan diri.

Sebagai dokter, aku tahu muntah darah bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Apalagi dengan kondisi Ummu Aisyah yang sebelumnya memang sedang menjalani pengobatan.

Namun kali ini, aku bukan hanya seorang dokter.

Aku adalah orang yang mengenal beliau.

Aku menatap wajah Ummu Aisyah yang pucat. Hati kecilku terasa sesak.

“Ummu...” bisikku pelan.

Beliau membuka mata perlahan. Tatapannya terlihat lemah.

“Alam...”

“Iya, Ummu. Aku di sini.”

Aku menggenggam tangannya, berusaha memberikan ketenangan meski sebenarnya diriku sendiri sedang berusaha menahan kepanikan.

“Insyaallah Ummu baik-baik saja.”

Aku mengucapkan kalimat itu dengan suara tenang.

Meski dalam hati, aku sendiri sedang berulang kali berdoa agar kalimat itu benar-benar menjadi kenyataan.

Setelah beberapa saat, kondisi Ummu Aisyah masih terlihat lemah. Dokter memutuskan untuk memberikan penanganan lebih lanjut.

Perawat segera memasangkan selang oksigen ke hidung beliau. Alat monitor di samping tempat tidur terus berbunyi pelan, menampilkan angka-angka yang terus dipantau.

“Berikan oksigen dulu,” ujar dokter.

Aku berdiri di samping ranjang, memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan perawat. Rasanya sulit untuk sekadar diam melihat orang yang selama ini kukenal begitu kuat kini terbaring lemah di hadapanku.

Tak lama kemudian, dokter meminta perawat untuk menyiapkan transfusi darah.

“Kita perlu transfusi darah. Kondisinya cukup lemah setelah mengalami perdarahan,” jelas dokter.

Aku mengangguk pelan.

Perawat kemudian memasang kantong darah pada selang infus. Cairan merah perlahan mengalir menuju tubuh Ummu Aisyah.

Aku menatap kantong darah itu beberapa saat.

Entah mengapa, melihat darah yang perlahan masuk ke tubuh beliau membuat dadaku terasa semakin sesak.

Ummu Aisyah masih terbaring dengan mata terpejam. Selang oksigen terpasang di hidungnya, sementara tangan beliau tertancap jarum infus.

Aku menggenggam tangannya.

“Ummu, istirahat dulu,” bisikku.

Beliau tidak menjawab. Hanya napasnya yang terdengar pelan melalui selang oksigen.

Aku menundukkan kepala.

Dalam hati, aku terus berdoa.

Ya Allah, kuatkanlah Ummu Aisyah. Jangan biarkan kami kehilangan beliau malam ini.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa takut.

Bukan sebagai seorang dokter yang sedang menghadapi pasien.

Tetapi sebagai seseorang yang begitu ingin melihat beliau kembali tersenyum dan pulang dalam keadaan sehat.

Setelah kondisi Ummu Aisyah mulai lebih stabil, aku keluar dari ruang IGD dan menemui dokter yang menangani beliau.

“Dok, sebenarnya apa yang menyebabkan Ummu Aisyah sampai muntah darah sebanyak itu?”

Dokter terdiam sejenak, kemudian menjelaskan dengan hati-hati.

“Dari kondisi beliau dan riwayat penyakitnya, kami cukup mencurigai bahwa perdarahan ini berkaitan dengan penyakit yang mendasarinya. Ada jaringan yang mengalami luka dan perdarahan, sehingga darah masuk ke saluran pencernaan dan kemudian keluar dalam bentuk muntah darah.”

Aku mengangguk pelan.

“Lalu transfusi darah tadi hanya untuk mengganti darah yang hilang?”

“Iya. Transfusi membantu mempertahankan kondisi beliau setelah kehilangan darah. Oksigen juga diberikan karena tubuh membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen selama kondisinya lemah.”

Aku kembali bertanya, “Lalu radioterapi yang dokter sarankan itu hubungannya dengan perdarahan ini bagaimana?”

Dokter menarik napas.

“Kalau sumber perdarahannya memang berasal dari jaringan tumor, radioterapi dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengendalikan perdarahan tersebut. Radiasi ditujukan ke area penyakit untuk mengecilkan atau mengendalikan jaringan tumor yang rapuh dan mudah berdarah. Dengan begitu, pada sebagian kasus, perdarahannya bisa berkurang atau berhenti.”

Aku terdiam mendengarkan.

“Jadi radioterapi bukan karena transfusi darahnya kurang, Dok?”

“Bukan,” jawabnya. “Transfusi hanya menangani akibat dari kehilangan darah. Sedangkan radioterapi, bila memang sumber perdarahannya adalah tumor yang responsif terhadap radiasi, ditujukan untuk menangani sumber masalahnya.”

Aku menundukkan kepala.

“Apakah harus segera dilakukan?”

“Kalau kondisi beliau sudah cukup stabil, kami menyarankan agar radioterapi segera dipertimbangkan. Namun sebelum itu, kami perlu memastikan lokasi dan sumber perdarahannya serta menilai kondisi umum beliau. Tim terkait akan menentukan dosis dan jadwal yang paling sesuai.”

Aku mengangguk perlahan.

Kini aku mulai memahami mengapa dokter menyebut radioterapi sebagai salah satu langkah berikutnya.

Darah yang hilang bisa diganti.

Kondisi tubuh bisa distabilkan.

Tetapi jika sumber perdarahannya masih ada, masalah yang sama bisa kembali terjadi.

Aku kembali memandang ke arah ruang IGD.

Di balik tirai itu, Ummu Aisyah masih terbaring dengan selang oksigen dan infus yang terpasang.

Aku menarik napas panjang.

Semoga Allah memberi beliau kekuatan untuk melewati semua ini.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!