Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Culunku Ternyata CEO

Suami Culunku Ternyata CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!

Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.

Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.

Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?

Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?


Ikuti kisahnya hanya di sini;

"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20.

Hari-hari Sultan kini disibukkan dengan jadwal kerjanya sebagai seorang CEO Rafsanjani Holdings. Sebuah perusahaan besar milik keluarga Rafsanjani yang bergerak di berbagai bidang bisnis dan memiliki sejumlah anak perusahaan yang tersebar di beberapa kota.

Sejak kembali ke kantor pusat, hampir seluruh waktunya diisi dengan rapat, meninjau laporan, bertemu dengan para klien, hingga memantau perkembangan proyek-proyek perusahaan. Berbeda dengan saat masih bekerja di kantor cabang sebagai Rafa, kini tidak ada lagi waktu untuk bersantai. Setiap keputusan yang diambilnya menyangkut kepentingan perusahaan dan ribuan karyawan yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Namun, di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang selalu membuat dirinya tersenyum setiap kali melihat layar ponselnya. Pesan dari Kahiyang, istrinya.

Terkadang hanya berupa pertanyaan sederhana apakah sudah makan atau belum. Sesekali istrinya juga mengingatkan agar bekal yang dibuatnya tidak lupa disantap. Hal-hal kecil seperti itu ternyata mampu menjadi penyemangat tersendiri bagi Sultan.

"Maafkan aku, tak selalu ada untukmu," gumamnya pelan. Matanya berkaca-kaca sambil menatap wajah istrinya yang ia gunakan sebagai wallpaper layar kunci ponselnya.

Dia merasa sangat beruntung, Kahiyang tipe istri yang sangat pengertian dan tidak banyak menuntut.

Di ruang kerjanya yang luas, Sultan baru saja selesai membaca sebuah laporan ketika Ardan mengetuk pintu sebelum masuk membawa beberapa berkas.

“Tuan, ini laporan keuangan dari tiga anak perusahaan yang tadi Anda minta,” ujar pemuda itu sambil meletakkan berkas tersebut di atas meja.

Sultan mengangguk. “Letakkan saja di situ.”

Ardan menurut, lalu membuka tablet di tangannya. “Setelah ini ada konferensi dengan tim proyek dari Surabaya. Kemudian pukul tiga ada pertemuan dengan direktur anak perusahaan yang bergerak di bidang properti.”

Sultan menghela napas pendek sambil bersandar di kursinya. “Padat sekali.”

“Memang seperti itu jadwal Anda setiap hari setelah kembali menduduki jabatan sebagai CEO,” jawab Ardan tenang.

Sultan membuang napas kasar sambil meluruhkan kedua bahunya. “Terus kapan waktuku buat istri?”

Baru saja Ardan hendak menjawab, ponsel Sultan tiba-tiba menyala. Pria yang sedang didera rindu itu, langsung meraihnya. Senyumnya seketika muncul begitu membaca pesan yang masuk.

Ardan yang memperhatikan perubahan ekspresi atasannya hanya bisa menahan senyum. “Dari Nyonya, Tuan?”

Sultan meliriknya sekilas. “Kepo...urus pekerjaanmu, sana! Dan ingat, jangan pernah menatap istriku lebih dari tiga detik!" Peringatnya dengan tegas. "Kejadian di mobil waktu itu aku maafkan, tapi tidak untuk kamu ulangi lagi."

Ardan tersentak pelan lalu terkekeh kecil. “Baik, Tuan. Tapi waktu itu saya hanya menjalankan tugas.”

"Tugas dari siapa?" Sultan tampak mengernyit penuh selidik.

"Dari Nyonya Besar, Tuan," jawab Ardan sambil menundukkan kepala.

Sultan meraup mukanya. "Ya sudah, kembalilah ke ruanganmu."

"Baik, Tuan." Ardan pun segera meninggalkan ruangan atasannya sambil mengulum senyum.

Setelah asistennya keluar, Sultan kembali melihat layar ponselnya. Pesan dari Kahiyang ternyata sederhana. [Sudah makan belum?]

Sultan tersenyum sendiri. Jarinya segera mengetik balasan. [Sudah. Bekalnya enak sekali. Terima kasih, Ayang.]

Tak sampai beberapa menit, balasan Kahiyang masuk.

[Kalau enak, besok aku bawakan lagi]

Sultan menahan senyum yang semakin lebar. Bahkan di tengah tumpukan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya, satu pesan sederhana dari istrinya mampu membuat hari-harinya terasa jauh lebih ringan.

...

Sementara itu, di kantor cabang, Kahiyang juga mulai terbiasa menjalani rutinitas barunya sebagai seorang istri sekaligus wanita karier. Mereka memang bekerja di tempat yang berbeda, tetapi setiap pagi selalu berusaha berangkat bersama lalu akhirnya berpisah di tempat kerja masing-masing.

Dan tanpa disadari keduanya, kehidupan sebagai pasangan suami istri perlahan mulai menemukan ritmenya. Kesibukan tersebut tidak lantas membuat jarak di antara mereka merenggang tetapi justru sebaliknya. Dari hal-hal sederhana, perhatian kecil, dan kebiasaan baru yang mereka jalani setiap hari, hubungan mereka semakin erat.

Hingga hari itu, ketika hendak makan siang Kahiyang membuka tas bekalnya. Namun, betapa terkejutnya ia, ternyata bekal untuk Sultan terbawa olehnya.

"Ya Tuhan, kenapa aku ceroboh sekali?" gumamnya sedikit panik.

"Tenang. Lebih baik aku antar bekal itu sekarang. Dengan begitu aku bisa makan bersamanya."

Ia pun mengambil tasnya lalu bergegas keluar dari kantor sambil memesan ojek online yang dirasa lebih cepat daripada taksi. Beberapa temannya menegur ketika berpapasan dengannya.

"Eh, mau ke mana, Kahiyang? Buru-buru amat?" tanya seorang teman satu divisinya.

"Ah, aku ada keperluan sebentar," sahutnya sambil terus berjalan menuju lobi.

Tiba di lobi pengendara ojol sudah menunggunya. "Dengan, Mbak Kahiyang?" tanyanya ketika Kahiyang mendekat dan langsung meyerahkan helm.

"Iya, Mas," jawab Kahiyang sambil meberima helm lalu memakainya. "Agak cepat ya, biar nggak telat."

"Baik, Mbak. Sesuai alamat dalam aplikasi, ya."

Kahiyang mengangguk lalu naik ke boncengan motor tersebut. Hingga dua puluh menit kemudian sampailah di depan gedung perusahaan Rafsanjani Holdings.

"Sudah sampai, Mbak," kata pengendara ojol.

Kahiyang segera turun lalu melepas helm dan menyerahkannya kembali pada pemiliknya. "Makasih, Mas. Sudah bayar lewat aplikasi, ya."

"Iya, Mbak. Sama-sama," kata pengendara itu lalu melajukan motornya meninggalkan halaman depan gedung tersebut.

Sejenak Kahiyang memandangi gedung di depannya yang berdiri megah itu dengan perasaan kagum dan bangga. Sebab suaminya bisa bekerja di perusahaan sebesar dan bergengsi itu. Ia menarik napas dalam-dalam lalu memantapkan niatnya untuk menemui sang suami.

Dengan memeluk tas bekalnya, Kahiyang melangkah menuju lobi kantor lalu menghampiri resepsionis.

"Selamat siang, Mbak," sapanya ramah.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" jawab resepsionis itu dengan ramah pula.

"Maaf, Mbak. Saya ingin bertemu suami saya, namanya Rafa," kata Kahiyang.

"Maaf, Bu. Kalau boleh tahu namanya Rafa siapa, bagian apa? Soalnya ada beberapa nama Rafa di kantor ini."

Kahiyang terdiam sesaat seakan mengingat sesuatu. "Nama suami saya Rafa Rafsanjani bagian audit keuangan."

Resepsionis tersebut sempat tersentak kecil mendengar nama Rafsanjani disebutkan. Selanjutnya saling berpandangan beberapa saat dengan temannya. Kemudian menyalakan komputer mencari data karyawan hingga akhirnya menatap Kahiyang dengan raut canggung.

"Maaf, Bu. Nama yang Ibu sebutkan tidak ada dalam daftar karyawan di kantor ini."

"Apa maksudnya, Mbak? Sedangkan suami saya sudah sudah hampir tiga bulan ini dipindahkan ke kantor pusat." Kahiyang bersikeras dengan pendapatnya.

"Benar, Bu. Kalau yang Ibu maksud Rafa Rafsanjani memang tidak ada, tapi kalau Tuan Sultan Rafsanjani, beliau adalah CEO perusahaan kami, putra tunggal Tuan Bahtiar Rafsanjani, pemilik perusahaan ini."

Ucapan resepsionis itu membuat Kahiyang terdiam seolah berusaha menyatukan kepingan puzzle yang berserakan di kepalanya.

Sementara itu, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan lobi. Sultan yang baru saja pulang bertemu klien langsung turun dari mobil, disusul Ardan yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Keduanya melangkah tegap memasuki lobi menuju lift khusus tanpa memperhatikan sekitarnya.

Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menundukkan kepala dengan hormat. Resepsionis di hadapan Kahiyang pun ikut menundukkan kepala ketika Sultan melintas.

Kahiyang mengernyit heran. Ia kemudian menoleh dan melihat dua orang pria yang baru saja melewatinya.

“Beliau Tuan Sultan Rafsanjani, CEO kami,” ujar resepsionis itu pelan.

Kahiyang seketika membeku. Matanya mengikuti langkah pria tersebut hingga pandangannya tertuju pada pakaian yang dikenakannya. Kemeja dan celana itu. Bukankah pakaian tersebut yang ia pilihkan sendiri untuk suaminya?

Entah mengapa, melihat pakaian itu membuat ingatannya mendadak melayang pada beberapa hal lain yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.

Nama ayah mertuanya, Hotel Rafsanjani, seserahan yang semuanya barang-barang bermerek. Hingga rumah yang diberikan Sultan setelah pernikahan mereka. Dan terakhir, ucapan Rafa yang menyebutnya sebagai Nyonya Rafsanjani.

Netra Kahiyang langsung membesar saat semua kepingan puzzle itu seolah tersusun menjadi satu kesimpulan yang membuat jantungnya berdegup kencang.

“Haahh...! Jadi...?” serunya tertahan sambil cepat-cepat menutup mulut.

“Suami culunku ternyata CEO?”

1
〈⎳ FT. Zira
baru aja minum obat ya? 🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin😂
total 1 replies
vj'z tri
loh kok tumben pinter /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terpaksa
total 1 replies
vj'z tri
wahhh saran w ambil pacul terus gali lubang kubur Lo sekarang /Hammer/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😂😂😂😂😂
total 1 replies
vj'z tri
bukan anda salah bukan nenek moyang tapi suami moyang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
vj'z tri
ayo mami bikin huru hara biar ada yg kejang kejang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
🤣🤣🤣/Facepalm//Facepalm//Facepalm/kompor nya meleduk beneran
Nar Sih
beruntung nya kmu ayang punya suami seperti rafka
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: pengin dong
total 1 replies
Patrick Khan
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lg nulis
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
Alhamdulillah semua udah terselesaikan masalah di kantor, sekarang tinggal nunggu resepsi pernikahan mereka...
lanjuut thor
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lg nulis
total 1 replies
Nar Sih
sdh tenang sekarang kerja nya ya ayang,anton atasan yg jht sdh tertangkap
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huumm😂
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kasian kamu Anton kali ini salah pilih mangsa 😂
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo😂
total 1 replies
Patrick Khan
kaget kan kau anton🤣🤣
Aditya hp/ bunda Lia
mantaaap ... makanya cuci tuh otak kamu Anton biar bersih dari pikiran dan niat2 busuk
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah betul
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kebusukan anton sdh terbongkar ,dan siap,,nyeselll kmu anton🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: pastinya
total 1 replies
Nar Sih
kebohongan mu yg mungkin kmu seorang koruptor pasti sgra terbongkar anton
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Esther
Banyak laporan palsu ya Pak Anton ?
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Nar Sih
siap,,dgn nasib mu yg bkln hancur anton🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
Esther
Anton cari mati, tuh kamu sudah ditandai sama Rafa bos mu
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: tul tul tul
total 1 replies
Patrick Khan
nunggu besok ya anton di lempar🤣🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😂😂😂😂😂
total 3 replies
Patrick Khan
siap2 kau anton
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siap siap ng ndi?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!