Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerimis Darah di Kuil Tua
Langit malam di Pegunungan Seribu Kabut menggantung rendah, pekat tanpa bintang. Gerimis turun perlahan, membawa aroma tanah basah dan bau anyir darah yang sengaja disembunyikan. Di dalam reruntuhan kuil tua dewa naga, suara petir bergemuruh pelan. Lima orang kultivator berjubah hitam dari Sekte Darah Langit berdiri melingkar. Mata mereka beringas, menatap tajam ke arah seorang pemuda yang duduk bersila di tengah ruangan.
Pemuda itu mengenakan jubah putih sederhana yang ujungnya telah berdebu. Matanya tertutup rapat oleh sehelai kain sutra hitam yang diikat erat di kepalanya. Di pangkuannya, sebuah seruling bambu tua tergeletak tenang. Dia adalah Ji Mo-Xian—buronan paling dicari di Tiga Benua.
"Ji Mo-Xian, menyerahlah!" seru pemimpin kelompok itu, seorang tetua sekte dengan bekas luka bakar di wajahnya. Pedang panjang di tangannya berdengung mengalirkan Qi merah kehitaman. "Serahkan mata dewa naga air itu kepada Sekte kami, maka kami akan memberimu kematian yang cepat!"
Ji Mo-Xian tidak bergeming. Bibirnya yang pucat sedikit terangkat membentuk senyuman tipis. Alih-alih takut, ia justru perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh kain hitam penutup matanya. "Kalian mengincar sesuatu yang bahkan tidak kalian pahami," suara Ji Mo-Xian terdengar tenang, lembut, namun bergemerincing dingin di udara malam. "Kalian menganggap mata ini sebagai anugerah, padahal ini adalah gerbang neraka."
"Banyak bicara! Serang!" teriak sang tetua murka.
Kelima kultivator itu melesat bersamaan. Aura pedang mereka membelah udara, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan pilar-pilar kuil. Serangan tingkat tinggi dari alam Pemurnian Jiwa mengarah langsung ke titik vital Ji Mo-Xian. Namun, sebelum bilah pedang itu menyentuh kulitnya, Ji Mo-Xian mulai bersuara. Ia tidak bangkit. Ia hanya membuka mulutnya, melantunkan sebuah bait syair dengan nada yang lirih:
“Hujan turun membasuh noda di bumi...”
“Bunga mekar di atas kuburan besi...”
“Tiada ampun bagi yang mencari mati...”
“Kembalilah pada sunyinya abadi.”
Seketika, waktu terasa berhenti. Bait syair itu bukan sekadar kata-kata; ia menjelma menjadi gelombang Qi sonik yang tak kasat mata, menghantam gendang telinga dan meremukkan pertahanan energi kelima penyerang.
BARRR!
Darah menyembur dari mulut para kultivator sekte. Pedang di tangan mereka hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu. Belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi, tubuh mereka retak dari dalam, terkoyak oleh getaran syair maut yang diciptakan Ji Mo-Xian. Dalam sekejap, kesunyian kembali merajai kuil tua itu. Empat kultivator langsung tewas tanpa meninggalkan jasad utuh—hanya debu merah yang melebur bersama gerimis.
Sang tetua berlutut dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, tubuhnya gemetar hebat menatap sang pendekar buta. Matanya melotot ngeri. "I... ini... kekuatan apa ini?!" bisiknya terbata-bata sebelum akhirnya rubuh tak bernyawa.
Ji Mo-Xian menarik napas panjang. Ia sama sekali tidak membuka ikatan matanya hari ini. Musuh-musuh itu terlalu lemah untuk memaksa segel mata dewa naga air itu terlepas. Ia memungut serulingnya, melangkah keluar kuil, menghilang ditelan kabut malam.
Keesokan paginya, berita tentang kehancuran Sekte Darah Langit cabang barat menyebar bagaikan api di padang rumput. Di sebuah kedai teh di kaki gunung, para kultivator dari berbagai faksi berbisik-bisik dengan wajah pucat.
"Kalian dengar? Lima kultivator alam Pemurnian Jiwa dari Sekte Darah Langit musnah dalam waktu kurang dari satu detik!" seorang pendekar berpedang berkata kepada rekan semeja.
"Siapa lagi pelakunya kalau bukan si pendekar buta itu? Ji Mo-Xian benar-benar monster. Tanpa melihat, ia merenggut nyawa musuhnya hanya dengan merangkai syair!" sahut yang lain.
Di sudut kedai, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah brokat emas berlambang klan bangsawan. Matanya menyipit tajam mendengar percintaan itu. Ia adalah Ji Tian-Hao, salah satu tetua agung dari Klan Ji—klan asal Ji Mo-Xian sendiri. Pria itu mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di tangannya menonjol.
"Bocah sialan itu..." gumam Ji Tian-Hao penuh kebencian. "Dia mempermalukan nama besar klan kita. Mata dewa naga air itu milik Klan Ji, bukan milik anak cacat yang membuang garis keturunannya!"
Ji Tian-Hao berdiri dari kursinya, melemparkan kepingan batu spiritual ke atas meja, lalu melangkah keluar. Ia tahu, kematian para anggota Sekte Darah Langit hanyalah permulaan. Perburuan terhadap Ji Mo-Xian akan segera memasuki babak yang jauh lebih berbahaya, melibatkan para ahli bela diri tingkat puncak dari seluruh penjuru negeri.
Sementara itu, beberapa mil dari kedai teh tersebut, Ji Mo-Xian sedang duduk bersila di bawah pohon beringin tua. Ia memegang seruling bambunya erat-erat, merasakan aliran energi spiritual alam yang berbisik lewat hembusan angin. Kain hitam di matanya bergesek pelan diterpa angin.
Ia bisa merasakan kehadiran bahaya. Langkah kaki para pengejar semakin mendekat, bau niat membunuh tercium pekat di udara. Namun, Ji Mo-Xian tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia tahu, takdirnya adalah berjalan di jalan darah ini, ditemani oleh keheningan dan syair kematian yang siap merenggut siapa saja yang berani mencabut segel matanya.