Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : Riuhnya IPS 2 & Perjalanan Yang Manis
Pengumuman dari Pengurus Ambalan Pramuka mengenai kegiatan Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) Khusus Kelas XI sukses membuat ruang kelas XI IPS 2 riuh. Acara yang akan dilaksanakan di Bumi Perkemahan daerah kaki gunung itu menjadi topik obrolan paling hangat sepanjang hari.
Farhan, sang Pradana Pramuka yang juga kawan sekelas mereka, berdiri di depan papan tulis membagikan pemetaan kapling tenda.
"Oke, perhatian semuanya! Buat kapling Tenda Empat cewek ada Kiara, Neona, Maya, sama Sisil," seru Farhan sambil menunjuk coretan spidol di papan tulis. "Nah, buat Tenda Empat cowok yang posisinya tepat berhadapan... Khafi, Pandu, Kevin, sama Ferdi."
EAAAAAA!
Koor sorakan khas anak IPS langsung meluncur kompak seketika.
"Waduh, Han! Ini mah takdir atau sabotase panitia Pramuka nih?!" ledek salah satu siswa dari pojok belakang.
"Murni kocokan undian ya, kawan-kawan! Jangan fitnah Ambalan!" kekeh Farhan menepuk-nepuk penghapus ke papan tulis untuk menenangkan situasi.
Khafi yang tadinya sibuk menyandarkan punggung di kursi langsung menegakkan badannya. Matanya melirik papan tulis, lalu menatap Farhan dengan alis berkerut.
"Dih, Han! Kocok ulang aja. Masa Tenda Empat cowok harus depan-depanan sama Tenda Empat cewek sih?" protes Khafi santai tapi terdengar menolak. "Males banget gue tiap keluar tenda mukanya si Kuntil melulu yang keliatan. Bikin pusing mata."
Kiara yang awalnya diam langsung naik darah mendengar celotehan itu. Ia mendelik tajam ke arah Khafi, tidak mau kalah.
"Dih! Dikira gue juga sudi apa liat muka lo tiap pagi?!" semprot Kiara berkacak pinggang menatap Khafi. "Han, tukar aja kelompok gue! Pindahin Tenda Empat cewek ke kapling sebelah Tenda Satu atau Dua kek. Nggak sudi gue tetanggaan sama si Jangkung itu!"
"Tuh, denger kan. Si Kuntil aja kagak mau!" timpal Khafi lagi sambil melipat tangan di dada. "Pindahin aja, Han. Daripada ntar area Tenda Empat makin berisik gara-gara dia ngomel terus."
"Siapa yang ngomel duluan, coba?!" potong Kiara tak mau mengalah.
Anak-anak sekelas makin heboh melihat mereka berdua adu mulut. Ferdi bahkan sampai menepuk-nepuk meja sambil tertawa ngakak. "Lanjut! Lanjut! Belum kemping aja udah ribut nih tetangga."
Farhan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh di depan kelas. "Nggak ada tukar-tukaran! Peraturan Ambalan sudah final. Lagian kapling lain udah pas slotnya. Mau nggak mau, kalian tetanggaan!"
Khafi mendesis pelan sambil membuang muka, tapi sudut bibirnya kedutan menahan senyum tipis. Sementara Kiara cuma bisa memutar bola mata malas sambil bersedekap, berpura-pura kesal padahal di dalam hatinya ada perasaan aneh yang makin menjadi-jadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sabtu pagi yang masih diselimuti kabut tipis dan udara dingin, suasana di depan rumah Kiara sudah cukup sibuk. Di teras, dua tas besar—satu ransel gunung dan satu tote bag kain berisi perbekalan tambahan—sudah tergeletak siap diangkut.
Kiara beberapa kali mengecek isi tasnya, memastikan tidak ada perlengkapan Persami yang ketinggalan.
"Kia, beneran nggak apa-apa dijemput Tante Siska? Mama jadi nggak enak banget nih, jam segini harus udah berangkat ke bandara buat penerbangan ke Surabaya," ujar Mama Kiara sambil merapikan cardigan yang dipakai putrinya.
"Nggak apa-apa, Ma. Tante Siska sendiri kok kemarin yang nawarin lewat telepon," jawab Kiara menenangkan. "Lagian kan rumah Khafi emang searah menuju sekolah, jadi sekalian katanya."
Nggak lama kemudian, suara klakson mobil terdengar berhenti tepat di depan gerbang. Pintu kemudi terbuka, memperlihatkan Tante Siska yang tampil segar dengan pakaian santai, disusul Khafi dari pintu penumpang depan. Cowok itu mengenakan celana cargo hitam dan kaus abu-abu polos, wajahnya masih tersisa raut hangat khas orang baru bangun tidur.
"Assalamu’alaikum," sapa Tante Siska ramah sambil melangkah masuk ke halaman.
"Wa’alaikumussalam, Mbak! Makasih banyak ya udah mau mampir jemput Kia," sambut Mama Kiara hangat, menyalami dan memeluk singkat Mama dari Khafi itu. "Maaf banget jadi ngerepotin pagi-pagi gini. Saya harus langsung ngejar penerbangan pagi ke bandara, jadi nggak sempat antar Kia ke sekolah."
"Duh, Mbak, kayak sama siapa aja! Nggak ngerepotin sama sekali, justru saya seneng banget ada temen ngobrol di mobil," balas Tante Siska penuh kehangatan. "Lagi pula anak bujang saya ini kalau nggak disuruh jemput Ara, palingan berangkatnya ngaret lagi."
Sementara para ibu saling bertukar sapa, Khafi melangkah mendekati teras. Matanya tertuju pada dua tas berukuran lumayan besar yang ada di dekat kaki Khafi. Sudut bibirnya langsung terangkat, memunculkan senyum jahil yang sangat familiar.
"Ini mau kemping dua hari atau mau pindahan kontrakan, Kuntil?" celetuk Khafi santai sambil menunjuk muatan di teras pakai dagunya. "Bawaannya banyak banget, kayak korban bencana yang mau ngungsi."
Kiara yang mendengarnya langsung mendelik. Mukanya agak memerah karena malu di depan Tante Siska. "Dih! Ini tuh barang penting semua, Khafi! Isinya jaket, matras, sama bekal tambahan."
Kiara lalu menoleh canggung ke arah Tante Siska. "Maaf ya Tante... barang Kiara agak banyak, jadi bikin penuh bagasi mobil Tante..."
"Eh, nggak usah dengerin omongan si Khafi ini, Ara!" potong Tante Siska cepat, langsung berkacak pinggang dan menatap anak bujangnya dengan mata membelalak. "KHAFI MAHENDRA! Kamu tuh ya, mulutnya nggak bisa lempeng dikit apa pagi-pagi? Anak cewek bawa barang banyak itu wajar, biar persiapannya matang! Nggak kayak kamu, cuma bawa tas seadanya, nanti kalau kedinginan malah ngerepotin orang lain!"
Khafi mengelus tengkuknya sambil meringis. "Ya kan Khafi cuma nanya, Ma..."
"Nanya tapi ngeledek!" sahut Tante Siska tak mau kalah, membuat Mama Kiara terkekeh geli melihat interaksi ibu dan anak itu. Tante Siska lalu menepuk pelan bahu Khafi. "Udah, cepet bawain tasnya Ara ke bagasi belakang! Jangan cuma berdiri kayak patung!"
"Iya, Ma... iya, ini dibawain," pasrah Khafi.
Meskipun mulutnya sempat memprotes, gerakan tangan Khafi sama sekali tidak ragu. Dengan sigap dan santai, ia mengangkat ransel gunung milik Kiara yang cukup berat ke bahunya, lalu menjinjing tote bag kain di tangan satunya. Otot lengannya sedikit terbentuk saat membawa beban tersebut, menunjukkan kalau bagi Khafi tas itu sebenarnya tidak ada berat-beratnya sama sekali.
Kiara memperhatikan punggung tegap Ghibran yang berjalan menuju bagasi mobil. Ia bernapas lega melihat cowok itu tetap mau membantu tanpa harus diminta dua kali.
Setelah selesai memasukkan barang, Kiara menyalimi ibunya. "Kia berangkat ya, Ma. Hati-hati di jalan ke bandara."
"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di area kemping ya, nurut sama panitia," pesan Mamanya lembut, lalu menoleh ke Khafi. "Khafi, Tante titip Kiara ya. Tolong dijagain selama di sana."
Khafi yang baru saja menutup pintu bagasi menoleh. Ia menyunggingkan senyum tipis—kali ini senyum yang sopan dan tenang di depan Mama Kiara. "Siap, Tante. Aman, nanti Khafi awasin biar nggak hilang di hutan."
"Khafi!" tegur Kiara pelan sambil menyenggol lengan Khafi, membuat cowok itu terkekeh pelan.
"Sudah-sudah, yuk masuk mobil nanti malah terlambat sampai sekolahnya," ajak Tante Siska yang langsung berpamitan dengan Mama Kiara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana parkiran sekolah semakin hidup saat mobil Tante Siska berhenti. Begitu kaca mobil diturunkan, emak-emak berjiwa muda itu langsung menyembulkan kepalanya keluar.
"Waduh, kedatangan Mama yang paling hits se-kompleks!" seru Ferdi nyaring tanpa canggung sedikit pun, disusul Kevin dan Pandu yang langsung melempar cengiran paling tebal mereka.
"Jarang-jarang liat tiga anak ajaib ini udah pada kumpul aja pagi-pagi," balas Tante Siska tertawa renyah. Tapi begitu pandangannya meneliti muatan tas jumbo yang dibawa mereka bertiga, matanya langsung mendelik tajam. Tangan Tante Siska melayang keluar jendela, bertolak pinggang.
"Ferdi! Kevin! Pandu! Kesini kalian!" panggil Tante Siska dengan nada khas ibu-ibu yang mau membagikan wejangan.
Tanpa rasa takut atau canggung—karena emang udah biasa bolak-balik ngabisin makananan yang tersimpan di rumah Khafi—tiga cowok itu malah mendekat rapat ke jendela mobil, memajukan muka mereka dengan cengiran tanpa dosa.
"Dengerin Mama ya! Kalian bertiga nih ya, kalau di rumah kelakuannya udah kayak cacing kepanasan, di tempat kemping nanti jangan makin petakilan!" cerocos Tante Siska bawel. Tangan kanannya menunjuk hidung mereka bertiga bergantian. "Awas ya kalau Mama denger kalian main yang aneh-aneh, atau ketahuan begadang cuma buat jahil nakut-nakutin anak orang! Terus itu, Ferdi! Jangan ngajakin Khafi makan yang pedes-pedes lagi! Ususnya baru bener kemarin, jangan dibikin jebol lagi!"
"Siap, Mam! Udah Edi ganti menu seblaknya pakai bubur bayi!" sahut Ferdi ngasal yang langsung disembur tawa oleh Kevin dan Pandu.
"Kamu juga, Pandu, Kevin, jagain ini si Ara!" lanjut Tante Siska makin bertambah volume suara bawelnya, menunjuk Kiara yang berdiri di samping mobil. "Ara ini anak cewek satu-satunya di rombongan mobil Mama pagi ini, awas kalau kalian cuekin atau dijahilin berlebihan! Kalau Mama denger Ara kenapa-kenapa gara-gara kelakuan kalian bertiga plus si Khafi, Mama ganti password Wi-Fi rumah! Biar kalian nggak bisa menumpang mabar lagi di kamar."
"JANGAN ATUH, MAM! ANCAMANNYA BERAT BANGET!" jerit Kevin dramatis sambil memegangi dadanya.
"Ancaman tingkat dewa itu mah," timpal Pandu ikut-ikutan histeris. "Aman, pokoknya Ma. Mbak Ara kita jaga bak putri keraton! Siap pasang badan dua puluh empat jam!"
Khafi yang mengamati dari samping mobil cuma bisa mengurut dadanya, menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan ibu dan teman-temannya yang sama-sama gesrek. "Udah napa, Ma... Bikin malu parkiran aja. Tuh liat anak-anak lain pada ngeliatin."
"Biarin! Lagian kamu juga, awas kalau gengsi-gengsi!" semprot Tante Siska berpaling ke anak bujangnya sendiri, membuat tiga kawanannya makin puas menertawakan Khafi.
Kiara yang melihat kekompakan Tante Siska dan Geng Anak Pojok cuma bisa tertawa lepas. Tidak ada rasa canggung sama sekali; kehangatan Tante Siska yang menganggap teman-teman Khafi seperti anaknya sendiri benar-benar terasa nyata di tengah keriuhan pagi itu.
Setelah Tante Siska pamit dan melajukan mobilnya, Khafi langsung melangkah ke bagasi luar. Tanpa banyak gaya dan tanpa kata-kata sok manis, tangan tegapnya meraih ransel gunung milik Kiara yang paling besar dan tebal, melingkarkannya ke salah satu bahunya bersama tas miliknya sendiri.
"Eh, Khafi! Tas gue biar gue bawa sendiri aja ke bagasi bis," tahan Kiara, meraih tali tasnya.
Khafi cuma menggeser bahunya sedikit, menatap Kiara datar dari atas ke bawah. "Tangan lo segede pisang goreng gitu sok-sokan mau ngangkat ransel gunung. Mending lo jalan cepat sebelum bangku bis habis diambil anak-anak."
"Ciee, sok cuek tapi tas paling berat diangkut duluan," bisik Ferdi sambil menyenggol bahu Kevin.
"Biasa, lagi simulasi jadi porter profesional," balas Kevin tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam bis rombongan kelas XI IPS 2, suasana benar-benar pecah dan riuh. Aroma hangatnya bis bercampur wangi parfum dan dinginnya AC menyambut seluruh murid. Kiara duduk di dekat jendela bersama Neona di kursi barisan tengah. Sementara itu, tepat di kursi belakang mereka, ada Khafi yang duduk bersandar di dekat jendela bersama Pandu.
Baru sepuluh menit perjalanan membelah jalan raya, Ferdi yang berdiri di lorong paling depan sudah memegang mikrofon bis dengan gaya sok aksi.
"Tes, tes! Satu, dua, tiga! Perhatian warga Sebelas IPS Dua yang terhormat!" teriak Ferdi heboh. "Perjalanan kita menuju Bumi Perkemahan resmi dibuka dengan lagu kebangsaan galau nasional! Vin, mainkan lagunya!"
Kevin yang memegang speaker Bluetooth langsung memutar lagu pop melayu bertempo rancak. Seketika seisi bis meledak dalam nyanyian massal. Anak-anak cowok menepuk-nepuk langit-langit bis sesuai irama, sementara yang cewek tertawa heboh sambil merekam video pakai ponsel.
Kiara ikut bernyanyi pelan sambil menyandarkan kepalanya di tepi jendela, menikmati pemandangan pepohonan yang mulai menghijau di luar. Namun, rute jalanan pegunungan yang agak bergelombang membuat bis sesekali terguncang, membuat kepala Kiara beberapa kali terantuk bingkai kaca jendela yang keras.
"Aduh..." ringis Kiara pelan sambil memegangi pelipisnya.
Tiba-tiba, dari arah celah samping kursi belakang tempat duduknya, sebuah tangan berurat terulur dengan cekatan. Tangan itu menyelipkan lipatan jaket tebal beraroma maskulin tepat di celah antara kepala Kiara dan sudut bingkai jendela.
Puk.
Kepala Kiara yang tadinya mau terantuk kaca lagi kini justru mendarat di atas bahan jaket parka tebal yang sangat empuk.
Kiara menoleh kaget ke arah belakang melalui celah kursinya. Di sana, Khafi sedang bersandar santai di kursinya. Cowok itu pura-pura sibuk menatap layar ponsel dengan sebelah earphone terpasang di telinga, seolah-olah bukan dia yang baru saja mengulurkan tangan memasang bantal darurat itu.
"Apaan nih?" bisik Kiara pelan di tengah keriuhan lagu yang dipimpin Ferdi.
Khafi melirik sedikit dari balik ponselnya, menatap Kiara dari celah atas sandaran kursi. Suaranya terdengar pelan dan berat di dekat telinga Kiara.
"Kepala lo dari tadi dugal-dugul ke kaca, Ra. Bikin pusing mata gue ngeliatnya dari belakang," sahut Khafi datar. "Pake tuh jaket biar jidat lo gak makin benjol."
Neona yang duduk di sebelah Kiara melirik ke belakang, lalu menyenggol lengan Kiara sambil menahan pekikan gemas di balik telapak tangannya. "Duh, layanan ekstra dari barisan belakang nih. Empuk nggak bantalnya?"
"Diem lo, Ona!" desis Kiara dengan pipi yang mendadak terasa hangat dan merona merah.
Kiara merapikan posisi jaket beraroma parfum maskulin khas milik Khafi itu di sudut jendelanya. Sangat nyaman dan hangat. Dari pantulan kaca jendela yang agak samar, Kiara bisa melihat bayangan Khafi kursi belakang—cowok itu kini memejamkan mata sambil bersedekap dada, tapi posisi tangannya tetap siaga bersandar di pinggir kursi Kiara, seolah siap menahan sandaran itu jika bis mendadak mengeram keras.
Kiara menyunggingkan senyum tipis yang tak bisa ia tahan lagi, memeluk tas kecilnya di pangkuan, lalu perlahan membiarkan matanya terpejam menikmati perjalanan.