Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Insiden malam dengan Sound Horeg, kacamata hitam ala matrix, dan gaya bicara sok princess yang absurd itu rupanya menjadi titik balik yang telak bagi Rania. Wanita itu seolah memasang sekat tebal yang tidak kasat mata, memutus segala bentuk koneksi emosionalnya dari kericuhan rumah tangga yang melelahkan di penthouse. Pagi-pagi sekali, jauh sebelum matahari sepenuhnya menampakkan wujudnya di cakrawala kota, Rania sudah meninggalkan apartemen mewah tersebut.

Bagi Rania, energi dan waktunya jauh lebih berharga jika dicurahkan untuk hal-hal yang menghasilkan dan membuahkan kedamaian batin. Ia memilih untuk fokus sepenuhnya pada kerajaan bisnis kuliner yang telah ia bangun dari titik nol dengan keringatnya sendiri. Dalam hitungan bulan, kerja keras itu berbuah manis. Toko roti utamanya yang legendaris kini telah berkembang pesat dan resmi membuka tiga cabang baru di kawasan-kawasan komersial paling prestisius di kota ini.

Setiap harinya, Rania menghabiskan sebagian besar waktunya di cabang utama yang berlokasi di distrik mode dan bisnis. Di sana, ia bukan lagi sekadar seorang perajin roti amatir, melainkan sosok direktur muda yang memimpin operasional dengan ketegasan anggun dan senyuman ramah yang memikat. Kehadirannya memancarkan aura wanita berkelas—elegan, mandiri, cerdas, dan sama sekali tidak bergantung pada belas kasih siapa pun, termasuk pada suami sahnya sendiri yang bergelar CEO konglomerat.

Pesona dan kesuksesan yang memancar dari diri Rania itu tentu saja tidak luput dari perhatian para pelanggan yang datang silih berganti. Toko roti Sweet Memories kini bukan sekadar tempat untuk membeli pastri dan kopi pagi, melainkan menjadi destinasi favorit para pebisnis muda, profesional mapan, dan kolega elit kota. Seringkali, para pelanggan pria tampan dan berpendidikan tinggi sengaja berlama-lama duduk di dekat meja kasir, melontarkan pujian tulus, atau sekadar mencari kesempatan dalam kesempitan untuk mengajak Rania berbincang ringan atau bertukar kartu nama.

Dan di sinilah letak siksaan terberat bagi seorang Rangga Pratama.

Sejak kehebohan malam itu dan perubahan drastis Rania yang seolah menganggapnya angin lalu, Rangga jatuh ke dalam fase psikologis yang paling menyiksa: cemburu buta akut.

Sebagai seorang CEO yang terbiasa mengendalikan segala hal di ruang rapat, Rangga kini mendapati dirinya tidak berdaya mengendalikan arah pandangan mata istrinya sendiri. Ego dan gengsi CEO-nya yang besar melarangnya untuk masuk ke dalam toko dan menegur Rania secara langsung setelah semua sikap dingin yang ia tunjukkan. Namun, dorongan rasa memiliki dan rasa takut kehilangan yang membakar dada memaksanya melakukan satu hal yang sangat memalukan bagi harga dirinya: mengawasi Rania secara diam-diam.

Siang itu, sebuah sedan mewah berwarna hitam legam terparkir di seberang jalan, tepat di bawah rindangnya pohon maple yang menghadap langsung ke kaca besar toko roti Sweet Memories. Di dalam kabin mobil yang sejuk dan kedap suara itu, Rangga duduk di kursi pengemudi. Kemeja kerjanya sedikit kusut, lengan jasnya tersampir di kursi belakang, dan kancing atas lehernya terbuka dua buah. Mata tajam pria itu menatap lurus ke depan tanpa berkedip, tertuju pada sosok Rania yang berdiri di balik konter kaca toko roti.

Rania tampak mengenakan kemeja sifon berwarna nude yang dipadukan dengan celana bahan berpotongan rapi. Rambut hitamnya diikat satu ke belakang dengan gaya ponytail profesional, memperlihatkan leher jenjang dan garis rahangnya yang tegas. Saat itu, seorang pelanggan pria berbadan tegap mengenakan setelan jas desainer tampak berdiri di dekat kasir. Pria itu memesan beberapa kotak roti sambil tersenyum lebar, sengaja melontarkan lelucon ringan yang membuat Rania tersenyum—senyuman tulus yang begitu manis, senyuman yang sudah berbulan-bulan tidak pernah lagi diberikan Rania kepada suami sahnya sendiri.

Melihat pemandangan itu dari balik kaca mobil, tangan Rangga yang mencengkeram lingkar kemudi langsung mengerat seketika. Buku-buku jarinya memutih sempurna, menahan gejolak amarah yang siap meledak kapan saja.

"Sialan..." desis Rangga pelan di dalam kabin mobil yang sunyi, rahangnya mengeras menahan rasa cemburu yang membakar lambungnya. "Pria tua bangka sok akrab itu... berani sekali dia tersenyum seluas itu di depan istriku!"

Rangga memajukan sedikit tubuhnya, matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik di dalam toko. Beberapa detik kemudian, ketika pelanggan pria itu menyerahkan kartu nama dengan gestur yang sedikit terlalu dekat ke tangan Rania, ketahanan mental Rangga akhirnya runtuh total.

Pria arogan itu tidak tahan lagi. Tanpa memikirkan gengsi, tanpa memperdulikan harga diri CEO-nya, tangan Rangga bergerak membuka pintu mobil. Namun, sebelum kakinya sempat melangkah keluar ke trotoar jalan, akal sehatnya mendadak menariknya kembali ke kursi pengemudi.

Rangga tertegun kaku. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca spion tengah.

Mau jadi apa kau, Rangga? batinnya berteriak getir menyadarkan kebodohannya sendiri. Kau yang menolak kehadirannya dulu, kau yang membawa wanita lain ke rumah, kau yang menyia-nyiakannya selama berbulan-bulan... dan sekarang, kau ingin mendatangi tokonya seperti penguntik cemburu yang tidak punya harga diri?

Kesadaran itu menghantam kepala Rangga bagaikan palu godam. Ia kembali menjatuhkan punggungnya ke sandaran jok mobil, memejamkan matanya rapat-rapat sambil menghela napas panjang yang terasa sangat berat dan panas.

Rangga menyadari sebuah hukum karma yang teramat telak: dia sedang menuai apa yang telah ia tabur.

Dulu, Rania adalah wanita yang selalu berada dalam genggamannya, wanita yang dengan sabar menanti kepulangannya setiap malam di penthouse tanpa pernah menuntut perhatian berlebih. Namun kini, karena kebodohan dan keangkuhannya sendiri, Rania telah terbang tinggi menjadi sosok wanita mandiri yang berkilau, dikagumi banyak orang, dan tidak lagi membutuhkan kehadiran seorang Rangga Pratama untuk merasa bahagia.

Di seberang jalan sana, Rania tampak melambaikan tangan dengan ramah kepada pelanggan pria tadi yang berjalan keluar toko membawa kantong belanjaan besar. Rania tersenyum tenang, merapikan catatan pesanannya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan penuh percaya diri.

Di dalam mobilnya, Rangga membuka kembali mata tajamnya. Kali ini, tidak ada lagi kilatan amarah yang membabi buta; yang ada hanyalah sorot mata penuh penyesalan yang mendalam, dibalut oleh tekad bulat yang baru.

Rangga menyalakan mesin mobilnya kembali secara perlahan, membiarkan roda kendaraannya meluncur pelan meninggalkan area toko roti tersebut. Ia tahu, memenangkan kembali hati seorang wanita yang telah ia lukai sedemikian rupa tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan cemburu buta di balik kaca mobil. Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Rangga bersumpah pada dirinya sendiri—dia akan merebut kembali senyuman istrinya, apapun taruhannya.

Jangan lupa like ya🙂

1
Ketoprak Encok
maaf aja nih kak, otak aku emang buntu banget, dari bab 27 makanya aku cepetin aja namatin cerita ini. tapi thanks kak udah luangin waktunya buat baca
Forta Wahyuni
koq kacau balau novelnya thor, alurnya simpang siur n apa jiplakan.
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!