Indonesia
NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — KEJAR-KEJARAN DI KABUT

Lonceng perunggu menggema tiga kali berturut-turut di kejauhan.

Deng... Deng... Deng...

Setiap dentangnya membuat lapisan salju di puncak gunung bergetar dan runtuh berhamburan. Di dalam gua yang remang-remang, Lu Chen tersentak bangun secara mendadak. Keringat dingin langsung membasahi sekujur punggungnya, meskipun udara di dalam gua terasa begitu dingin menusuk tulang.

Shen Yue sudah berdiri tegak di mulut gua. Gaun putihnya berkibar anggun dihempas angin kencang, padahal di luar sana tidak ada angin sama sekali. Di tangan kanannya terpegang sebilah pedang es sepanjang lengan yang tampak begitu bening, namun memantulkan pendar cahaya bulan bagaikan ribuan mata pisau tajam.

"Mereka datang," kata Shen Yue tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. "Tiga orang. Jubah biru langit. Lencana awan di dada. Mereka adalah Penegak Hukum Langit."

Lu Chen terhuyung-huyung bangkit berdiri. Tubuhnya masih terasa remuk redam akibat siksaan latihan berat selama tiga hari terakhir. Namun, darah yang mengalir di dalam nadinya mendadak mendidih. Kutukan siluman di dalam tubuhnya mencium bau bahaya di luar sana, dan kini ia menuntut darah untuk dilepaskan.

"Berapa lama lagi mereka sampai di sini?" tanya Lu Chen dengan suara yang masih terdengar serak.

"Jika berjalan normal, setengah jam," jawab Shen Yue seraya berbalik dengan mata menyipit tajam. "Tapi jika mereka menggunakan Mantra Terbang Awan, mereka akan tiba dalam sepuluh menit."

Tanpa buang waktu, sang Dewi melemparkan sebuah bungkusan kain hitam ke arah Lu Chen. "Pakai ini. Tutup wajahmu. Tutup rajah di lehermu. Dan jangan sekali-kali mengeluarkan energi internalmu kecuali ada perintah dariku."

Lu Chen menangkap bungkusan itu. Di dalamnya terdapat jubah hitam polos dan sebuah topeng kayu tanpa ekspresi.

"Ke mana kita akan pergi?" tanyanya panik.

"Kita turun ke Lembah Kabut Hitam," jawab Shen Yue mantap sambil melangkah keluar gua. "Tempat itu dipenuhi oleh Qi iblis liar. Mereka tidak akan bisa melacak jejak energi kita dengan akurat di sana. Tapi..."

"Tapi apa, Guru?"

"Tapi jika kau sampai kehilangan kendali di tempat itu, kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia selamanya."

Waktu mereka telah habis. Dari kejauhan di atas langit, tiga titik pendar cahaya biru sudah mulai terlihat menembus gumpalan awan.

Bagian 1: Lari dari Kejaran

Tanpa ragu, mereka melompat langsung dari bibir tebing yang curam.

Shen Yue melayang turun dengan sangat ringan, seakan-akan tubuhnya ditarik oleh sehelai benang sutra tak kasat mata di udara. Sebaliknya, Lu Chen terjatuh bebas dengan kasar.

BRUK!

Ia tersungkur dan berguling-guling di atas tanah yang dipenuhi salju tebal. Rasa sakit langsung mendera sekujur tubuhnya.

"Bangun!" bentak Shen Yue tegas dari depan. "Gunakan energimu untuk meringankan tubuh, bukan untuk menyerang!"

Lu Chen menarik napas panjang. Ia mengingat kembali petunjuk sang Guru: Manusia berpikir, Dewa mengendalikan, Siluman menghancurkan. Kali ini, ia membiarkan esensi manusianya memperhitungkan jarak lompatan, membiarkan darah dewa menstabilkan aliran Qi di dalam tubuhnya, dan hanya menyisakan secuil amukan siluman untuk menolak gaya gravitasi bumi.

Seketika itu juga, tubuhnya terasa ringan bagai sehelai bulu. Ia berhasil mengimbangi kecepatan Shen Yue dari belakang.

Di atas kepala mereka, suara gemuruh angin bergemetar hebat. Tiga sosok manusia berteleportasi turun dengan jubah biru terang berkibar. Di barisan terdepan, berdiri seorang pria paruh baya berjanggut lebat dengan tiga lencana awan emas tersemat di dadanya—seorang Penegak Hukum tingkat tinggi.

"BERHENTI ATAS NAMA ISTANA LANGIT!" gema suara pria itu mengguncang seluruh dinding lembah.

Shen Yue tidak sedikit pun menggubris teriakan tersebut. Ia justru mempercepat gerakannya, mengangkat tangan kanannya untuk membuat segel rumit di udara. Seketika itu juga, kabut putih tebal dari dasar lembah membubung naik dengan cepat, menggulung pekat dan menutupi seluruh kawasan hutan dalam hitungan detik.

Dalam sekejap mata, dunia berubah menjadi putih total tanpa batas.

"Bagus," puji Shen Yue pelan. "Sekarang kita berada di kedudukan yang setara. Mereka buta, dan kita pun buta. Tapi aku sudah tiga ribu tahun berjalan di dalam kabut ini."

Bagian 2: Terperangkap di Bawah Kabut

Kabut di lembah itu bukanlah kabut biasa; suhunya sangat dingin hingga menusuk sampai ke sumsum tulang. Suara seolah teredam, dan arah mata angin kehilangan fungsinya.

Lu Chen hanya bisa berpatokan pada bayangan jubah putih di depannya untuk memastikan ia tidak tertinggal dari Shen Yue. Namun di belakang mereka, suara derap langkah kaki terdengar semakin mendekat dengan teratur dan cepat.

"Dia ada di sebelah sini! Aku mencium bau darah siluman yang busuk!" teriak salah satu Penegak Hukum dari balik kabut.

Jantung Lu Chen berdegup kencang tak beraturan. Rajah di lehernya mendadak terasa sangat panas. Energi kegelapan di dalam dadanya meronta-ronta, ingin segera mendobrak keluar untuk memperlihatkan wujud aslinya kepada musuh.

"Tahan dirimu," bisik Shen Yue memperingatkan, seolah ia bisa membaca gejolak pikiran muridnya. "Jika kau melepaskan kekuatan itu sekarang, mereka akan langsung mengunci posisimu."

Tiba-tiba, dari dalam gulungan kabut putih, pendaran cahaya pedang melesat membelah udara. SWIING!

Shen Yue dengan sigap menarik tangan Lu Chen merunduk ke bawah. Teblasan pedang es itu menyayat angin tepat di atas kepala mereka.

Seorang Penegak Hukum yang masih muda dan berwajah kejam muncul tiba-tiba dari balik kabut. "Kau! Shen Yue! Sanggup berkhianat pada kahyangan demi melindungi seekor siluman rendahan?"

Shen Yue tetap bergeming tanpa mengeluarkan sepatah kata pun balasan. Ia mengibaskan tangannya, membuat es di atas tanah mendadak bangkit menyerupai puluhan tombak tajam yang langsung melesat ke depan.

DUAR!

Penegak muda itu menangkis serangan dengan mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi. Pertarungan singkat dan sengit pun tak terhindarkan di tengah kabut; pendaran cahaya biru dan putih saling bertabrakan hebat.

Lu Chen hanya bisa berdiri terpaku melihat bayangan-bayangan itu bertarung. Ia memegang teguh perintah gurunya untuk tidak ikut campur. Hanya dalam waktu lima detik, Penegak hukum itu terpental mundur dan menghilang kembali ke dalam kabut sambil batuk memuntahkan darah segar.

"Lari!" perintah Shen Yue singkat. "Dua orang lagi sudah mendekat."

Mereka kembali berlari kencang menerobos kabut yang semakin pekat. Semakin jauh mereka menuruni lembah, udara di sekitar mulai berubah drastis—suhunya tidak lagi dingin membeku, melainkan mulai terasa panas, pengap, dan berbau belerang serta anyir darah kering.

Mereka telah memasuki kawasan Lembah Kabut Hitam.

Tempat itu merupakan bekas medan pertempuran kuno antara para dewa dan iblis sepuluh ribu tahun yang lalu. Tanahnya menghitam legam, pepohonan di sekitarnya mati mengering, dan di udara bergelayut Qi iblis pekat yang langsung merusak serta menggerogoti akal sehat siapa pun yang menghirupnya.

Begitu telapak kaki Lu Chen menginjak tanah hitam tersebut, rajah di lehernya menjerit hebat di dalam batin.

KEKUATAN... AMBIL... HANCURKAN SEGALANYA...

Penglihatan Lu Chen mendadak kabur. Ia melihat bayangan mayat berserakan, aliran sungai darah yang pekat, serta dirinya sendiri yang berdiri tegak di atas tumpukan tulang belulang.

"LU CHEN!"

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, menyentak kesadarannya kembali. Shen Yue berdiri tepat di depannya dengan ekspresi kemarahan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Fokus! Gunakan sisi kemanusiaanmu untuk menolak pengaruh tempat ini! Jika kau jatuh di sini, aku tidak akan pernah bisa menarikmu keluar lagi!"

Lu Chen tersengat sadar. Tanpa ragu, ia menggigit ujung lidahnya sendiri dengan keras hingga berdarah. Rasa sakit yang tajam di mulutnya berhasil menjernihkan kembali kepalanya dari halusinasi mengerikan tersebut.

Bagian 3: Pertarungan di Tanah Hitam

Namun, semua itu sudah terlambat. Dua orang Penegak Hukum terakhir kini telah muncul dari balik kabut dan mengepung jalur pelarian mereka. Pria berjanggut lebat berdiri di barisan depan, sementara di sampingnya berdiri seorang wanita dengan cambuk petir yang memercikkan arus listrik di tangan.

"Kalian sudah tidak bisa lari ke mana pun lagi, Shen Yue," ucap sang pemimpin Penegak Hukum dingin. "Serahkan anomali siluman itu pada kami, dan kami akan memohonkan keringanan hukuman kepada Kaisar mengingat jasa pengabdianmu selama tiga ribu tahun."

Shen Yue melangkah maju, merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Lu Chen yang berada di belakang punggungnya. "Dia bukan siluman. Dia adalah muridku."

"Kalau begitu, kepatuhanmu membuatmu sama bersalahnya dengan dia!" seru wanita itu sambil mengibaskan cambuknya ke tanah. Sambaran petir menyambar garang di dekat kaki mereka. "Penegak, habisi mereka!"

Pertarungan sengit pecah seketika. Shen Yue bergerak lincah bagaikan angin badai, tarian pedang esnya memancarkan hawa dingin yang membekukan udara sekitar. Kendati demikian, kedua lawannya adalah petarung tingkat tinggi yang memiliki kekuatan sebanding dengannya.

Lu Chen terjepit di tengah-tengah pusaran energi yang dahsyat. Benturan tenaga dalam dari kedua belah pihak membuat dadanya terasa sesak dan nyeri luar biasa. Segel di lehernya bergetar hebat, dan retakan hitamnya melebar dengan cepat.

"Tidak... kumohon jangan sekarang..." bisik Lu Chen putus asa.

Pemimpin berjanggut itu melihat celah kelemahan tersebut. Ia melesat secepat kilat menerobos pertahanan, mengarahkan telapak tangannya yang memancarkan segel penangkap tepat ke arah dada Lu Chen.

"AKU DAPAT KAU!"

Dalam kepanikan yang merenggut seluruh kewarasannya, Lu Chen bereaksi menggunakan insting pertahanan paling primitif. Kutukan siluman di dalam tubuhnya meledak tanpa bisa dikendalikan lagi.

ROAR!

Aura hitam pekat bercampur pendaran emas menyembur keluar dengan dahsyat dari sekujur tubuhnya, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan tanah hitam dan menumbangkan sisa-sisa pohon mati di sekitar mereka.

Penegak hukum yang menerjang tadi terpental jauh ke belakang akibat hantaman energi tersebut; tulang-tulangnya remuk seketika, dan ia jatuh terkapar tanpa nyawa.

Dunia seolah terdiam hening untuk sesaat. Hanya menyisakan suara napas Lu Chen yang menderu berat dan menakutkan.

Kedua mata Lu Chen telah berubah total; manik matanya menyala dengan warna emas vertikal, kuku-kuku jarinya memanjang setajam pisau, dan bayangan sayap hitam pekat tampak samar-samar membentang di punggungnya.

"Lu Chen..." suara Shen Yue terdengar bergetar, bukan karena rasa takut, melainkan karena gelombang kekhawatiran yang mendalam.

Lu Chen menoleh ke arahnya dengan tatapan kosong yang buas. Ia bahkan tidak lagi mengenali siapa wanita di hadapannya.

Melihat kengerian itu, Penegak wanita berteriak histeris, "Lihat itu! Dia benar-arah sudah kehilangan akal sehatnya! Bunuh monster itu sekarang juga!"

Cambuk petirnya menyambar dengan kecepatan kilat, mengarah langsung untuk meremukkan kepala Lu Chen.

Namun di detik yang paling menentukan, Shen Yue bergerak lebih cepat dari sambaran petir. Ia melompat menerjang dan menahan cambuk maut itu menggunakan punggungnya sendiri.

PRAK!

Darah segar memercik deras ke udara. Punggung jubah putih bersih milik sang Dewi robek seketika, meninggalkan luka hangus yang cukup dalam.

"Shen Yue!" pendaran kesadaran Lu Chen terpukul hebat mendengar nama itu. Suara tersebut bagaikan seember air es yang disiramkan langsung ke atas kepalanya.

Kilatan cahaya keemasan di matanya berkedip tidak stabil, lalu padam perlahan. Warna ungu dan hitam di tubuhnya menyusut kembali masuk ke dalam rajah, dan wujud manusianya pulih.

Ia langsung jatuh berlutut di atas tanah yang kotor. "Aku... aku tidak bermaksud..."

"Ssst..." Shen Yue mengulurkan tangan untuk menutup mulut pemuda itu, sementara ia menahan rasa sakit di punggungnya sambil tersenyum tipis. "Kau berhasil kembali mengendalikannya. Itu hal yang paling penting."

Ia kemudian mengangkat wajahnya menatap Penegak Hukum terakhir yang masih berdiri gemetar. "Kau sudah melihatnya sendiri dengan mata kepalamu. Dia bisa dikendalikan dan kini dia telah jatuh ke Jurang Kabut Hitam. Pergilah kembali. Laporkan kepada Istana Langit bahwa anomali itu sudah mati di sini."

Penegak wanita itu ragu-ragu sejenak, namun melihat rekan-rekannya tewas, ia buru-buru mengangkat jasad rekannya yang lain dan melarikan diri menggunakan sisa tenaga terbangnya. Tidak ada prajurit yang sudi menyerahkan nyawanya secara sia-sia di tempat terkutuk itu.

Bagian 4: Lembaran Baru di Tanah Hitam

Kabut pekat perlahan-lahan mulai menipis tersapu angin malam.

Kini yang tersisa di lembah sunyi itu hanyalah hamparan tanah hitam bernoda darah, serta dua orang manusia yang sama-sama menderita luka parah di tubuh mereka.

Shen Yue terduduk bersandar di atas sebongkah batu besar dengan napas yang masih berat. Luka robek di punggungnya mengalirkan darah yang menodai kain putih bajunya.

Lu Chen merangkak mendekat dengan tangan gemetar hebat. Air mata penyesalan menetes membasahi tanah. "Kenapa... kenapa Guru harus melindungi orang seperti aku?"

Shen Yue menatap langit malam yang mulai memperlihatkan secercah bintang di sela-sela awan kelam. "Karena jika aku tidak melakukannya di dunia ini, lalu siapa lagi yang akan berdiri di sisimu?"

Ia memaksakan diri untuk tersenyum tipis. "Latihan neraka kita baru saja naik satu tingkat lagi, Lu Chen. Mulai esok hari, kita tidak hanya akan belajar bagaimana cara meredam kekuatanmu."

"Lalu... apa lagi yang harus kita pelajari, Guru?" tanya Lu Chen lirih.

Shen Yue memejamkan matanya sejenak untuk memulihkan tenaga dalam. "Kita akan belajar cara berbohong kepada seluruh dunia. Kita akan membuat mereka percaya bahwa kau telah mati. Dan setelah itu, kita akan bertahan hidup... sampai kau memiliki kekuatan yang cukup untuk datang dan menulis ulang hukum langit itu sendiri."

Di kejauhan yang sangat jauh, suara dentang lonceng perunggu Istana Langit kembali berbunyi sayup-sayup terbawa angin malam. Namun kali ini, jaraknya sudah terlampau jauh untuk dikejar. Mereka berhasil selamat—setidaknya untuk saat ini.

Lu Chen menatap kedua telapak tangannya sendiri—tangan yang tadi hampir merenggut nyawa orang lain. Perjalanan panjang mereka di lembah kegelapan baru saja resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!