Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Arnold beranjak dari tempat duduknya untuk menerima panggilan masuk dari seseorang di gawainya.
"Sebentar ya sayang, aku angkat telpon dulu"
"Iya mas" Jawab Andriana pelan dengan pandangan tertuju pada punggung Arnold yang sedang menerima telpon.
Ia terdiam sejenak, entah kenapa sangat sulit untuk kembali percaya padanya. Bahkan ketika ia mencoba untuk tidak berpikiran buruk pada suaminya itu, kata hatinya tetap menolaknya.
"Sayang, malam ini aku ada pertemuan dengan klien mungkin agak lama, kamu tidak usah menungguku, tidur duluan saja ya" Ucap Arnold sambil mengusap lembut pucuk kepala Andriana sebelum melangkah pergi meninggalkan istrinya.
Andriana tidak menjawab, ia hanya mengangguk perlahan.
Hatinya gundah dan tetap menolak percaya dengan ucapan laki laki yang dulu pernah dicintainya sepenuh hati.
Andriana duduk di tepi ranjang, ingatan kehangatan bersama Devan tiba tiba muncul di dalam pikirannya, ia mencoba untuk menepisnya " An, lupakan! Lupakan Devan, dia cuma masa lalu" Gumamnya lirih sambil menepuk kepalanya pelan.
Andriana menarik nafas dalam dalam lalu melihat ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam, tapi suasana terasa sangat sepi, dingin dan hening.
Andriana beranjak dan berjalan untuk membuka pintu kamarnya, ia melihat ke sekeliling dengan mengulurkan kepalanya, namun tidak ada satu pun asisten rumah tangganya yang terlihat di sana.
Ia kembali menarik tubuhnya dan menutup kembali pintu kamarnya.
Namun di saat ia memutar tubuhnya ia dikejutkan dengan seseorang yang sudah berada tepat di depan matanya.
"Devan!"
Devan tersenyum tipis lalu meraih tubuh Andriana, menggendongnya merebahkannya di atas ranjang.
"Andriana, kamu gemukan? Sudah satu bulan aku tidak menyentuhku, tubuh kamu semakin berisi" Bisik Devan sambil mengungkung tubuh Andriana dan menindihnya.
"Devan, lepaskan aku!" Gertak Andriana berusaha mendorong tubuh kekarnya.
Namun bukannya menuruti kemauan Andriana, Devan justru menyerang wanita itu dengan lumatan lembut di bibirnya.
Dan seperti dugaaan Devan selama ini kalau Andriana juga merindukannya, karena tidak ada penolakan sama sekali saat dirinya mulai mengobrak abrik isi dalam rongga mulutnya.
Ciuman itu semakin dalam dan menuntut, Devan mulai
Satu bulan sejak kejadian itu kehidupan keluarga Wijaya mulai kembali tertata seperti semula.
Hanya Andriana yang banyak berubah, setelah di backlist dari kedokteran karena skandal perselingkuhannya terkuak ke publik.
Devan pun tidak lagi menemui Andriana karena tidak ingin menambah keruh masalah.
Dan membebaninya lebih berat lagi.
Meskipun berat bagi Andriana melupakan Devan, tapi ia tetap berusaha keras demi keluarganya dan demi anak yang berada di dalam kandungannya.
Saat ini Andriana dan Arnold tinggal bersama di rumah besar keluarga Wijaya, mereka berdua sama sama saling memaafkan kesalahan masing-masing.
Sedangkan Adit sudah dua minggu ini menikahi Lena dan membawanya pergi jauh di luar Negeri bersama dua anaknya, setelah dinyatakan benar benar bersih dari tuduhan pembunuh Saskia.
Adit dan Lena memang sepakat untuk merahasiakan status anak anak mereka dan menganggap mereka anak kandung sendiri.
"Sayang, malam ini aku ada pertemuan dengan klien mungkin agak lama, kamu tidak usah menungguku, tidur duluan saja ya" Ucap Arnold sambil mengusap lembut pucuk kepala Andriana sebelum melangkah pergi meninggalkan istrinya.
Andriana tidak menjawab, ia hanya mengangguk perlahan.
Hatinya gundah dan tetap tidak bisa percaya dengan ucapan Arnold.
Andriana duduk di tepi ranjang, ingatan kehangatan bersama Devan tiba tiba muncul di dalam pikirannya.
Ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, tapi suasana terasa sangat sepi, dingin dan hening.
Andriana beranjak dan berjalan ke arah pintu, ia membuka pintu kamarnya perlahan,menjulurkan kepalanya, melihat ke sekeliling ,tidak ada satu pun asisten rumah tangganya yang terlihat di sana, lalu ia kembali menarik tubuhnya.
Dan saat ia memutar tubuhnya, ia dikejutkan oleh seseorang yang berada tepat di belakangnya.
Deg
Dada Andriana berdegup kencang.
"Devan! Kamu, bagaimana bisa kamu masuk ke sini!"
Devan tersenyum tipis lalu mendekatkan tubuhnya dan mengusap pipi lembut Andriana " Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu sayang".
Andriana menarik tubuhnya ke belakang tanpa melepaskan pandangan pada pria tampan itu.
"Van, Pergilah! Aku dan kamu sudah tidak ada hubungan Lagi, pergi!" Gertak Andriana.
Devan tidak bergeming, ia tersenyum tipis, meraih tubuh Andriana dan menjatuhkannya ke dalam pelukannya.
Andriana tak kuasa menahan sesak di dadanya, di dalam dekapan Devan tangisannya pun pecah.
Devan mengusap punggung Andriana, menenangkannya dan sesekali mencium lembut pucuk kepalanya.
"Van, aku bisa menghadapi sepahit hidup ini, kehilangan keluarga, pengkhianatan suamiku, tapi melupakanmu adalah siksaan terbesar dalam hidupku, hiks hiks hiks ".
"Kamu tidak perlu melupakanku sayang, satu bulan terakhir aku menghilang darimu, apa kamu kira aku benar benar pergi dariku".
Andriana mendongak menatap lekat Devan meminta penjelasan " maksudmu?".
"Sayang, aku menjagamu dari kejauhan". Jawab Devan.
Lagi lagi Andriana menatap kekasihnya dengan bingung.
Devan menarik nafas panjang lalu tersenyum tipis dan membawa Andriana duduk di tepi ranjang.
"Kamu tahu bagaimana kecelakaan satu bulan lalu itu bisa terjadi?"
Andriana pun menggeleng perlahan.
Devan menggenggam kedua telapak tangan Andriana dan sesekali menciumnya
" Kecelakaan itu sudah direncanakan ".
Deg
"Astaga, benarkah?"
"Ehem"
"Terus siapa yang sudah merencakannya Van?"
Devan menarik nafas panjang" Belum saatnya kamu tahu sayang, yang pasti ini ada hubungannya denganmu, masa lalumu dan Arnold " Jawab Devan berjeda saat mengucapkan nama Arnold.
Andriana semakin terkejut dan semakin tidak mengerti, bagaimana bisa semua peristiwa pahit itu ada keterkaitannya satu sama lain.
"Van, apa kematian kak Saskia juga ada hubungannya dengan semua ini?" Tanya Andriana antusias.
Belum sempat Devan menjawab pertanyaan Andriana, terdengar suara langkah kaki di luar kamar.
"An, sepertinya Arnold sudah pulang, sebaiknya aku pergi ".
Belum sempat Andriana menjawabnya, Devan lebih dulu mencium bibir merahnya sekilas lalu bergegas keluar dari kamar Andriana melalui jendela yang terhubung dengan taman belakang.
Andriana terdiam tanpa kata, ia terus menatap ke arah Devan yang sudah menghilang di balik kegelapan.
''An" Suara Arnold membuyarkan lamunan sekejap Andriana.
Seketika Andriana menoleh dan tersenyum tipis menatap Arnold.
"Kamu sudah pulang mas? Bukannya kamu bilang akan pulang terlambat?".
Arnold melepaskan kancing kemejanya lalu melonggarkan dasinya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tidak jadi An, klien membatalkan pertemuan sepihak".
"Terus "
"Ya nanti akan dijadwal ulang"
Arnold kembali duduk dan menatap lekat wajah istrinya.
"Andriana, bolehkah malam ini kita lakukan hubungan, kita satukan hati kita dan memiliki anak"
"Uhukkk" Andriana tiba tiba tersedak dan mulai kelicutan.
"Kamu kenapa An?"
"Tidak apa apa, maaf mas aku belum siap"
Arnold mengeryitkan keningnya "Sudah satu bulan lebih, tapi ya sudah tidak apa apa aku tidak akan memaksamu, sekarang tidurlah".
Andriana mengangguk perlahan kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Arnold sebelum akhirnya terlelap ke alam mimpi.