"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Aku menunggu di depan gerbang pondok putri bersama Hammad. Sengaja aku mengajaknya agar aku bisa memastikan kondisi pasien terlebih dahulu, sehingga jika ada sesuatu yang membutuhkan penanganan segera, kami bisa langsung bertindak.
Tak lama kemudian, gerbang pondok dibuka. Ternyata Umi yang membukanya.
"Syukurlah sama Ustadz Hammad," kata Umi ketika melihat kami.
"Iya, Umi. Biar Ustadz Alam nanti yang memeriksa pasien. Aku yang nyetir," jawab Hammad.
"Alhamdulillah kalau begitu. Umi khawatir kalau Ustadz Alam sendiri. Nanti kalau terjadi apa-apa, tidak ada yang bisa melakukan penanganan pertama."
"Itu pasiennya sudah turun."
Aku segera membuka pintu belakang mobil. Beberapa santri membantu memasukkan pasien ke dalam mobil. Setelah itu aku duduk di bagian belakang untuk memeriksa kondisinya. Ustadzah Aisyah dan seorang santri duduk di kursi tengah.
"Hati-hati di jalan. Maaf, Umi tidak bisa menemani," pesan Umi.
"Tidak apa-apa, Umi," jawab Ustadzah Aisyah.
Mobil mulai bergerak meninggalkan pondok.
Aku segera mengambil alat pengukur suhu dan memeriksa kondisi pasien. Beberapa detik kemudian, angka di layar membuatku sedikit terkejut.
"Empat puluh derajat..."
Suhunya mencapai 40 derajat Celsius. Cukup tinggi dan perlu mendapat perhatian serius.
Aku kemudian memeriksa denyut nadinya. Detak jantungnya terasa tidak seperti biasanya.
"Apakah panasnya dari tadi 40 derajat?" tanyaku.
"Iya, Ustadz. Tapi tadi setelah dikompres sempat turun menjadi 39 derajat. Sepertinya sekarang naik lagi," jawab Ustadzah Aisyah.
"Kompresnya pakai air apa?"
"Air hangat, Ustadz."
Aku mengangguk pelan.
Penanganan awal yang dilakukan sebenarnya sudah tepat. Namun, suhu tubuhnya kembali meningkat. Aku berusaha tetap tenang meskipun dalam hati mulai muncul kekhawatiran.
"Semoga tidak apa-apa," gumamku pelan.
Aku kembali memeriksa kondisi pasien, memastikan ia tetap sadar dan memberikan respons. Sementara mobil terus melaju menembus jalanan malam menuju rumah sakit.
Di dalam mobil, suasana mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Dan entah kenapa, di tengah kekhawatiran terhadap kondisi pasien, aku juga semakin sadar bahwa malam itu bukan hanya aku yang sedang berusaha tetap tenang.
Ustadzah Aisyah pun terlihat terus menoleh ke belakang, sesekali memandang pasien dengan wajah cemas.
Aku kembali menatap layar alat pengukur suhu.
Semoga angka itu segera turun.
Semoga perjalanan kami cukup cepat.
Dan semoga malam ini tidak membawa sesuatu yang lebih buruk dari yang kami bayangkan.
"Nama pasiennya siapa?" tanyaku, memecah keheningan di dalam mobil.
"Firda, Ustadz," jawab Ustadzah Aisyah.
"Baiklah..."
Aku kembali memperhatikan Firda. Sejak tadi ia beberapa kali meracau dengan suara yang tidak jelas. Aku perlu memastikan tingkat kesadarannya, setidaknya untuk mengetahui apakah ia masih mampu merespons dengan baik.
Aku mendekat sedikit.
"Mbak Firda, dengar suara Ustadz?"
"Emh..." jawabnya lirih.
"Mbak Firda sekarang tahu sedang berada di mana?"
Firda hanya merespons dengan anggukan kecil.
Aku terdiam sejenak.
Sepertinya kondisinya sangat lemah.
Aku kembali memeriksa keadaannya sambil sesekali memastikan responsnya. Dalam hati aku terus berharap kami segera sampai.
Alhamdulillah, tinggal sekitar dua menit lagi.
"Yang sabar ya, Mbak Firda. Ini sudah mau sampai," kataku berusaha menenangkan.
Firda kembali memejamkan matanya.
Aku menatap wajahnya beberapa saat, lalu melihat ke arah depan mobil.
Dua menit.
Hanya dua menit lagi.
Namun dalam kondisi seperti ini, dua menit terasa begitu lama.
Aku berharap sebelum kami benar-benar sampai, tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk.
Alhamdulillah, akhirnya mobil memasuki halaman rumah sakit. Hammad langsung mengarahkan mobil menuju depan IGD dan berhenti tepat di depan pintu masuk.
Begitu pintu mobil dibuka, beberapa perawat segera datang membantu menurunkan Firda. Mereka memindahkannya ke atas brankar dan membawanya masuk ke ruang IGD.
Aku turun dan segera menyusul.
"Ustadz, ini berkasnya," kata Ustadzah Aisyah sambil menyerahkan beberapa dokumen kepadaku.
Aku mengangguk dan langsung menuju bagian pendaftaran. Ustadzah Aisyah ikut mendampingiku untuk membantu melengkapi data yang diperlukan.
Setelah proses pendaftaran selesai, aku segera kembali ke ruang pemeriksaan.
Dokter sudah berada di samping Firda.
"Dok, pasien demam sejak tadi. Suhu terakhir yang kami ukur sekitar 40 derajat. Sebelumnya sempat turun setelah dikompres menggunakan air hangat, tapi kemudian naik lagi," jelasku.
Aku melanjutkan, "Tadi pasien juga terlihat sangat lemah. Responsnya terhadap pertanyaan cukup lambat dan beberapa kali meracau. Saat saya ajak berbicara, dia masih bisa merespons, tetapi hanya dengan suara lirih atau anggukan."
Dokter mengangguk sambil kembali memeriksa kondisi Firda.
Aku berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan tim medis.
Untuk pertama kalinya sejak kami berangkat dari pondok, aku bisa sedikit menghela napas.
Setidaknya sekarang Firda sudah berada di tempat yang tepat.
Tinggal menunggu apa hasil pemeriksaan dokter.
Dan semoga semuanya tidak seburuk yang kami khawatirkan.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏