Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Tepi Sungai Mahakam
Dayang Sari tersentak kaget. Ia langsung menutup kalungnya. "Arkan?! Ngapain kamu di sini?!"
Arkan masih membeku ia mengumpulkan semua keberaniannya. Meskipun dadanya masih bergemuruh. "Saya lihat semua. Lihat bola apinya. Kalungnya, dan kamu... Kamu Kuyang, ya?"
Bibir Arkan bergetar, dan lidahnya seolah keluh.
Dayang Sari terdiam. Air matanya jatuh di sudut pipi yang putih.
"Iya." jawabnya pelan.
Arkan tersentak kaget. Wajahnya memucat. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Mengapa gadis secantik Dayang harus menjadi Kuyang.
"KENAPA?!" tanyanya dengan suara yang hampir hilang.
"Ini kutukan yang berasal dari ibu. Dia Kuyang. Dan aku anaknya. Kalau aku tidak makan empat puluh tumbal, maka aku akan mati. Atok yang meminta aku memakai kalung ini biar bisa menahan rasa lapar."
Arkan melangkah maju untuk mendekatinya. "Terus... janin Bu Intan? Bu Rodiah?" tanyanya dengan menatap kedua mata Dayang di balik kegelapan.
"Aku... aku tidak bisa menahan malam purnama. Aku terus merasa lapar, Arkan."
Jawabnya sembari terisak. "Tetapi saat aku melihat kamu... aku gak tau, kenapa bisa menahannya." jawabnya dengan bibir yang gemetar.
"Jadi semua ini... teh gaharu itu?" Arkan mengingat tentang malam itu.
"Itu untuk penenang. Biar aku gak berubah." Dayang Sari membalas tatapan sang pemuda.
Tiba-tiba saja, terdengar suara yang cukup mengagetkan keduanya.
Damang Jaya datang dari arah belakang. "SARI! MASUK!" hardiknya.
Ia menarik pergelangan tangan Dayang. "KAMU NGAPAIN NGOMONG SAMA DIA?!"
"Lepasin, Tok! Aku capek bohong!" Dayang menyentak cengkraman tangan sang Atok.
Damang Jaya menggeram. Ia sudah sangat lama menyembunyikan semuanya. Dan ini demi keselamatan Dayang Sari sendiri.
Ia menahan dadanya yang terasa sesak. "Kalau warga sampai tau, kamu akan dibakar hidup-hidup!"
Arkan yang mendengarnya langsung tersentak kaget. "Pak, jangan. Dia adalah korban juga."
Damang Jaya menatap Arkan dengan geram. "KAMU DIAM! INI URUSAN KELUARGA!"
"Tok... aku gak mau ada korban lagi. Tolong aku." Dayang Sari menyela.
Damang Jaya menatap dengan sinis. Ujung bibirnya tersungging ke atas. "Caranya hanya ada satu. Selesain empat puluh tumbal. Atau... Kamu lepas kalungnya dan bersiaplah untuk mati."
Dayang Sari dan Arkan tersentak kaget. Lalu keduanya saling pandang.
"Pilih, Arkan. Aku yang akan membunuh orang. Atau aku yang mati." Dayang Sari menatap sang pemuda dengan sangat dalam.
Arkan merasakan tubuhnya bergetar. Ia datang dan diutus ketempat ini untuk mencari tau tentang rumor Kuyang. Tetapi setelah mengetahuinya, mengapa justru menjadi dilema? Apa yang sedang terjadi padanya?
"Apakah tidak ada cara ketiga yang dapat memutus kutukannya?" tanya Arkan nada suara yang hampir hilang. "
"Tida ada." Damang menjawab cepat. "Hanya itu caranya, membunuh atau terbunuh,"
Arkan menatap kalung manik darah yang di melingkar di leher Dayang. "Kalau kalungnya dihancurin, terus kita cari cara untuk memutuskan kutukannya?"
"Bisa. Tapi yang memegang kalung pas saat hancur... akan ikut kesedot kutukannya."
"Aku yang megang kalungnya." jawab Arkan tanpa berfikir panjang.
"JANGAN! KAMU BISA MATI!" Dayang Sari mengingatkan. "Kamu tidak boleh menjadi tumbal karena kutukan ini,"
"Daripada kamu yang makan orang. Mengorbankan banyak nyawa tak bersalah. Maka aku rela, jika harus mengorbankan nyawaku, tetapi yang lain selamat,"
Mendadak hujan langsung berhenti Dan purnama keluar dari balik awan hitam..
Kalung Dayang Sari memancarkan cahaya yang bersinar merah darah.
Dayang Sari berdiri dengan lutut yang lemas. Matanya berkaca-kaca. "Arkan... kamu gila."
Arkan menghela nafasnya dengan cukup berat. "Iya. Aku gila karena gak mau kamu jadi monster."
Purnama sudah penuh. Kalung Dayang semakin bersinar merah.
Arkan menatap Dayang yang sudah menangis sesenggukkan. "Aku yang megang kalungnya."
Dayang tersentak kaget. Lalu menatap Arkan. "JANGAN! NANTI KAMU..." ia juga khawatir kepada sang pemuda.
Damang Jaya menatap keduanya secara bergantian "TIDAK BOLEH! KALAU KALUNG PECAH, MAKA KUTUKANNYA AKAN PINDAH!"
KRAAAAK!
Belum selesai Damang Jaya bicara, angin bertiup cukup kencang. Dari dalam sungai....
WUUUSH!
Bola api besar muncul. Dan langsung menyambar kalung Dayang Sari.
Blaaaar!
Dayang Sari terpekik.
"AAAAAKH!"
Arkan yang berada di dekatnya, secara Refleks memegang kalung tersebut.
DUAR!
Cahaya merah menyilaukan mata. Kalung itu pecah hingga menjad tujuh butir.
Butir kesatu masuk ke dada Arkan.
PLUUUNG!
Arkan terpekik kesakitan. "ARGH!"
Ia kehilangan keseimbangan dan ia merasakan dunianya terasa gelap,
Braaaak!
Ia terjatuh ke atas rerumputan yang basah oleh rintik hujan. Kemudian ia mengalami kejang.
Dayang Sari membeliakkan kedua matanya. Lalu bergegas menghampirinya.
Ia berjongkok di dekat sang pemuda. "ARKAN!!" panggilnya dengan rasa panik
Damang Jaya memegang kepalanya dengan kedua tangannya."SIAL! SEMUANYA SUDAH TERLAMBAT!"
Arkan sudah tak sadarkan diri. Dan ia mengalami demam yang cukup tinggi.
Dayang Sari menangis.sesenggukkan . "Ini salahku.... Salahku..."
"Ayo, kita bawa ia ke dalam. Jangan sampai ada warga yang tau..."
Dayang Sari mengangguk lemah. Lalu menggotong tubuh Arkan untuk masuk ke dalam rumah, melalui pintu belakang.
Kalung mustika Kuyang sudah hancur, tetapi kutukannya belum sepenuhnya pindah, dan masih berada di tubuh Dayang Sari setengahnya.
Tubuh Arkan di baringkan di atas tikar pandan. Terlihat wajahnya memerah, sebab batu mustika Kuyang memaksa masuk ke aliran darahnya.
"Dia hanya menjadi wadah sementara. Tiga hari lagi, jika tidak ada tumbal, maka kutukan akan balik ke kamu, dan dahsyatnya akan tiga kali lipat. Dari empat puluh tumbal, maka Induk Jarum akan meminta seratus tumbal."
Dayang Sari menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau makan lagi, Tok!"
"Kalau kamu gak makan, Arkan yang akan mati." Damang Jaya mengingatkan.
Dayang Sari yang mendengarnya langsung merasakan kepalanya sakit. Dan tubuhnya terasa lemas. Ia kini bagaikan buah simalakama.
*****
Wuuuussh!
Angin bertiup sangat kencang. Listrik tiba-tiba padam.
Tap!
Suasana menjadi gelap gulita.
Dari arah hulu Pegunungan Muller, tiba-tiba muncul bola api yang cukup terang.
Sungai Mahakam mendadak terang dengan cahaya kemerahan.
"Itu dia!" pekik Warga, yang menunjuk ke arah sungai dan di tepiannya banyak di tumbuhi pohon sagu.
Semua warga langsung mengarahkan sorot senter ke sana.
Suara tawa terdengar begitu mengerikan. Membuat bulu kuduk mereka meremang.
"Ayo! Kita kejar. Jangan sampai dia lolos!" teriak Pak RT memberi komando.
Warga berteriak, dan mengejar ke arah tepian sungai Mahakam.
Melihat banyaknya warga yang menuju ke arahnya, sosok itu langsung menghilang ke dalam sungai.
"Periksa CCTV, dan kita sumbat pintu air dengan kaca, biar organ tubuhnya hancur," teriak Pak Lurah yang sudah merasa geram.
Warga langsung menuju pintu air yang terdapat di bawah akar pohon beringin.
Sementara itu, Arkan yang masih demam tinggi, merasakan dirinya sedang berada di sungai Mahakam yang gelap.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.