Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakso Nakal Pembuat Petaka

Dua minggu berlalu sejak malam ulang tahun ke-17 yang merangkap sebagai hari bencana nasional bagi Baffin. Libur kenaikan kelas sudah hampir usai.

 Suasana rumah Baskara pagi ini terasa hangat, kontras dengan Silva yang sudah rapi mengenakan tas selempang bulu berbentuk kepala kelinci.

Tas gemas itu adalah hadiah ulang tahun dari Kenya dua minggu lalu saat mereka akhirnya jadi berburu barang di mall.

Silva berjalan mendekati ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tengah. "Ayah... Silva mau ke Gramedia. Ayah bisa anterin, kan? Mau beli peralatan sekolah. Satu mingguan lagi kan sudah masuk sekolah baru," pamit Silva sambil menepuk-nepuk tas kelincinya.

Baskara menurunkan korannya sedikit, lalu menatap putrinya datar. "Pergi sama Baffin."

Silva mengerutkan kening, reflek memprotes. "Kok sama Apin? Ayah aja yang anterin, ih."

"Kan sudah Ayah bilang, mulai sekarang kamu butuh apa-apa harus sama dia. Biar kalian makin dekat," jawab Baskara dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

"Kalo dia gak mau gimana?" tanya Silva cemas, membayangkan wajah jutek cowok itu.

"Mau. Sudah, sana ke sebelah."

Menyerah berdebat dengan ayahnya, Silva akhirnya melangkah keluar rumah dan berjalan ke rumah Baffin yang hanya berjarak beberapa langkah.

Tanpa mengetuk pintu, Silva langsung nyelonong masuk begitu saja karena kebetulan pintu depan terbuka.

Tepat di area tangga, Silva melihat Baffin baru saja turun. Cowok itu sudah rapi mengenakan jaket kasual hitam sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya. Jelas sekali dia sudah bersiap-siap untuk pergi keluar.

Melihat mangsanya ingin kabur, Silva langsung berlari kecil dan menghadang di depan anak tangga terakhir dengan kedua tangan terbentang lebar.

Baffin menghentikan langkahnya, menatap Silva dari atas ke bawah dengan pandangan terganggu. "Ngapain kamu ke sini?"

"Mau ke Gramed," balas Silva tanpa dosa.

"Terus?" Baffin menaikkan sebelah alisnya.

"Ya mau minta anter kamu lah!"

Baffin mendengus pelan, lalu melangkah menyamping untuk melewati hadangan Silva. "Enggak bisa. Aku mau keluar. Sudah ada janji sama temen-temen."

Namun baru dua langkah Baffin melewati tubuh Silva, sebuah suara teriakan yang sangat familier menggelegar dari arah dapur.

"Anterin Silva, Baffin!"

Gilda muncul sambil mengelap tangannya dengan serbet dapur. Ibunya itu menatap Baffin dengan pandangan penuh selidik. "Mana boleh lebih mendahului teman daripada tunangan sendiri? Sudah sana, anterin Silva beli perlengkapan sekolah."

Tunangan? Sampai sekarang aja aku belum mengakui Silva sebagai tunangan aku! batin Baffin menjerit frustrasi.

Namun, menatap mata ibunya yang mematikan, Baffin hanya bisa menghela napas pasrah. Dengan langkah terpaksa, ia mengambil dua buah helm dari atas rak dekat pintu dan berjalan keluar diikuti Silva yang tersenyum penuh kemenangan.

Sampai di dekat motor matic besarnya, Baffin hendak memasangkan helm ke kepala Silva. Namun, cewek itu langsung menjauhkan kepalanya. "Aku bisa sendiri, Apin!"

Baffin menatapnya sarkas. "Bisa ya? Bisa pecah helmnya maksud kamu?"

"Ck! Masa pakai helm bisa pecah? Memangnya kepalaku ini batok kelapa apa?" gerutu Silva kesal.

"Sudah sini aku pakein."

"Gak mau!" Silva langsung merebut helm itu dari tangan Baffin secara paksa, lalu memakainya dengan buru-buru demi membuktikan kalau dia sudah mandiri.

Klik!

"AKHHH!" Silva berteriak histeris, tubuhnya sampai berjinjit dengan mata yang berkaca-kaca. Akibat memakai helm dengan gerakan grasah-grusuh, kulit dagu bagian bawahnya ikut terjepit di antara gesper besi helm.

Baffin yang melihat hal itu langsung mendengus gemas namun tangannya bergerak cepat. Ia menahan helm Silva, membuka pengaitnya dengan cekatan, lalu mengangkat dagu mungil Silva dengan dua jarinya.

"Ceroboh banget sih," omel Baffin pelan. Matanya menatap lekat ke arah dagu Silva yang kini memerah dan kulitnya sedikit terkelupas akibat jepitan tadi.

Ibu jari Baffin bergerak refleks, mengelus lembut bagian yang terluka itu untuk mengurangi rasa perihnya.

Mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu, jantung Silva sempat berdegup aneh. Namun rasa gengsinya jauh lebih besar.

Ia langsung mencari kambing hitam. "Ini tuh gara-gara kamu, tahu! Kalau kamu langsung ngasihin helmnya baik-baik ke aku dan gak pakai ngejek, aku gak bakal pakai buru-buru begini sampai kejepit! Ini salah kamu!" Tukas Silva sambil mengerucutkan bibirnya.

Baffin hanya bisa menarik napas dalam-dalam, menahan diri agar tidak menenggelamkan tunangan takdirnya ini ke dalam tangki bensin motor.

Ia memakai helmnya sendiri, lalu naik ke atas jok. "Sudah, cepat naik. Pegangan."

•••

Mereka akhirnya pergi ke mall besar di pusat kota tempat toko buku Gramedia berada. Setelah selesai berburu buku tulis, pulpen, dan beberapa binder baru, mereka berjalan menyusuri koridor mall.

Baffin berjalan di samping Silva dengan satu tangan membawa kantong belanjaan milik cewek itu.

"Apin... gimana kalau kita makan dulu? Tiba-tiba laper nih," cetus Silva tiba-tiba. Langkah kakinya terhenti tepat di depan sebuah restoran bakso yang aromanya sangat menggoda iman.

"Serah," jawab Baffin singkat, malas berdebat.

Mereka pun masuk dan memesan menu yang sama: dua porsi mie ayam bakso.

Tak butuh waktu lama, pesanan mereka diantarkan ke meja. Aroma kuah kaldu yang gurih langsung menusuk hidung.

Saat Silva hendak meraih sepasang sumpit, Baffin tiba-tiba memajukan tubuhnya. "Sini aku suapin aja."

Silva langsung melotot tidak suka, menarik mangkok mie ayamnya menjauh ke pelukannya. "Gak mau! Apaan sih, dikira aku anak bayi!"

"Nanti mangkoknya bisa pecah kalau kamu makan sendiri. Kalau di rumah kamu mau mecahin barang terserah, tapi ini di tempat umum," kata Baffin dengan wajah sedatar papan tulis.

"Kamu nyebelin banget sih! Memangnya aku ini perusuh tiap detik apa?!" sentak Silva dengan muka cemberut yang ditekuk habis-habisan.

Baffin mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.

Silva mendengus kasar. Ia mengabaikan Baffin dan mulai menyantap mie ayamnya dengan gerakan penuh kekesalan.

Baffin memperhatikan cara Silva makan dengan tatapan waspada selama beberapa menit. Karena melihat tidak ada pergerakan atau tanda-tanda mencurigakan yang berpotensi menimbulkan bencana, Baffin akhirnya melonggarkan pengawasannya dan mulai memakan mie ayamnya sendiri.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Silva yang sedang makan menggunakan sumpit mulai kesulitan saat ingin memakan bakso bulat yang licin di dalam mangkok kuah.

Merasa frustrasi karena baksonya terus lolos saat dijepit, Silva memisahkan kedua sumpitnya. Tangan kanannya memegang satu sumpit untuk menusuk bakso, sementara tangan kirinya memegang sumpit satu lagi untuk menahan si bulat bakso yang menurutnya nakal.

Ia mencoba menusuk bakso itu berulang kali. Namun, tidak berhasil. Hingga akhirnya ia mengerahkan seluruh tenaganya juga sisa-sisa kesabarannya untuk mendapatkan si bakso nakal itu dengan sekuat tenaga.

Namun, posisinya terlalu di pinggir mangkok. Bakso yang licin itu meleset, dan dorongan kuat dari tangan Silva justru membuat mangkok tersebut oleng secara drastis, tergelincir dari meja, lalu...

PRANGGG!

Suara pecahan keramik yang hancur berkeping-keping menggema keras di dalam restoran. Mi, bakso, dan kuah panas berhamburan mengotori lantai.                 Seketika itu juga, atmosfer di dalam restoran mendadak hening. Seluruh pengunjung dan pelayan langsung memutar leher mereka, menatap tajam ke arah sumber suara.

Ke arah meja Baffin dan Silva.

Silva membeku. Jiwa masa kecilnya yang selalu kabur setiap kali berbuat salah mendadak aktif secara otomatis. Tanpa berpikir panjang, dengan wajah memerah karena malu luar biasa, Silva langsung berdiri dari kursinya.

Ia berbalik dan berlari kencang keluar dari restoran bakso itu tanpa membawa apa-apa. Tentunya setelah meletakkan sepasang sumpit yang ia pegang tadi.

Ia benar-benar kabur, meninggalkan Baffin sendirian yang kini duduk mematung dengan urat pelipis yang berdenyut kasar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!