Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Malam semakin larut. Suhu udara yang semakin dingin membuat Zilia tanpa sadar bergerak mendekati Rafael.
Dalam tidurnya, ia mencari sumber kehangatan hingga akhirnya kedua tangannya melingkar di tubuh suaminya.
Rafael yang masih setengah sadar hanya bergerak sedikit. Bukannya menjauh, ia justru refleks merangkul Zilia. Tubuh mereka akhirnya berada dalam pelukan yang hangat dan nyaman.
Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari posisi tersebut. Hingga jarum jam menunjukkan pukul lima pagi.
Cahaya matahari belum sepenuhnya masuk melalui celah tirai. Udara masih terasa dingin.
Rafael perlahan membuka matanya.
Awalnya ia masih mengantuk. Namun saat merasakan sesuatu berada di dalam pelukannya, kesadarannya seketika penuh.
Ia menunduk.
Zilia.
Gadis itu masih tertidur pulas dengan kepala berada di dadanya.
Rafael terdiam.
"Astaga..."
Belum sempat ia bergerak, Zilia tiba-tiba membuka mata.
Tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik keduanya hanya saling diam.
Sampai akhirnya Zilia menyadari posisi mereka.
"AAAA!"
Zilia langsung bangkit dan menarik selimut.
"Kamu ngapain?!"
Rafael ikut duduk dengan wajah bingung.
"Aku?"
"Iya! Kamu lah!"
"Kok aku?"
Zilia menunjuk Rafael dengan wajah memerah.
"Kamu yang peluk aku!"
Rafael mengangkat kedua tangannya.
"Sebentar. Bukannya kamu yang dari tadi nempel?"
"Aku tuh tidur!"
"Ya aku juga tidur!"
"Terus kenapa tanganmu ada di tubuhku?"
Rafael melirik tangannya sendiri.
"Karena kamu yang masuk ke pelukanku."
Zilia mendengus kesal.
"Enak saja menyalahkan aku."
"Aku nggak menyalahkan. Aku cuma mengatakan kenyataan. Kebenaran."
"Kenyataan apanya? Kebenaran apanya, ha?"
"Kamu kedinginan, lalu mencari kehangatan."
"Jangan mengarang, kamu!"
Rafael terkekeh.
"Kalau begitu, kenapa kamu sampai memelukku erat tadi?"
Zilia langsung terdiam.
Wajahnya semakin merah.
"Itu... refleks!"
"Nah, sama dong. Tadi aku juga refleks."
"Pokoknya tetap saja salah kamu!"
Rafael menghela napas.
"Iya, iya. Aku yang salah. Sudah, puas."
Zilia berdecak kesal.
"Memang menyebalkan kamu ini."
Suara mereka yang cukup keras rupanya membangunkan Ibu Retno.
Tok!
Tok!
Pintu kamar diketuk.
"Kalian kenapa pagi-pagi sudah ribut?"
Seketika Zilia dan Rafael terdiam.
Mereka saling pandang.
Zilia buru-buru menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
Rafael hanya menahan senyum.
"Ini gara-gara hal sepele kok, Bu!"
"Hei!"
Zilia langsung melotot.
Ibu Retno membuka pintu dan menatap keduanya dengan wajah heran.
"Sepele? Memangnya kalian bertengkar soal apa?"
Rafael tersenyum santai.
"Nggak apa-apa, Bu."
Zilia langsung menyela.
"Dia yang mulai!"
Ibu Retno menghela napas.
"Baru semalam menikah, pagi-pagi sudah bertengkar."
Rafael melirik Zilia.
"Namanya juga pengantin baru, Bu. Biasa, Bu. Masih ada yang belum terbiasa."
"Rafael!"
Zilia semakin kesal.
Ibu Retno justru tersenyum geli melihat keduanya.
"Sudah. Jangan ribut. Kalian masih muda, tapi jangan sampai satu rumah isinya perang terus, ya."
Zilia menggerutu pelan.
"Dia yang bikin perang duluan, Bu."
Rafael hanya tersenyum.
Namun dalam hati, ia justru menikmati satu hal.
Untuk pertama kalinya, ia terbangun bukan sendirian. Dan tanpa disadari Zilia, pelukan singkat di pagi yang dingin itu membuat pernikahan mereka terasa sedikit lebih nyata.
Setelah perdebatan kecil pagi itu berakhir, Zilia dan Rafael bergantian menggunakan kamar mandi. Tak lama kemudian, keduanya keluar dari kamar.
Zilia langsung berniat untuk membantu Ibu Retno menyiapkan sarapan.
Ia baru saja membuka lemari dan hendak mengambil bahan masakan ketika Rafael muncul di dapur.
"Tidak usah bikin sarapan. Kita keluar saja."
Zilia menoleh.
"Kita?"
"Iya. Kita beli makanan di luar. Cuacanya juga enak. Biar Ibu nggak repot menyiapkan sarapan."
Ibu Retno yang sedang merapikan beberapa bahan makanan langsung menyela.
"Ya sudah kalau kalian mau keluar. Kebetulan Ibu juga mau ke pasar membeli bahan untuk makan siang. Sekalian saja Ibu sarapan di sana."
Zilia langsung menatap ibunya.
"Bu, bisa nggak sih jangan selalu nurutin kemauannya dia?"
Rafael hanya tersenyum.
"Kenapa? Aku kan sedang mengajak istriku jalan-jalan."
"Nyebelin banget sih, kamu itu."
Tanpa banyak bicara, Rafael meraih tangan Zilia.
"Ayo, ikut aku."
"Eh, tunggu!"
Zilia berusaha menarik tangannya.
"Mau ke mana?"
"Keluar."
"Aku belum bilang mau ikut."
Rafael tetap menggenggam tangannya.
"Sudah terlambat."
"Rafael!"
Namun Rafael justru menariknya keluar dari rumah.
Udara pagi terasa sejuk.
Mereka berjalan beriringan menyusuri jalanan yang mulai ramai. Sesekali Zilia melirik tangan mereka yang masih bergandengan.
"Bisa nggak sih jangan maksa aku kek begini?"
Rafael menoleh.
"Kenapa memangnya?"
"Kalau mau keluar, ya keluar saja sendiri."
Zilia menghela napas.
"Aku tuh nggak terbiasa tebar pesona seperti ini. Jalan-jalan pagi, beli makanan, kelihatan seperti orang tajir yang uangnya nggak pernah habis."
Rafael tersenyum tipis.
"Memangnya kenyataannya bukan begitu?"
Zilia langsung menoleh.
"Apa maksudmu?"
"Bukankah kamu putri keluarga kaya raya? Jadi, uangmu memang nggak akan habis."
Zilia terdiam sesaat.
"Aku tidak terbiasa menyandang status seperti itu."
"Kehidupanku sangat sederhana. Memang semua kebutuhanku terjamin, tapi tetap saja aku lebih suka menjaga privasi."
Rafael memperhatikannya.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin orang lain memperlakukanku berbeda hanya karena tahu keluargaku."
Zilia menatap jalan di depan.
"Mulai sekarang, kamu nggak perlu terlalu memikirkan itu."
"Aku tetap ingin seperti ini. Biarkan orang lain menganggapku rendah."
Rafael mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena kalau suatu hari aku jatuh, maka tidak banyak orang yang tahu."
Zilia tersenyum tipis.
"Setidaknya aku sudah terbiasa hidup sederhana seperti ini."
Rafael tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum kecil.
Ada sesuatu dari cara Zilia memandang kehidupan yang membuatnya semakin tertarik pada perempuan itu.
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah persimpangan yang dipenuhi pedagang makanan.
Aroma berbagai masakan langsung memenuhi udara. Zilia mengikuti Rafael yang mulai memilih makanan.
"Yang ini kelihatannya enak."
Rafael baru saja hendak mengambil salah satu makanan ketika tiba-tiba sebuah tangan menahannya.
"Zilia nggak suka itu."
Rafael langsung mendongak.
Tatapannya bertemu dengan seseorang yang sudah sangat dikenalnya.
Vio.
Suasana di antara mereka seketika berubah.
Vio menatap Rafael dengan sorot mata tajam.
Sementara Rafael membalas tatapannya tanpa sedikit pun gentar. Zilia yang berdiri di antara mereka hanya bisa menghela napas.
Belum juga sarapan, rupanya sudah ada mantan yang datang membawa masalah.
Vio masih menatap Rafael dengan tatapan penuh tantangan.
"Dia alergi makanan itu," ulang Vio.
Rafael perlahan menarik tangannya dari makanan tersebut.
"Lalu?"
Vio mengernyit.
"Lalu jangan kasih ke Zilia."
Rafael tersenyum tipis.
"Terima kasih informasinya, Tuan."
Nada suaranya terdengar tenang, tetapi jelas menyimpan sindiran.
"Aku bisa mengurus istriku sendiri."
Kata istri sengaja Rafael tekankan.
Wajah Vio seketika menegang.
Zilia yang mendengar itu hanya menghela napas.
"Sudahlah. Jangan mulai lagi."
Vio mengalihkan pandangan kepada Zilia.
"Kamu benar-benar menikah dengannya?"
Zilia terdiam sesaat. Kemudian mengangguk.
"Iya."
"Tapi kenapa?"
"Vio, hubungan kita sudah selesai. Jadi, jangan menambah masalah dalam hidupku."
"Aku tahu itu."
Vio menatapnya lekat.
"Tapi aku masih mencintaimu, Zil. Perasaanku tidak akan pernah berubah."
Rafael langsung berdiri di samping Zilia.
"Sayangnya, dia sekarang istriku."
Vio menatap Rafael tajam.
"Aku sedang bicara dengan Zilia."
"Dan aku sedang menjaga istriku."
Ketegangan di antara kedua pria itu semakin terasa.
Zilia akhirnya menarik lengan Rafael.
"Sudah. Aku mau sarapan, bukan melihat kalian bertengkar."
Rafael menoleh.
"Kamu mau makan apa?"
Zilia menunjuk salah satu penjual.
"Itu."
Rafael segera mengambil makanan yang ditunjuk Zilia.
Vio memperhatikan mereka dengan rahang mengeras. Dulu, dirinya yang selalu menemani Zilia memilih makanan.
Sekarang... posisi itu sudah ditempati pria lain.
Dan yang paling membuatnya sakit hati adalah Zilia terlihat begitu tenang berada di sisi Rafael.
Vio mengepalkan tangannya.
"Aku tidak akan menyerah, Zilia."
Rafael yang hendak membayar makanan tiba-tiba menoleh.
Seolah mendengar ucapan itu.
Tatapan keduanya kembali bertemu.
Rafael tersenyum tipis.
"Silakan mencoba kalau kamu berani. Jangan kecewa kalau gagal."
Lalu ia menggenggam tangan Zilia dan mengajaknya pergi.
Kali ini, genggamannya terasa lebih erat.
Zilia melirik tangannya.
"Kenapa digenggam terus?"
"Takut kamu direbut."
Zilia mendengus.
"Siapa juga yang mau merebut aku?"
Rafael melirik ke belakang.
"Orangnya masih berdiri di sana."
Zilia ikut menoleh.
Melihat Vio masih memandang mereka, ia segera mengalihkan wajah.
"Biarkan saja. Aku tidak akan pernah tertarik dengannya."
Rafael tersenyum.
"Benarkah? kamu tidak sedang berbohong, kan?"
"Kamu gak percaya?"
"Aku percaya, banget malah. Aku juga nggak akan membiarkan dia mengambil kembali apa yang sudah menjadi milikku, yaitu kamu."
Zilia langsung menatapnya.
"Jangan bicara seolah-olah aku barang."
Rafael terkekeh.
"Baiklah, kamu adalah separuh jiwaku."
"Rafael!"
"Iya, istriku..."
Rafael mendekat sedikit.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga istriku dengan baik."
Zilia terdiam.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu justru membuat dadanya berdebar.
Mereka akhirnya memilih sebuah tempat sederhana di bawah pohon rindang, tidak jauh dari jalan utama. Tidak ada meja restoran mewah ataupun pelayan. Hanya sebuah bangku panjang yang menghadap jalan, tempat orang-orang berlalu-lalang menikmati pagi.
Rafael meletakkan makanan yang mereka beli di atas bangku.
"Di sini saja."
Zilia duduk sambil memandangi keramaian di depan mereka.
Rafael ikut duduk di sampingnya.
Udara pagi terasa sejuk. Sesekali angin berembus melewati dedaunan, membuat suasana terasa tenang.
Rafael membuka bungkus makanan.
"Makan, nanti kelaparan."
Zilia mengambil bagiannya tanpa banyak bicara.
Mereka menikmati sarapan dalam diam.
Zilia sesekali memperhatikan orang-orang yang berjalan melewati mereka. Ada yang berangkat bekerja, pedagang yang mendorong gerobak, hingga beberapa anak kecil yang berlarian di pinggir jalan.
Rafael meliriknya.
"Kamu suka tempat seperti ini?"
Zilia mengangguk kecil.
"Iya."
"Kenapa?"
"Lebih tenang."
Zilia kembali memandang jalan.
"Nggak ada yang peduli siapa aku, anak siapa aku, atau istri siapa aku."
Rafael terdiam mendengar itu.
Zilia mengambil sepotong makanan.
"Di sini aku cuma Zilia."
Rafael tersenyum tipis.
"Kalau begitu, mulai sekarang anggap saja aku juga cuma Rafael."
Zilia menoleh.
"Bukan pewaris keluarga Darmawan?"
"Bukan."
"Bukan calon suami yang dijodohkan Papa?"
Rafael menggeleng.
"Di sini aku cuma suamimu. Kita bukan calon lagi, melainkan suami isteri. "
Zilia langsung kembali memandang jalan.
"Jangan mulai deh. Aku tuh belum kepikiran buat menikah. Tujuanku cuma satu. Sukses dan membahagiakan Ibu."
Zilia tetap acuh tak acuh, tetapi diam-diam sudut bibirnya sedikit terangkat.
Rafael melihatnya.
Namun kali ini ia memilih tidak menggoda.
Ia hanya ikut menikmati makanan dan udara pagi bersama Zilia.
Untuk beberapa saat, mereka melupakan keluarga, perjodohan, Vio, dan segala masalah yang menunggu.
Hanya ada dua orang yang duduk berdampingan di bawah pohon, menikmati sarapan sederhana sambil menyaksikan dunia berlalu di depan mata.
Belum lama mereka menikmati sarapan, terdengar suara tawa dari arah jalan.
Zilia yang semula memandangi orang-orang berlalu-lalang, perlahan menoleh.
Seketika wajahnya berubah datar.
Siapa lagi kalau bukan putri Ibu Sari bersama beberapa temannya.
Mereka berhenti tepat di depan Zilia dan Rafael.
"Wah, wah..."
Putri Ibu Sari menatap keduanya dari atas sampai bawah, lalu tertawa kecil.
"Romantis banget. Sarapan cuma di bawah pohon."
Temannya ikut tertawa.
"Katanya sekarang sudah menikah, ya?"
"Iya."
Putri Ibu Sari melirik Rafael.
"Berarti benar dong. Zilia akhirnya menikah sama cowok yang kemarin itu."
"Oh... itu ya?"
"Iya."
Mereka kembali tertawa.
"Zil, kamu benar-benar nggak punya selera. Mantanmu orang kaya, sekarang malah dapat yang modelan begini."
Zilia tetap menyantap makanannya dengan tenang. Ia bahkan tidak langsung menoleh.
Putri Ibu Sari semakin penasaran.
"Kok diam? Malu?"
Zilia akhirnya mengangkat wajah.
"Nggak."
"Terus?"
"Aku cuma lagi sarapan."
Ia kembali mengambil makanan.
"Kalau kalian sudah selesai menertawakan kami, boleh minggir sedikit? Kalian menghalangi pemandangan."
Teman-temannya langsung terdiam.
Rafael menahan tawa.
Putri Ibu Sari mendengus.
"Masih saja sombong."
Zilia mengangkat bahu.
"Kalau menurutmu begitu, ya sudah. Yang penting aku nyaman dengan hidupku yang seperti ini."
Putri Ibu Sari melirik Rafael sekali lagi.
"Memangnya kamu nyaman hidup sama laki-laki seperti dia?"
Zilia santai menjawab,
"Nyaman banget malah. Disamping baik orangnya, dia ini tipe aku."
Rafael menoleh kepadanya.
Zilia melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa. Putri Ibu Sari mencibir.
"Nanti kalau sudah susah, jangan menyesal loh ya."
Zilia tersenyum tipis.
"Kalau nanti aku susah, jugaan aku yang menjalani. Bukan urusanmu juga kok. Kalau aku bahagia, kalian juga nggak perlu ikut campur dengan hidupku."
Ia kemudian menatap Rafael.
"Benar 'kan, sayang?"
Rafael tersenyum. Sungguh diluar dugaan. lagi lagi Zilia memanggilnya dengan sebutan mesra.
"Iya, sayang."
Putri Ibu Sari dan teman-temannya saling pandang. Mereka kemudian pergi sambil masih bergunjing. Zilia hanya menghela napas.
"Capek juga ya, menghadapi orang yang terlalu peduli dengan hidup orang lain."
Rafael terkekeh.
"Kamu ternyata bisa juga membalas."
"Aku tuh cuma malas ribut aja sebenarnya."
Zilia kembali menikmati makanannya.
"Percuma menjelaskan sesuatu kepada orang yang sudah memutuskan untuk salah paham terus menerus. Yang ada juga capek sendiri.
Rafael menatapnya beberapa saat.
Kali ini, ia semakin mengagumi cara Zilia menghadapi hinaan.
Tidak perlu berteriak. Tidak perlu membuktikan siapa dirinya. Cukup tetap tenang dan membiarkan waktu yang menjawab semuanya.
Setelah selesai menikmati sarapan, Zilia dan Rafael akhirnya memutuskan untuk pulang. Mereka berjalan santai menyusuri jalan yang mulai ramai.
Baru beberapa langkah, Zilia tiba-tiba melihat dua sosok yang begitu dikenalnya.
"Rara? Edo?"
Keduanya menoleh.
"Zilia!"
Rara langsung menghampiri, lalu pandangannya berpindah kepada Rafael.
"Eits... kalian habis dari mana?"
"Jalan-jalan."
Edo mengangkat alis.
"Tunggu dulu."
Ia memperhatikan Zilia dan Rafael bergantian.
"Jangan-jangan gosip yang semalam itu benar?"
Zilia mengernyit.
"Gosip apa?"
Rara langsung mendekat.
"Katanya kamu menikah karena digerebek warga? benarkah? Maaf, pertanyaanku kurang sopan."
Zilia terdiam.
Rafael justru terlihat santai.
Edo ikut bertanya,
"Serius, Zil? Kalian benar-benar menikah?"
Zilia akhirnya mengangguk.
"Iya."
Rara membelalakkan mata.
"Astaga! Jadi gosip itu beneran?"
"Iya."
"Tapi kata gosip beredar, bukannya kalian bertunangan?"
Zilia menghela napas.
"Memang. Makanya aku juga nggak menyangka semuanya bisa secepat ini."
Edo menatap Rafael.
"Berarti sekarang dia benar-benar suami kamu?"
Zilia kembali mengangguk.
"Sudah."
Rara langsung memegang lengan Zilia.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Kamu gak dipaksa, kan? kamu jujur aja, biar aku bantu kamu menyelesaikan urusan mu dengan suami kamu itu."
"Aku baik-baik saja, kok. Kalian gak usah mengkhawatirkan aku. Suamiku orangnya baik, pengertian juga."
"Terus kamu nggak keberatan gitu?"
Zilia melirik Rafael sekilas.
"Awalnya memang belum siap. Tapi mau bagaimana lagi? Bagaimanapun, kami memang sudah bertunangan dari awal bertemu."
Rafael tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
Rara masih terlihat penasaran.
"Berarti sekarang aku harus panggil dia apa?"
Zilia menjawab santai,
"Rafael saja."
Edo tertawa.
"Kalau aku sih bakal bilang Rafa."
Rafael mengulurkan tangan.
"Salam kenal secara resmi."
Edo menjabat tangannya.
"Selamat ya, Fa. Semoga tahan menghadapi Zilia yang suka tantrum gak jelas."
Rafael langsung melirik istrinya.
"Sepertinya cuma aku yang diberi ucapan selamat. Wah... kalian benar-benar sahabat sejati."
"Rafael!"
Rara dan Edo langsung tertawa.
Zilia hanya menggeleng kesal.
Namun di balik wajah kesalnya, ada perasaan aneh yang perlahan muncul.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄