Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 25
Matanya menyapu deretan berkas fisik berstempel rahasia, penggerak kilat terenkripsi, serta log transaksi bernilai jutaan dolar yang terpampang di dalam tas taktis milik Vanguard. Ini adalah bukti kunci amunisi pamungkas yang tidak hanya akan menjebloskan Hendra Maheswari ke penjara seumur hidup, tetapi juga membongkar seluruh jaringan Konsorsium Helios hingga ke akar-akarnya di tingkat internasional.
Vanguard mengerang di lantai epoksi yang dingin. Tangannya yang bersimbah darah gemetar hebat saat mencoba menahan rasa sakit dari luka tembak di pergelangan tangannya. Wajah berambut perak yang tadinya dipenuhi keangkuhan itu kini memucat pasi, dibasahi keringat dingin yang mengucur deras.
Ia mendongak, menatap Leo dengan mata merah yang memancarkan kombinasi antara amarah, ketakutan murni, dan kebingungan yang mendalam.
"S-siapa kamu sebenarnya?!" bisik Vanguard dengan suara parau bercampur ketakutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Pengawal pribadi biasa tidak mungkin memiliki kapasitas peretasan perbankan internasional, jaringan intelijen presisi, dan kemampuan tempur sepertimu! Siapa... siapa yang berada di belakangmu?!"
Leo menundukkan tubuhnya sedikit, menyejajarkan tatapannya dengan Vanguard. Aura dingin dan intimidasi yang dipancarkannya begitu pekat, menekan atmosfer di dalam ruang komando kontainer itu hingga terasa membekukan.
"Di mata dunia bisnis dan media, saya adalah pengawal pribadi Maya Maheswari," sahut Leo dengan suara berat yang teratur dan tak terhentikan. "Dan di dalam hidupnya... saya adalah suami yang tidak akan membiarkan bangkai seperti kalian menyentuh atau mengancam masa depannya."
Vanguard membelalakkan mata, menyadari sepenuhnya bahwa permainannya telah berakhir total. Sebelum pria asing itu sempat merangkai kata atau mencoba melakukan aksi nekat lainnya, Leo memutar pergelangan tangannya. Dengan satu pukulan presisi menggunakan gagang pistol di titik saraf leher Vanguard, erangan pria itu mendadak terhenti. Tubuh pimpinan operasi Helios itu terkulai lemas, pingsan seketika di samping meja kontrol yang kini mati total.
Leo berdiri kembali dengan tegap. Ia merapikan lipatan kemeja putihnya yang sedikit berdebu, lalu mengamankan pistol semi-otomatisnya kembali ke sarung taktis di balik kemeja. Tas hitam berisi seluruh dokumen operasional Helios ia jinjing rapat di tangan kirinya.
Ia melangkah keluar dari pos komando kontainer.
Udara laut malam Pelabuhan Tanjung Priok yang dingin menyapa wajahnya. Di kejauhan, raungan sirine dari puluhan armada kepolisian khusus dan unit kejaksaan mulai bergaung membelah malam, bergerak cepat mengepung seluruh perimeter Dermaga 3. Tim bayangan Leo di luar telah menyelesaikan tugas mereka, memastikan kapal kargo Helios gagal melepaskan tali temali dari dermaga.
Leo berjalan melintasi lorong di antara tumpukan peti kemas raksasa dengan langkah yang tenang dan berwibawa. Pertempuran sengit yang menguras energi dan mengancam nyawa dalam kurun waktu empat puluh delapan jam terakhir mulai dari RUPS di Maheswari Tower, pertempuran di laboratorium Cikarang, hingga penyergapan akhir di Tanjung Priok kini telah tuntas tanpa menyisakan satu pun celah.
Di balik kegelapan lorong kontainer, SUV hitam taktis terparkir anggun dengan mesin yang menyala halus.
Saat sosok tegap Leo melangkah keluar dari bayangan, kaca jendela berlapis balistik di sisi penumpang perlahan turun. Maya Maheswari duduk di dalam kabin yang hangat. Matanya yang jernih dan tegas menatap lurus ke arah suaminya yang berjalan mendekat membawa koper Cikarang dan tas dokumen Helios.
Tidak ada lagi raut cemas atau ketakutan di wajah cantik Sang CEO Maheswari Group. Yang tersisa hanyalah binar kekaguman yang mendalam, rasa lega yang luar biasa, serta kepercayaan mutlak yang kini tertanam sempurna untuk pria di hadapannya.