Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: tamat
Genre:Obsesi / Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:54.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasehat Sahabat 02.

Livy tak menyerah setelah gagal memberi bekal di pagi hari, di siang hari saat jam istirahat sudah berbunyi. Fanya, teman sebangkunya sampai kaget saat Livy pergi meninggalkannya begitu saja, padahal mau dia ajak ke kantin bersama.

"Bener-bener Ivy sudah diluar batas, ini harus di cegah" Gumam Fanya, seolah-olah memprotes tindakan liar Livy pada Galang.

Pada akhrinya Fanya akan mengajak Lazma dan Mayang ke kantin. Ketiganya merupakan teman satu kelas Livy.

Masih berada di sudut pandang Fanya ketika netra nya menangkap Livy, sehingga kepala nya sampai menggeleng pelan tak habis pikir.

Tepat di tujuh menit berikutnya dari arah kelas, Fanya, Lazma dan Mayang sudah berada di kantin.

"Ma, May" Fanya memanggil kedua teman nya yang lagi memilih menu seblak prasmanan. Dan mereka menyahut.

"Kita harus berhentikan tindakan Livy, harga diri dia jatuh banget tuh, coba lihat. Livy ngasih snack ke Galang yang barusan beli langsung dibuang sama Galang"

Mayang menghela nafas. "Saya sudah capek nasehatin dia Fany, serius"

"Sama" Lazma menimpal, sambil memilih menu seblak prasmananan nya.

Fanya mengerutkan kening. "Kalian enggak kasihan sama sahabat sendiri? Selain kita, siapa yang bisa mencegah kelakuan Livy?"

"Kita kasihan kok, cuma Livy orang nya susah mengerti kalau di kasih nasehat"

"Ya betul itu"

Fanya menghela nafas, pada kenyataannya emang seperti itu, tapi ini tidak berlaku untuk Fanya sendiri. Livy harus benar-benar diubah, Livy tidak bisa seperti ini. Fanya sudah kenal Livy dari bangku SMP tepatnya saat Fanya jadi temen sekelas Livy di kelas dua SMP, jadi dia paham karakter sebenarnya Livy seperti apa sebelum terobsesi sama laki-laki.

**

Waktu seolah bergulir dengan cepat, Fanya mengajak Livy untuk main ke rumahnya saat pulang sekolah. Untung saja Livy mau setelah Galang meninggalkannya pulang.

Lampu neon di langit-langit kamar Fanya berkedip sekali, memantulkan bayangan dua remaja perempuan yang duduk bersila di atas ranjang.

Udara sore itu terasa berat, bukan karena hujan yang menggantung di luar, melainkan karena ketegangan yang perlahan merayap di antara mereka.

Fanya menghela napas panjang, meletakkan pensil alisnya dengan hentakan kecil yang disengaja. Dia menatap sahabatnya, Livy, yang sibuk memoles lip tint di depan cermin kecil.

"Kamu harus berhenti, Liv," ucap Fanya memecah keheningan. Suaranya tidak tinggi, tapi sarat akan penekanan. "Berhenti jadi 'cegil'. Saya perhatikan kamu terus memalukan diri kamu sendiri demi Galang."

Livy menghentikan gerakan tangannya. Jemarinya membeku di udara. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu perlahan menoleh ke arah Fanya dengan senyum sinis yang dipaksakan.

"Memalukan?" tanya Livy, suaranya naik satu oktav. "Kamu bilang saya memalukan karena saya memperjuangkan apa yang saya mau?"

"Memperjuangkan itu ada batasnya, Livy!" Fanya memajukan tubuhnya, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Livy. "Kamu meneror ruang pesan dia tiap malam. Kamu nungguin dia di depan kelab basket sampai jam delapan malam seperti orang hilang. Tadi hari ini? Kamu ngasih dia bekal, sengaja menjatuhkan buku kamu di depan kelas dia cuma supaya dia melihat kamu. Ngasih jajanan di kantin tapi ditolak lagi, Kamu tidak lihat bagaimana cara dia menatap kamu? Dia risih, Liv. Kamu bertingkah gila!"

Kata gila itu menghantam dada Livy seperti batu besar. Ada denyut nyeri yang menjalar di balik rusuknya, tapi egonya menolak untuk runtuh di depan Fanya. Livy melempar lip tint-nya ke atas kasur.

"Kamu tidak mengerti apa-apa, Fanya," desis Livy. Matanya mulai memanas, memerah di sudut-sudutnya. "Kamu pulang ke rumah, ada ibumu yang menyambut. Ada ayahmu yang bertanya bagaimana sekolahmu. Kamu punya mereka!"

Livy berdiri, berjalan gelisah ke arah jendela kamar Fanya yang berembun. Punggungnya bergetar menahan luapan emosi yang selama ini dia pendam rapat-rapat.

"Saya sendirian di rumah sebesar itu," lanjut Livy, suaranya mendadak serak, bergetar oleh kerapuhan yang nyata. "Papa dan Mama sudah dua tahun lebih di Jepang. Mereka cuma mengirim uang, Fanya. Uang! Mereka pikir saya bisa makan malam dengan tumpukan kertas itu? Mereka pikir saya tidak kesepian?"

Fanya tertegun. Kemarahannya mendadak surut, digantikan oleh rasa iba yang mendalam. Dia tahu persis bagaimana sepinya rumah Livy belakangan ini. "Liv..."

"Saya cuma butuh seseorang yang melihat saya!" Livy berbalik dengan cepat, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. "Galang itu satu-satunya orang yang bikin saya merasa... ada. Dia sudah menolong saya dari motor yang hampir menabrak saya waktu kelas satu SMA, dia itu melihat saya. Dia peduli. Kalau saya harus menjadi 'cegil', kalau saya harus bertingkah gila supaya dia menoleh lagi ke saya, saya akan lakukan!"

"Tapi cara kamu salah, kamu menyakiti diri kamu sendiri," Fanya bangkit dari ranjang, mencoba meraih pundak sahabatnya. "Kamu mencari perhatian dari orang yang salah. Galang tidak bisa menggantikan orang tuamu."

Livy menepis tangan Fanya dengan kasar. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menegakkan bahunya kembali. Topeng ketegarannya telah terpasang lagi.

"Saya tidak peduli," kata Livy dingin. "Besok hari Galang ada tanding basket melawan SMA sebelah. Saya sudah persiapkan spanduk besar untuk memberinya semangat dan minuman kesukaannya. Saya akan datang, dan saya akan pastikan dia tahu saya ada di sana."

Fanya menatap Livy dengan pandangan tak berdaya. Dia tahu, tidak ada lagi kata-kata yang bisa menahan sahabatnya yang sedang berlari menuju jurang patah hati.

Livy menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di lantai. Sebelum melangkah keluar dari kamar Fanya, dia menoleh sedikit. "Terima kasih atas peringatan kamu, Fanya. Tapi saya tidak akan berhenti."

Pintu kamar tertutup dengan debuman pelan, meninggalkan Fanya dalam keheningan, dan membiarkan Livy melangkah lebar menuju obsesi yang dia sebut sebagai pelarian.

................

...****************...

To be continue,

1
Syifa Azhar
Karin siapa nih?? kok tiba-tiba muncul nama beda typo kah😂
kadang temen nya livy juga sering ganti nama dari fanya jadi lazma😂😂
Rofiwan: karin tokoh sampingan baru yang muncul sesaat kak, circle livy ada 3 kak. Fanya, Lazma dengan Mayang.
total 1 replies
memei
saya saya kurang enak bgt di bacanya
memei
kata saya saya saya ,gak enak banget di bacanya
Rofiwan: iya maaf kak, kalau kurang enak dibaca🙏 di bab pertengahan cerita sudah jadi bahan evaluasi dan panggilan saya kamu udah diganti.
total 1 replies
memei
sebenarnya pasti banyak cowok yg iri PNGN jadi Galang yg di cintai cewek secara ugal ugalan
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
HO OH! kek begituu jadi cewekk, laki-laki nggak cuma dia piwisss
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
Ulalala....
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
Ya jujurr aja, kalau gue jadi Galang juga gue risih bjirr.
Syifa Azhar
sering typo kadang kelas XII kadang kelas 9🙄
Rofiwan: aku nulisnya tengah malam kak🤣
total 1 replies
Syifa Azhar
kalau sudah tiada baru terasa 💃💃
Syifa Azhar
ini kan yang kamu harapkan terus kenapa harus merasa aneh Galang?
Syifa Azhar
good jadi wanita kudu harga diri👍👍👍
Syifa Azhar
nah gitu dong,👍👍
berdirilah dimana kamu dihargai💪
Syifa Azhar
jika tidak di harapkan jangan datang💪
Syifa Azhar
jangan jatuhkan harga dirimu sedemikian rupa Ivy,cinta boleh bodoh jangan😂
Syifa Azhar
peduli boleh tapi gak gitu juga vy🙄
Syifa Azhar
gimana Galang gak ilfil sama kamu Ivy,kalau sikapmu seperti emang bener Galang bilang kamu cewek psikopat 😬
Syifa Azhar
siapa lagi Rangga???salah nama apa ceritain pemeran baru?
Syifa Azhar
susah memang kalau berurusah sama orang yang sudah kategori "obsesi jiwa"😂
Syifa Azhar
ceritanya menarik,cuma terlalu formal untuk bahasa sehari-hari dilingkungan sekolah, kata-kata saya bisa di ubah aku,kamu mungkin biar lebih enak cerita nya 😂
Rofiwan: iya kak, aku akui emang formal dan kaku banget, tapi bab bab kesananya udah ku ubah kok. yang bab-bab awal pondasi cerita aku memang memilih ga revisi bab nya😄
total 1 replies
Syifa Azhar
jiwa muda yang masih penuh tantangan,dimana ego dan gengsi saling beradu😂
coba kita lihat seberapa keras perjuanganmu Ivy sampai kamu menyadari arti perjuangan mu benarkan cinta atau hanya sekedar obsesi🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!