Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Lobelia

Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.

Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.

Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.

Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.

Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Lantai enam puluh Menara Moretti bukanlah sebuah kantor; itu adalah mausoleum dari kaca dan baja. Dari sana, Dante mengamati Kota New York seolah kota itu papan catur tempat semua bidak menjadi miliknya, meski tak satu pun ia pedulikan. Pendingin udara berdengung dengan efisiensi sedingin es, satu-satunya suara yang berani mengganggu keheningan bak kubur di ruang kerja itu.

Di depan meja kerja mahoni hitamnya, seorang pria gemetar. Namanya Sergio, seorang akuntan tingkat menengah yang melakukan kesalahan dengan mengira ia bisa menggelapkan dana dari perusahaan-perusahaan topeng milik Moretti tanpa disadari sang "Capo".

Dante tidak pernah membentak. Tak pernah sekali pun. Amarah dalam dirinya bukan api, melainkan nitrogen cair. Ia duduk dengan punggung tegak, memutar pelan cincin cap di jari manisnya. Matanya, kelabu badai yang sama seperti mata León, terpaku pada pria yang memohon itu.

"Bukan karena serakah, Don Dante… anak perempuan saya, dia butuh operasi…" Sergio terisak, jatuh berlutut.

Dante bangkit. Gerakannya luwes, hampir menyerupai kucing. Ia mendekati jendela besar, memunggungi si pengkhianat.

"Kesetiaan tak ada harganya, Sergio. Tapi pengkhianatan selalu ada tagihannya," ujar Dante. Suaranya bariton lembut, sehalus beludru dan mematikan. "Kalau saja kau datang padaku, aku yang akan membayar operasi itu. Sekarang, kau sudah menjatuhkan anakmu ke dalam keyatiman."

Dante memberi isyarat samar dengan tangannya. Dua bayangan menjelma dari sudut-sudut gelap ruang kerja. Tak ada tembakan, hanya suara pergulatan yang teredam dan tutupan pintu ganda yang berat. Dante tak bergeming. Kematian adalah bahasa sehari-hari dunianya, mata uang yang ia pertukarkan demi menjaga tatanan. Namun, di dalam dirinya, ia merasakan kejemuan yang membakar isi perutnya.

Ia menuang wiski murni. Alkohol itu menggores tenggorokannya, tapi tak berhasil membius nyeri menusuk yang bersemayam di dadanya sejak lima tahun lalu. Victoria. Namanya adalah luka menganga yang menolak mengering. Ia telah membawa pergi cahaya, meninggalkan Dante untuk memerintah sebuah kota yang penuh bayangan.

Ketukan berirama di pintu menariknya keluar dari lamunan.

"Masuk, Marco," kata Dante tanpa berbalik. Ia mengenali langkah berat tangan kanannya itu.

Marco masuk. Ia pria yang irit bicara, satu-satunya yang masih mengingat Dante sebelum ia berubah menjadi monster kaca seperti sekarang. Ia berhenti dua meter dari bosnya lalu meletakkan sebuah amplop manila di atas meja.

"Urusan Sergio sudah beres," lapor Marco. Ia berhenti sejenak, suaranya turun satu nada. "Dan… ada satu hal lagi. Sesuatu yang setahun lalu kau minta untuk berhenti dicari."

Dante menegang. Gelas kristal di tangannya berderit tipis.

"Sudah kubilang aku tak mau petunjuk palsu lagi, Marco. Aku tak mau lagi ada perempuan yang mengoperasi wajahnya agar mirip dia demi uangku."

"Ini bukan operasi plastik, Dante. Ini hantu."

Dante berbalik perlahan. Matanya menghunjam ke amplop itu. Sejenak, pria yang menguasai pelabuhan, perjudian, dan politik pesisir timur itu, merasa takut. Ketakutan manusiawi, primal. Ia mengulurkan tangan dan mengambil amplop itu. Jari-jarinya, yang tak pernah gemetar saat menarik pelatuk, bergetar ketika merobek kertasnya.

Ia mengeluarkan foto-foto itu. Semuanya bidikan jarak jauh, berbutir kasar, diambil dari mobil yang melaju di sebuah pasar kota pesisir bernama San Vicente.

Di foto pertama, seorang perempuan yang membelakangi kamera sedang membeli buah. Dante mengernyit. Bisa siapa saja. Tapi di foto kedua, perempuan itu berbalik untuk menyibak sehelai rambut dari wajahnya sambil tertawa.

Dunia Dante Moretti berhenti berputar. Udara di paru-parunya berubah menjadi timah.

Itu dia. Sedikit lebih kurus, kulitnya kecokelatan terbakar matahari, dan mengenakan blus katun yang tak akan pernah dikenakan istri seorang mafia mana pun. Tapi itu matanya. Perpaduan antara perlawanan dan kelembutan yang dulu coba ia jinakkan, dan yang pada akhirnya justru menghancurkannya.

"San Vicente," bisik Dante, suaranya pecah untuk pertama kali dalam setengah dekade. "Selama ini dia ada di depan mata… hidup seperti perempuan desa."

Ia beralih ke foto ketiga. Jantungnya, yang ia kira sudah mati, berjungkir balik begitu hebat sampai ia merasakan sakit yang nyata.

Dalam bidikan itu tampak dua anak lelaki. Mereka berjalan di kedua sisi Victoria, masing-masing menggenggam satu tangannya. Wajah mereka tak terlihat jelas, tapi postur salah satunya, cara ia memiringkan kepala saat berbicara, adalah salinan persis postur Dante saat ia masih muda.

"Siapa mereka?" tanya Dante, meski jiwanya sudah tahu jawabannya.

"Umur mereka lima tahun, Bos," jawab Marco hati-hati. "Catatan kelahiran desa itu menyebut nama mereka León dan Cristo. Tanpa nama keluarga dari pihak ayah."

Dante membiarkan foto-foto itu jatuh ke atas mahoni. Ia bersandar pada meja, merasa lututnya melemas. Lima tahun. Victoria pergi dalam keadaan mengandung. Ia telah merampas bukan hanya masa kininya, tapi juga keturunannya. Pikiran bahwa anak-anaknya, darah Moretti, tumbuh besar di sebuah gubuk, mengenakan pakaian murahan, tanpa tahu bahwa mereka adalah pewaris sebuah imperium, menyalakan amarah dalam dirinya yang melampaui pengkhianatan bisnis mana pun.

Tapi di balik amarah itu, ada arus pasang dari emosi yang jauh lebih berbahaya: harapan.

"Siapkan jet-nya," perintah Dante. Matanya kini berkilat dengan cahaya berbahaya, campuran antara pemangsa dan ayah. "Dan panggil unit ekstraksi. Aku tak mau ada seorang pun di desa itu yang melihat kedatangan kita."

"Dante, kalau kita datang bersenjata, dia akan kabur lagi," Marco memperingatkan. "Dia takut padamu."

Dante mengangkat pandangan. Tatapan sedingin es itu telah kembali, tapi kali ini terarah pada satu sasaran yang jelas.

"Sudah tak penting lagi apakah dia takut atau membenciku. Dia meninggalkanku tanpa satu pun penjelasan, Marco. Dia menghukumku ke neraka sementara dia bermain rumah-rumahan di pantai bersama anak-anakku."

Ia mengenakan jasnya, mengancingkan kancing-kancingnya dengan presisi yang obsesif. Ia memandang bayangannya di cermin ruang kerja. Ia melihat seorang pria yang memiliki segalanya, tapi merasa hampa. Victoria satu-satunya yang bisa mengisinya, atau menuntaskan kehancurannya.

"Dia pikir dia bisa bersembunyi dari iblis," lanjut Dante, suaranya kini bisikan yang mematikan. "Tapi dia lupa bahwa akulah yang mengajarinya berdoa. Kita berangkat ke San Vicente. Aku ingin merebut kembali apa yang menjadi milikku."

Ia melangkah menuju pintu keluar, meninggalkan kemewahan kantornya. Untuk pertama kali dalam lima tahun, Dante Moretti merasa punya tujuan. Ini bukan soal uang, bukan soal kuasa, bukan pula soal wilayah. Ini soal tiga orang yang telah memberi makna pada keberadaannya tanpa ia sadari.

Sementara lift pribadinya turun, Dante membayangkan wajah Victoria. Ia membayangkan saat mata mereka kembali bertaut. Ia bertanya-tanya apakah perempuan itu akan melihat pria yang ia cintai, atau monster yang ia sendiri turut ciptakan dengan kepergiannya.

Lima tahun, Victoria, batinnya sambil mengepalkan tinju. Semoga kau menikmati kebebasanmu, karena hari ini semuanya berakhir.

Deru mesin jet di landasan pacu pribadi Teterboro adalah awal dari berakhirnya kedamaian di San Vicente. Sang serigala telah menemukan jejaknya, dan kali ini, tak akan ada satu tempat pun di muka bumi tempat perempuan itu bisa bersembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!