Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Anya menoleh dan menatap wajah Kenji yang basah oleh air hujan.

"Kau tidak terluka kan?" tanya Anya cemas.

Kenji menggelengkan kepalanya pelan sambil menyingkirkan rambut basahnya ke belakang.

"Aku baik-baik saja, berkat tembakan gilamu ke arah panel listrik tadi."

Kenji menatap Anya dengan sorot mata yang terlihat marah tapi juga kagum.

"Aku sudah bilang jangan keluar dari tempat perlindungan, kenapa kau tidak pernah mau mendengar?" tegur Kenji.

"Jika aku tidak menembaknya, kita tidak akan pernah bisa keluar dari sana," jawab Anya membela diri.

"Lagipula Nyonya Ratna masuk secara tiba-tiba, itu satu-satunya kesempatan kita sebelum mereka menembak lagi."

Kenji menghela napas panjang dan tidak bisa membantah alasan logis tersebut.

Gadis ini memang selalu bisa melihat celah sekecil apa pun di saat genting.

"Lain kali, beritahu aku sebelum kau melakukan tindakan bunuh diri seperti itu," ucap Kenji lebih lembut.

Anya mengangguk pelan lalu bersandar di bahu Kenji yang basah.

"Aku janji, aku hanya tidak mau melihatmu mati di ruangan itu," bisik Anya.

Kenji merangkulkan satu tangannya ke bahu Anya dan mendekapnya erat.

"Kita akan langsung menuju markas stasiun televisi nasional malam ini," ucap Kenji pada Bima.

"Baik, Tuan Muda," jawab Bima sambil terus fokus menyetir menembus hujan.

Anya mendongak menatap rahang tegas Kenji.

"Stasiun televisi? Untuk apa kita ke sana malam-malam begini?" tanya Anya bingung.

"Kita akan membocorkan seluruh dokumen LunaraMode ini ke siaran berita pagi."

Kenji menyeringai tipis dengan tatapan mata yang sangat mematikan.

"Besok pagi, Walikota itu tidak akan punya wajah lagi untuk memimpin kota ini."

Anya tersenyum tipis mendengar rencana balas dendam yang sangat rapi tersebut.

Mereka berdua akhirnya bisa sedikit bersantai di dalam mobil yang terus melaju.

Udara dingin dari AC mobil membuat tubuh basah Anya sedikit menggigil.

Brrr.

Melihat hal itu, Kenji langsung menarik selimut kecil dari kompartemen mobil dan melilitkannya ke tubuh Anya.

"Terima kasih," ucap Anya sambil merapatkan selimut itu.

"Bima, nyalakan penghangat mobil ini ke tingkat maksimal," perintah Kenji.

"Sudah, Tuan Muda," jawab Bima patuh.

Satu jam perjalanan berlalu tanpa ada kendala berarti karena hujan deras membuat jalanan sepi.

Mobil van hitam itu akhirnya berhenti di pelataran parkir bawah tanah gedung stasiun televisi.

Ciiiit.

"Tuan Muda, direktur stasiun televisi ini adalah salah satu petinggi klan cabang kita," lapor Bima.

"Dia sudah menunggu di ruang redaksi lantai lima."

Kenji mengangguk lalu menoleh ke arah Anya.

"Kau tunggu di mobil saja bersama penjaga yang lain, kau butuh istirahat."

Anya menggelengkan kepalanya dengan keras.

"Tidak, aku ikut ke atas, aku mau melihat sendiri wajah Walikota itu hancur di televisi besok pagi," tolak Anya.

Kenji mendengus pelan mengetahui gadisnya ini sangat keras kepala.

"Baiklah, ayo kita selesaikan perang ini sekarang juga," ucap Kenji.

Mereka bertiga keluar dari mobil dan berjalan menuju lift rahasia di area parkir.

Ting.

Pintu lift terbuka saat mereka tiba di lantai lima.

Seorang pria paruh baya berkacamata langsung menyambut mereka dengan hormat.

"Tuan Muda Kenji, suatu kehormatan bisa menyambut Anda di sini," sapa direktur itu.

"Tidak perlu basa-basi, siapkan tim siaran langsungmu sekarang juga."

Kenji melempar tas anti air berisi dokumen itu ke atas meja kerja direktur.

Brak.

"Itu adalah bukti aliran dana suap Walikota dan klan Naga Hitam yang dicuci melalui proyek LunaraMode."

Direktur itu membuka tas dan melihat tumpukan dokumen tersebut dengan mata terbelalak.

"Ini adalah berita terbesar abad ini, Tuan Muda," ucapnya dengan suara bergetar karena antusias.

"Siarkan semuanya di berita utama pagi ini tanpa ada yang disensor sedikit pun."

"Saya mengerti, Tuan Muda, akan saya kerjakan detik ini juga."

Direktur itu langsung berlari keluar ruangan sambil membawa tas dokumen tersebut.

Kenji berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pusat kota.

Anya berjalan menyusul dan berdiri tepat di sebelahnya.

Lampu-lampu gedung pencakar langit terlihat berkelap-kelip di kejauhan menembus rintik hujan.

"Besok pagi, kota ini akan memiliki raja yang baru," ucap Kenji pelan tanpa menoleh.

Anya menatap wajah pria itu dari samping.

"Dan kau tidak perlu lagi bersembunyi di bawah tanah," balas Anya tersenyum.

Kenji menoleh dan menatap mata Anya dalam-dalam.

"Bukan hanya aku, tapi kita."

Kenji mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi Anya dengan lembut.

"Kau sudah membuktikan bahwa kau bukan sekadar tameng, kau adalah Ratu yang sesungguhnya."

Anya merasakan wajahnya kembali memanas mendapat pengakuan jujur dari pria berhati dingin ini.

"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk bertahan hidup," jawab Anya merendah.

"Tidak, kau melakukan lebih dari itu, kau menyelamatkanku berkali-kali."

Kenji memajukan wajahnya perlahan hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.

Anya refleks menutup matanya saat merasakan hembusan napas hangat pria itu di wajahnya.

Cup.

Kenji mencium bibir Anya dengan sangat lembut namun penuh dengan perasaan yang mendalam.

Ciuman itu bukan paksaan atau ancaman seperti pertemuan pertama mereka.

Itu adalah ciuman dari seorang pria yang telah menyerahkan seluruh hatinya pada seorang wanita.

Anya membalas ciuman itu dengan ragu-ragu pada awalnya, namun perlahan mulai terbawa suasana.

Tangannya secara otomatis melingkar di leher Kenji.

Mereka berdua larut dalam keheningan ruang redaksi itu seolah dunia hanya milik mereka berdua.

[Misi Utama Tahap Kedua Selesai: Dokumen berhasil diamankan dan disebarkan.]

[Status Reputasi Klan Bratadikara: Maksimal.]

Notifikasi sistem itu berkedip sesaat di sudut pikiran Anya sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.

Malam ini adalah malam terakhir mereka sebagai buronan.

Besok pagi, badai kehancuran Walikota akan menyapu bersih seluruh musuh mereka dari kota ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!