Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24 Demam malam hari
Leon kembali ke mansion larut malam setelah menyelesaikan bentrokan tajam dengan kubu musuh. Meski berusaha menyembunyikan kondisinya dari Luna, tubuhnya membakar karena demam tinggi akibat infeksi luka tembak yang sengaja ia abaikan demi menyelesaikan tugasnya.
Terdengar deru suara mobil Leon memasuki halaman rumah terlihat beberapa pengawal yang berjaga di depan mansion dengan segera membukakan pintu pagar mansion yang menjulang tinggi itu untuk Leon, Leon membawa masuk mobilnya dan memarkir mobil itu di garasi, Leon turun dari mobil dengan menahan rasa panas di sekujur tubuhnya. Dengan langkah terhuyung Leon berusaha masuk ke dalam mansion itu, Leon terus berjalan ke arah ruang kerjanya dan dengan sisa-sisa tenaganya dia masuk ke dalam kamar kerja dan akhirnya Dia pun jatuh tersungkur di atas sofa kamar kerja itu.
Luna yang tadi terbangun dan hendak keluar mengambil air ke dapur sempat melihat Leon yang berjalan dengan sempoyongan tadi menuju ke kamar kerjanya, merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Leon Luna pun akhirnya mengikuti Leon dan masuk juga ke dalam kamar kerja Leon tersebut.
Luna yang mendapati Leon terkapar lemas di sofa kamar kerja langsung bergerak cepat. Mengabaikan sikap kaku Leon yang sempat menolak dibantu, Luna dengan sigap mengambil kotak P3K, menyiapkan kompres air hangat, dan membimbing pria itu ke tempat tidur.
"Leon, kamu kenapa?" tanya Luna panik melihat Leon yang seperti kesakitan menahan sesuatu yang terjadi di tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa, pergilah biarkan aku sendiri," ucap Leon menyembunyikan yang sedang terjadi dari Luna.
"Tidak Leon, aku tahu kamu sedang sakit...," ucap Luna sambil terus mendekat pada Leon.
"Sudahlah Luna jangan bersikeras, aku tidak apa-apa aku bisa atasi ini sendiri," Leon tidak mau Luna tahu kondisinya saat ini.
Luna tidak menghiraukan ucapan Leon dengan segera Luna mencekal lengan Leon dan dia merasa sangat terkejut sekali "Leon tubuh kamu panas sekali...!" pekik Luna menatap Leon yang sudah lemas itu. Leon tidak bisa berkata apa-apa tubuhnya sangat lemas dan tak berdaya.
"Tunggu sebentar aku akan ambil kotak P3K dan air hangat untuk mengompres tubuh kamu," ucap Luna yang kemudian bergegas keluar dari kamar kerja Leon.
Luna kembali ke ruang kerja Leon dia merangkul pundak Leon kedalam pelukannya dan membimbing Leon berjalan menuju ke kamar utama yang tidak jauh dari ruang kerja Leon sesampainya di kamar utama Luna membaringkan tubuh Leon ke atas tempat tidur dan mulai mengompres kepala Leon dengan air hangat yang sudah dia siapkan tadi. Kemudian dia melihat ke lengan baju Leon yang tampak berdarah lalu dengan perlahan Luna membuka lengan baju itu dengan hati-hati, Luna mengambil kotak P3K yang sudah dia siapkan tadi lalu mengambil botol revanol untuk membersihkan luka di lengan Leon itu. Leon sedikit meringis kesakitan saat Luna menuangkan revanol itu ke sekitar lukanya dan setelah itu Luna menuangkan obat di kain kasa dan kemudian membungkus lengan Leon dengan kain kasa tersebut.
Sambil menahan sakit sekilas Leon sempat memperhatikan Luna yang dengan sabar dan telaten mengobati lukanya.
Di bawah temaram lampu kamar, Luna membersihkan luka di bahu Leon dengan penuh kehati-hatian. Sentuhan jemari Luna yang lembut dan napasnya yang teratur di dekat wajah Leon seketika meredakan ketegangan sang pimpinan mafia yang biasanya selalu dalam mode waspada.
Seketika Leon merasakan ketenangan dan mengabaikan luka yang menyakiti tubuhnya itu, Leon merasakan kedamaian yang tercipta saat dia berada di sisi Luna, Luna mampu mengusir ketegangan dan kebekuan hati Leon dia mampu membuat Leon meruntuhkan dinding es yang sudah lama bersarang dan mendarah daging di hatinya selama ini sejak kepergian Aleysa ibu kandung Emily.
Dalam kondisi setengah tidak sadar karena demam, Leon menarik tangan Luna dan menahannya di atas dadanya. Pria yang dikenal tanpa ampun itu memperlihatkan sisi paling rentan, menggenggam jemari Luna erat-erat seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
Luna terkejut saat Leon menarik tangannya dan menggenggam jemarinya dengan erat "Ada apa Leon? Kamu merasa ada yang sakit?" tanya Luna pada Leon yang masih menggenggam jemarinya itu.
Napas Leon terdengar berat dan tersengal. Wajah tegasnya yang biasa tanpa ekspresi kini tampak pucat, tersiram keringat dingin akibat demam tinggi yang membakar tubuhnya. Cengkeraman jemarinya di tangan Luna terasa begitu hangat, makin erat menahan telapak tangan wanita itu tepat di atas dadanya yang naik-turun kencang.
Luna menatap Leon dengan pancaran cemas, membiarkan tangannya ditahan "Ada apa, Leon? Kamu merasa ada yang sakit? Bagian mana yang terasa nyeri?"
Leon tidak langsung menjawab. Kelopak matanya terbuka perlahan, menyisakan tatapan sayu yang begitu rapuh sebuah pemandangan yang tak pernah dibayangkan Luna akan timbul dari sosok pimpinan mafia yang ditakuti semua orang.
Suara Leon serak dan berbisik kaku "Jangan..."
Luna menunduk sedikit agar bisa mendengar bisikan Leon "Jangan apa, Leon? Aku cuma mau ambil air hangat lagi untuk kompresmu"
Leon memotong pelan, jemarinya makin mengencang di jemari Luna seolah menahan sekuat tenaga "Jangan pergi... Tetap di sini, sayang."
Luna tertegun sejenak, dadanya mendadak berdesir hangat mendengar panggilannya "Aku tidak akan ke mana-mana. Aku di sini, Leon. Tapi kamu harus lepas sebentar, perban di bahumu harus diganti."
Leon mengeratkan genggamannya, menyandarkan pipinya yang terasa panas di punggung tangan Luna "Biarkan seperti ini sebentar saja... Kalau aku melepaskanmu, kamu akan hilang..."
Luna tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca melihat sisi rentan pria di hadapannya "Aku tidak akan hilang. Aku akan tetap di sisimu sampai demammu turun, Leon. Aku janji."
Luna menatap iba pada Leon sang mafia yang dia kira selama ini adalah orang yang kuat bertahan dalam segala situasi tapi malam ini sang mafia itupun runtuh menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya hingga membuat dia berubah menjadi manusia seperti umumnya, tanpa sadar Luna mengusap kepala Leon dengan tangan satunya dengan penuh perasaan.
Leon bisa merasakan sentuhan lembut tangan Luna meski dalam kondisi setengah sadar, sentuhan tangan Luna membuatnya merasa tenang dan Leon pun akhirnya tertidur sambil tetap menggenggam tangan Luna yang dia letakkan di atas dadanya.
Luna tidak bisa kemana-kemana sebab dia coba sedikit saja melepaskan genggaman tangan Leon pada tangannya seketika Leon tersentak dan langsung menggenggam tangan Luna lebih erat lagi meskipun mata Leon tetap tertutup. Dan rasa kantuk mulai menyerang Luna karena malam semakin larut dan hampir menjelang pagi sampai akhirnya Luna tertidur dengan kepalanya yang rebah ke kaki Leon yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur itu.
Sinar matahari pagi mulai menyeruak dari balik tirai kelambu yang menutupi jendela besar kamar utama itu, Perlahan Leon membuka matanya, badannya sudah tidak merasakan demam lagi dan rasa sakit akibat luka senjata tajam musuhnya itupun sedikit berkurang setelah semalam Luna mengobatinya.
Leon menoleh ke samping, dia melihat Luna yang tertidur di sisi ranjang dengan kepalanya yang rebah di atas kaki Leon, Leon mencoba untuk duduk sambil tetap menggenggam tangan Luna kemudian Leon memperhatikan Luna yang masih tertidur itu sambil mengusap rambut Luna yang hitam panjang tergerai itu dengan lembut "Maafkan aku kamu pasti capek semalam merawat aku," ucap Leon sambil mengusap lembut rambut panjang Luna. Luna membuka matanya dan melihat ke arah Leon "Kamu sudah bangun? bagiamana keadaanmu Leon? apa masih merasakan panas?" dengan wajah cemas Luna langsung menempelkan punggung tangannya ke kepala Leon.
Leon memegang tangan Luna sambil berkata padanya "Aku sudah tidak apa-apa, semua ini berkat kamu yang sudah merawat aku dengan baik semalam," ucap Leon tersenyum samar.
"Syukurlah kalau kamu sudah sembuh, aku lega sekarang karena aku sempat khawatir, semalam kamu tidak sadarkan diri cukup lama aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Luna lirih.
"Aku tidak apa-apa, sayang," Leon mengusap lembut pipi Luna sambil tersenyum dan Luna pun membalas dengan tersenyum juga pada Leon.