Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencarian yang Tak Berujung

Raka menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberaniannya yang tiba-tiba terasa berat. Ia melangkah satu langkah ke depan, namun berhenti, takut melangkah lebih jauh. Di hadapannya berdiri sosok pria yang tampak berusia sekitar lima puluh tahun, berpakaian rapi dan bersih, wajahnya tampan namun penuh kelelahan yang mendalam. Matanya menatap Raka dengan tatapan yang tidak marah, tidak mengancam hanya penuh kesedihan dan kerinduan yang tak terhingga.

"Siapa, Bapak?" tanyanya pelan, suaranya terdengar jelas di ruangan yang hening itu.

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Raka lama, seakan mengenalnya, seakan menilai niat hatinya. Lalu bibirnya bergerak pelan, suaranya lembut namun terdengar sampai ke hati.

"Kau datang," katanya pelan. "Kau datang ke rumah kami, ke tempat yang tidak boleh dikunjungi siapa pun. Dan sekarang... kau berada di antara kami. Di tempat yang bukan milik orang hidup, namun belum menjadi milik orang yang telah pergi sepenuhnya."

"Bapak... Pak Candra Wijaya?" tanya Raka perlahan, hati-hati.

Pria itu mengangguk pelan, senyum tipis yang penuh kesedihan muncul di bibirnya. "Benar. Itu nama yang dulu saya gunakan. Dulu, saat saya masih bisa melangkah keluar dari rumah ini, saat saya masih bisa melihat matahari terbit dan terbenam tanpa merasa terbelenggu. Tapi di sini... waktu tidak berjalan seperti di duniamu. Dan kami... kami tidak selalu bersama."

Raka mengerutkan kening, bingung. "Maksud Bapak?"

"Istriku, Isma... ia tidak ada di sini sekarang," kata Pak Candra pelan, matanya menatap ke arah pintu depan seakan melihat melampaui dinding tembok itu. "Ia terus mencari Ardita, putri kami. Ia pergi ke mana-mana, berjalan tanpa henti, memanggil nama putri kami. Bahkan sampai ke rumah Bu Wiyati, rumah yang masih berdiri di kawasan ini. Ia berharap Ardita ada di sana, berharap putrinya tersesat dan menunggu di tempat yang pernah ia kenal. Tapi ia tidak pernah menemukan apa yang ia cari. Dan ia tidak pernah kembali ke sini untuk tinggal. Kami terpisah meskipun kami berada di tempat yang sama, kami tidak bisa benar-benar bersama."

"Dan Arlan, putra Bapak?" tanya Raka pelan.

"Dia berjalan di bagian lain rumah ini, di lorong yang tidak bisa kau lihat," jawab Pak Candra. "Kami satu keluarga, tapi tempat ini memisahkan kami. Sejak kami melanggar batas, sejak kami membangun rumah kedelapan... kami dihukum untuk terus mencari satu sama lain tanpa pernah benar-benar bisa bersatu kembali."

Raka merasakan dada sesak mendengar penjelasan itu. Bukan sekadar terperangkap mereka terpisah satu sama lain, terus berjalan, terus mencari, terus merindukan, namun tak pernah bisa berkumpul kembali seperti keluarga yang utuh.

"Aku bisa membantu Bapak menemukan mereka," kata Raka tiba-tiba, hatinya bergetar oleh rasa iba yang begitu kuat. "Aku bisa membawa kalian bersama. Lalu kita bisa pulang — semuanya sekaligus."

Pak Candra menggeleng pelan, senyum tipis yang penuh kesedihan semakin dalam. "Kebaikan hatimu itu mulia, Nak. Terima kasih karena kau ingin membantu kami. Tapi tidak ada yang bisa menyatukan kami lagi, dan tidak ada yang bisa membawa kami pulang. Kami sudah tidak punya tempat untuk pulang. Rumah ini bukan sekadar bangunan bagi kami. Rumah ini sudah menjadi bagian dari diri kami, dan kami pun sudah menjadi bagian darinya."

"Tidak mungkin," Raka mencoba membantah, suaranya bergetar. "Pasti ada caranya. Di mana Bapak bisa menemukan Bu Isma sekarang?"

Pak Candra menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Jika kau benar-benar ingin bertemu dengannya... pergilah ke arah jalan setapak yang menuju ke rumah Bu Wiyati. Di sana, di batas antara rumah kami dan rumah mereka, kau akan menemukannya. Tapi berhati-hatilah jangan ikutnya pergi terlalu jauh, atau kau pun akan tersesat di tempat yang tidak punya jalan pulang."

Cahaya keperakan di sekitar Pak Candra perlahan memudar, seakan ia perlahan menghilang dari pandangan. "Pergilah. Dan ingat waktu di sini tidak sama dengan di duniamu. Setiap detik yang kau habiskan di sini... semakin sulit bagimu untuk kembali."

Raka tidak menunggu lagi. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang tamu itu, melangkah melewati pintu depan yang seakan terbuka sendiri untuknya. Di luar, jalan setapak yang biasa ia lalui kini terlihat berbeda kabut tipis melayang rendah di tanah, pepohonan di sisi jalan berdiri diam seakan penjaga yang tak bergerak. Namun bukan suasana yang menakutkan justru penuh kesedihan yang sunyi.

Di ujung jalan setapak itu, di dekat pagar rumah Bu Wiyati, berdiri sesosok wanita. Ia berjalan pelan mondar-mandir, sesekali berhenti dan memanggil nama dengan suara yang lembut namun penuh keputusasaan.

"Ardita... Nak... di mana kau..."

Suaranya pelan, namun terdengar jelas di keheningan itu. Raka berjalan mendekatinya perlahan, takut mengejutkannya. Wanita itu — Bu Isma berbalik saat mendengar langkah kakinya. Matanya yang semula kosong perlahan berfokus pada Raka.

"Kau... kau melihatnya?" tanyanya dengan penuh harap, melangkah mendekat. "Kau melihat putriku, Ardita? Ia gadis yang cantik, berambut panjang... ia sering duduk di beranda rumah Bu Wiyati... apakah kau melihatnya?"

"Bu Isma..." panggil Raka pelan.

Wanita itu berhenti, menatapnya dengan tatapan bingung namun lembut. "Kau tahu namaku... Siapa kau? Apakah kau membawakan kabar tentang putriku?"

"Saya Raka, Bu," jawabnya pelan. "Saya bertemu dengan Pak Candra. Beliau menyuruh saya ke sini."

Mata Bu Isma berkaca-kaca, namun air matanya tidak jatuh melainkan melayang di udara sebentar sebelum perlahan lenyap. "Candra... suamiku. Apakah dia baik-baik saja? Saya ingin pulang ke rumah, tapi saya tidak bisa berhenti mencari Ardita. Saya takut jika saya berhenti, dia akan sendirian di luar sana, sendirian di tempat yang tidak ia kenal."

"Pak Candra baik, Bu," kata Raka lembut. "Beliau menunggu di rumah. Dan saya... saya ingin membawa kalian pulang. Semuanya — Bapak, Ibu, Arlan, dan Ardita. Saya ingin membantu kalian keluar dari sini."

Bu Isma tersenyum tipis, senyum yang penuh kelembutan namun juga penuh kepahitan yang tak terhingga. "Kau anak yang baik... terima kasih. Tapi kau tidak mengerti. Saya tidak bisa berhenti mencari. Dan meskipun saya menemukannya... kami tidak bisa pergi. Tempat ini mengikat kami setiap langkah yang kami ambil, setiap jarak yang kami tempuh, semuanya kembali ke tempat yang sama. Kami berputar di tempat yang sama, berulang-ulang, tanpa pernah benar-benar bisa pergi."

"Tapi saya bisa membantu Ibu mencari Ardita dulu," kata Raka dengan tulus. "Kita cari bersama, lalu kita kembali ke rumah untuk menjemput Pak Candra dan Arlan, lalu kita pergi semuanya sekaligus."

Bu Isma menatapnya lama, seakan menimbang kata-katanya. Lalu ia menggeleng pelan. "Ardita... ia tidak berada di tempat yang bisa kau temukan dengan mudah. Ia berada di bagian lain dari rumah itu, di tempat yang lebih gelap, di tempat di mana cahayanya hampir hilang. Dan Arlan... ia menjaga jalan keluar yang sudah lama tertutup. Ia berharap suatu hari bisa membukanya, tapi ia takut jika ia membukanya, sesuatu yang lain akan keluar bersama kami."

"Ibu..." Raka ingin berkata sesuatu lagi, namun kata-katanya terasa berat di lidah. Ia merasakan keputusasaan yang begitu dalam dari wanita di hadapannya bukan keputusasaan karena takut mati, melainkan keputusasaan karena tidak bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang dicintainya.

"Kau harus pergi sekarang," kata Bu Isma pelan, tangannya yang tidak bisa disentuh melayang sebentar di dekat bahu Raka, seakan ingin menyentuh namun tahu ia tidak bisa. "Sebelum kau terjebak di sini bersama kami. Dan jika kau benar-benar ingin membantu... carilah Ardita. Katakan padanya bahwa ibunya terus mencarinya. Katakan padanya bahwa aku tidak pernah berhenti merindukannya. Itu saja yang bisa kau lakukan untuk kami."

"Bu Isma..."

"Pergilah," ulangnya lembut namun tegas. "Dan terima kasih... terima kasih karena mendengarkan kami."

Cahaya di sekitar Bu Isma perlahan memudar, dan sosoknya perlahan berbalik, kembali berjalan pelan menyusuri jalan setapak itu, memanggil nama putrinya dengan suara yang semakin lama semakin jauh namun tak pernah benar-benar hilang.

Raka berdiri sendirian di sana, di batas antara rumah kedelapan dan rumah Bu Wiyati. Ia tahu ia belum bertemu Arlan dan Ardita. Ia belum mendengar cerita mereka. Dan janji untuk membawa mereka pulang... kini terasa semakin jauh, semakin mustahil. Namun ia tidak bisa pergi begitu saja. Setidaknya ia harus menemukan Ardita, harus menyampaikan pesan ibunya, sebelum ia kembali ke dunianya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!