Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: BADAI DI PELABUHAN UTARA

Brakkk!

Pintu besi besar Gudang Nomor 4 hancur berkeping-keping.

Bukan didobrak. Dihantam.

Bumper depan sebuah mobil SUV hitam lapis baja Maybach menghantam engsel pintu itu dengan kecepatan 80 km/jam tanpa rem. Baut-baut sebesar paku jempol kaki beterbangan seperti peluru. Asap hitam mengepul tebal diiringi deru mesin V8 yang meraung memekakkan telinga, memecah kesunyian malam yang beku di Pelabuhan Utara.

Alarm pelabuhan yang sudah berkarat meraung terlambat.

Dua anak buah Vane yang tadinya asyik menenggak bir langsung tersentak kaget, menjatuhkan botolnya. Pecah berantakan.

Sebelum mereka sempat mencabut pistol rakitan dari balik pinggang, pintu mobil terbuka dari empat sisi secara bersamaan.

Shen Mo melangkah keluar.

Sosoknya tampak seperti malaikat maut yang baru keluar dari neraka terdalam. Mantel panjang hitamnya berkibar tertiup angin malam yang membawa bau laut. Rambutnya sedikit berantakan karena ia menyetir seperti orang gila dari Crown Tower. Tapi tatapan matanya... tatapan matanya yang tajam memancarkan aura membunuh yang membuat suhu di dalam gudang yang sudah dingin terasa drop sepuluh derajat lagi seketika.

Di belakangnya, selusin pengawal elit Crown Tower bersenjata lengkap, dengan rompi anti peluru dan senapan serbu, langsung menyebar. Gerakan mereka senyap, profesional, mengepung ruangan dalam hitungan tiga detik. Laras senjata mengunci dua target.

"S-Shen Mo?!" Si parut di pipi menjatuhkan botol birnya. Wajahnya yang tadi sok jagoan langsung pucat pasi seperti mayat. Lututnya langsung lemas seketika. Rokok di mulutnya jatuh.

Bos mereka, Vane, bilang Shen Mo tidak akan menemukan tempat ini sampai besok pagi. Vane bohong.

"Kalian..." Suara Shen Mo terdengar rendah, nyaris seperti berbisik, namun setiap orang di gudang itu bisa mendengar jelas gemanya yang mematikan. Sarat dengan kemarahan yang tertahan dan siap meledak menjadi pembantaian. "...berani menyentuhnya?"

Belum sempat si brewokan botak mengangkat kedua tangan untuk memohon ampun dengan air mata,

Dor!

Sebuah tembakan presisi teredam dari laras senapan jarak jauh pengawal Shen Mo melumpuhkan bahunya. Tidak mematikan. Tepat di sendi bahu. Membuat lengannya lumpuh total.

"ARGHHH!"

Pria itu tersungkur sambil menjerit kesakitan, berguling-guling di lantai semen yang penuh oli.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, tanpa perlu perintah kedua, kedua penjaga itu sudah terikat dengan kabel ties baja di atas lantai semen dengan posisi tertelungkup, wajah mereka dibenamkan ke genangan oli.

Shen Mo tidak membuang waktu melirik mereka. Sampah seperti itu akan diurus nanti. Ada yang lebih penting.

Langkah kakinya yang lebar dan cepat langsung membidik ke tengah ruangan, tempat satu-satunya sumber cahaya bohlam kuning itu menyorot: Luo Chen terikat di kursi kayu tua yang hampir roboh.

Begitu sampai di dekat bocah itu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, napas Shen Mo tercekat.

Chen terkulai lemas dengan kepala tertunduk ke depan. Rambutnya basah oleh keringat dingin. Bibirnya yang biasanya merekah kini membiru keunguan. Kulit wajahnya pucat pasi tertutup lapisan keringat dingin yang mengkilap. Nafasnya pendek-pendek, hampir tidak terlihat. Tubuhnya masih menggigil, tapi gigilannya sudah melemah — tanda hipotermia stadium dua.

"Chen!"

Shen Mo berlutut tanpa peduli lantai kotor penuh oli dan karat akan mengotori celana jas mahalnya seharga mobil. Dengan gerakan cepat namun tangannya sedikit gemetar — tangan yang bahkan tidak gemetar saat membunuh — ia merobek tali tambang yang melilit tubuh kecil itu menggunakan pisau lipat taktisnya.

_Srett... Srett..._

Tali tambang kasar itu putus. Bekasnya meninggalkan luka lecet melingkar merah kehitaman di pergelangan tangan Chen yang kecil.

Begitu tali terakhir terlepas, tubuh Chen yang sudah tidak punya tenaga lagi ambruk ke depan seperti boneka kain.

Shen Mo langsung menangkapnya. Mendekap tubuh dingin itu erat-erat ke dadanya. Dada bidangnya yang hangat langsung menjadi selimut.

Panas tubuh bocah itu terasa timpang. Dingin menusuk tulang. Shen Mo bisa merasakan tulang rusuk Chen yang menonjol karena ia terlalu kurus, dan jantungnya yang berdetak terlalu cepat karena kedinginan.

Ia melepas mantel panjangnya dan membungkus Chen rapat-rapat dalam sekejap, menggosok-gosok punggung kecil itu dengan telapak tangannya yang besar untuk mengembalikan sirkulasi darah.

Chen mengerjap pelan, membuka matanya yang sayu setengah inci. Pandangannya kabur. Tapi aroma parfum maskulin bercampur wangi tembakau tipis khas Shen Mo langsung menyelimuti indranya. Aroma yang selama ini ia hafal sebagai "rumah". Di tengah kabut kesadarannya yang hampir hilang, Chen mendongakkan sedikit kepalanya, menatap rahang Shen Mo yang mengeras menahan amarah dan... panik.

"Kamu... telat dua belas menit..." bisik Chen dengan suara serak nyaris tak terdengar, hampir seperti desahan napas. Ia memaksakan sebuah cengiran tipis di bibirnya yang pecah-pecah dan berdarah. "...dari kalkulasiku. Aku hitung... kau butuh... sebelas menit."

Shen Mo merasakan hantaman keras di dadanya. Bukan peluru. Sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya sebagai penguasa mafia Yucheng yang tidak punya hati: rasa bersalah. Rasa takut kehilangan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah mafia Yucheng, sang penguasa mutlak yang ditakuti semua orang, kehilangan kata-kata di hadapan seorang anak berusia empat belas tahun yang sekarat kedinginan di pelukannya.

"Jangan bicara bodoh," suara Shen Mo akhirnya keluar, serak dan sedikit bergetar, sangat pelan hingga hanya Chen yang bisa dengar. Tangannya mengusap pelipis Chen yang berdarah dengan ibu jarinya. "Kau demam. Hipotermia. Diam."

Shen Mo mengeratkan dekapannya, lalu mengangkat tubuh ringan itu dalam gendongannya dengan satu gerakan. Gendongan bridal style. Seolah Chen tidak lebih berat dari sebuah buku.

"Diam dan simpan tenagamu, Bocah," ucap Shen Mo dengan suara yang sedikit bergetar, berjalan cepat menerobos kerumunan pengawalnya yang langsung membuka jalan menuju mobil yang masih menyala. Asap masih mengepul dari kap mesin. "Aku yang akan selesaikan sisanya. Vane akan membayar ini seratus kali lipat."

Chen tidak menjawab lagi. Ia menyandarkan kepalanya yang berat di dada Shen Mo, mendengarkan detak jantung pria itu yang keras dan cepat. Untuk pertama kalinya dalam tiga belas jam, ia merasa hangat.

Matanya terpejam.

Di belakang mereka, salah satu pengawal berbisik ke radio, "Siapkan tim medis di Crown Tower. Dan panggil Dokter Lin. Segera. Tuan kecil hipotermia."

Mobil SUV hitam itu meraung lagi, meninggalkan Gudang Nomor 4 yang hancur, membawa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!