Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta suntikan dana
"Sebenarnya Papa mau ngomong apa, sih?" tanya Devan. Nada suaranya dingin, langsung to the point.
Fandi menghela napas seraya berdehem tegang. "Ini soal pekerjaan. Perusahaan Papa lagi ada masalah keuangan serius karena produk baru yang kemarin diluncurkan ternyata gagal total dan enggak laku di pasaran." aku Fandi.
"Langsung ke intinya aja, Pa. Jangan bertele-tele." potong Devan tajam, tak ingin membuang waktu.
Raka yang duduk di sebelah Fandi langsung menyambar dengan nada tak sabaran. "Intinya Papa mau minta Kak Devan kasih suntikan dana segar ke perusahaan kita. Kondisi keuangan sekarang benar-benar kacau parah!"
"Betul, Dev. Cuma kamu satu-satunya harapan Papa. Papa udah usaha pinjam uang ke sana-sini, cari investor baru juga, tapi semuanya gagal total." tambah Fandi dengan wajah memelas.
Mendengar permintaan konyol itu, Devan cuma bisa menghembuskan napas kasar. Dadanya bergemuruh menahan kekecewaan. Sejak awal, ia memang sudah bertekad tidak ingin ikut campur sedikit pun dengan bisnis sang ayah. Apalagi jika harus mengucurkan dana dalam jumlah fantastis hanya demi menyelamatkan perusahaan itu.
Bukan tanpa alasan. Perusahaan itu dulunya dirintis dari nol oleh kedua orang tuanya dengan penuh kerja keras. Tapi begitu sukses dan berjaya, dengan teganya sang Papa malah membawa orang luar masuk untuk menikmati seluruh hasilnya. Devan benar-benar tidak rela. Apalagi melihat ibu tiri dan saudara tirinya bertingkah makin tamak, seolah merasa paling berhak menguasai seluruh harta kekayaan ayahnya.
"Kalau untuk urusan itu, Devan enggak bisa." jawab Devan tegas, tanpa ragu sedikit pun.
Sontak saja, penolakan mentah-mentah dari Devan membuat Fandi dan Raka meradang kecewa.
"Apa?! Kenapa enggak bisa?!" sergah Raka mulai menunjukkan taring aslinya. "Aku lihat perusahaan yang Kak Devan kelola makin maju pesat! Masa cuma buat bantu perusahaan Papa sendiri aja enggak bisa? Ini perusahaan Papa lho, Kak!"
*Iya, itu memang perusahaan Papaku. Tapi kalian semua yang enak-enakan menikmati hasilnya! Aku sendiri bahkan enggak pernah tahu berapa keuntungannya, apalagi merasakan sepeser pun hasilnya sejak Mamaku meninggal.* gumam Devan dalam hati dengan senyum sinis yang tersembunyi.
Seandainya saja Devan menyuarakan isi hatinya secara langsung, dipastikan ruang tamu itu akan mendadak jadi medan perang.
"Papa mohon, Dev. Tolong bantu suntikan dana ke perusahaan Papa. Enggak banyak, kok! Paling cuma butuh sekitar 50 miliar." ujar Fandi tanpa beban.
*Uhuk!* Aira hampir saja tersedak air liurnya sendiri saat mendengar nominal yang diucapkan ayah mertuanya itu.
*Hah?! 'Cuma' 50 miliar?! Gila aja, santai banget ngomongnya!* batin Aira melotot dalam hati.
"Cuma 50 miliar pasti angka kecil buat Kak Devan. Secara, perusahaan yang Kakak pegang kan raksasa." timpal Raka dengan senyum sok akrab yang terkesan sangat enteng.
Aira yang menyimak perdebatan antara ayah dan anak itu mendadak merasa kepalanya makin pening. Awalnya Aira mengira perusahaan yang dipegang suaminya adalah murni milik keluarga mertuanya. Namun, ia tidak pernah tahu kalau perusahaan yang dipimpin Devan sebenarnya adalah milik keluarga almarhumah ibunya, yaitu keluarga besar Kusuma.
Sementara perusahaan yang dipegang Fandi saat ini justru hasil keringat Fandi bersama istri pertamanya dulu yang kini malah dinikmati oleh istri muda dan anak tirinya tanpa perlu bersusah payah. Di balik kesuksesan awal perusahaan Fandi, ada andil besar almarhumah ibu Devan yang menyuntikkan modal utama. Fandi yang dulunya berasal dari keluarga biasa beruntung bisa menikahi wanita kaya raya.
"Devan tetap enggak bisa, Pa. Di perusahaan itu Devan memang mengelola seluruh operasinya, tapi Devan enggak punya wewenang buat ambil uang sebesar itu seenaknya. Perusahaan itu secara sah masih milik Nenek." kilah Devan beralasan.
Padahal jujur saja, Devan punya kuasa penuh untuk melakukan apa pun di perusahaan tersebut. Jangankan cuma 50 miliar, mengambil dana triliunan pun bukan hal sulit baginya. Tapi hati Devan sudah terlanjur membeku karena kecewa pada sikap ayahnya yang sangat tidak adil. Raka itu hanyalah anak tiri, dan Arum cuma istri kedua yang sama sekali tak punya hak atas aset perusahaannya. Devan jauh lebih rela melihat perusahaan itu hancur berkeping-keping daripada harus bangkit tapi ujung-ujungnya dikuasai oleh saudara tirinya.
"Semuanya tetap butuh persetujuan resmi dari Oma Maria." lanjut Devan tenang namun mematikan.
"Hah? Masa iya apa-apa harus minta izin Oma dulu? Bukannya beliau udah tua banget? Kenapa enggak dipercayakan penuh aja sama Kamu?!" seru Raka dengan nada tak percaya sekaligus sewot.
"Pada kenyataannya memang begitu aturannya." balas Devan datar.
"Tolonglah, Dev. Yakinkan Oma kamu supaya mau mengucurkan bantuan dana buat perusahaan Papa." pinta Fandi makin mendesak.
"Ya sudah, nanti Devan coba bicarakan sama Oma. Tapi Devan enggak bisa janji apa-apa." ujar Devan. "Papa tahu sendiri kan gimana keras kepalanya Oma kalau udah punya pendirian?"
"Iya, Papa tahu... Atau kalau perlu, nanti Papa sendiri yang bakal langsung datang menemui Oma kamu buat minta bantuan." sahut Fandi pasrah.
Mendengar niat sang Papa, jemari Devan langsung mengepal kuat di samping tubuhnya.
*Sialan, aku harus bicara sama Oma duluan sebelum Papa meracuni pikirannya.* batin Devan gusar.
"Oh iya, malam ini kalian menginap di sini, kan?" tanya Fandi mengalihkan pembicaraan.
"Maaf, Pa, enggak bisa. Habis ini Devan sama Aira mau langsung ke rumah mertua. Papa mertua baru aja keluar dari rumah sakit pagi tadi, jadi kami mau langsung menjenguk." jawab Devan beralasan. Kali ini Devan tidak berbohong, karena Pak Bambang memang baru saja diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Jadi Papamu sempat dirawat di rumah sakit, Aira?" tanya Fandi beralih menatap Aira.
"I... iya, Om. Baru aja pulang tadi pagi." jawab Aira agak gugup. Ia memang tak banyak bicara dari tadi karena takut salah ucap.
"Kok panggil Om, sih? Panggil Papa dong, sama kayak Devan." tegur Fandi tersenyum tipis.
"Eh, maaf... maksud saya Papa." ralat Aira cepat-cepat sambil tersenyum canggung.
"Kapan-kapan kamu harus kenalin keluarga kamu ke Papa, ya. Masa iya Papa enggak kenal sama besan sendiri" tutur Fandi santai.
Mendengar hal itu, jantung Aira langsung berdegup kencang ketar-ketir. Pikirannya membayangkan tabiat keluarganya yang suka nyablak dan asal ceplos terutama Bu Ismi, Karin, dan Siska. Aira sangat takut kalau sampai keluarganya dipandang sebelah mata atau diremehkan oleh Arum yang kelihatan begitu sombong dan angkuh.
"Kalau soal itu nanti bisa diatur, Pa." sela Devan menengahi ketegangan istrinya. "Ya sudah, kalau begitu Devan sama Aira pamit pulang dulu."
"Ya sudah, kalian berdua hati-hati di jalan."
Devan langsung menyalami tangan ayahnya, yang kemudian diikuti oleh Aira dengan patuh. Fandi ikut berjalan mengantarkan anak dan menantunya sampai ke pintu depan.
"Loh, kalian mau langsung pulang? Enggak menginap di sini?" tanya Arum heran begitu melihat Devan dan Aira hendak beranjak.
"Enggak, Tante. Devan mau langsung pulang karena masih ada urusan." jawab Devan dingin.
Mendengar itu, Arum bergegas menyenggol lengan Anggun dengan cepat, memberi isyarat agar gadis itu segera menjalankan aksinya.
"Ah... kalau begitu Anggun juga sekalian mau pamit pulang ya, Tante. Udah makin malam juga." potong Anggun buru-buru dengan senyum manis yang dipaksakan.
"Loh, kamu mau pulang sekarang, Sayang?" tanya Arum pura-pura manis. "Ya sudah, kebetulan banget. Kamu bareng Devan saja. Tadi kamu ke sini naik taksi, kan?" lanjut Arum santai.
Aira yang mendengar itu langsung dongkol. Lagipula, Anggun bisa pulang naik taksi lagi seperti saat datang. Kenapa harus pakai acara nebeng sama suaminya segala?
"Memangnya Mas Devan mau nganterin Anggun?" celoteh Anggun dengan nada sok polos.
"Pasti mau, lah! Iya kan, Dev? Lagian ini sudah malam. Bahaya banget kalau cewek secantik Anggun harus pulang sendirian." sahut Arum makin menjadi-jadi.
"Aku nggak bisa." potong Devan dingin. "Lagian kenapa harus aku yang nganterin Anggun? Habis ini aku ada urusan penting. Kalau memang nggak berani pulang malam, kenapa sehabis makan tadi nggak langsung pulang saja?" tolak Devan terang-terangan tanpa niat menjaga perasaan siapa pun.
Aira langsung bernapas lega mendengar jawaban tegas suaminya. *Puas banget! Syukurlah Mas Devan nggak mau. Tapi lagian heran deh, kenapa Tante Arum kelihatan ngebet banget mau mendekatkan suamiku sama Anggun? Padahal dia tahu betul Mas Devan sudah punya istri!* gerutu Aira dalam hati.
Di sisi lain, Anggun meradang. Dadanya sesak menahan kesal karena Devan menolaknya mentah-mentah tanpa rasa sungkan sedikit pun.
"Tuh kan, Tante... Devan-nya saja nggak mau." rengek Anggun sambil memasang wajah sok sedih yang dibuat-buat.
"Ya ampun, Dev! Kamu kok tega banget sih sama Anggun? Memangnya apa salahnya nganterin Anggun sebentar sebelum pulang?" celetuk Arum dengan nada menyudutkan.
Devan menatap Arum datar. "Kenapa nggak suruh Raka saja yang antar? Dari tadi aku lihat dia cuma nganggur. Bukannya malah bagus kalau Raka yang antar? Mereka bisa makin dekat. Siapa tahu emang jodoh, lagian bukannya tadi Tante bilang sendiri kalau Anggun ini menantu idaman Tante?"
Perkataan Devan yang kelewat menohok itu seketika membuat Arum dan Anggun melotot tak percaya. Kalau saja Arum tidak punya niat terselubung pada Devan, mungkin mulut lancang Devan itu sudah ditamparnya sejak tadi.
"Ya ampun, Devan! Jaga bicara kamu! Tante Arum ini Ibu kamu, loh. Kamu nggak takut apa omonganmu menyakiti hati Ibu kamu sendiri?" tegur Anggun, berlagak membela.
"Sudahlah, Nggun. Tante sudah biasa diginiin." potong Arum sambil mengelus dada, pura-pura tegar.
Fandi yang tak terima istrinya seperti ditelanjangi di depan umum ikut angkat suara. "Devan, bicara yang sopan sama Ibu kamu!" tegurnya keras karena merasa istrinya tidak dihargai oleh anak kandungnya sendiri.
"Tahu nih. Jadi kakak bukannya kasih contoh yang baik." timpal Raka ikut-ikutan menyindir.
Devan malas melayani drama tak bermutu itu. Tanpa membuang kata-kata lagi, ia langsung menggenggam erat tangan istrinya. "Sudah, ayo Sayang, kita pulang." ucapnya lembut pada Aira lalu menariknya pergi dari tempat itu.
"Ih, menyebalkan banget sih dia! Padahal tadi Mama bicara baik-baik. Makanya Papa harusnya lebih keras sedikit sama Devan biar dia nggak kurang ajar sama Mama!" omel Arum penuh kekesalan.
Fandi menghela napas berat. "Masalahnya Papa lagi butuh bantuan dia, Ma. Kalau Papa terlalu keras, nanti dia malah makin menolak bantu Papa. Mama tolong ngerti dong!"
"Terus Anggun bagaimana, Tante?" rengek Anggun manja, menghentakkan kaki karena rencananya pulang bareng Devan berantakan total.
"Ya sudah, kamu terpaksa diantar Raka saja, ya. Raka, tolong antarkan Anggun pulang." suruh Arum.
Kalau kemarin-kemarin, Raka mungkin akan dengan senang hati mengantar Anggun. Tapi setelah melihat istri kakak tirinya ternyata jauh lebih cantik dan memikat dibanding Anggun, Raka jadi hilang rasa. Bagi Raka, Anggun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Aira. Raka tidak mau kalah dari Devan, termasuk dalam urusan memilih wanita.
"Loh, kok jadi Raka sih, Ma?" protes Raka malas-malasan.
"Ya mau bagaimana lagi? Devan kan nggak mau!" balas Arum sewot.
Dengan wajah cemberut dan setengah hati, akhirnya Raka terpaksa mengantarkan Anggun pulang.
**Bersambung.**