Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pagi itu, kantor pusat perusahaan tempat Askar bekerja tampak lebih sibuk dari biasanya. Suara telepon berdering, ketikan keyboard yang berirama, dan langkah kaki karyawan yang terburu-buru memenuhi lantai lantai sepuluh gedung pencakar langit itu. Askar duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap tumpukan berkas di depannya. Ia baru saja selesai rapat tiga jam yang melelahkan, dan pikirannya masih terbagi antara target proyek yang harus dicapai dan suasana dingin yang mulai terasa di rumah belakangan ini.
Pintu ruang kerjanya terbuka pelan. Seorang wanita masuk, berjalan tegap namun anggun, menenteng map berwarna biru tua di tangan kanannya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna krem yang menonjolkan sosoknya yang ramping, rambut hitam panjangnya terurai rapi, dan senyum yang terukir sempurna di bibirnya. Itu Rara, sekretaris baru yang mulai bekerja di sana sejak beberapa minggu lalu.
"Permisi, Pak Askar," sapa Rara lembut namun tegas, meletakkan map itu di sudut meja. "Ini laporan keuangan bulan lalu yang sudah dimintai direktur. DIA minta ditandatangani sebelum jam dua siang."
Askar mendongak, menatap wanita itu sejenak. Ada rasa asing sekaligus akrab yang bercampur aduk di hatinya. "Terima kasih, Rara. Silakan duduk sebentar. aku mau bicara sebentar kalau kamu ada waktu."
Rara menarik kursi, duduk dengan sopan namun tetap tenang. "Tentu saja, Pak. Ada apa ya?"
Askar meletakkan pulpennya, menyandarkan punggung ke kursi empuknya.
"nggak perlu terlalu formal di antara kita. Lagipula... kita kan sudah saling kenal sejak lama,?"
Senyum Rara melebar, matanya berbinar. "Jadi Pak Askar masih ingat ya? Saya kira sudah dilupakan, apalagi sudah bertahun-tahun berlalu sejak kita lulus."
"Bagaimana mungkin aku lupa?" jawab Askar pelan, tatapannya sedikit melayang seolah teringat masa lalu. "kita satu angkatan Bahkan... dulu kita sempat dekat, iyakan?"
Wajah Rara sedikit memerah, namun ia tak menunduk. Ia justru menatap lurus ke mata Askar. "Itu sudah lama sekali, Mas. Dulu kita masih muda, masih banyak mimpi yang belum terwujud. Dan takdir berkata lain. Kamu menikah, dan aku pergi ke luar kota untuk melanjutkan studi."
"Mungkin saja takdir memang ingin kita bertemu lagi," ujar Askar pelan, hampir berbisik. "Kamu tau, saat aku lihat namamu di daftar pelamar, aku sempat ragu untuk menerimamu. Tapi setelah melihat kemampuanmu... aku nggak nyesal. Kamu sangat pintar, Rara. Lebih dari yang kukira."
"Terima kasih, Mas. Itu pujian yang sangat berarti buatku," jawab Rara tulus. "aku akan bekerja sebaik mungkin bukan hanya karena ini pekerjaan, tapi karena saya ingin membuktikan bahwa kepercayaan yang kamu berikan tidak sia-sia. Dan... jujur saja, saya senang bisa bekerja di dekatmu lagi."
Askar terdiam sejenak, merasakan sesuatu yang asing menjalar di dadanya. Ia teringat Miska di rumah — wanita yang selalu sabar, selalu menurut, selalu ada untuknya. Namun belakangan ini, setiap kali ia pulang, suasana rumah terasa berat. Ada keheningan yang tak biasa, ada tatapan yang seolah ingin berkata sesuatu namun tertahan. Sedangkan di sini, bersama Rara, segalanya terasa mudah. Terasa ringan. Terasa dimengerti.
"Rara," panggil Askar pelan. "Boleh aku tanya sesuatu yang mungkin di luar lingkup pekerjaan kita?"
"Tentu saja, Mas. Silakan."
"Kamu... bagaimana pendapatmu tentang seorang pria yang merasa terjebak dalam keadaan yang tak sesuai harapannya?" tanya Askar, suaranya rendah.
"Yang merasa istrinya tak pernah benar-benar memahaminya, dan ibunya selalu membenarkan segala hal yang dilakukan istrinya, padahal kenyataannya tidak demikian?"
Rara menunduk sejenak, seolah berpikir hati-hati sebelum menjawab. Lalu ia menatap kembali ke arah Askar dengan tatapan penuh pengertian.
"Mas, menurut saya, setiap orang itu punya cara pandang yang berbeda. Ibumu pasti punya alasan tersendiri, begitu juga istrimu. Tapi yang paling penting adalah dirimu sendiri. Apakah kamu merasa bahagia? Apakah kamu merasa dihargai dan dimengerti di rumahmu?"
Askar menghela napas panjang. "Entahlah. Dulu aku pikir aku bahagia. Miska itu wanita yang baik, sabar, rajin. Tapi belakangan ini... dia sering sekali mengeluh. Selalu ada yang tidak puas. Dan dia selalu menuduh ibuku bersikap buruk padanya. Padahal setiap kali aku ada di rumah, ibuku sangat baik padanya. Aku jadi bingung siapa yang sebenarnya jujur dan siapa yang berbohong."
Rara mengangguk pelan, seolah memahami sepenuhnya. "Itu wajar kalau kamu bingung Mas. Tapi coba kamu berpikir dari sudut pandang lain. Kalau istrimu terus-terusan mengeluh, mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Tapi di sisi lain, kalau ibumu selalu bersikap baik di depanmu, bisa jadi itu cara beliau untuk menjaga keharmonisan rumah tanggamu. Atau... bisa juga sebaliknya."
"Maksudmu?"
"Bisa saja istrimu memang merasa tidak nyaman, tapi ibumu sengaja bersikap lain saat kamu ada," jawab Rara pelan namun tegas. "Tapi tentu saja, itu hanya dugaan saya. Yang paling tahu kebenarannya hanya mereka berdua."
Askar terdiam. Kata-kata itu terasa tepat sasaran, namun di saat yang sama, ia merasa tak ingin mempercayainya. "Tapi ibuku adalah wanita yang paling tulus yang aku kenal. Dia tak mungkin berpura-pura begitu."
"Saya tidak mengatakan Ibu mas berpura-pura," ujar Rara lembut. "Saya hanya mengatakan bahwa setiap orang bisa saja punya sisi lain yang tidak terlihat oleh orang lain. Termasuk istrimu. Mungkin dia memang merasa tersakiti, dan kamu tidak menyadarinya. Tapi... kembali lagi padamu, Mas. Yang paling penting adalah perasaanmu sendiri. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu berhak untuk berbicara jujur."
"Kamu selalu bisa melihat masalah dari sudut yang berbeda, ya?" gumam Askar, menatap wanita itu dengan kagum. "Dulu pun kamu selalu begitu. Kamu pandai menenangkan orang dengan kata-katamu."
"Itu karena saya selalu berusaha mendengarkan dengan hati, bukan hanya dengan telinga," jawab Rara sambil tersenyum tipis. "Kalau istrimu juga bisa begitu... mungkin kamu tidak akan merasa seberat ini."
Kalimat itu sederhana, namun terasa seperti pisau yang halus menyayat hati Askar. Ia membandingkan — Miska yang selalu penuh keluh kesah dan air mata, dengan Rara yang selalu tenang, selalu paham, selalu memberi solusi yang masuk akal. Dan tanpa disadari, perbandingan itu mulai membuat bayang-bayang di hatinya.
"Terima kasih, Rara," ujar Askar tulus. "Sudah mendengarkan keluh kesahku yang tidak penting ini."
"Tidak ada yang tidak penting soal perasaanmu, Mas," jawab Rara lembut. "Dan ingat... saya selalu ada di sini. Kalau kamu butuh teman bicara, atau sekadar tempat berbagi beban, pintu saya selalu terbuka. Bukan hanya sebagai sekretaris, tapi sebagai teman lama yang peduli."
Mata mereka bertemu sesaat, dan di detik itu, ada sesuatu yang berubah di ruangan itu. Sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan atasan dan bawahan, lebih dari sekadar teman lama. Namun keduanya sama-sama tak mengucapkannya.
"Baiklah, aku akan tanda tangani laporan ini sekarang," ujar Askar memecah keheningan, mengambil pulpennya kembali. "Kamu boleh kembali ke mejamu, Rara."
"Siap, Pak," jawab Rara sambil berdiri. "Oh iya, sore nanti ada rapat dengan klien dari luar kota. Saya sudah siapkan materi presentasinya. Kau bisa melihatnya di emailmu."
"Baik, terima kasih."
"Sama-sama, Mas. Semoga harimu lebih baik dari sebelumnya." Rara melangkah mundur pelan, lalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan aroma parfum yang lembut namun membekas di ruangan itu.
Askar menatap pintu yang baru saja tertutup itu, lalu kembali ke berkas di depannya. Namun pikirannya tak lagi di angka-angka itu. Ia teringat wajah Rara, suaranya yang lembut, dan kata-katanya yang begitu menenangkan. Ia membandingkannya dengan Miska yang belakangan ini selalu terlihat lelah, selalu ada keluhan, selalu ada air mata.
Mungkin Rara benar, batinnya. Mungkin Miska memang tak pernah benar-benar memahamiku. Mungkin aku memang salah memilih pendamping hidup.
Tanpa ia sadari, benih keraguan yang ditanam Rara itu perlahan mulai tumbuh di hatinya. Dan di tempat yang sama, di rumah yang jauh dari gedung ini, Miska sedang membersihkan lantai dengan tangan yang kasar, tak tahu bahwa di ruangan ber-AC itu, suaminya perlahan mulai menjauh — bukan karena kesalahannya, tapi karena hadirnya seseorang yang menawarkan kenyamanan yang ia tak pernah sempat berikan.
Siang itu, saat jam istirahat tiba, Askar memanggil Rara kembali ke ruangannya.
"Rara, jangan makan siang di kantin hari ini," kata Askar begitu wanita itu masuk. "kita makan di luar. Ada yang ingin aku bicarakan lebih lanjut soal proyek baru."
Rara tersenyum, seolah sudah menduga jawabannya. "Tentu saja, Mas. Saya ikut."
Dan saat keduanya berjalan keluar dari gedung itu berdampingan, banyak pasang mata yang melihat. Namun tak ada satu pun yang tahu — bahwa langkah kaki itu perlahan menjauh dari satu kenyataan, dan masuk ke dalam jebakan masa lalu yang tak benar-benar berakhir.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪