Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Perjalanan menuju kantor polisi dipenuhi keheningan yang menegangkan.

Faresta duduk di kursi depan dengan rahang mengeras sejak tadi. Tatapannya lurus ke depan, pikirannya dipenuhi dengan rencana agar terbebas dari tuduhan palsu ini dan berbalik menyerang mereka yang telah mengkhianatinya.

Di kursi belakang Lucas duduk di samping Elara sambil sesekali memperhatikan gadis itu diam-diam.

Terlihat aneh bagi Lucas, karena di situasi seperti ini, ekspresi Elara justru terlalu tenang. Tidak takut, tidak panik. Bahkan mata hijau itu masih terlihat tenang seperti permukaan danau.

“Kamu tidak takut?” tanya Lucas.

Elara menoleh. “Takut kenapa?”

“Saat ini kita sedang menuju kantor polisi.”

“Lalu?”

Lucas terdiam sejenak, menatap gadis itu dengan rumit.

“Biasanya orang akan merasa tertekan jika berada di situasi seperti ini.”

“Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi untuk apa rasa tertekan itu.”

Jawaban yang terdengar datar itu membuat Lucas kembali terdiam.

Sementara itu Faresta yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka tanpa menoleh justru memijit pelipisnya.

“Kalau nanti terjadi sesuatu, jangan ikut campur sembarangan,” ujarnya dingin.

“Kalau aku tidak ikut campur, kakak bisa aja kalah. Mau dipenjara?”

Kalimat itu langsung membuat suasana di mobil kembali hening. Faresta menggertakkan rahangnya. Entah kenapa setiap ucapan Elara selalu terdengar seperti ramalan yang sulit dibantah.

Tak lama kemudian mobil memasuki halaman kantor polisi. Beberapa wartawan ternyata sudah berkumpul di depan gedung sejak tadi.

Saat mereka melihat kedatangan Faresta, kamera langsung menyala dengan kilatan flash yang memenuhi area tersebut.

“Tuan Faresta! Apa benar anda melakukan plagiarisme?”

“Apakah proyek perusahaan anda memang hasil curian?”

“Bagaimana tanggapan anda mengenai laporan dari Virel Group?”

Faresta mengabaikan semua pertanyaan itu. Tatapannya dingin, ekspresi tegasnya seolah memperlihatkan jika ia tidak bersalah.

Lucas segera berjalan di samping kakaknya untuk menghalangi wartawan.

Sedangkan Elara… gadis itu justru berhenti berjalan sejak mata hijaunya menatap pergerakan mencurigakan di antara keramaian itu.

Seorang pria bertopi hitam yang berdiri tak jauh dari kerumunan wartawan. Pria itu nampak menunduk, tapi sesekali menatap Faresta dengan senyum kemenangan.

“Elara.”

Lucas yang menyadari Elara tidak ada disisinya segera menoleh kebelakang. Pria itu sedikit mendengus kesal melihat adiknya itu justru berdiri diam di sana.

Lucas menarik tangan Elara agar segera masuk ke dalam gedung. Namun sebelum benar-benar melangkah pergi, mata hijau gadis itu masih sempat mengikuti pria bertopi yang kini mulai menjauh dari kerumunan.

Pria itu terlihat gugup. Langkahnya terburu-buru, bahkan beberapa kali menoleh ke belakang seperti takut diperhatikan seseorang.

“Elara!” Lucas kembali menegurnya pelan.

Gadis itu akhirnya mengalihkan pandangan lalu mengikuti Lucas masuk ke dalam.

Suasana di dalam kantor polisi jauh lebih tenang daripada di luar. Faresta duduk di salah satu kursi ruang pemeriksaan dengan ekspresi dingin. Kedua tangannya bertaut di depan meja, sementara seorang penyidik mulai membuka beberapa berkas laporan.

“Pihak Virel Group melaporkan bahwa rancangan proyek ini pertama kali dibuat oleh perusahaan mereka tiga bulan lalu,” jelas penyidik itu sambil menunjukkan dokumen.

Tatapan Faresta langsung menajam. “Itu tidak mungkin. Rancangan dan ide ini semuanya milik saya. Saya yang memikirkannya siang malam, mereka yang sebenarnya mencuri proyek ini karena ada pengkhianat di perusahaan saya.”

“Tapi seluruh data yang kami terima mengarah pada perusahaan anda, Tuan Faresta.”

Lucas yang berdiri di samping kakaknya ikut mengernyit saat melihat dokumen-dokumen tersebut.

“Elara.”

Pria itu menoleh pelan ketika mendapati Elara yang sejak tadi justru diam memperhatikan ruangan.

Mata hijau miliknya bergerak perlahan, seolah mengamati sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

“Kamu kenapa?”

Elara tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada dokumen yang baru saja ditunjukkan oleh polisi itu.

“Itu bukan dokumen asli."

Semua orang langsung menoleh.

“Maksudmu?”

Elara melangkah mendekat dengan pelan. “Mereka memalsukannya. Dokumen dokumen ini baru dibuat semalam.”

“Bagaimana kamu bisa tau?” tanya Lucas pelan.

Elara menyentuh map itu sebentar lalu menarik tangannya kembali.

“Aroma kertasnya masih baru. kalau mereka memang sudah lama menyiapkan tuntutan ini, seharusnya dokumen-dokumen itu tidak dicetak dalam waktu bersamaan. Karena bukti tidak mungkin datang sekaligus di hari yang sama.”

“Nona, jangan membuat asumsi sembarangan,” tegur penyidik itu.

“Tapi aku tidak bicara sembarangan,” bantahnya. “Pak polisi, jika kakakku bisa membuktikan dirinya tidak bersalah, apa tuntutan ini bisa dibalikkan?”

“Tentu saja bisa. Jika Tuan Faresta terbukti tidak bersalah, anda bisa menuntut balik atas kasus ini berikut dengan pencemaran nama baik.”

“Jawaban yang memuaskan.” Elara segera menatap Faresta. “Kak, mana flashdisk itu? Berikan pada ku!”

“Tapi—”

Mata hijau itu menatap tajam Faresta seolah menekannya. “Berikan saja! Tunjukkan bukti kalau sebenarnya Virel Group yang mencuri rancangan kakak”

Faresta menghela nafas lalu perlahan mengeluarkan flashdisk itu dari sakunya. Awalnya, hari ini ia berniat mencari ahli yang bisa memulihkan flashdisk itu. Namun siapa sangka, ia justru harus berakhir di kantor polisi.

Elara menerima benda kecil itu dengan senang.

Lucas masih terus memperhatikan pergerakan Elara. Mata hijau gadis itu perlahan bersinar saat menyentuh flashdisk yang baru saja diberikan Faresta.

“Pak polisi, itu bukti nyata bahwa kakakku tidak bersalah. Dan justru dialah yang dikhianati oleh orang kepercayaannya,”

Penyidik meraih benda kecil itu dan mulai memasukkan ke laptop.

Wajah Faresta perlahan memucat. Karena yang ia tahu, semua data di flashdisk itu sudah hilang. Jika polisi tidak menemukan apapun, keadaan justru akan semakin memperburuk posisinya.

Suasana ruangan mendadak hening yang menegangkan. Tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar suara ketikan pelan dari penyidik yang mulai membuka isi flashdisk itu.

Dan detik berikutnya… wajah penyidik itu langsung berubah.

“Ini…” gumamnya pelan.

Tatapannya bergerak cepat menelusuri satu persatu file yang muncul di layar. Ekspresinya yang semula datar perlahan berubah serius.

“Buka file yang paling bawah,” ujar Elara tenang.

Penyidik itu mengernyit, namun tetap mengikuti ucapan Elara. Dan saat file dibuka… ruangan seketika membeku.

Lucas langsung menoleh cepat ke arah layar laptop ketika menyadari perubahan ekspresi yang tidak biasa dari sang penyidik.

Sebuah video yang memperlihatkan Dio dan Liya tengah bertemu diam-diam dengan pihak Virel Group.

“Sudah jelas, kan? Kakakku tidak bersalah,” ujar Elara dengan tenang. “Di dalam flashdisk itu masih ada bukti lain tentang transaksi ilegal dan manipulasi data perusahaan. Selain asisten dan sekretaris kakakku, kepala keuangan juga ikut terlibat dalam semua ini.”

Penyidik itu masih terdiam, tangannya masih bergerak menelusuri setiap file yang ada.

Faresta sebenarnya ingin sekali menanyakan tentang bukti yang ada di flashdisk itu, tapi ia sadar jika menanyakannya saat ini justru akan membuat mereka mencurigai Elara.

“Pak, bukti ini cukup untuk membatalkan dugaan plagiarisme terhadap Tuan Faresta,” ujar salah satu penyidik yang ikut memeriksa dokumen tersebut.

“Benar. Justru dari bukti-bukti ini, posisi Tuan Faresta berubah dari tersangka menjadi pihak yang dirugikan.”

Lucas menghembuskan nafas lega untuk pertama kalinya sejak tiba di kantor polisi.

Namun, di tengah kelegaan itu, tatapan Lucas justru tertuju pada Elara.

“Bagaimana kamu bisa tahu isi flashdisk itu?” bisiknya di telinga.

Elara menatap Lucas beberapa saat lalu mengangkat bahunya.

“Bukankah yang lebih penting sekarang adalah menangkap orang-orang yang menjebak Kak Faresta?”

Lucas terdiam kesal. Jawaban Elara tidak benar-benar menjawab pertanyaannya. Dan justru membuat pria itu semakin yakin… Elara menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka kira.

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!