Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaisar Langit Abadi

Kaisar Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chen Xuan

Saat Dewa Turun ke Dunia

"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."

Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.

Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.

Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Tantangan di Alun-alun Sekte

Alun-Alun Sekte Pedang Langit dipenuhi lautan manusia.

Ratusan murid berkumpul mengelilingi Arena Pertarungan yang berada di tengah alun-alun. Suara percakapan terdengar riuh dari segala arah.

Di atas arena...

Li Tianxuan berdiri tegak dengan pedang di tangan. Tatapannya tetap sedingin biasanya, seolah tidak terusik oleh ratusan pasang mata yang sedang mengawasinya.

"Apa yang terjadi?"

"Bukankah dia murid baru yang kemarin bertarung melawan Senior Ji Mo?"

"Kenapa dia berdiri di arena lagi?"

"Mungkinkah dia ingin menantang murid lain?"

Semakin banyak murid berdatangan hingga seluruh tribun hampir penuh.

Tak lama kemudian...

Sebuah tekanan agung turun dari langit.

Whoosh!

Sesosok pria berjubah emas melayang perlahan di udara.

Seluruh murid segera membungkukkan badan.

"Salam kepada Ketua Sekte!"

Orang yang datang tak lain adalah Qin Haoran, Ketua Sekte Pedang Langit. Tatapannya menyapu seluruh murid sebelum akhirnya berhenti pada Li Tianxuan.

Ia mengangguk pelan.

Lalu berkata dengan suara yang dipenuhi Energi Spiritual sehingga terdengar ke seluruh penjuru sekte.

"Hari ini... Aku akan memberi kalian sebuah kesempatan."

"Siapa pun yang mampu mengalahkan Li Tianxuan... Akan memperoleh satu kuota khusus untuk memasuki Reruntuhan Kuno yang akan dibuka bulan depan."

Sesaat... Seluruh alun-alun menjadi sunyi.

Kemudian...

BOOM!

Keributan langsung meledak.

"Apa?!"

"Reruntuhan Kuno?"

"Ketua Sekte serius?"

"Itu kesempatan yang bahkan sulit didapat para murid inti!"

Semua mata memerah karena kegembiraan.

Reruntuhan Kuno adalah tempat yang diimpikan seluruh kultivator muda. Di sana terdapat warisan para ahli kuno. Teknik kultivasi tingkat tinggi.

Senjata spiritual.

Pil langka.

Bahkan... Energi Spiritual di dalamnya berkali-kali lipat lebih pekat daripada di dunia luar. Banyak orang mampu menerobos beberapa tingkat hanya karena memperoleh keberuntungan di sana.

Karena itulah...

Biasanya hanya murid-murid terbaik sekte yang memperoleh hak memasuki tempat tersebut.

Kini...

Kesempatan itu berada tepat di depan mata mereka. Syaratnya hanya satu. Mengalahkan Li Tianxuan.

Mata para murid langsung berubah. Tatapan mereka kepada Li Tianxuan bukan lagi rasa penasaran.

Melainkan... Tatapan seorang pemburu kepada mangsanya.

Qin Haoran tersenyum tipis.

"Dengan begini... Biarkan aku melihat sejauh mana kemampuan bocah itu."

Di sampingnya, Yuan Gu hanya menggeleng pelan sambil tertawa kecil.

"Ketua Sekte benar-benar pandai menguji orang."

Belum lama Qin Haoran selesai berbicara... Seorang pemuda melompat ke atas arena.

Brakk!

Ia mendarat tepat di depan Li tangannya Pedang panjang telah berada di tangannya.

"Tianxuan... Aku, Zhao Ming. Hari ini aku tidak akan menahan diri."

Li Tianxuan mengangguk pelan.

"Ayo."

Tak ada lagi kata-kata.

Whoosh!

Keduanya menghilang dari tempat berdiri masing-masing.

Clang!

Suara benturan pedang bergema.

Percikan api memenuhi arena.

Zhao Ming menyerang bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan bernapas.

Namun...

Li Tianxuan hanya mundur setengah langkah demi setengah langkah. Setiap tebasan lawan berhasil dipatahkannya dengan gerakan sesederhana mungkin.

Lima jurus...

Sepuluh jurus...

Dua puluh jurus...

Murid-murid mulai terkejut.

"Tunggu..."

"Aura Tianxuan..."

"Sudah Ranah Lautan Spiritual Tingkat Lima!"

"Apa?!"

"Bukankah kemarin dia baru Tingkat Satu?"

"Empat tingkat sekaligus?"

"Itu mustahil!"

"Tidak mungkin!"

Semua murid saling memandang. Tak seorang pun percaya.

"Aku yakin dia meminum Pil Peningkat!"

"Pasti begitu!"

"Kalau tidak, mana mungkin bisa meningkat secepat itu!"

Namun...

Di atas tribun.

Qin Haoran dan Yuan Gu hanya saling tersenyum. Mereka adalah saksi mata.

Mereka tahu...

Li Tianxuan memang menerobos empat tingkat sekaligus. Tanpa pil. Tanpa bantuan siapa pun.

Di arena... Zhao Ming mulai terdesak. Napasnya memburu.

Sebaliknya...

Li Tianxuan masih terlihat tenang. Tatapannya bahkan tidak berubah sedikit pun.

Tiba-tiba...

Whoosh!

Tubuh Li Tianxuan menghilang.

"Apa?"

Zhao Ming terkejut. Belum sempat mencari...

Li Tianxuan telah muncul di belakangnya. Pedangnya berhenti tepat di leher Zhao Ming.

"Kau kalah."

Seluruh arena mendadak sunyi.

Pertarungan... Berakhir hanya dalam belasan jurus.

Zhao Ming menghela napas panjang.

"Aku mengaku kalah."

Li Tianxuan menarik kembali pedangnya.

"Siapa lagi?"

Tak ada seorang pun bergerak. Mereka baru menyadari... Murid baru itu jauh lebih kuat daripada yang mereka bayangkan.

Saat suasana mulai hening... Terdengar suara langkah kaki dari kejauhan.

Tap...

Tap...

Tap...

Seorang pemuda berjubah putih berjalan perlahan melewati kerumunan. Di tangannya terdapat sebuah kipas lipat berwarna hitam.

Ji Mo.

Tatapannya dipenuhi rasa dingin.

"Aku belum selesai denganmu."

Brakk!

Ia melompat ke atas arena.

Sorakan langsung memenuhi alun-alun.

"Senior Ji Mo!"

"Kalahkan dia!"

"Tunjukkan kekuatanmu!"

Di antara kerumunan...

Gadis yang dahulu memfitnah Li Tianxuan ikut berteriak.

"Senior Ji Mo! Kalau kau kalah lagi... Jangan pernah menemuiku!"

Li Tianxuan melirik sekilas ke arah gadis itu.

Tatapannya tetap datar. Baginya... Wanita itu tidak layak mendapat perhatian.

Ji Mo membuka kipasnya perlahan.

"Hari ini... Aku akan menghapus penghinaan itu."

Li Tianxuan mengangkat pedangnya.

"Lihat saja apakah kau mampu."

Whoosh!

Keduanya bergerak hampir bersamaan.

Ji Mo lebih dahulu mengayunkan kipasnya. Puluhan bilah angin tajam melesat memenuhi arena.

Li Tianxuan melompat ke udara. Seluruh serangan itu lewat tepat di bawah kakinya.

Belum sempat mendarat... Ia mengayunkan pedangnya. Sebuah tebasan berbentuk bulan sabit meluncur deras.

Ji Mo memutar kipasnya.

Boom!

Gelombang itu berhasil dihancurkan.

Namun...

Itu hanyalah tipuan. Li Tianxuan telah muncul tepat di hadapannya.

Clang!

Pedang dan kipas kembali berbenturan. Ji Mo tiba-tiba melempar kipasnya.

Whoosh!

Kipas itu berputar cepat menuju kepala Li Tianxuan. Di saat yang sama... Ji Mo mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya. Ia menerjang dari arah berlawanan.

"Matilah!"

Serangan dari dua arah. Mustahil dihindari.

Namun...

Sudut bibir Li Tianxuan perlahan terangkat.

Sepuluh tahun hidup di Kota Tai membuatnya bertarung melawan binatang buas hampir setiap hari. Pengalaman bertarungnya jauh melampaui para murid sekte.

Ia memutar tubuhnya.

Clang!

Pedangnya menghantam kipas hingga terlempar. Tanpa berhenti... Ia memanfaatkan putaran tubuhnya untuk menebas pedang Ji Mo.

Crang!

Pedang Ji Mo terpental jauh. Sebelum Ji Mo sempat bereaksi... Ujung pedang Li Tianxuan telah menempel di lehernya.

"Kau kalah."

Ji Mo membeku. Ia menatap Li Tianxuan beberapa saat. Lalu perlahan menundukkan kepala.

"...Aku kalah."

Arena kembali sunyi. Untuk kedua kalinya...

Ji Mo dikalahkan. Dan kali ini... Kekalahannya jauh lebih telak.

Gadis cantik yang tadi berteriak kini hanya mampu menatap Li Tianxuan tanpa berkedip.

Wajah dingin. Sorot mata tajam. Sikap tenang. Tanpa disadari... Jantungnya berdegup semakin cepat.

Di atas arena... Li Tianxuan menyarungkan pedangnya. Tatapannya menyapu seluruh murid.

"Siapa lagi?"

Tak ada seorang pun berani melangkah. Bahkan Ji Mo yang berada di peringkat dua puluh telah kalah.

Siapa lagi yang sanggup menghadapinya?

Saat seluruh arena diliputi keheningan...

Sebuah suara wanita yang lembut namun dipenuhi wibawa tiba-tiba terdengar dari kejauhan.

"Hanya mengalahkan Ji Mo... Sudah berani bersikap setinggi langit?"

Seluruh murid menoleh bersamaan.

Sesosok gadis berjalan perlahan menuju arena. Gaunnya berwarna putih kebiruan.

Rambut hitam panjangnya tergerai hingga pinggang. Langkahnya anggun. Setiap ayunan rambutnya membuat banyak murid pria terpaku.

Sepasang matanya yang indah memandang lurus ke arah Li Tianxuan.

Seolah... Tidak ada seorang pun selain dirinya.

Seseorang berbisik pelan dengan penuh keterkejutan.

"Senior..."

"Ling Xi..."

1
Ilham Yono
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Slight/
Ilham Yono
cerdas..mengakui keunggulan lawan..
Ilham Yono
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Determined//Curse/
Ilham Yono
terbaik
Ilham Yono
hem/Proud//Proud//Proud//Chuckle/
Ilham Yono
hem/Facepalm/
Ilham Yono
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Ilham Yono
good jobs
Ilham Yono
beuh orang sombong mah gosong
Ilham Yono
beuh☠️⚔️☠️⚔️☠️⚔️👻
Ilham Yono
hahaha..malah jadi pemicu terobosan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilham Yono
hahaha..malah jadi pemicu terobosan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilham Yono
banyak cakap..kemampuan senyap
Kadai Kecil
Lanjut lu woi thor/Curse/
Kadai Kecil
Kok habis /Curse/
Kadai Kecil
lanjut terus
Kadai Kecil
Tidak ada jeda nih
Kadai Kecil
semangat thor
Kadai Kecil
apa-apaan ini thor 🤣/Facepalm/
Kadai Kecil
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!