"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluk Papamu
"Maafkan aku, Ariska. Habisi aku jika itu membuatmu lega dan puas, tidak apa. Yang penting aku sudah bertemu kamu dan Arka. Aku sudah melihat bahwa kalian bahagia tanpa aku. Aku tahu tidak akan semudah itu kamu memaafkan orang bodoh ini. Aku paham," ucap Frans dengan air mata mengalir pada kedua pipinya.
"Arka..." panggil Ariska yang butuh sekali seseorang untuk menguatkan mentalnya. Ketakutan mulai menyergap dirinya, hingga jantungnya berdetak sangat cepat.
"Iya, Ma." Arka pun membuka matanya kemudian bangun dari posisi berbaringnya. Arka segera menggenggam tangan Mamanya yang bergetar hebat. Arka yang paham pun langsung mengelus lengan tangannya juga.
"Tenang, Ma. Ada Alka di sini. It's okay kalau Mama belum bisa beldamai dengan masa lalu, ndak usah dipaksa menelima. Alka ndak papa," Arka mengelus punggung Mamanya saat tubuh Ariska langsung menegang dibantu oleh Azura. Gadis cilik itu sebenarnya takut setelah mendengar seruan dari Ariska dan Frans.
"Maafkan aku, anakku."
Melihat keadaan Ariska yang tak memungkinkan diajak berbicara lagi, Frans hanya bisa menghela nafasnya pelan. Dia tak bisa memaksakan kehendaknya untuk dimaafkan langsung. Dia memahami kondisi Ariska yang ketakutan karena kejadian waktu itu. Dia pun mungkin akan sama jika berada di posisi Ariska. Frans menatap lekat wajah Arka yang sangat mirip dengannya. Padahal beberapa anak buahnya tersebar di kota ini tapi bisa-bisanya tak menemukan Arka lebih cepat. Melihatnya sekilas saja, sudah dapat petunjuk bahwa Arka adalah sosok yang patut dicurigai sebagai anak Frans.
Hah...
"Alka ndak tahu. Pusing, masalah olangtua bikin stless. Mending Alka mikilin bagaimana bikin toko maju dalipada ikut masalah olang dewasa," gerutu Arka sambil menghela nafasnya kasar.
"Sabal, Alka. Malah-malah mulu sama olang asing itu. Nanti dalah tinggi lho," ucap Azura penuh perhatian.
"Alka bukan dalah tinggi tapi beldalah bilu," ucap Arka dengan asal.
"Wah... Belalti ada kemungkinan kalau dalah Azula walna kuning ya, Alka." ceplos Azura membuat tiga orang dewasa di sana tampak melongo.
"Suasana lagi genting begini, yang bocil malah bahas warna darah. Emang agak lain," gumam Carlo sambil menggelengkan kepalanya.
"Telselah kamu aja, ompong dua. Alka stless kali hali ini,"
"Telselah Mama mau memaafkan dia atau nggak. Apapun yang membuat Mama bahagia, Alka dukung." ucap Arka sambil mengusap jejak basah pada pipi Ariska.
Ariska menatap intens mata Arka. Ada gurat sendu dan kecewa terpancar jelas di sana. Ariska yakin ada pergulatan batin dan pikiran yang tengah berperang dalam diri Arka. Anaknya itu bingung memilih harus menjaga perasaan siapa di antara kedua orangtuanya. Di sisi lain, dia hanya anak kecil yang membutuhkan orangtua lengkap untuk mendampinginya. Namun Ariska tak bisa jika harus bertemu dengan Frans setiap hari. Dia masih takut dengan Frans, apalagi jika tiba-tiba Arka dibawa oleh laki-laki itu.
"Arka, jika Mama tidak mengijinkan kamu untuk bertemu dengan Papamu. Apa kamu mau menuruti perintah Mama?" tanya Ariska dengan raut wajah penasarannya. Arka langsung melihat ke arah Frans yang mematung di tempatnya dengan air mata masih mengalir pada kedua pipinya.
"Sungguh tragis nasibmu, Tuan Frans." gumam Carlo yang saat ini menatap miris pada Frans. Bahkan raut wajah songongnya saat keluar dari mobil, hilang sudah. Terganti dengan raut wajah memelas dan air mata. Carlo yakin kalau Arka akan menuruti keinginan Mamanya itu.
"Apapun yang membuat Mama bahagia, akan Alka lakukan." ucap Arka yang langsung kembali melihat ke arah Mamanya.
"Terimakasih, Nak." Ariska langsung memeluk Arka dengan eratnya.
Sedangkan Frans hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Dia tidak bisa memaksa Arka dan Ariska dengan mudah menerima dirinya. Frans mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan. Dia harus terlihat tegar di hadapan Arka dan Ariska. Walaupun mereka tadi sudah melihat bagaimana dia menangis. Dia juga masih tak percaya bisa menangis di depan oranglain.
"Bagaimana keadaan hati, Om? Jangan pula-pula tegal padahal hatinya ambyal," ucap Azura dengan berbisik. Bisikan itu membuat Frans terkejut karena dia tak melihat Azura mendekatinya.
"Astaga... Kamu kaya tuyul aja," Frans sampai mengelus dadanya karena terkejut dengan bisikan dari Azura.
"Sembalangan. Tuyul itu suka menculi uang. Kalau Azula, suka menculi hatinya Alka. Beda," ucap Azura sambil memegang kedua pipinya seperti malu-malu kucing.
"Masih bocil kok ngom..."
"Ompong dua, ngapain kamu di situ? Diculik balu tahu lasa," seru Arka saat melihat keberadaan Azura di dekat Frans.
"Maaf ya, Om. Alka cembulu Azula dekat dengan Om," ucap Azura kemudian pergi meninggalkan Frans yang melongo tak percaya.
"Ndak usah cembulu sama Om itu, Alka. Gitu aja malah lho. Om itu tadi yang panggil-panggil Azula ke situ. Ya Azula ke sana, siapa tahu dapat duit buat beli cepol." lanjutnya menjelaskan.
Frans menahan kekesalannya karena difitnah oleh Azura. Padahal Frans sama sekali tidak memanggil Azura. Justru dia terkejut karena ada Azura berada di dekatnya. Sedangkan Carlo menahan tawanya melihat bagaimana frustasinya Frans. Tadi sudah dibuat menangis karena Arka dan Ariska. Kemudian difitnah dan diledek oleh Azura. Baru pertama kali bertemu, tapi Ariska dan Azura sudah berhasil membuat Frans frustasi.
"Sabar ya, Tuan Frans. Ini baru beberapa menit menghadapi mereka," bisik Carlo yang kemudian memilih duduk di dekat Nenek Yuli dan Lina. Keduanya hanya meletakkan minum di depan Frans dan Carlo kemudian menjauh. Frans mendengus sebal mendengar bisikan dari Carlo itu. Namun dia memilih acuh kemudian menatap Ariska dan Arka lagi.
"Ariska, aku ti..."
"Arka, peluk Papamu." suruh Ariska tanpa menunggu ucapan Frans selanjutnya.
"Mama yakin?" tanya Arka dengan raut wajah terkejutnya, begitu juga Frans.
"Iya. Peluk Papamu itu. Kamu boleh bertemu atau tinggal dengan Papamu tapi jangan lupakan Mama," ucap Ariska dengan cepat.
"Mama ngomong apaan sih? Alka tidak mungkin melupakan dan meninggalkan Mama. Alka masih ada di sini, walaupun sesekali beltemu dengan olang itu." ucap Arka yang masih gengsi memanggil Frans dengan panggilan "Papa".
"Ariska, kamu memaaf..."
"Ini semua demi Arka. Nggak usah GR," sela Ariska yang kemudian memilih pergi dari hadapan Frans dan bergabung dengan Nenek Yuli.
Tak masalah bagi Frans jika Ariska masih ketus padanya. Frans akan berusaha meyakinkan Ariska bahwa dia akan bertanggungjawab pada perempuan itu dan Arka. Nenek Yuli, Lina, dan Carlo begitu salut kebesaran hati Ariska yang mengijinkan Arka dekat dengan Frans. Padahal mungkin hatinya masih kecewa dan ada rasa takut jika Arka lebih memilih bersama Frans.
Greppp...
Hueee... Ini Azula sama siapa? Kok pada gelombol sendili-sen...
Sini,
Eh...
Papamu juga ini. Nanti minta duit buat beli sempol sama dia,
lg ya thor byk2🤭😄💪
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska