Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Langit pagi diselimuti awan kelabu ketika Indri meminta izin keluar rumah. Kepada Haris, ia hanya mengatakan ingin mencari udara segar.
Haris tidak banyak bertanya. Ia mengira putrinya hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri setelah beberapa hari terakhir hidupnya berubah begitu drastis.
Mobil yang dikendarai Indri melaju meninggalkan pusat kota. Semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin sunyi jalan yang dilewati.
Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah kompleks pemakaman. Di sanalah pusara yang selama ini diyakininya menjadi tempat peristirahatan terakhir Evan.
Indri berjalan perlahan sambil membawa seikat bunga putih.
Langkahnya terasa berat. Bukan karena jarak. Melainkan karena rasa bersalah yang semakin hari semakin menyesakkan dada.
Ia berhenti tepat di depan batu nisan. Nama Evan terukir rapi di sana. Indri berlutut. Tangannya yang gemetar meletakkan bunga di atas pusara.
Beberapa saat ia hanya diam. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar makam. Kesunyian itu justru membuat suara hatinya terdengar semakin jelas.
"Aku datang." Senyum pahit menghiasi wajahnya. "Aku tidak tahu kenapa datang ke sini. Mungkin karena hanya di tempat ini aku berani mengatakan semuanya."
Air matanya mulai mengalir. "Aku sudah menjadi pembunuh." Kalimat itu keluar lirih. "Aku yang meminta seseorang menyabotase mobilmu."
Indri menundukkan kepala. "Aku terus mengatakan pada diriku sendiri kalau itu satu-satunya jalan agar aku terbebas dari belenggu dendammu."
Ia mengusap air matanya. "Tapi setelah semuanya berakhir... ternyata aku tetap tidak merasa bebas."
Justru setiap malam ia dihantui penyesalan. Setiap kali memejamkan mata, wajah Evan selalu muncul. Bukan wajah pria yang penuh amarah. Melainkan wajah Evan pada pertemuan terakhir mereka. Saat lelaki itu tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih menelannya kembali.
Indri menarik napas panjang. "Aku tidak pernah memberimu kesempatan meminta maaf."
Ia tertawa pelan, tetapi tawanya terdengar lebih mirip isakan. "Dan aku juga tidak pernah sempat meminta maaf kepadamu."
Tangannya perlahan menyentuh perut. Gerakan itu berlangsung begitu alami. "Ada sesuatu yang harus kamu tahu..."
Air matanya kembali jatuh. "Aku hamil." Suaranya nyaris berbisik. "Anakmu." Kalimat itu membuat dadanya semakin sesak.
"Aku baru mengetahuinya setelah... setelah kamu pergi." Indri memejamkan mata. "Aku tidak tahu apakah ini hukuman untukku atau anugerah yang tidak pantas kuterima."
Ia memandang batu nisan di depannya. "Kalau kamu masih hidup, mungkin kamu akan membenciku. Tidak..." Indri menggeleng sendiri.
"Kamu memang sudah membenciku sejak lama." Ia terdiam cukup lama. Kemudian kembali berbicara dengan suara bergetar.
"Aku terus memikirkan bayi ini. Apa aku sanggup membesarkannya? Apa aku sanggup menatap wajahnya setiap hari tanpa mengingat semua yang pernah terjadi di antara kita?"
Air mata kembali mengalir. "Bahkan sempat terlintas di pikiranku..." Indri memejamkan mata erat.
"Untuk mengakhiri kehamilan ini." Kalimat itu membuat dirinya sendiri menangis semakin keras.
"Tapi setiap kali pikiran itu datang, aku merasa menjadi manusia yang sangat jahat. Bayi ini tidak bersalah. Ia tidak memilih dilahirkan. Ia juga tidak memilih siapa ayah dan ibunya."
Indri menggenggam kedua tangannya. "Aku benar-benar tidak tahu keputusan apa yang harus kuambil. Kalau aku mempertahankannya... aku akan hidup dengan kenangan tentangmu. Kalau aku menghilangkannya... aku mungkin akan menyesal seumur hidup."
Ia menundukkan kepala dalam-dalam. "Maafkan aku, Evan. Aku terlambat menyadari bahwa kebencian hanya melahirkan kebencian yang lain. Aku dan kamu sama-sama kalah."
Kesunyian kembali menyelimuti area pemakaman.
Tidak jauh dari sana, sebuah mobil hitam terparkir di balik pepohonan.
Rio duduk di dalamnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Indri. Ia memang mengikuti mobil perempuan itu sejak keluar dari rumah. Bukan untuk mengganggu. Melainkan menjalankan amanat Evan agar memastikan Indri tetap baik-baik saja dari kejauhan.
Melihat Indri menangis di depan makam itu membuat Rio menghela napas panjang. Ia mengambil ponselnya. Dari kejauhan, ia memotret sosok Indri yang masih berlutut di depan pusara. Beberapa detik kemudian foto itu terkirim kepada Evan.
Ribuan kilometer dari Indonesia, di sebuah pusat rehabilitasi medis, Evan sedang menjalani terapi untuk memulihkan kondisi kakinya yang masih belum sepenuhnya kuat akibat kecelakaan.
Ponselnya bergetar. Ia membuka pesan dari Rio. Foto itu langsung memenuhi layar. Evan membeku. Di dalam foto tersebut, Indri tampak duduk seorang diri di depan makam yang sebenarnya bukan dirinya.
Indri sedang menangis. Evan memandangi foto itu sangat lama. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia percaya bahwa berpura-pura mati adalah keputusan terbaik.
Ia ingin menghilang dari kehidupan Indri. Ia ingin perempuan itu benar-benar terbebas dari dirinya. Namun melihat Indri datang ke makam itu, Evan mulai bertanya-tanya apakah keputusannya benar-benar telah membebaskan Indri. Atau justru meninggalkan luka yang berbeda.
Ia memejamkan mata. Kenangan demi kenangan kembali berdatangan. Laura... Masa lalu... Dendam yang selama bertahun-tahun ia pelihara.
Balas dendam yang dulu terasa begitu benar. Kini semuanya tampak begitu sia-sia. Ia akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini sulit diucapkan.
Dendam tidak pernah memberinya ketenangan. Setiap kali berhasil menyakiti Indri, kemarahannya memang mereda sesaat. Namun setelah itu, kehampaan justru datang semakin besar.
Ia kehilangan Laura. Lalu kehilangan dirinya sendiri. Dan pada akhirnya, ia hampir kehilangan nyawanya.
Evan memandang keluar jendela.
"Aku salah..." Kalimat itu keluar begitu pelan. "Aku terlalu lama hidup bersama dendam." Ia teringat semua tindakan yang pernah dilakukannya kepada Indri.
Tidak satu pun mampu menghidupkan Laura kembali. Tidak satu pun menghapus rasa kehilangan. Yang tersisa hanyalah luka baru. Luka untuk Indri. Dan luka untuk dirinya sendiri.
Evan menggenggam ponselnya erat. Tatapannya kembali jatuh pada foto Indri. Perempuan itu masih tampak begitu rapuh. Ia tidak mengetahui bahwa makam yang sedang ditangisinya bahkan tidak pernah menjadi tempat peristirahatan Evan.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Evan merasakan dorongan kuat untuk pulang.
Bukan untuk melanjutkan dendam. Bukan pula untuk meminta balas. Melainkan untuk menghadapi semua kesalahan yang pernah ia buat. Namun ia menahan keinginan itu. Tubuhnya belum pulih. Dan yang lebih penting, Rio belum menemukan siapa dalang di balik sabotase mobilnya.
Selama orang itu masih bebas, kepulangannya hanya akan membahayakannya.
Evan menghapus air mata yang tanpa sadar jatuh di pipinya. "Kalau suatu hari nanti aku kembali... aku tidak ingin kembali sebagai lelaki yang dipenuhi kebencian. Aku ingin kembali sebagai seseorang yang berani meminta maaf."
Di layar ponselnya, foto Indri masih terbuka. Sementara di Indonesia, perempuan itu perlahan berdiri meninggalkan makam dengan langkah gontai. Tanpa pernah mengetahui bahwa lelaki yang selama ini ia tangisi...
masih hidup, memandanginya dari kejauhan melalui selembar foto, sambil menyesali seluruh hidup yang pernah dihancurkan oleh dendam.
Evan sudah saatnya kamu keluar dari persembunyian hadapi dengan jentel ..jgn jadi banci kau ..,, selesai masalah mu dgn Indri jgn buat kesalahan lagi kasihan calon anakmu Van nanti tumbuh tanpa sosok mu , jgn sampai kamu menyesal Indri jadi milik Royco...
Belum pernah di bahas deh thor hubungan Cinta dan Indri 🩵
jujur ajah masih teka teki sama Riko dia itu emang cinta sama Indri atau ada maksud lain 🤔