Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Gaji Naik, Kontrak Aman
"Besok keluarga Halim mulai membalas."
Ancaman Reno belum sempat bergerak ketika Arya mengambil langkah lebih dulu.
Pukul sembilan pagi, seluruh karyawan PE dipanggil ke aula produksi. Kamera internal dinyalakan agar staf cabang dapat mengikuti. Di panggung kecil, Anindya memegang susunan acara yang baru diterimanya lima belas menit lalu.
"Anda mengubah agenda tanpa bicara dengan saya," katanya kepada Arya.
"Saya menambahkan tiga poin."
"Tiga poin yang memengaruhi anggaran tahunan."
"Itulah mengapa kita punya rapat."
"Rapat direksi, bukan kejutan di depan empat ratus pegawai."
Arya mengambil mikrofon. "Kalau saya memberi tahu lebih awal, kamu akan membuat dua puluh slide."
"Dua puluh slide mencegah keputusan bodoh."
"Kadang juga mencegah keputusan bagus terjadi tepat waktu."
Staf di barisan depan mulai saling melirik. Perdebatan suami-istri itu terdengar seperti rapat direksi tanpa pintu, tetapi tak satu pun berani tertawa.
Anindya menyerahkan mikrofon. "Lima belas menit. Setelah itu saya ambil alih."
"Dua puluh."
"Tujuh belas."
"Sepakat."
Arya berdiri di tengah panggung. Tidak ada pidato tertulis.
"Saya tahu dua minggu terakhir membuat banyak orang bertanya apakah perusahaan ini masih punya masa depan," katanya. "Pak Bramantyo ditahan. Struktur saham berubah. Audit internal berjalan. Sebagian dari kalian mungkin sudah memperbarui CV. Itu wajar."
Keheningan di aula menjadi rapat.
"Saya tidak akan meminta loyalitas gratis. Mulai bulan depan, struktur gaji dasar disesuaikan. Kenaikan berlaku merata berdasarkan jenjang, bukan kedekatan dengan atasan."
Sebuah gumaman besar muncul.
Anindya menoleh tajam, tetapi Arya melanjutkan.
"Kedua, semua pekerja tetap dan kontrak didaftarkan ke program BPJS Ketenagakerjaan sesuai status dan kewajiban perusahaan. Tidak ada lagi alasan administrasi untuk menunda hak dasar."
Tepuk tangan mulai terdengar.
"Ketiga, PE menyiapkan bantuan pendidikan terbatas untuk anak karyawan yang memenuhi syarat. Detail dan kuota diumumkan HR setelah audit penerima."
Tepuk tangan membesar. Seorang staf tata cahaya di barisan belakang bersiul sebelum buru-buru menutup mulut.
Arya menunggu sampai suara turun.
"Ada satu aturan lagi. Mulai hari ini, PE tidak membuat kontrak eksploitatif kepada artis. Tidak ada denda yang tidak sebanding, tidak ada kewajiban pribadi yang disamarkan sebagai promosi, dan tidak ada pertemuan tertutup dengan sponsor tanpa pendamping yang dipilih artis."
Kali ini, beberapa artis muda berdiri ketika bertepuk tangan. Salah satu dari mereka mengusap mata.
Anindya membaca lembar anggaran yang diberikan staf keuangan. Ia masih kesal karena kejutan itu, tetapi angka Arya ternyata sudah dihitung. Dana berasal dari penghentian tiga vendor fiktif serta pemotongan fasilitas direksi yang tak pernah dipakai.
Ia mendekati mikrofon. "Kebijakan ini berlaku setelah surat direksi ditandatangani hari ini. HR membuka meja konsultasi. Jika ada kontrak lama yang bertentangan, bawa salinannya ke legal. Tidak ada pembalasan terhadap pelapor."
Kalimat Anindya memberi prosedur pada janji Arya. Tepuk tangan berikutnya ditujukan kepada keduanya.
Tiba-tiba layar besar di belakang panggung berkedip.
Logo PE menghilang. Deretan kode memenuhi layar, diikuti pesan merah: AKSES ADMINISTRATOR DIAMBIL ALIH.
Suara panik menyebar. Beberapa staf membuka laptop. Sistem absensi dan penyimpanan produksi terputus bersamaan.
"Putus jaringan luar," perintah Anindya. "Jangan matikan server."
Kepala TI berlari ke meja kontrol. "Bu, akun utama terkunci!"
Arya tidak bergerak dari panggung. Ia melihat jam.
"Tiga puluh delapan detik," gumamnya.
Pintu aula terbuka. Seorang pria muda dengan jaket hitam masuk sambil membawa laptop tipis. Rambutnya sedikit berantakan dan senyumnya terlalu santai untuk seseorang yang datang ketika perusahaan sedang diserang.
"Pagi," katanya. "Siapa di sini yang masih memakai kata sandi nama perusahaan ditambah tahun?"
Kepala TI memerah. "Anda siapa?"
Pria itu duduk di kursi kosong, membuka laptop, dan mengetik cepat. "Orang yang sedang mengembalikan akses Anda."
Baris kode di layar utama berhenti. Pesan merah berubah menjadi peta jaringan. Titik-titik yang berhasil ditembus menyala kuning; satu jalur menuju server keuangan berkedip merah.
"Serangan masuk lewat akun komisaris lama," kata pria itu. "Hak aksesnya belum dicabut. Saya membekukan token, memisahkan server produksi, dan membuat salinan forensik. Data tidak hilang."
Layar kembali menampilkan logo PE.
Seluruh proses berlangsung kurang dari tiga menit.
Anindya menatap Arya. "Ini ulah Anda?"
"Simulasi," jawab Arya. "Tidak ada data disentuh."
"Anda menyerang sistem perusahaan tanpa memberi tahu direktur utama?"
"Kalau diberi tahu, namanya latihan terjadwal. Orang-orang akan bersiap dan kita tidak melihat lubang asli."
Pria berjaket menutup laptop dan berjalan ke panggung.
"Kevin Wijaya," katanya ke mikrofon. "Mulai hari ini saya bertanggung jawab atas keamanan siber. Dan kabar buruknya, simulasi barusan menemukan sebelas akun lama, empat kata sandi lemah, serta satu jalur ke server keuangan yang seharusnya sudah mati."
Aula sunyi lagi.
"Kabar baiknya," lanjut Kevin, "sekarang saya tahu apa yang harus diperbaiki."
Arya mengulurkan tangan. "Selamat datang di PE, Pak Kevin."
Kevin melihat tangan itu sejenak, memahami bahwa sapaan formal diperlukan di depan publik. Ia menjabat.
"Terima kasih, Pak Arya."
Anindya mengambil mikrofon. "Tim TI bekerja di bawah koordinasi Pak Kevin mulai hari ini. Semua perubahan akses dibuat dalam berita acara. Simulasi berikutnya harus mendapat persetujuan saya."
"Siap, Bu Anindya," jawab Kevin, kali ini tanpa bercanda.
Ketegangan mereda. Para pegawai kembali bertepuk tangan, mula-mula kepada kebijakan baru, lalu kepada pria yang baru saja menunjukkan betapa rapuhnya sistem mereka.
Seorang staf muda di depan panggung bertanya, "Pak Kevin, apakah akun pribadi kami juga harus diganti?"
"Iya. Jangan pakai tanggal lahir. Jangan pakai nama pacar. Kalau sudah putus, risikonya dua kali."
Tawa pecah di aula.
Ketika acara selesai, karyawan bergerak menuju meja HR dengan wajah yang jauh lebih hidup daripada pagi tadi. Mereka tidak lagi membicarakan apakah PE akan bertahan. Mereka membicarakan kenaikan gaji, perlindungan kontrak, dan sistem baru.
Anindya menarik Arya ke samping panggung. "Tujuh belas menit Anda berubah jadi tiga puluh dua."
"Serangan siber bukan bagian pidato."
"Simulasi itu milik Anda. Tetap dihitung."
"Kalau begitu potong dari waktu rapat sore."
Anindya menatap kerumunan staf. Seorang petugas kebersihan sedang memotret pengumuman bantuan pendidikan untuk dikirim kepada keluarganya. Kekesalan di wajah Anindya melembut.
"Anggarannya masuk akal," katanya. "Saya sudah periksa."
"Itu pujian?"
"Itu hasil verifikasi. Jangan terlalu senang."
"Saya catat sebagai pujian pertama dari istri saya."
Anindya berbalik sebelum ia melihat senyum tipis yang gagal disembunyikan.
Di lorong, staf yang berpapasan dengan Kevin otomatis memberi jalan.
"Pagi, Pak Kevin."
"Selamat datang, Pak Kevin."
Kevin menunggu sampai mereka lewat, lalu berbisik kepada Arya, "Dua hari lalu lo suruh gue pulang diam-diam. Sekarang satu gedung manggil gue Pak."
Arya memandang kerumunan yang mengantre di meja HR.
"Biasakan. Kita baru mulai."