Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Gema langkah Victoria di atas lantai parket kayu ek putih terdengar bagai detak jantung yang berpacu. Dante berjalan di belakangnya, menjaga jarak yang bukan berupa rasa hormat, melainkan intaian. Mereka berhenti di depan sebuah pintu berdaun ganda, berukir filigran perak yang dulu ia benci karena kemewahannya yang dingin.
Dante mengulurkan tangan dan memutar kenop pintu. Pintu itu terbuka tanpa sedikit pun derit, menyingkapkan sebuah ruang yang membuat denyut nadi Victoria terhenti.
Udara di dalam kamar itu terasa aneh, seolah telah dimurnikan, tanpa debu yang biasanya menumpuk seiring waktu. Victoria melangkah ke tengah ruangan dan merasakan pusing yang hebat. Semuanya masih ada. Persis seperti dulu.
Di meja rias marmer, botol parfum kesukaannya, sebuah esens bunga peoni yang tak lagi diproduksi, tergeletak di samping sisir rambutnya yang berbulu alami. Di ranjang berkelambu, seprai sutra delapan ratus helai terbentang dengan ketepatan militer, seolah menanti dirinya untuk menyelinap ke bawahnya kapan saja. Bahkan buku yang tengah ia baca pada malam pelariannya, dengan sudut halaman 142 terlipat, tergeletak di atas meja malam dari kayu eboni.
"Lima tahun, Victoria," suara Dante datang dari ambang pintu, sarat getaran kelam. "Lima tahun pintu ini tak terbuka untuk siapa pun selain petugas kebersihan. Aku memerintahkan agar tak satu peniti pun digeser. Tak sebutir debu pun."
Victoria berbalik, matanya berkaca-kaca oleh campuran rasa jijik dan teror.
"Ini gila, Dante," bisiknya, menyentuh tepi meja rias dengan jari-jari gemetar. "Mempertahankan semua ini seperti ini… seolah kau telah menanti hantu untuk kembali."
"Aku tidak menanti hantu. Aku menanti istriku," balasnya, akhirnya masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang menegaskan segalanya. "Berbulan-bulan aku habiskan di kamar ini pada mulanya. Aku duduk di kursi itu dan berusaha memahami bagaimana kau bisa meninggalkan semua ini. Semua kemewahan ini, semua perlindungan ini… demi kehidupan sengsara di desa antah-berantah."
Victoria melepaskan tawa getir, sebuah nada sumbang di tengah kesempurnaan ruangan itu.
"Aku tidak meninggalkan kemewahan, Dante. Aku meninggalkan ketakutan. Aku meninggalkan darah di tangan suamiku. Apa yang kaupandang sebagai tempat suci, aku memandangnya sebagai sel penjara yang dihias dengan sutra."
Ia melangkah menuju lemari pakaian dan membuka pintunya. Ia terkesiap. Ada pakaian baru. Gaun-gaun rancangan desainer yang belum ada lima tahun lalu, mantel bulu, sepatu yang mengikuti tren mutakhir catwalk Milan. Dante tak hanya mempertahankan masa lalunya, ia juga telah membeli masa depannya dalam ketiadaannya, mendandani seorang manekin tak kasatmata dengan harapan bahwa Victoria akan kembali menempatinya.
"Aku tak pernah berhenti mencarimu," lanjut Dante, mendekatinya. Bayangannya jatuh menaungi lemari itu, menyelubungi Victoria. "Aku menghabiskan jutaan dolar untuk para informan, untuk pelacakan sinyal, untuk mengawasi setiap pelabuhan. Setiap kali orang-orangku gagal, aku datang ke sini dan mengingat mengapa aku tak bisa menyerah. Karena kau milikku, Victoria. Kau milikku menurut hukum, menurut sakramen, dan menurut darah."
Dante mencengkeram bahunya, memaksanya berbalik menghadapnya. Tangannya besar dan hangat, kontras brutal dengan dingin yang Victoria rasakan hingga ke tulang.
"Lalu sekarang apa?" tantang perempuan itu, dagunya terangkat. "Kau akan memaksaku memakai gaun-gaun ini? Makan malam di meja panjang itu dengan ibumu menatapku seolah aku sebuah cacat biologis?"
Dante menundukkan pandangan ke bibir Victoria, dan sesaat, topeng sang Capo goyah oleh hasrat seorang lelaki. Namun kebekuan itu cepat kembali.
"Sekarang kau akan menempati tempat yang menjadi hakmu," ia memutuskan. "Aku tak akan memasang rantai di pergelangan kakimu, Victoria. Tak perlu. Rantainya adalah anak-anak itu. Mereka bahagia di kamar-kamar baru mereka, terpukau dengan komputer dan area bermain mereka. Kau tak akan mencoba kabur, karena kau tahu bahwa jika kau melakukannya, kali ini kau tak akan bisa membawa mereka."
Victoria merasakan kerongkongannya tercekat. Kebenaran itu menghantam dadanya bagai batu.
"Aku tawananmu," ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.
"Kau tawanan mewahku," Dante mengoreksi, mengusapkan ibu jarinya pada rahang Victoria. "Kau akan punya segala yang kauinginkan. Perhiasan, perjalanan, pelayan terbaik untuk melayanimu. Tapi kau tak akan keluar dari batas kediaman ini tanpa izinku. Kau tak akan bicara dengan siapa pun yang tidak kurestui. Dan setiap malam, kau akan tidur di ranjang ini. Bersamaku."
"Lebih baik aku mati," semburnya.
Dante tersenyum, senyum lambat nan berbahaya yang tak sampai ke matanya.
"Kau sudah pernah mati sekali, pada hari kau melewati pintu itu lima tahun lalu. Anggaplah ini kebangkitanmu. Si kembar membutuhkan ibu mereka, dan aku… aku perlu memulihkan ketertiban di duniaku."
Ia menjauh selangkah, memulihkan sikap tubuhnya yang penuh komando. Ia berhenti di depan jendela besar yang menghadap taman-taman yang disinari lampu sorot keamanan berdaya tinggi.
"Terimalah kenyataanmu, Victoria," ucapnya tanpa menatapnya. "Semakin cepat kau berhenti melawan dinding-dinding emas ini, semakin mudah bagi semua orang. Terutama bagi León dan Cristo. Mereka cerdas. Mereka sudah mulai sadar bahwa kekuasaan jauh lebih nyaman daripada pelarian."
Dante keluar dari kamar itu, meninggalkan Victoria di tengah masa lalunya yang terawetkan. Ia membiarkan dirinya jatuh terduduk di atas karpet wol murni, dikelilingi gaun-gaun yang tak ia inginkan dan parfum yang tak lagi ia kenali. Kesunyian kediaman itu menghimpitnya.
Menembus dinding-dinding, ia bisa mendengar gema tawa León yang jauh, tawa yang tak lagi terdengar bagai San Vicente, melainkan bagai kemenangan.
Victoria pun mengerti bahwa Dante tak menginginkan seorang istri; ia menginginkan sebuah piala yang telah dipugar. Selama Victoria tetap berada di kamar yang utuh itu, Dante bisa berpura-pura bahwa lima tahun rasa sakit yang lalu tak pernah terjadi. Sangkar itu sempurna, dan sang penjaganya adalah satu-satunya lelaki yang, dengan khianatnya, masih tak sanggup dilupakan oleh tubuh Victoria.