Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelang yang di Kembalikan
Pagi itu, udara di koridor sekolah terasa teramat dingin menyapu kulitku. Langkah kakiku menyusuri lantai dengan begitu lambat, membawa beban dada yang serasa begitu berat. Kelopak mataku terasa sembap dan hangat akibat tangisan tanpa henti sepanjang malam, sementara pergelangan tangan kiriku kini terasa polos dan hampa, tanpa lagi melingkar gelang tali hitam berinisial SL yang selama ini kutinggali rasa percaya.
Begitu melangkah memasuki ruang kelas, pandanganku mendadak beradu dengan Kania yang sedang berdiri di dekat meja kami. Raut wajah Kania tampak begitu cemas, tak ada binar keceriaan yang biasanya memancar dari wajah cantiknya.
Saat matanya menangkap kehadiranku, Kania tertegun sejenak. Matanya melirik lurus pada kelopak mataku yang memerah, lalu turun menatap pergelangan tangan kiriku yang polos tanpa gelang.
"Sera..." bisik Kania pelan, suaranya bergetar penuh kekhawatiran.
Tanpa membuang waktu, Kania menarik tanganku lembut, menuntunku keluar dari ruang kelas menuju sudut belakang koridor samping perpustakaan, sebuah tempat yang sepi dari jangkauan siswa-siswi lain yang mulai berdatangan.
"Sera, kamu kenapa?" tanya Kania penuh penekanan seraya memegang kedua telapak tanganku yang dingin. "Kenapa mata kamu sembap banget? Kamu habis nangis semalaman? Terus... gelang dari Mas Iyan mana?"
Aku menundukkan kepala, menarik napas panjang seraya menahan panas yang kembali membakar sudut mataku. Namun, sebelum aku sempat bersuara, Kania sudah lebih dulu menghembuskan napas panjang dengan raut wajah yang amat serba salah.
"Sebenarnya..." tutur Kania pelan, suaranya nyaris berbisik. "Pagi tadi di rumah... Nia ngeliat Mas Iyan sekacau itu, Ser."
Aku mendongak, menatap Kania dengan binar mata yang redup.
"Pagi tadi pas Nia baru bangun," lanjut Kania bercerita dengan nada polosnya yang khas, "Nia ngeliat Mas Iyan duduk di teras rumah. Matanya merah kayak enggak tidur semalaman. Dia cuma diam aja pas Nia sapa."
Kania meremas jemariku lebih erat, menyalurkan rasa cemas yang terpancar di matanya.
"Sebenarnya ada apa sih, Sera? Apa ada hubungannya sama Mas Iyan?"
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menceritakan kenyataan pahit yang sebenarnya pada sahabatku.
"Nia..." panggilku seraya menatap manik matanya lekat-lekat. "Mungkin Mas Adrian seperti itu... karena semalam Sera udah mutusin semua hubungan sama dia."
Kania membelalakkan matanya terkejut. "Maksud kamu... kamu mutusin kedekatan kalian?"
Aku mengangguk pelan, lelehan air mata yang kutahan akhirnya lolos membasahi pipiku.
"Semalam Mas Adrian datang ke rumahku. Dia duduk di ruang tamu. Ponselnya tergeletak di meja... lalu notifikasi pesan masuk dari kontak namanya Sayang 2 menyala terang di depan mata ku sendiri."
Raut wajah Kania seketika berubah tegang.
"Isi pesannya..." bisikku dengan suara serak yang bergetar kepedihan, "'Terima kasih ya untuk hari ini, I love u.'"
"Ya ampun..." pekik Kania tertahan, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya seketika memerah, dipenuhi rasa syok dan amarah yang membuncah.
"Aku langsung masuk kamar," lanjutku menundukkan kepala. "Aku enggak sanggup liat mukanya lagi. Waktu Mas Adrian pamit pulang dan nelpon aku terus-terusan, Sera tegasin lewat telepon kalau aku mau semuanya selesai. Aku blokir nomornya."
Kania membisu untuk beberapa saat. Binar kekecewaan yang teramat besar terpancar jelas dari mata sahabatku itu. Rasa bahagianya saat membanggakan masnya seketika luntur, digantikan oleh rasa murka atas kelakuan Adrian yang telah menghancurkan hati sahabat terdekatnya.
"Tega banget..." bisik Kania dengan napas tersengal pelan. "Tega banget Mas Iyan nyakitin kamu kayak gini, Sera! Nia bener-bener enggak nyangka dia kaya gitu!"
Kania melangkah maju dan langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Ia memelukku erat-erat, menepuk-nepuk punggungku seraya menyalurkan kehangatan seorang sahabat sejati.
"Maafin Mas Iyan ya, Ser..." bisik Kania penuh penyesalan di dekat telingaku. "Nia di pihak kamu."
Sepanjang jam pelajaran sekolah berlangsung, aku berusaha keras memfokuskan pikiranku pada penjelasan guru di depan kelas. Benteng pertahanan diri yang kubangun perlahan menguat. Rasa sakit hati akibat dikhianati kini berganti menjadi ketegaran dingin yang mantap.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi nyaring, aku merapikan buku-bukuku ke dalam tas seragam. Di dalam tas kainku, terbaring kotak kertas cokelat berisikan gelang tali hitam SL yang sengaja kubawa dari rumah.
Aku berjalan melangkah menuju area tempat penitipan motor di samping sekolah berdampingan dengan Celine. Langkah kaki kami menyusuri trotoar luar gerbang yang dipadati siswa-siswi yang berhamburan pulang.
Namun, baru saja kami mendekati gerbang penitipan motor, langkahku terhenti seketika.
Di bawah naungan pohon rindang tepi jalan, sesosok pria berpostur tinggi tampak berdiri menyandarkan badannya di motor besar hitam miliknya. Ia mengenakan jaket denim favoritnya.
Begitu matanya menangkap kehadiranku, binar kepanikan dan keputusasaan seketika memancar dari wajah Adrian. Ia mematikan rokok di tangannya, lalu melangkah terburu-buru menghampiri posisi kami berdiri.
"Sera!" sapa Adrian dengan suara yang terengah-engah dan parau.
Celine yang berdiri di sampingku kaget melihat keberadaan Adrian. Tanpa membuang waktu, Celine merogoh ponsel di sakunya dan melangkah sedikit menjauh untuk menelepon Kania yang masih menunggu jemputan di gerbang depan.
"Nia! Kamu di mana?!" bisik Celine cepat di telepon. "Mas Iyan ada di tempat penitipan motor nih! Dia lagi nemuin Sera!"
"Apa?! Oke, Nia ke sana sekarang!" sahut suara Kania panik dari seberang telepon.
Sementara itu, Adrian melangkah makin dekat denganku. Ia mengulurkan tangannya hendak meraih jemariku. "Sera, Mas mohon... tolong dengerin penjelasan Mas dulu! Jangan blokir nomor Mas kayak gini, Ser!"
Aku menarik tanganku ke belakang dengan dingin, melangkah mundur satu tapak seraya menatapnya tanpa ada rona hangat sedikit pun di mataku.
"Jangan ganggu Sera!"
Sebuah teriakan tegas terdengar dari arah belakang. Kania berlari terengah-engah menghampiri kami, menyela di antara aku dan Adrian. Kania langsung pasang badan berdiri di depan tubuhku, menutupi diriku dari jangkauan Adrian.
Adrian tertegun melihat Kania yang mendadak muncul. "Nia, kamu jangan ikut campur dulu! Ini urusan Mas sama Sera!"
"Nia enggak akan biarin Mas Iyan nyakitin Sera lagi!" seru Kania dengan suara yang bergetar menahan amarah. Matanya menatap Adrian dengan raut murka dan kecewa. "Nia udah tahu semuanya dari Sera! Mas Iyan jahat banget tahu enggak?!"
Kania yang terbakar emosi mendadak menengadahkan tangannya di depan dada Adrian.
"Siniin HP Mas Iyan! Nia mau liat!"
Adrian mengerutkan dahi, melangkah mundur. "Maksud kamu apa sih, Nia?!"
"Siniin HP Mas Iyan!" paksa Kania seraya merebut ponsel pintar yang tersembul di saku jaket denim Adrian sebelum pria itu sempat mencegahnya.
Dengan jemari yang lincah dan wajah yang memerah tegang, Kania menyalakan layar ponsel abangnya yang tidak terkunci. Kania langsung membuka aplikasi percakapan. Matanya bergerak cepat menyusuri barisan nama kontak di sana.
"Nia, balikin HP Mas!" seru Adrian panik, berusaha meraih kembali ponselnya.
"Nia mau nyari siapa itu Sayang 2!" bentak Kania menepis tangan Adrian. Matanya mendadak terhenti pada salah satu nama kontak di daftar paling atas.
Kania menatap layar itu dengan dahi berkerut bingung. "ini maksudnya apa?! Siapa yang mas kasih nama kontak Sayang 2?!"
"Kania! Cukup!" bentak Adrian dengan suara keras yang memotong keheningan di trotoar. Wajah Adrian memerah frustrasi. "Kamu tuh enggak tahu apa-apa dan enggak usah ikut campur urusan Mas! Pulang sana!"
Kania membatu. Bentakan keras itu membuat matanya seketika berkaca-kaca karena terkejut dan terluka. Namun, sikap defensif dan marah yang ditunjukkan Adrian justru makin menegaskan di depan mataku betapa banyaknya rahasia busuk yang berusaha ia tutupi.
Aku menarik napas panjang, menetralkan desiran nyeri di dada. Dari dalam tas seragamku, aku mengeluarkan kotak kertas cokelat berbalut pita sederhana yang berisikan gelang tali hitam SL.
Aku melangkah melewati samping bahu Kania, berdiri tepat di hadapan Adrian.
Dengan jemari yang mantap dan tanpa ada getaran sedikit pun, aku mengulurkan kotak hadiah tersebut dan meletakkannya tepat di atas telapak tangan Adrian.
Adrian menatap kotak di tangannya dengan mata membelalak tak percaya. "Sera... ini..."
"Ini gelang pemberian Mas. Sera kembalikan," ucapku pelan namun teramat dingin dan tegas. Mataku mengunci manik matanya tanpa ragu. "Hubungan kita udah selesai, Mas.
Tolong jangan pernah datang ke rumah Sera lagi, dan tolong jangan pernah ganggu kehidupan Sera lagi."
"Sera, jangan kayak gini, Mas mohon..." bisik Adrian serak, tangannya yang memegang kotak gelang itu gemetar hebat.
"Ayo, Nia," ajakku seraya memutar tubuhku tanpa menantikan balasan kalimat darinya lagi.
Aku dan Kania melangkah mantap memasuki area tempat penitipan motor, meninggalkan Adrian yang berdiri membeku seorang diri di atas trotoar di bawah naungan pohon rindang.
Saat aku memajukan sepeda motor matic merahku keluar dari area parkir dan melaju membelah jalanan kota bersama sejuknya angin sore, aku menyadari satu hal: perjalananku memang masih panjang dan terjal, tetapi hari ini, aku berhasil menegakkan harga diriku sendiri di atas reruntuhan cinta yang salah.