⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 7: Kesadaran Jiwa Baru
Belum sempat Shen Yue menurunkan kakinya dari ranjang untuk mencoba berjalan, suara langkah kaki bergesekan dengan lantai kayu terdengar dari luar kamar.
Tirai pintunya tersingkap. Seorang pelayan wanita paruh baya, salah satu bawahan kepercayaan Jiang Xiuwei bernama Pelayan Bi, masuk membawa nampan berisi mangkuk porselen yang memancarkan aroma obat pahit dan pekat.
Pelayan Bi melangkah tanpa rasa hormat sedikit pun. Matanya tertuju pada mangkuk di nampan, dan sama sekali tidak menduga bahwa sosok yang terbaring kaku bagai mayat selama dua hari itu kini sedang duduk tegak di atas ranjang.
"Nona Sulung, Nyonya Besar menyuruh saya membawakan obat ini lagi. Kalau Anda tidak mau minum, jangan salahkan saya kalau harus meminumkannya secara paksa seperti kemarin—"
Ocehan Pelayan Bi terhenti seketika saat ia mendongak.
Mangkuk porselen di atas nampan bergetar hebat. Pelayan Bi membeku di tempatnya. Sepasang mata yang biasanya pasrah, redup, dan ketakutan itu kini menatapnya lurus-lurus.
Tatapan Shen Yue begitu dingin, tajam, dan tidak memiliki rasa takut sedikit pun, bagaikan seekor macan tutul yang sedang mengawasi mangsa kecil.
"N-Nona... Anda... Anda sudah sadar?" gagap Pelayan Bi. Langkah kakinya otomatis mundur setengah tindak karena aura tekanan yang memancar dari ranjang.
Shen Yue menyilangkan dadanya, lalu menyandarkan punggung ke kepala ranjang dengan sikap santai namun berwibawa. "Mengapa? Kau kecewa melihatku bangun?"
Suara Shen Yue terdengar tenang, namun tiap kata yang diucapkannya terasa seperti ketukan bel kematian bagi pelayan tersebut.
Pelayan Bi menyapu rasa terkejutnya dengan cepat. Sebagai orang kepercayaan Jiang Xiuwei yang sudah biasa menindas Shen Yue selama bertahun-tahun, ia mencoba mengembalikan dominasinya.
Ia lantas menegakkan busung dadanya dan melangkah mendekat dengan wajah yang dibuat sekeras mungkin.
"Bicara apa Anda ini, Nona Muda? Tentu saja saya senang Anda sadar," ujar Pelayan Bi kasar sambil meletakkan mangkuk obat di atas meja samping ranjang hingga menimbulkan bunyi takk yang keras.
"Nyonya Besar sudah sangat berbaik hati merawat Anda selama dua hari ini saat Anda pingsan dan mempermalukan keluarga di depan Putra Mahkota! Cepat minum obat ini!" lanjutnya.
Shen Yue melirik mangkuk obat beraroma pekat itu. Hidungnya yang terlatih dan tajam langsung menangkap bau herba berbahaya yang terlalu keras untuk tubuh yang baru bangun dari koma.
"Siapa yang meracik obat ini?" tanya Shen Yue datar.
"Tentu saja Tabib Kediaman atas perintah Nyonya Besar!" jawab Pelayan Bi tak sabar. "Jangan banyak alasan, Nona. Minum sekarang sebelum obatnya dingin, atau saya akan memanggil pengawal untuk memegangi Anda!"
Shen Yue terkekeh pelan. Sebuah kekehan dingin tanpa humor yang membuat bulu kuduk Pelayan Bi berdiri.
"Memegangi aku?" Shen Yue memiringkan kepalanya sedikit. "Sejak kapan seorang pelayan punya wewenang mengancam putri kandung pemilik kediaman ini?"
"Anda jangan bertindak seolah-olah Anda memiliki posisi di rumah ini!" bentak Pelayan Bi, yang kehilangan kesabarannya. Tangan pelayan itu terulur kasar hendak mencengkeram rahang Shen Yue untuk memaksa obat itu masuk ke mulutnya. "Nyonya Besar adalah penguasa rumah ini! Jangan membuat saya bersikap kasar!"
Tangan Pelayan Bi meluncur cepat menuju wajah Shen Yue. Dalam ingatan masa lalu, Shen Yue asli akan memejamkan mata dan menangis pasrah menerima perlakuan ini.
Namun kali ini, gerakan pelayan tua itu terlihat begitu lambat di mata Shen Yue modern yang terbiasa menangkal serangan pedang dan pukulan cepat di arena pertarungan.
Sret!
Sebelum jemari Pelayan Bi menyentuh kulitnya, tangan kiri Shen Yue melesat bagaikan kilat. Dengan teknik kuncian pergelangan tangan (wrist-lock) yang presisi, Shen Yue menangkap pergelangan tangan Pelayan Bi, lalu memutarnya ke luar dalam hitungan sepersekian detik!
Klek!
"AAAGHH!" Pelayan Bi menjerit histeris. Rasa sakit yang luar biasa menghantam persendian pergelangan tangannya yang terkilir secara mendadak.
Belum selesai rasa syok pelayan itu, Shen Yue memanfaatkan momentum pergerakan tubuh lawan. Dengan tangan kanannya yang sudah kembali memiliki sisa tenaga, ia mencengkeram leher jubah Pelayan Bi dan menariknya ke bawah secara drastis!
Bruk!
Tubuh gempal Pelayan Bi tersungkur kasar di tepi ranjang. Kepalanya menempel pada papan kayu kasur, sementara pergelangan tangannya masih dikunci rapat oleh Shen Yue dengan tekanan jari yang tepat di titik saraf sensitifnya.
"A-ampun! Nona! Sakit! Lepaskan!" jerit Pelayan Bi dengan wajah merah padam berurai air mata. Ia tidak mengerti dari mana gadis lemah ini mendapatkan kekuatan dan ketangkasan mengerikan seperti ini!
Shen Yue membungkuk sedikit, dan mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Pelayan Bi. Napas dinginnya berhembus pelan, seolah mengirimkan rasa teror yang murni ke dalam jiwa pelayan tersebut.
"Dengar baik-baik," bisik Shen Yue dengan nada suara rendah, tenang, dan penuh ancaman membunuh. "Mulai hari ini, zaman di mana kau dan tuanmu bisa menginjak-injakku sudah berakhir. Sekali lagi kau mengangkat tanganmu padaku... aku tidak akan sekadar memutar pergelangan tanganmu, tapi mematahkannya menjadi tiga bagian. Kau mengerti?"
"M-mengerti! Hamba mengerti, Nona! Ampun!" tangis Pelayan Bi melengking.
Shen Yue melepaskan kuncian tangannya dengan sekali sentakan, hingga membuat Pelayan Bi jatuh terduduk di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya yang membengkak.
Shen Yue lalu meraih mangkuk porselen berisi obat pekat di atas meja dan menatap Pelayan Bi yang gemetar ketakutan di lantai.
"Sekarang," ujar Shen Yue sambil menyodorkan mangkuk itu ke depan wajah Pelayan Bi. "Karena kau begitu bersemangat menyuruhku meminum obat yang diracik oleh Nyonya Besar... kenapa kau tidak meminumnya lebih dulu untuk membuktikan obat ini aman?"
Mata Pelayan Bi membelalak lebar. Wajahnya seketika berubah pucat pasi melebihi warna kertas!
"N-Nona... ini obat khusus untuk Anda! Hamba... hamba tidak berani meminumnya!" jawab Pelayan Bi gagap, dengan mencoba menggeser tubuhnya agar mundur di atas lantai kayu.
Shen Yue memicingkan matanya. Reaksi panik Pelayan Bi sudah cukup menjadi bukti baginya. Obat ini jelas mengandung bahan kimia atau herba pembuat lemah tubuh yang sengaja diberikan secara bertahap agar Shen Yue tetap berada dalam kondisi kritis atau penurut.
"Oh? Tidak berani?" seru Shen Yue sambil berdiri dari tempat tidur.
Meski kakinya masih terasa agak lemas dan agak gemetar akibat dua hari tak berdaya, ia mempertahankan postur tubuhnya agar tetap tegak dan lurus.
Aura keteguhan dan dominasi menyelimuti sosoknya, dan menghapus sepenuhnya citra putri lemah yang biasanya selalu menunduk.
Ia kemudian melangkah perlahan mendekati Pelayan Bi. Setiap dentakan telapak kakinya yang bertelanjang di atas lantai kayu terasa bagai ketukan lonceng eksekusi.
Shen Yue memiringkan mangkuk porselen itu sedikit. Cairan hitam pekat itu pun menetes pelan ke lantai kayu, hingga memancarkan bau asam yang terselubung.
"Pergi dan beritau Jiang Xiuwei," kata Shen Yue dingin, menyebut nama ibu tirinya secara langsung tanpa gelar kehormatan. "Jika dia ingin memberiku obat lagi, suruh dia membawakannya sendiri. Dan katakan padanya... Shen Yue yang lama sudah mati dua hari yang lalu."
Pelayan Bi tidak perlu diperintah dua kali. Tanpa memperdulikan rasa sakit pada pergelangan tangannya yang terkilir, pelayan tua itu merangkak bangun dengan terburu-buru, menyeret kakinya dan berlari keluar dari kamar sambil berteriak ketakutan.
"Nyonya! Nyonya Besar! Nona Sulung... Nona Sulung gila!" teriakannya menghilang di sepanjang lorong paviliun, hingga kamar itu pun kembali sunyi.
Shen Yue lantas membuang sisa cairan obat di mangkuk ke dalam pot tanaman dekat jendela, lalu meletakkan mangkuk kosong itu di meja. Ia lalu berjalan menuju cermin tembaga besar yang berdiri di sudut ruangan.
Ia menatap pantulan dirinya. Wajah di dalam cermin itu sangat cantik, dengan bentuk alis yang melengkung indah dan mata berbentuk buah almond yang menawan. Namun, tubuh ini sangat kurus, kulitnya pucat kurang nutrisi, dan rambutnya agak kusam.
Shen Yue meletakkan jemarinya di depan dada, dan merasakan detak jantung tubuh ini yang perlahan-lahan makin stabil dan kuat seiring masuknya jiwanya secara utuh.
"Fisik ini terlalu lemah," gumam Shen Yue sambil menepuk pelan otot tangannya. "Aku butuh nutrisi yang benar, latihan pemulihan stamina, dan yang paling penting... sebuah senjata."
Ia kemudian melirik ke arah luar jendela. Malam pun mulai pekat, dan angin dingin berhembus membawa kabar bahwa badai politik di Kediaman Shen baru saja dimulai.
Ibu tirinya pasti akan datang membawa pasukan pelayan atau meminta pertolongan Jenderal Shen Longwei untuk menundukkannya kembali.
Namun Shen Yue modern tidak merasa takut sedikit pun. Darahnya justru berdesir hangat oleh rasa ketegangan yang sudah lama tak dirasakannya sejak pertandingan beladiri terakhirnya di dunia modern.
"Mari kita lihat," ujar Shen Yue pada pantulan dirinya di cermin sambil tersenyum tipis dan tajam. "Seberapa jauh kalian bisa bertahan saat bidak catur ini mulai memakan rajanya sendiri."
Bersambung...