GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pre-Wedding Jalur Gaza dan Sang Mantan Metodis
Sebulan setelah insiden lamaran epik di taman kota, Gala dan Senja mulai disibukkan dengan persiapan pernikahan. Sesuai tradisi kekinian, mereka menjadwalkan sesi foto pre-wedding di sebuah padang rumput estetik yang berbatasan dengan tebing karang di pinggiran kota. Angin berhembus sejuk, ombak berdebur dari kejauhan, dan langit biru cerah membentang sempurna.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi optik.
Gala berdiri kaku dengan setelan jas tuxedo warna krem yang membuatnya terlihat seperti pramusaji restoran hidangan laut. Di sebelahnya, Senja mengenakan gaun putih berekor panjang yang sangat ketat di bagian pinggang. Napasnya terengah-engah, bukan karena gugup, melainkan karena korset gaunnya diikat terlalu kencang.
Di balik kamera, berdiri seorang fotografer yang tampak gemetar. Penyebabnya jelas: tepat di sebelah fotografer itu, Siska berdiri tegak sambil memegang stopwatch digital dan papan klip. Ya, karena suatu kebodohan kolektif, mereka menyewa Siska sebagai Wedding Organizer (WO) merangkap Kepala Keamanan.
Siska menatap jamnya lalu menoleh ke Gala dan Senja dengan ekspresi datar andalannya.
"Waktu sesi foto tersisa 45 menit. Jika melebihi batas waktu, denda overtime fotografer adalah lima ratus ribu rupiah per jam, belum termasuk komisi WO sebesar sepuluh persen. Tersenyumlah sekarang. Waktu adalah uang."
"Bisa nggak sih muka lo santai dikit, Sis? Gue berasa lagi difoto buat buku buronan polisi!" protes Gala sambil mencoba tersenyum, meski bibirnya berkedut kaku.
Tepat saat fotografer memberikan aba-aba untuk berpose romantis, sebuah suara menderu dari atas langit memecah konsentrasi mereka. Sebuah helikopter sewaan berwarna merah menyala terbang rendah, mengipasi rambut Gala hingga tatanan pomade-nya hancur berantakan.
Dari pintu helikopter, seutas tali zip-line dilemparkan ke bawah. Sesosok pria berjaket kulit hitam dengan kacamata hitam ala agen rahasia meluncur turun dengan gaya dramatis. Sialnya, ia salah memperhitungkan arah angin. Alih-alih mendarat mulus di rerumputan, pria itu mendarat dengan wajah menabrak semak-semak duri di pinggir tebing.
"Aduh! Cut! Cut! Stuntman-nya mana nih?!" teriak pria itu sambil merangkak keluar dari semak, mencabuti ranting dari rambut gondrongnya.
Senja memicingkan mata, mengenali siluet pria tersebut. Jantungnya berdegup antara kaget dan jengkel tingkat dewa. "Bima?!"
Pria bernama Bima itu berdiri tegak, membetulkan kacamata hitamnya yang miring. Bima adalah mantan kekasih Senja lima tahun lalu. Ia adalah seorang aktor film laga kelas B yang sangat terobsesi dengan method acting—ia menjalani hidupnya seolah-olah ia selalu berada di dalam naskah film aksi. Mereka putus karena Bima pernah menyewa preman asli untuk berpura-pura menyerang Senja di jalan, hanya agar Bima bisa menyelamatkannya (yang berakhir dengan Senja membanting para preman itu ke rumah sakit, dan Bima lari ketakutan).
"Senja," ucap Bima dengan suara berat yang dibuat-buat, persis seperti dubbing film tahun 90-an. "Aku mendengar kau akan menikah dengan pria biasa. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kau adalah Bond Girl-ku. Dan aku datang untuk merebutmu kembali."
Gala melangkah maju, menutupi Senja dari pandangan Bima. Ego mematikannya seketika tersulut. "Siapa lagi ini, Nja? Kok mantan lo bentukannya aneh-aneh semua? Yang satu sadboy TikTok, yang ini figuran film G-30-S PKI?"
"Jaga mulutmu, Jurnalis!" Bima menunjuk Gala secara dramatis. "Aku Bima Pangestu! Bintang film 'Serigala Aspal Berdarah 3'. Dan hari ini, kita akan menyelesaikan ini secara laki-laki."
Bima menjentikkan jarinya. Dari balik bukit kecil, tiga orang pria bertubuh kekar muncul membawa tongkat karet properti. Bima rupanya membawa kru stuntman-nya sendiri untuk mengintimidasi Gala.
"Senja, tetap di belakangku," bisik Gala sok jagoan, bersiap menggulung lengan jasnya yang sempit.
"Gal, jangan gila! Jasmu itu harganya sewa dua juta!" peringat Senja, kesulitan bergerak karena korset gaunnya yang mencekik.
Bima tidak menunggu lebih lama. Ia melempar sebuah granat asap ke tengah padang rumput. Sayangnya, asistennya salah membeli barang; alih-alih asap militer yang garang, granat itu malah mengeluarkan asap pink tebal beraroma stroberi yang biasa digunakan untuk acara gender reveal bayi.
Di tengah kabut pink yang manis itu, kekacauan terjadi. Gala, yang matanya perih kelilipan asap, merampas payung reflektor cahaya milik fotografer dan menggunakannya sebagai tameng sekaligus senjata. Ia menyodok perut salah satu stuntman Bima dengan ujung payung.
Senja, yang tak tahan melihat Gala dikeroyok, mencoba menendang tinggi, namun kain gaunnya merobek dengan suara keras: SRREEET! "Bima sialan! Gaunku rusak!" teriak Senja mengamuk. Karena kakinya kini bebas berkat robekan gaun, ia melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparnya tepat mengenai dahi stuntman kedua.
Pertarungan pre-wedding itu lebih mirip tawuran komedi di tengah pasar. Bima mencoba melompat ke arah Gala dengan tendangan memutar, tapi jas tuxedo Gala yang licin membuat kaki Bima terpeleset, dan ia jatuh telentang menabrak tripod kamera.
Di pinggir medan pertempuran, Siska berdiri santai sambil mencatat sesuatu di papan klipnya dengan cepat. Setelah dua menit baku hantam yang membuat padang rumput itu berantakan, Siska meniup peluit survival yang suaranya memekakkan telinga.
Semua orang berhenti seketika. Gala terengah-engah memegang payung patah, Senja memegang sisa gaunnya yang sobek panjang hingga paha, dan Bima mengusap punggungnya yang encok.
Siska berjalan membelah asap pink stroberi itu layaknya malaikat pencabut nyawa. Ia menatap Bima dengan pandangan kosong.
"Interupsi keamanan. Anda Bima Pangestu?" tanya Siska datar.
"Y-ya? Kamu siapa? Pemeran pembantu?" Bima kebingungan.
Siska tidak menjawab. Ia hanya membacakan daftar tagihan dengan ritme monoton:
Sabotase Lokasi: Rp 2.500.000,-Kerusakan Peralatan Fotografi (Tripod & Payung): Rp 3.000.000,-Biaya Laundry Asap Berwarna: Rp 500.000,-Polusi Suara Helikopter: Rp 1.500.000,-Ganti Rugi Gaun Klien: Rp 8.000.000,-Jasa Interception WO Darurat: Rp 5.000.000,-"Total tagihan Anda adalah dua puluh juta lima ratus ribu rupiah. Anda mengganggu sesi klien VVIP saya," Siska menyodorkan mesin EDC kecil ke depan wajah Bima. "Bisa bayar penuh sekarang, atau saya akan menerapkan prosedur penagihan fisik level 4."
Bima menatap deretan angka itu dengan mata melotot. "Dua puluh juta?! Gajiku main film aja cuma lima juta sebulan!"
"Kalau begitu, saya akan mengambil ginjal Anda sebagai jaminan," ucap Siska tanpa berkedip, tangannya perlahan meraih sesuatu dari dalam saku jaketnya (yang ternyata hanya pulpen besi, tapi Bima sudah pucat pasi).
Ketakutan setengah mati melihat aura membunuh Siska, Bima langsung memerintahkan ketiga stuntman-nya untuk mengumpulkan seluruh dompet, perhiasan emas, dan jam tangan mereka, menyerahkannya sebagai jaminan kepada Siska, lalu lari terbirit-birit menuruni bukit, meninggalkan helikopternya yang masih menyala di kejauhan.
Asap pink perlahan menipis. Siska memasukkan barang sitaan ke dalam tasnya, lalu menatap Gala dan Senja. "Lokasi sudah aman. Waktu sisa 15 menit. Gaun robek justru memberi kesan avant-garde. Silakan lanjutkan pose romantis kalian."
Gala, yang jasnya sudah kotor oleh debu, dan Senja, yang gaunnya robek tinggi bak karakter petarung jalanan, saling berpandangan. Alih-alih marah, mereka tertawa terbahak-bahak. Gala menarik pinggang Senja, menempelkan dahinya ke dahi Senja di tengah padang rumput yang porak-poranda dan sisa asap berbau stroberi.
Kamera berbunyi klik. Menghasilkan foto pre-wedding paling aneh, bar-bar, namun paling bahagia yang pernah ada.