Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genit Banget Deh!
Agnia yang berada beberapa anak tangga di depan mendadak menghentikan langkahnya dan berpura-pura membetulkan tali sepatunya yang longgar, padahal sepasang matanya bergerilya memperhatikan interaksi manis antara Reyna dan Dikta di pendar redup puncaknya Bukit Sikunir.
Melihat bagaimana Dikta dengan begitu telaten melingkarkan syal abu-abu miliknya ke leher Reyna, bahkan menawarkan tangannya untuk dijadikan pegangan, senyum lebar langsung merekah di bibir Agnia. Dadanya bersorak riang, usahanya untuk menyeret Reyna keluar dari jerat kesedihan dan membawanya ke Dieng terasa sangat tidak sia-sia.
"Ekhem! Ketinggalan jauh banget nih yang di belakang!" goda Agnia setengah berteriak, memecah kecanggungan yang membungkus Reyna dan Dikta.
Reyna yang tersentak kaget refleks menarik tangannya dari lengan jaket Dikta, pipinya memerah padam merutuki godaan Agnia. Namun, Dikta tetap menunjukkan ketenangannya. Pria itu hanya menatap Agnia sekilas tanpa beban, lalu kembali menatap Reyna dengan pandangan yang menenangkan.
"Ayo, sedikit lagi sampai puncak," ucap Dikta tenang, seolah tidak terpengaruh oleh godaan Agnia.
Setelah perjuangan menapaki puluhan anak tangga yang licin dan menanjak, rombongan mereka akhirnya tiba di puncak Bukit Sikunir. Tepat pada waktunya, ufuk timur yang semula pekat meremang mulai dibasahi rona jingga kemerahan. Golden Sunrise yang legendaris itu menyembul pelan di balik lautan awan, memancarkan kehangatan yang perlahan mengusir hawa beku di Puncak Sikunir.
"Gila... keren banget!" seru Anton terperangah.
Pria itu langsung mengeluarkan ponselnya untuk berswafoto dengan latar belakang lautan awan, sementara Faris sudah sibuk membidikkan kamera mirrorless-nya dari berbagai sudut.
Reyna terpaku di pinggir pembatas kayu, angin pegunungan masih berhembus kencang dan membelai wajahnya yang diterpa sinar matahari pagi. Pemandangan hamparan awan putih yang membentang di bawah kaki serta siluet gunung-gunung gagah di kejauhan membuat matanya berkaca-kaca. Keindahan alam yang luar biasa ini seolah memeluk dan mencuci bersih seluruh sakit hati, kekecewaan dan rasa tertekan yang ia pendam selama bertahun-tahun di kantor lamanya.
Di balik syal abu-abu beraroma kayu manis yang membalut lehernya, Reyna tersenyum tulus. Sebuah senyuman yang benar-benar lepas dari beban.
Tanpa Reyna sadari, Dikta berdiri tak jauh di sampingnya. Pria itu sama sekali tidak menatap ke arah matahari terbit, melainkan menatap lurus ke arah profil wajah Reyna dari samping. Dikta memperhatikan bagaimana mata gadis itu berbinar dan bagaimana senyum lega akhirnya terukir cantik di bibirnya. Sebuah sudut bibir Dikta terangkat tipis, menyunggingkan senyum tulus yang sangat langka terlihat di wajahnya yang biasanya kaku dan dingin.
Klik!
Suara rana kamera mengagetkan mereka berdua. Faris tertawa renyah sambil menurunkan kameranya dari depan mata.
"Dapat foto bagus banget nih! Latar belakang matahari terbit, candid Dikta lagi ngeliatin Reyna!" goda Faris penuh kemenangan.
"Mana, ris? Coba gue lihat!" celetuk Aldo bersemangat.
"Wah, iya! Ini mah estetika dapet, chemistry-nya dapet banget!" timpal Amel yang ikut mengintip layar kamera Faris.
Wajah Reyna makin merona hebat, ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lautan awan demi menutupi rasa malu. Sementara Agnia langsung menghampiri Faris dengan mata berbinar.
"Faris, awas ya kalau foto itu nggak dikirim ke aku! Pokoknya kirim loh ya!" seru Agnia riang.
Setelah itu, Agnia menghampiri suaminya. "Mas Bagas, tuh lihat kan? Muka Dikta kalau lagi lihatin Reyna beda banget! Beneran ada harapan ini mah!" bisik Agnia bersemangat pada Bagas.
Bagas terkekeh pelan seraya merangkul bahu istrinya, "Iya, sayang... Mas juga baru pernah lihat Dikta se-perhatian ini sama cewek. Biasanya dia cuek banget kalau diajak nongkrong ada cewek lain," jawabnya.
Keinginan Agnia untuk menjodohkan Reyna dan Dikta kini bukan lagi sekadar keisengan belakangan, melainkan sebuah tekad bulat. Ia melihat betapa Dikta bisa menjadi pelindung yang tenang dan hangat bagi Reyna yang terbiasa hidup keras dan mandiri sendirian.
Sinar matahari pagi yang makin meninggi perlahan-lahan menyapu hawa beku di Puncak Sikunir. Hamparan lautan awan yang membentang luas berwarna keemasan menjadi latar belakang yang sempurna, membuat hampir semua orang di sana sibuk mengabadikan momen. Agnia dan Bagas sedang asyik berswafoto berdua, sementara Faris dan Aldo sibuk mengecek hasil jepretan kamera mirrorless di dekat pembatas kayu.
Reyna masih berdiri mematung di tepian puncak, menikmati terpaan angin pagi yang tak lagi terasa menyengat berkat syal abu-abu hangat milik Dikta yang melilit lehernya. Senyum tipis belum lepas dari bibirnya, merasa kedamaian yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Namun, ketenangan Reyna mendadak terganggu ketika sebuah langkah kaki mendekat. Anton, dengan jaket tebal dan kacamata hitam yang kini disematkan di atas kepalanya, menyandarkan siku di pembatas kayu tepat di samping Reyna.
"Keren banget ya pemandangannya, Rey?" sapa Anton ramah, mengulas senyum manis yang dipersiapkan sebaik mungkin.
Reyna sedikit tersentak, lalu menoleh dan mengangguk sopan. "Iya, indah banget. Ini pertama kalinya aku ke sini," jawabnya.
Anton terkekeh pelan, menggeser posisinya agar bisa menatap wajah Reyna dari samping. "Makanya, sering-sering main keluar. Oiya, tadi aku perhatiin, kamu kayaknya masih agak sungkan ya sama kita-kita? Santai aja kali, Rey. Kita-kita ini asyik kok, apalagi aku. Aku paling jago bikin suasana jadi rame,"
"Nggak kok, kalian semua baik banget. Aku cuma... masih agak takjub aja sama tempat ini," sahut Reyna canggung.
"Nah, kalau gitu, gimana kalau habis dari Dieng ini kita jalan-jalan di Bandung? Gue tahu beberapa tempat ngopi yang cozy banget di daerah Dago, cocok buat kamu yang suka ketenangan," potong Anton cepat.
Sorot mata Anton memancarkan ketertarikan yang amat jelas, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan niatnya untuk mendekati Reyna.
Di sudut lain puncak, Agnia yang tadinya sedang berpose di depan kamera ponsel Bagas mendadak menghentikan gerakannya. Pandangannya tidak sengaja menangkap sosok Anton yang sedang berdiri teramat dekat dengan Reyna, bahkan beberapa kali terlihat memiringkan tubuhnya seolah ingin membisikkan sesuatu.
Dahi Agnia berkerut tajam, rasa tidak suka langsung membakar dadanya. "Mas," bisik Agnia seraya menyenggol lengan suaminya dengan cukup keras.
"Apa, Yang?" tanya Bagas.
"Lihat tuh si Anton! Ngapain coba dia mepet-mepet Reyna begitu? Genit banget deh!" bisik Agnia.
Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk istrinya, lalu terkekeh santai. "Ya ampun, Nia... Biarin aja sih. Anton sama Reyna kan nggak punya pasangan, ya wajar dong kalau Anton mau coba pendekatan."
"Gak bisa gitu dong! Kan Reyna mau dijodohin sama Dikta! Kenapa malah Anton yang maju?" semprot Agnia dengan nada tertekan, matanya melotot tajam ke arah Bagas.
Bagas menghela napas panjang, mencoba meredam emosi istrinya yang mulai meletup-letup. "Sayang... kemarin pas kita di rest area, Anton itu udah bilang sama Dikta."
"Maksud Mas apa? Anton bilang apa emangnya? tanya Agnia.
"Kemarin Anton bilang mau deketin Reyna ke Dikta, dan kamu tahu Dikta jawab apa?" Bagas menggantung kalimatnya sejenak.
"Jawab apa Mas? Jangan bikin penasaran deh!" desak Agnia makin panas.
"Dikta cuma jawab terserah, makanya sekarang Anton lagi coba deketin Reyna," ucap Bagas.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor