"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Hantaman Kenyataan
Nikolai
Helena tak memberiku celah sedikit pun. Setiap geraknya mengiris lebih dalam. Ia menyentuh perutnya dan berkata, tegas, tanpa ragu,
"Bahwa dia dan bayinya… tidak membutuhkanku."
Rasanya seperti sebilah pancang ditancapkan ke jantungku. Setiap kata bergema, setiap suku kata adalah bilah pisau.
Ia lalu bangkit, menjaga jarak, dengan kehati-hatian yang nyaris defensif, seolah aku bahkan tak berhak menyentuhnya. Tapi mataku mengikutinya ke seluruh penjuru ruangan, setiap langkah, setiap gerak, setiap embusan napas.
Kulihat ketika ia kembali duduk, menyentuh perutnya dengan lembut, dan Natalia mendekat lalu duduk di sisinya. Semuanya akhirnya tampak seimbang, nyaris sempurna. Sampai seorang bajingan mendekat dan menyentuh perut istriku.
Aku tak sempat berpikir. Tubuhku bereaksi sebelum akal. Dalam tiga langkah, aku sudah berdiri di depan Helena, tinju terkepal, dada terbakar amarah dan keputusasaan.
Natalia, lebih cepat dari dugaanku, bangkit dan menarikku kuat-kuat di lengan, mencoba menahanku. Setiap otot di tubuhku ingin meledak, tapi tatapannya yang tegas mengingatkanku bahwa hari ini bukan saatnya kehilangan kendali.
Tapi di dalam, api yang berkobar tak tertahankan. Istriku… anakku…
"Apa yang kaupikir sedang kaulakukan, Nikolai?"
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan amarah yang masih membakar di dalam diriku, tapi suaraku keluar tegas, penuh kebenaran,
"Aku tidak akan duduk diam melihat pria lain menyentuh istriku."
Natalia memotongku sebelum aku sempat maju. Suaranya tegas, hampir seperti sebilah pisau,
"Istri?" ulangnya, menatapku dengan mata setajam baja. "Istri yang kau usir dari hidupmu dalam keadaan hamil? Istri yang menangisi ketiadaanmu selama dua minggu, tanpa makan dengan benar, tanpa tidur?"
"Kau tak berhak, Niko."
Kurasakan kata-kataku terhenti di hadapan kebenaran yang ia lemparkan ke wajahku. Setiap suku katanya seperti pukulan, mengingatkanku akan kekejamanku sendiri, akan harga diri yang membutakanku, akan jarak yang kuciptakan di antara kami.
Tubuhku masih ingin maju, ingin mendorongku ke arahnya, tapi ada sesuatu di dalam diriku yang terkunci. Ia benar. Aku tak berhak. Tidak seperti ini. Tidak setelah semua yang terjadi.
Dan sementara aku menarik napas dalam, merasakan sesak di dada, aku menyadari bahwa kendali tak lagi terletak pada kekuatan fisik, melainkan pada kesabaran yang harus kutemukan… jika masih ada kesempatan untuk merebut kembali apa yang telah kuhancurkan.
Aku mundur selangkah, menelan amarah, harga diri, dan frustrasi yang masih membakar di dalam diriku. Kutarik napas dalam-dalam, mencoba menata pikiran yang bersikeras melahapku.
Tanpa berkata sepatah kata pun, aku mulai menjauh. Setiap langkah terasa berat, setiap gerakan menyeret hatiku. Kurasakan tatapan semua orang tertuju padaku, tapi aku tak menoleh. Aku tak bisa. Aku tak ingin menghadapi siapa pun sekarang, terutama Helena.
Kata-kata Natalia bergema di dalam kepalaku: "Kau tak berhak." Kata-kata itu tajam, tak berbelas kasihan, dan menghantamku dengan keras. Setiap suku kata menghantam kesadaranku, mengingatkanku akan kegagalanku sendiri, akan kekejamanku, dan akan harga diri yang membutakanku.
Aku keluar dari ruangan tanpa menoleh ke belakang, merasakan beban setiap keputusan, setiap gerak, setiap ketiadaan. Udara terasa lebih berat, dunia lebih jauh, dan yang bisa kupikirkan hanyalah bagaimana memperbaiki sesuatu yang mungkin telah kuhancurkan sendiri.
Tapi untuk sekarang, yang bisa kulakukan hanyalah berjalan, menjauh, dan menelan luka yang melahapku dari dalam.
Aku masuk ke mobil dan pintu tertutup dengan bunyi debam pekat. Keheningan itu memancingku. Aku kehilangan kendali dan meninju setir sekali, dua kali, tiga kali, sampai rasa sakit menjalar naik ke tanganku dan berdenyut kuat. Itu tak seberapa. Bahkan tak sedikit pun mendekati apa yang terbakar di dalam dada.
Dmitry masuk tak lama kemudian. Ia duduk di sisiku, tak berkata apa-apa. Ia cukup mengenalku untuk tahu bahwa kata apa pun sekarang akan menjadi kesalahan.
"Aku mau dua pengawal untuk Helena," ucapku, suaraku pelan, keras. "Yang tidak mencolok. Dua puluh empat jam. Dan aku mau dikabari setiap jam."
Dmitry hanya mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel, menjauh sedikit dari kursi, dan menyelesaikan semuanya dalam hitungan menit. Kulihat lewat pantulan kaca: pesan-pesan singkat, perintah-perintah langsung. Ketika ia menyimpan ponselnya, aku tahu semuanya sudah beres.
Mobil melaju. Lampu-lampu kota berlalu buram di jendela sementara kami menuju hotel. Tanganku masih terasa sakit, tapi aku tak mengalihkan pandangan dari jalan. Aku tak bisa melindunginya dari diriku sendiri, tapi aku bisa melindunginya dari seluruh dunia yang lain.
Meski ia tak akan pernah tahu.
Sambil mandi cepat, masih terbalut handuk, kurasakan ponsel bergetar di meja kamar mandi. Tanganku yang masih basah nyaris tak bisa menggenggamnya dengan benar, tapi aku berhasil meraih perangkat itu.
Ini salah satu kabar yang kuminta tentang Helena. Kubaca dengan cepat:
Ia telah meninggalkan ruang pesta dan pulang ke rumah… sendirian, hanya bersama sopir.
Kurasakan dadaku mencelos. Setiap langkahnya menjauh dariku, meski dalam perlindungan, terasa seolah aku kehilangan sedikit lagi kendali, sedikit lagi waktu bersamanya dan bersama anak kami.
Kukeringkan tanganku, kugenggam ponsel dengan erat, dan amarah serta kegelisahan mulai tumbuh kembali. Aku harus menjaga semuanya tetap terkendali, tapi rasa tak berdaya yang menyerbuku nyaris tak tertahankan.
Aku menarik napas dalam-dalam. Aku akan mengenakan sesuatu, menata diri, dan mencoba berpikir. Setiap detik berarti, setiap gerakannya dipantau, meski dari jauh. Aku tak boleh gagal. Tak akan pernah lagi.
Aku berbaring di ranjang, tubuh terasa berat, tapi pikiran sepenuhnya siaga. Keheningan kamar nyaris menyesakkan, hanya dipecahkan oleh suara ponsel yang bergetar di atas meja samping ranjang.
Kubuka layar dan mulai mengetik pesan untuk Helena.