Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Kelompok Hampir Ribut 25.
Aroma lavender ruangan dan buku paket Fisika kelas 12 yang mulai usang bercampur di udara ruang tamu rumah Livy.
Di atas meja jati yang luas, lembar-lembar kertas berisi coretan rumus termodinamika berserakan. Hari sabtu, yang seharusnya menjadi hari libur mereka kini menjadi kerja kelompok pertama mereka untuk tugas besar merancang maket mesin kalor mini.
Galang duduk di ujung meja, sengaja memutar-mutar pulpennya dengan pandangan yang tidak lepas dari Livy.
Ia merindukan Livy yang dulu, si cegil yang akan heboh menggeser kursi untuk mendekatinya, yang akan merengek manja jika rumusnya terus disalahkan, atau yang akan membelalakkan mata dengan bibir mengerucut kalau Galang mulai menjahilinya.
"Menurut saya, kita pakai sistem tertutup aja buat maketnya. Kalornya bisa lebih fokus ke piston, sesuai Hukum Pertama Termodinamika, (Q \= \Delta U + W). Jadi efisiensinya tinggi," ujar Livy datar. Suaranya tenang, jemari lentiknya menunjuk sketsa kasar yang baru ia buat.
Tidak ada nada ceria, tidak ada kilau berlebih di matanya. Hanya profesionalitas seorang teman sekelas.
Galang menegakkan punggungnya. Ini dia. Umpan yang biasa ia gunakan untuk memancing reaksi Livy.
"Sistem tertutup?" Galang terkekeh remeh, sengaja meninggikan volume suaranya. "Ide kamu terlalu teoretis, Liv. Kamu mikir gampang nya doang. Bahan akrilik buat ruang isolasinya emang kamu mau cari di mana? Jangan egois deh, ntar malah bikin kelompok kita keteteran gara-gara ambisi gak realistis kamu."
Galang menahan napas, bersiap. Biasanya, Livy akan langsung membalas dengan hentakan kaki, "Ih, Galang mah jahat banget sih! Kan bisa dicari bareng-bareng! Siniin gak pulpennya!" sambil merebut paksa barang di tangan Galang agar diperhatikan. Itulah yang ada di otak Galang
Namun, detik berikutnya membuat dada Galang mendadak sesak.
Livy bahkan tidak menatap mata Galang. Perempuan itu hanya memandang kertas sketsanya selama dua detik, lalu mengangguk formal. Sangat formal, seolah Galang adalah orang asing yang sedang melakukan presentasi bisnis.
"Oke. Kamu bener, mungkin itu kurang realistis, nyarinya juga susah" kata Livy pelan, suaranya sedingin es. Ia menggeser kertas sketsa itu menjauh darinya, tepat ke hadapan cowok yang duduk di sebelahnya. "Ray, kamu yang pegang kendali sisa desainnya ya. Saya ikut keputusan kamu sama Mayang aja."
Galang terpaku. Penolakan halus dan ketidakpedulian Livy barusan terasa lebih menyakitkan daripada bentakan. Livy benar-benar telah memutus sakelar emosinya untuk Galang.
"Bentar, Liv, bukan gitu maksud saya—"
"Maksud kamu cuma mau nyari masalah, kan, Lang?" Rayhan memotong kalimat Galang, yang sejak tadi fokus menghitung kapasitas kalor, meletakkan kalkulatornya dengan dentingan keras di atas meja. Mata elangnya menatap Galang tajam, tubuhnya sengaja sedikit bergeser ke depan, seolah bertindak sebagai perisai hidup di depan Livy.
"Desain Livy itu udah efisien secara perhitungan fisikanya. Kalau masalah bahan, saya bisa cari di bengkel paman saya sore ini. Jadi, bagian mana dari ide Livy yang kamu sebut 'egois'?" tanya Rayhan, nadanya menuntut, sarat akan pembelaan.
Galang merasa harga dirinya diinjak. Terutama melihat bagaimana Livy sama sekali tidak berusaha menengahi atau membela Galang seperti dulu. Livy hanya diam, membolak-balik halaman buku Termodinamika tanpa minat.
"Saya cuma ngasih kritik yang membangun, Ray. Kenapa kamu yang sewot? Oh, atau sekarang kamu udah naik pangkat jadi pahlawan kesiangan yang harus selalu pasang badan buat Livy?" sindir Galang, matanya menyipit penuh permusuhan. Ia berdiri dari kursinya, membuat kaki kursi bergesek nyaring dengan lantai.
Rayhan ikut berdiri. Postur tubuhnya yang tegap berhadapan langsung dengan Galang. Jarak mereka hanya terpisah lebar meja kayu. Atmosfer di dalam ruangan mendadak drop ke titik didih.
"Kritik kamu gak membangun, Lang. Kamu cuma sentimen pribadi karena Livy udah gak mau ngejar-ngejar kamu lagi, kan? Sadar diri, kamu yang buang dia, sekarang jangan berisik pas dia udah nemu tempat yang lebih dihargai," desis Rayhan, suaranya rendah namun penuh penekanan yang menusuk tepat di ulu hati Galang.
"Brengsek kamu, Ray!"
Galang mencengkeram kerah kaus Rayhan melewati meja. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang.
Satu detik lagi, tinju Galang pasti akan melayang ke wajah Rayhan yang masih menatapnya dengan pandangan menantang tanpa rasa takut sedikit pun. Rayhan sudah mengepalkan tangannya di bawah meja, siap membalas.
BRAAAK!
"CUKUP! DUDUK GAK KALIAN BERDUA?!"
Mayang menggebrak meja dengan kamus Fisika tebal hingga cangkir kopi di sudut meja bergetar. Wajah ketua kelompok mereka itu sudah merah padam karena menahan amarah sejak tadi.
"Ini rumah orang! Ini tugas kelompok kelas dua belas yang nentuin kelulusan kita! Kalau kalian berdua cuma mau berantem kayak anak TK gara-gara masalah personal yang gak penting, silakan keluar dari rumah Livy sekarang juga! Biar saya coret nama kalian dari laporan!" bentak Mayang, napasnya memburu, matanya bergantian menatap Galang dan Rayhan dengan pandangan membunuh.
Ketegangan itu membeku. Galang perlahan melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Rayhan. Ia melirik Livy, berharap ada secercah rasa cemas atau ketakutan di wajah cewek itu melihatnya hampir baku hantam.
Namun, Livy hanya duduk tenang, tangannya menopang dagu sambil menatap lurus ke arah rumus siklus Carnot di bukunya. Wajahnya datar, kosong, seolah keributan dua cowok di depannya hanyalah angin lalu yang tidak berharga untuk dilirik.
......................
...****************...
To be continue,