Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Cemburukah?
Mobil sedan hitam itu melaju membelah jalanan ibu kota yang basah oleh sisa hujan. Di dalam kabin, atmosfer terasa begitu tebal dan menghimpit.
Fadil mencengkram lingkar kemudi dengan erat, matanya menatap lurus ke jalanan di depan tanpa menguapkan sepatah kata pun. Sorot matanya dingin, rahangnya terikat keras, seolah menyimpan badai yang siap meledak kapan saja.
Sementara di kursi penumpang sampingnya, Aura tertunduk bisu. Jarinya meremas pinggiran gaun dusty rose yang dikenakannya. Pikirannya melayang dan tenggelam pada bayangan pertemuannya dengan Farhan di balkon pesta tadi.
Pelukan hangat, guncangan isak tangis, dan janji kesetiaan Farhan terus berputar di otaknya bagaikan kaset yang rusak, seakan menghadirkan rasa bersalah yang mengikis ketenangan jiwanya.
Beberapa saat kemudian, ketika mobil akhirnya memasuki pelataran rumah megah mereka, suara rem terdengar mendecit tipis.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Fadil melepaskan seatbelt nya dengan gerakan kasar. Lalu, pria itu menepis pintu mobil dan turun, lalu membantingnya dengan kekuatan yang penuh hingga berbunyi,
Brak!
Suara dentuman keras itu menggelegar di tengah sunyinya malam, hingga membuat Aura terperanjat kaget di tempat duduknya., dengan jantung yang berdebar liar seketika.
"Mas Fadil kenapa?" batin Aura bertanya-tanya. "Apakah pekerjaannya di kantor bermasalah, atau ada hal lain yang mengganggunya?"
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aura melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Ia lalu bergegas mendorong pintu gerbang hingga terkunci rapat, dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah, lalu memutar kunci pintu utama.
Saat langkah kakinya menapaki ruang tengah yang temaram, pandangan Aura langsung tertuju pada sosok Fadil. Pria itu telah meloloskan jas tuksedonya, dan kini duduk di atas sofa dengan kemeja putih yang dua kancing atasnya sudah terbuka.
Fadil menyandarkan punggungnya, sambil menatap Aura dengan pandangan yang sulit diartikan.
Saat mata mereka beradu di tengah remangnya lampu ruangan, hati Aura berdesir hebat. Ia merasa cemas, firasat buruk membisikkan ketakutan terbesar dalam hidupnya, apakah Fadil tau tentang pertemuannya dengan Farhan di balkon tadi?
Aura berusaha menelan saliva yang terasa mengering di tenggorokannya. Ia mencoba meredam ketegangan dan menetralkan perasaannya yang kian tidak karuan, dengan bertanya, "Mas... mau minum air putih?"
Fadil tidak langsung menjawab. Matanya menatap wajah Aura seolah ingin menguliti setiap kebohongan yang tersimpan di balik paras polos itu, sebelum akhirnya ia berpaling ke sembarang arah.
"Boleh," jawab Fadil terdengar datar dan rendah.
Aura pun bergegas melangkah menuju dapur. Ia mengambil satu gelas air putih biasa dan satu gelas air dingin dari dalam kulkas sebagai opsi jika suaminya membutuhkan kesegaran yang ekstra.
Aura menatanya di atas baki kayu kecil lalu membawanya kembali ke ruang tengah.
"Ini, Mas..." ujar Aura, seraya meletakkan kedua gelas tersebut di atas meja kaca di hadapan Fadil.
Usai meletakkan gelas, Aura membalikkan badan dan hendak menyimpannya kembali baki kayu tersebut ke dapur.
Namun...
"Apa pertemuan kalian sangat menakjubkan?"
Kalimat itu meluncur mendadak dari bibir Fadil, bagaikan sabetan sembilu yang seketika menghentikan langkah kaki Aura.
Aura mematung total. Baki kayu di genggamannya pun hampir merosot. Darah di dalam tubuhnya serasa berhenti mengalir, hingga membekukan seluruh persendiannya.
Fadil kemudian perlahan berdiri dari sofa. Suara gesekan kain celananya terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu. Dengan langkah tenang Fadil berjalan memutari meja, dan menghampiri Aura dari belakang hingga mereka berdiri berhadapan.
Sorot mata Fadil kini benar-benar membara oleh kobaran amarah yang tak lagi mampu ditahannya.
"Apa kau sengaja menemuinya di acara tadi?" desis Fadil. "Apa kau ingin memberitau semua orang jika kau punya laki-laki lain di luar sana?!"
Aura menggelengkan kepalanya dengan cepat karena panik. "Mas, aku—"
"Atau kau begitu haus akan pelukan seorang laki-laki hingga kau melakukan hal gila itu di tempat umum?!" potong Fadil menggelegar, menyuarakan kemurkaannya yang meledak.
Aura menatap Fadil dengan mata yang berkabut air mata. Ia kaget luar biasa karena Fadil ternyata menyaksikan seluruh adegan di balkon tersebut. "Mas! Aku hanya kebetulan bertemu dengan Farhan di sana! Aku sama sekali tidak tau jika dia ada di tempat itu!"
Bukannya mereda, perkataan Aura justru memancing senyum sinis yang mengerikan di bibir Fadil. Senyuman yang penuh ironi dan luka yang mendalam.
Fadil lalu melangkah maju satu tindak, hingga mengikis jarak di antara mereka. Aura yang ketakutan pun spontan mundur ke belakang seraya memeluk baki di dadanya.
Namun Fadil terus merangsek maju, dan memburu tiap jengkal ruang hingga punggung Aura membentur dinding dingin di dekat koridor.
Sret!
Tanpa peringatan, Fadil merebut baki dari tangan Aura dan melemparnya asal ke atas meja, lalu mencengkram pergelangan tangan Aura dengan sangat kuat.
Sebelum Aura sempat memproses apa yang terjadi, Fadil menarik tubuh wanita itu dengan kasar hingga dada mereka bertabrakan, lalu merengkuh tubuh Aura secara paksa ke dalam dekapannya.
"Mas!" pekik Aura histeris, sambil berusaha mendorong dada bidang Fadil.
"Apa ini yang kau inginkan?!" bisik Fadil tepat di dekat telinga Aura, dengan napas yang memburu panas dan penuh amarah. "Apa begitu menyenangkan berada dalam pelukan seorang laki-laki?!"
"Mas, jangan seperti ini!" jerit Aura seraya memutar tubuhnya, dan berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan besi Fadil dari pinggangnya.
Namun, Fadil yang terpancing emosi tidak membiarkannya lepas begitu saja. Dengan kekuatannya yang jauh lebih besar, Fadil membalikkan posisi tubuh Aura, merengkuh dan memeluk gadis itu dari belakang dengan sangat erat, mereplikasi persis posisi Farhan saat mendekap Aura di balkon tadi.
"Tadi kalian dalam posisi seperti ini, bukan?!" seru Fadil dengan napas yang lebih memburu di ceruk leher Aura, dan kian mengeratkan pelukannya hingga Aura hampir sulit bernapas. "Bagaimana?! Apa rasanya sama?!"
Aura memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa sesak, kecewa, dan amarah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
Pria di belakangnya ini sedang melampiaskan emosi dan rasa terhinanya dengan cara yang merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita.
Mengumpulkan seluruh sisa tenaga serta keteguhan jiwanya, Aura tidak lagi menangis memohon.
Dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat tenang namun didorong oleh tenaga yang kuat, Aura menghentakkan kedua tangannya, dan memutar menyiku ruang gerak Fadil hingga dekapan erat pria itu terlepas secara paksa.
Aura kemudian mundur dua langkah, dan berdiri tegap di hadapan Fadil seraya merapikan gaunnya yang sedikit kusut. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Fadil tanpa ada rasa takut lagi.
"Tidak! Rasanya tidak sama, Mas Fadil!" tegas Aura dengan suara yang lantang.
Fadil pun terpaku di tempatnya, matanya membelalak pelan mendengar bantahan yang menohok itu.
"Orang yang memelukku tadi adalah orang yang sangat mencintaiku dan tulus menerimaku! Mas Fadil tau sendiri bagaimana kenyataannya!" lanjut Aura dengan kalimat yang menghantam telak ego dan kesadaran Fadil.
Tanpa menantikan balasan atau membiarkan Fadil bersuara kembali, Aura langsung membalikkan badannya.
Dengan langkah kaki yang cepat dan mantap, ia melangkah meninggalkan ruang tengah, menaiki tangga menuju kamarnya, dan meninggalkan Fadil yang berdiri mematung sendirian di tengah kegelapan rumah yang membisu.
"Keterlaluan Mas Fadil ini."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣